Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Permintaan


__ADS_3

Nesa sedang melayani beberapa pelanggan bersama karyawan lain. Wanita itu merasa pada Fimi setelah kejadian seminggu yang lalu. Kencan buta yang ia rencanakan membuat Fimi membenci makanan kesukaannya.


"Maafin gue ya, Fi. Gue nggak lagi-lagi ngelakuin hal gila kaya kemarin. Gue harap lo bisa dapat jodoh yang terbaik yang cinta sama lo dan Fir." Nesa bergumam sambil memilih beberapa baju untuk pelanggannya.


Tak berselang lama, datang pria tinggi dengan brewok di wajahnya.


"Sibuk banget kayanya?" ucap suara bariton yang Nesa kenal.


"Bantuin kek, ngapain ke sini?" Nesa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari baju yang sedang ia pilih.


"Gue mau ketemu Fimi, ada?"


"Emang lo nggak tahu udah seminggu Fimi nggak datang ke butik." Nesa berbalik dan menghela nafas.


"Kenapa sakit?" Arya terlihat khawatir saat mendengar bahwa pujaan hatinya tidak bekerja selama satu minggu. Namun, gelengan dari Nesa mematahkan kekhawatiran itu.


"Terus?"


Nesa memanggil salah satu karyawannya untuk membawa baju yang diminta salah satu pelanggannya, setelah itu mengajak Arya ke ruangannya. Di dalam sana Nesa menceritakan kejadian satu minggu lalu.


"Pantesan, itu salah lo, Nes." Arya berdecak.


"Gue udah minta maaf, tapi Fimi tetap nggak mau ke butik, gue makin merasa bersalah sama dia, Ya."


"Ya udah siang ini, kita ke rumah Fimi gimana?" Arya memberi usul.


"Ya udah ayo, gue ikut mobil lo ya?" ucap Nesa.


"Emang lo ada mobil?" tanya Arya yang tahu bahwa sahabatnya ini belum mempunyai kendaraan roda empat.


"Ish."


Arya tergelak, lalu pria itu pun menunggu Nesa di ruangannya dengan melihat beberapa model baju yang dirancang oleh Fimi dalam sebuah buku.


"Kapan kamu akan membuka hati untuk yang, Fi. Setelah ayah Fir pergi?" gumamnya saat melihat ada salah satu foto Fimi dengan modelnya.


Waktu terus berjalan, jam makan siang pun tiba, Nesa pamit pada Rosa untuk pergi keluar bersama Arya dan wanita itu menitipkan butik pada Rosa sebagai kasir di sana.


"Baik, Mbak Nesa." Rosa mengangguk hormat.


Arya dan Nesa pun keluar dari butik dan masuk ke mobil Arya. Keduanya menuju ke rumah Fimi. Sebelumnya, Arya ke mini market membelikan sesuatu untuk Fir.


"Gue salut sama Fimi masih muda tapi udah bisa megang tanggung jawab sebagai seorang ibu," ucap Nesa saat keduanya sudah kembali melajukan mobil menuju kediaman Fimi.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, apalagi keadaan jalan raya siang ini begitu ramai sehingga macet, membuat keduanya menghela nafas, saat mereka sudah berada di halaman rumah Fimi.

__ADS_1


"Eh, ada tamu ya? Siapa ya, Ya?" Nesa melihat pada mobil hitam yang terparkir di depan mobil Arya.


Pria jangkung itu hanya mengangkat bahunya.


Lalu mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu.


"Assalamu'alaikum." Arya dan Nesa langsung masuk karena pintu depan masih terbuka.


Saat kedua sahabat Fimi itu masuk, terlihat lima orang sedang duduk di meja makan. Arya baru saja akan menyapa mereka, tetapi tiba-tiba pria berbaju putih itu berkata, "Fir sudah besar sekarang, kamu belum mau menikah juga, Mi?" tanya Hendra tiba-tiba saat mereka berada di meja makan.


"Eh." Fimi salah tingkah, tetapi saat melihat ke depan ada Arya juga Nesa di sana.


"Eh, Pipi baru pulang ya?" Fimi beranjak dari duduknya dan menghampiri Arya lalu menggandeng tangannya. Nesa dan Arya saling melirik bingung, tetapi Fimi mencubit kecil lengan Arya agar mau mengikuti permainannya.


"Fimi ... maksud ...." Arya tak melanjutkan ucapannya karena mulutnya dibekap oleh Fimi. Adegan itu tak luput dari perhatian Davanka dan kedua orangtuanya.


Marina ingin bertanya ada apa dengan putrinya, tetapi sebuah kedipan dari Fimi membuat wanita paruh baya itu menghela nafas.


Sementara Hendra memicingkan matanya ke arah Arya, yang ia tahu pria itu adalah sahabat putrinya.


"Ayo kita lanjutkan makan siangnya!" Akhirnya kalimat itu yang keluar dari pria paruh baya itu. Nesa juga ikut bergabung bersama mereka. Semuanya makan siang dengan pertanyaan masing-masing di otak mereka.


Arya dilayani Fimi, seperti Marina melayani Hendra. Arya tentu saja senang, tetapi juga takut kalau semua ini hanya alasan untuk menghindari sesuatu.


Setelah makan siang selesai, Fimi dan Nesa membereskan bekas makan mereka ke dapur. Asisten rumah tangga mereka sedang izin karena anaknya sakit. Jadi sejak kemarin Fimi dan sang mama yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah.


"Lo udah jadian sama Arya?" Nesa akhirnya mengeluarkan isi hatinya yang sejak tadi ia pendam.


"Sstt!" Fimi menempelkan jari telunjuknya di bibir mungilnya.


"Ish, kenapa sih? Eh itu yang ikut makan Pak Dava kan pemilik Pramudya Group?" tanya Nesa berbisik.


"Iya ih, pokoknya kalau dia nanya suami gue bilang aja Arya itu laki gue," pinta Fimi sambil mencuci piring bekas makan.


"Kasihan Arya tahu, Fi. Lo kenapa sih? Gue nggak ngerti sumpah," ucap Nesa sambil mengeringkan piring yang dicuci Fimi dengan lap, lalu menyimpan pada tempatnya.


"Gini ya Nesnes, gue nggak mau ada cowok yang deketin gue lagi kaya si mie ayam kemarin, gue nggak mau, biar aman gue mau lo sama Arya bantuin gue," bisik Fimi.


"Oh, oke sih, tapi emang Arya mau? Lo kan tahu Arya itu udah suka sama lo dari dulu, emang lo tega manfaatin dia?" 


"Gue udah bilang, kan kalau Arya itu sama kaya abang gue, gue nggak bisa sayang ke dia lebih dari sekedar abang, Nes."


"Iya, iya. Terus itu Pak Dava ngapain di sini? Jangan-jangan ...."


"Nggak usah suudzon, dia ngaterin papa." Fimi memercikan air pada Nesa.

__ADS_1


"Kok bisa?"


"Ternyata dia itu anaknya temen papa, yang dulu sering jahilin gue, Nes. Pokoknya gue nggak suka," jelas Fimi.


"Duh, temen masa kecil udah gede jadi ... pacar," goda Nesa yang kembali mendapat semburan air.


"Ih, baju gue basah, Fi."


"Bodo amat."


Bersamaan itu Marina dan Arya datang menghampiri keduanya.


"Kamu mau jelasin apa ke Mama, Mi?" ucap Marina tiba-tiba.


Fimi berbalik dan menelan salivanya. Wanita itu masih mematung saat Arya dan Marina menatapnya dengan penuh tanya.


"Jangan bilang kamu sama Arya udah nikah di belakang Mama?"


"Astagfirullah nggak Ma. Fimi bisa jelasin," ucap wanita berambut pendek itu.


"Aku cuma nggak mau ada cowok yang deketin aku karena status aku, Ma."


"Status kamu itu masih ...." Fimi menutup mulut mamanya dengan telunjuknya.


"Pokoknya Fimi minta tolong sama Mam dan Papa, sama kamu juga Arya, gue harap lo mau bantuin gue buat jadi suami pura-pura gue," ucap Fimi yang mendapat gelengan dari sang mama.


"Please, Ma. Fimi nggak mau kecewa untuk kesekian kalinya," bujuk Fimi.


"Kenapa gue harus jadi suami pura-pura sih, beneran aja juga gue mau, Fi." Arya menyela perdebatan ibu dan anak itu.


"Gue nggak bisa, Ya. Gue nggak mau lo kecewa sama gue, gue selalu berdoa semoga lo dapat jodoh terbaik."


Arya menghela nafas pasrah.


"Ma, Fi, ini Nak Dava mau pulang!" Teriak Hendra dari ruang makan. 


Akhirnya Fimi dan yang lainnya pun ke depan, dengan terpaksa Fimi menggandeng tangan Arya. Dava pamit undur diri. Tatapannya terus mengarah pada Fimi dan suaminya.


"Aku nggak percaya itu suami kamu, anak cengeng," gumam Dava sambil melajukan mobilnya.


Bersambung...


Happy Reading


Jan lupa gerakin jempolnya ya besti komennya yang banyak atuh, aku nggak muluk-muluk minta 20 komen aja boleh🤗

__ADS_1


__ADS_2