
Siang ini Dava akan pergi ke butik sang kekasih bersama calon pilihan sang mami. Namun, pria itu terlihat mondar-mandir di ruangan kerjanya.
Apa dia akan sanggup menemui kekasihnya bersama wanita lain, apalagi untuk fitting baju pengantin.
Dava mengacak rambutnya, sampai suara dering ponselnya mengalihkan pandangannya.
"Iya, Mi." Dava menjawab dengan lemas. Setelah itu, Dava hanya mengangguk dan menjawab iya.
"Jadi, Dava sekarang langsung berangkat gitu, Mi? Nggak perlu nunggu lagi." Dava meyakinkan ucapan sang mami, dan setelah mendapat jawaban bahwa calonnya sudah menunggu di butik, Dava pun kembali menjawab iya, kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Pria itu menghela nafasnya sebentar, sebelum akhirnya pergi dari kantornya. Rambutnya yang berantakan membuat pria itu terlihat lebih tampan. Saat sudah berada dalam mobilnya, Dava kembali terdiam sebelum menyalakan dan melajukannya.
"Apa gue ... ah udahlah pergi aja." Pria itu pun mulai melajukan mobilnya dan membelah jalan raya yang selalu ramai di jam makan siang seperti ini. Pria itu fokus pada jalanan di depan, tujuannya hanya ingin menyelesaikan hari ini saja.
Tak berselang lama, pria itu sudah sampai di parkiran butik sang kekasih. Bayangan gadisnya menangis kemarin masih terbayang di benaknya. Bagaimana dengan hari ini, jika Dava harus menemui calonnya.
Namun, saat pria itu membuka sabuk pengamannya, terlihat mobil yang sangat pria itu kenal. Mobil milik sang papi.
"Gila, apa harus sejahat ini jadi gue?" gumamnya yang kembali terdiam di tempatnya. Dava ragu untuk keluar dan melanjutkan rencana orang tuanya, lebih tepatnya maminya. Namun, pria berjas biru itu, pun akhirnya pasrah. Sudah cukup dirinya mengecewakan kedua orang tuanya dulu dengan tingkah lakunya.
Saat Dava masuk, terlihat sang mami juga Tante Marina berada di sana, keduanya sedang berbincang di sofa yang tersedia di sana.
"Akhirnya yang ditunggu datang." Alifa berdiri dan menyambut putranya. Dava mencium punggung tangan sang mami juga Tante Marina.
"Dava nggak telat, kan, Mi?" Pria itu mencoba bersikap seperti biasa.
"Nggak, calon istri kamu sedang mencoba bajunya, kamu juga gih!" Alifa mengajak Dava menemui Nesa. Kemudian, wanita itu menunjukkan baju yang sudah disiapkan, Dava tinggal mencobanya.
"Mari ikut saya, Pak." Nesa menunjukkan tempat untuk mencoba bajunya. Namun, saat sang mami sudah kembali ke tempatnya, Dava menarik tangan Nesa.
"Bos kamu ke mana?" bisiknya.
"Dia ... nggak masuk hari ini, Pak," jawab Nesa.
Dava mengehela nafasnya pelan, pria itu dengan lemas mengambil beberapa setelah jas pengantin untuk dicobanya.
Sebelum Dava masuk ke kamar ganti, pria itu kembali menatap Nesa.
"Tolong bilangin ke bos kamu, semua ini bukan kemauan saya, bukan saya tidak mau memperjuangkannya, tapi ... semua demi orang tua saya."
Nesa hanya mengangguk, setelah Dava benar-benar masuk, wanita menahan senyumnya.
__ADS_1
Sementara itu di ruang ganti lainnya, seorang wanita berambut sebahu sedang mencoba beberapa model baju pengantin. Wanita cantik itu memutar tubuhnya di depan cermin. Tubuhnya dibalut kebaya berwarna putih tulang dengan hiasan permata yang membuat gaun pengantin itu terlihat mewah.
"Apa ini benar-benar aku?" gumamnya saat melihat penampilan dirinya dalam cermin besar itu.
"Mi, udah selesai? Coba Mama lihat!" Teriakan seorang wanita dari luar membuat lamunannya buyar. "Iya, sebentar, Ma."
Kini wanita itu membuka gorden yang menutup ruang ganti itu. Dua wanita paruh baya itu menatap dengan kagum.
"Kamu, memang cantik, Nak." Adalah kalimat Alifa yang meluncur begitu aja.
"Anak Mama sudah dewasa, kamu benar-benar cantik, Nak," timpal Marina pada putrinya.
Wanita bergaun pengantin itu adalah Fimi Klarisa.
Sementara itu, Dava masih belum mencoba bajunya. Pria itu hanya menatap dirinya yang begitu menyedihkan di dalam cermin besar itu. Kemudian, pria itu mengambil ponselnya dan menekan nomor sang kekasih. Namun, hanya operator seluler yang menjawab bahwa nomor yang dia hubungi sedang tidak aktif.
Dava makin kalut, tetapi ia juga tak bisa mengelak. Akhirnya, ia pun mencoba bajunya. Saat pria itu hendak keluar dari ruang ganti, terdengar suara ribut di luar.
"Kamu, tunggu di sini, ya. Mami yakin Dava akan tergila-gila sama kamu." Dava yakin bahwa itu adalah suara sang mami.
Apa mungkin calonnya sudah ada di depan?
Dava pun kembali mengurungkan niatnya untuk keluar dan mencoba kembali menghubungi kekasihnya, tetapi hasilnya tetap sama, ponsel wanita itu tidak aktif.
"Ka-kamu?" Dava mematung melihat gadisnya.
"Surprise!" Alifa dan Marina bersorak begitu juga dengan Nesa.
"Nesa, katanya Fimi ...."
"Maaf, Pak Dava. Saya cuma menjalankan perintah." Wanita berambut panjang itu menempelkan kedua telapak tangannya.
Pria itu, kembali menatap gadisnya yang terlihat begitu cantik dan anggun dengan gaunnya.
"Ja-jadi, calon Dava ...." Pria itu berjalan mendekat ke arah Fimi dan mendekapnya.
"Ish, malu ngapain sih, Bang?" gerutu gadis berkebaya itu sambil mendorong tubuh Dava.
"Bagaimana masih mau nolak pilihan Mami? Kalau mau ya udah Mami cari yang lain lagi," goda Alifa yang membuat Dava menggeleng kuat.
"Nggak, nggak udah ini aja, Mi. Makasih Mami." Dava kini berbalik memeluk tubuh maminya.
__ADS_1
Kemudian keduanya kembali mencoba gaun dan setelan jas yang lainnya. Setelah fix dan sesuai. Nesa pun memisahkan gaun pengantin itu. Ya, memang yang mengurus semua baju pengantin bosnya. Walaupun sebenarnya Fimi sudah menyiapkan baju pengantin untuk dirinya sendiri jauh-jauh hari.
Setelah semua selesai mereka melanjutkan dengan makan siang bersama di resto Almahera. Marina dan Alifa terlihat berbincang mengenai persiapan pernikahan putra-putri mereka. Sementara Fimi dan Dava masih belum memulai percakapan apa pun.
Apalagi Fimi, yang sudah malu karena kemarin wanita itu menangis seharian dan diketahui Dava pula.
"Segitu takutnya kamu kehilangan aku ya, Fi." Dava tiba-tiba berbisik saat mereka sudah duduk menunggu pesanan mereka datang.
"Ish, mana ada?" bantah Fimi sambil mendelik ke arah Dava.
"Terus yang nangis-nangis kemarin siapa ya?" goda Dava yang sukses mendapat cubitan dari wanita itu di lengannya.
"Jangan dibahas. Sssttt!" Fimi menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.
Dava yang meringis akhirnya terkekeh melihat tingkah wanitanya.
"Pernikahan kalian akan digelar dua minggu lagi, Mami rasa untuk persiapan semuanya hampir selesai. Kalian tinggal menyiapkan diri saja, jaga kesehatan juga." Alifa mulai membicarakan rencana pernikahan keduanya.
"Dua minggu lagi, Tante?" Fimi terkejut mendapat kabar tak terduga dari calon mertuanya itu.
"Iya, Sayang. Kalian sudah cukup untuk berumah tangga, untu apa pacaran-pacaran lagi, mendingan nanti udah nikah bebas." Marina menjawab pertanyaan putrinya.
"Memangnya dalam dua minggu bisa menyiapkan semuanya?" Kini Dava yang bertanya.
"Udah kalian tenang saja, pokoknya nanti kalian akan tahu. Oh iya mulai besok, kamu nggak boleh ketemu Fimi dulu ya, sampai hari pernikahan."
"Kok, gitu sih, Mi?"
"Iyalah, dulu aja Mama 40 hari nggak boleh ketemu, ini cuma dua minggu," ucap Marina.
"Apa?"
Bersambung
Happy Reading
Surprise nya dobel ya Bang Dava, kalau mau lihat visual babang Dava ada di Fb dan ig aku ya bestie.
Fb : Ibundatika
Ig : Irma_Marmaningrum
__ADS_1
Jempolnya jan lupa olahragain.