
Fimi akhir-akhir ini jarang berada di butik, ia akan pergi bersama asistennya Nesa. Wanita itu akan kembali setelah menjemput sang putra, tetapi tak berapa lama mereka akan pergi lagi hingga jam pulang tiba.
"Lo ternyata sama kaya dulu, Fi." Nesa berkata saat keduanya berada dalam mobil menuju ke butik.
"Gue harus ngasah ilmu bela diri gue lagi, makanya gue latihan lagi. Lo juga harus, pelakor itu kalau udah ngebet apa aja dilakuin," tegas Fimi.
Wanita itu memang mengikuti ekstakulikuler pencak silat saat masih sekolah dulu, tetapi saat mulai merintis butik, kegiatan itu jadi sering terbengkalai dan akhirnya tak pernah dipraktekkan lagi.
"Iya deh, yang saingan sama pelakor." Nesa terkekeh.
Fimi mendelik kesal saat mendengar ucapan sahabatnya itu. "Lo juga harus belajar, Nes. Biar bisa jaga diri, gue ngajak lo buat bukan nontonin gue, tapi ikutan."
"Iya, iya besok aja deh gue mulai."
Kini keduanya fokus pada kegiatan masing-masing. Nesa memainkan ponselnya, sementara Fimi fokus menyetir. Fimi memutuskan selama satu bulan ke depan akan fokus mengasah kembali gerakan bela diri yang sudah dipeajarinya. Sehingga setelah menjemput sang putra dan mengantarnya pulang, wanita itu izin kembali ke mertuanya untuk kembali ke butik dan akan pulang sebelum sang suami pulang. Apalagi Fir akan tertidur pulas setelah pulang sekolah.
Saat mereka sampai ke butik, keduanya disambut baik oleh karyawannya.
"Bu Fimi, ada pelanggan baru lo, tadi dia ngeborong banyak banget baju kita, katanya kalau ada koleksi baru kabari dia," papar wanita berhijab itu.
"Alhamdulillah kalau gitu, makasih ya udah jagain butik, tenang saja akhir bulan akan ada bonus buat kalian," ucap Fimi kemudian pergi ke ruangannya.
Wanita berambut pendek itu membanting tubuhnya di sofa. Walau bagaimana pun ia kelelahan setiap harinya.
"Fi, tapi Pak Dava nggak macam-macam, kan?" Nesa duduk di sofa tunggal. Fimi yangsedang memejamkan matanya itu langsung membuka mata dan membenarkan duduknya agar lebih nyaman. "Selama ini aman-aman saja sih, aku lihat."
"Ntar kalau tuh pelakor ngajakin ribut, ajakin gue ya, Fi." Nesa berkata dengan wajah yang serius. Tentu saja hal itu membuat Fimi terkekeh. "Emang lo mau ngapain? jambak-jambakan gitu?" Fimi tak berhenti tertawa saat mengucapkan kalimatnya.
"Ish, ya pokoknya ajakin gue dah. Eh, tapi gue lihat sih ya makin sini susternya Fir tuh biasa aja deh, nggak ada modelan pelakor gitu."
"Jadi ceritanya belain dia nih? Oke. Terus dulu yang bilang dia bakal calon pelakor siapa ya?"
Nesa terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya, kali aja keburu insyaf, Fi."
*
"Bagaimana bisa dia kembali ke sini?" Pria berjas biru dongker itu melempar sebuah map yang berisi beberapa foto di dalamnya.
Dava baru saja menerima paket dan entah siapa pengirimnya. Isinya sebuah map yang berisi beberapa foto dirinya bersama seorang wanita. Foto ketika dia baru saja lulus kuliah.
"Kamu yang memilih dia, Al. Aku sudah memiliki istri dan seorang putra, kamu jangan ganggu hidup aku lagi."
Namun, saat dirinya sedang gusar, tiba-tiba Haris menghampirinya dengan teresa. "Apa Anda tahu tentang Abimana, Pak Dava?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Abimana?" Davamengerutkan keningnya dan mengingat-ingat nama yang terdengar familiar itu.
"Dia memiliki seorang anak perempuan bernama Alisa." Haris kembali memberi tahu.
"Ah! Iya aku tahu, Haris. Apa mereka membuat masalah?"
"Tidak, tapi mereka ingin membuat janji dengan Anda besok lusa, karena besok jadwal Anda sudah penuh."
"Baiklah." Dav menghela nafasnya pelan. Pria itu kemudian menyuruh Haris untuk kembali bekerja.
Dava kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Sayang, apa kamu sudah pulang?"
Ternyata dia sedang menghubungi sang istri, dan ternyata istrinya jua belum pulang. "Aku akan menjemputmu, sebentar lagi." Dava mengakhiri panggilan teleponnya saat mendapat persetujuan dari sang istri.
Pria itu langsung beranjak dan mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar. Sebelumnya ia juga memberi tahu Haris bahwa dia akan pulang lebih awal karena ada hal yang perlu diurus.
Dava melajukan mobilnya menuju butik sang istri, tak lupa ia membawa map yang berisi beberapa foto dirinya bersama Alisa.
"Aku harus menjelaskan pada Fimi, bahwa semua ini adalah masa lalu," gumam Dava sambil terus melajukan mobilnya.
Tak berselang lama pria itu sudah sampai di butik milik sang istri. Pria itu segera turun dan masuk ke dalam. Semua karyawan Fimi sudah tahu tentang Dava, sehingga pria itu tak perlu meminta izin apa pun untuk bertemu dengan istrinya.
Fimi menyambut suaminya dengan bergelayut manja pada lengan sang suami, entah mengapa akhir-akhir ini wanita itu selalu bersikap manja.
"Nah gitu dong ngerti," ucap Fimi menyebalkan.
Kini mereka hanya berdua di ruangan itu, Dava duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Mau minum kopi, Bang?"
Dava menggeleng dan menepuk sofa kosong di sampingnya agar sang istri duduk di sana.
Fimi pun menurut wanita itu duduk di samping sang suami sambil melingkarkan lengannya pada perut Dava, kepalanya i sandarkan pada bahu suaminya.
"Tumben kamu mau jemput aku, Bang?"
"Emangnya nggak boleh? Di kantor juga udah selesai kok kerjaannya."
Fimi tersenyum dan kembali menghidu aroma tubuh suaminya yang entah sejak kapan menjadi candunya. Dava mengelus rambut istrinya sebelum memulai untuk membahas masalah sebenarnya.
Namun, Fimi merasa kalau suaminya sedang memikirkan sesuatu. "Bang, itu map apa?" Fimi melihat map yang tersimpan di meja. Wanita itu kemudian mengambil dan membukanya. Betaspa terkejutnya saat melihat foto suaminya bersama wanita lain.
"Abang!" Fimi langsung beranjak dari duduknya, tetapi Dava menariknya agar tetap duduk i sampingnya. Dengerin aku dulu, Sayang," ucap Dava lembut.
Fimi kini melipat kedua tangannya dengan wajah ditekuk dan membelakangi suaminya. Dava dengan lembut menarik tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. "Itu memang benar foto aku, tapi itu dulu saat aku baru saja lulus kuliah."
__ADS_1
"Terus kamu mau balikan sama dia?" Fimi mendelik ke arah suaminya.
"Nggak, mana bisa kaya gitu. Aku udah punya kamu sama Fir, Sayang." Dava menarik tangan istrinya lalu menggenggamnya dengan erat.
Fimi ingin melepaskan genggaman tangan suaminya, tetapi Dava tak membiarkannya. "Aku ingin kamu percaya sama aku, kalau suatu saat ada orang yang mengirimkan foto-foto seperti ini sama kamu."
"Terus siapa dia?"
"Dia Alisa, kekasih pertama aku." Fimi kembali menekuk wajahnya. "Tapi itu dulu, cinta pertama aku tetap kamu, Sayang."
"Bohong."
"Iya, Sayang. Dia cuma mantan aku, dia juga yang ninggalin aku."
Kemudian Fimi kembali melihat foto-foto suaminya. Sebenarnya mereka hanya berfoto berdua dan duduk bersebelahan, tidak lebih dari itu, tetapi tetap saja Fimi merasa cemburu.
"Kamu udah ngapain aja sama dia?" tanya Fimi akhirnya.
Ish, ini pasti pertanyaan jebakan. Dava menghela nafasnya. "Aku nggak ngapa-ngapain sama dia, Sayang."
"Bohong, jujur dong, Bang."
"Aku cuma pernah cium pipi dia doang." Dava pasrah dengan apa yang akan dilakukan istrinya.
"Beneran?" Fimi mulai tersenyum.
"Iya." Dava mengangguk pasrah.
Tanpa pria itu duga, Fimi memeluk tubuh suaminya. "Nah, gitu dong awas aja kalo lebih dari itu aku nggak terima pokoknya."
"Kamu nggak marah?"
"Jadi, kamu mau aku marah, Bang. Oke."
"Eh, jangan dong."
Bersambung
Happy Reading
Jangan tergoda sama mangtan ya, pokoknya jangaan!
Jangan lupa juga gerakin jempolnya ya, pokoknya jangan lupaaa.
__ADS_1