Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Undangan Makan Malam


__ADS_3

"Ini Nak …." He Hndra berpikir sejenak tetapi tak menemukan jawaban saat melihat pria muda di depannya.


"Kai, Om. Kaivan adiknya Bang Dava." Pria jangkung itu menjabat tangan Hendra.


"Oh, iya. Maaf Om lupa," ucap Hendra lalu merangkul bahu pria tinggi itu untuk masuk ke dalam dan duduk di sofa.


"Papi gimana kabarnya?" 


"Alhamdulillah sehat, Om. Ini juga Kai ke sini mau menyampaikan pesan papi."


"Ada apa?"


"Nanti malam Om dan keluarga diundang untuk acara makan malam." Kaivan berkata dengan sopan.


"Oh, terima kasih undangannya, apakah ada hal penting sampai mengundang kami?" Hendra menyandarkan punggungnya pada sofa.


"Ah, tidak-tidak, papi hanya ingin bertemu dengan keluarga Om saja, karena sudah lama kan, tidak bertemu?"


Bersamaan itu Marina datang dengan nampan berisi teh hangat dan kue.


"Silakan minum dulu, Nak!" Marin menyodorkan teh pada pria muda itu.


"Terima kasih, Tante. Oya Fifi sekarang di mana?"


"Fifi?" Marina mengerutkan keningnya.


"Adiknya Kak Fio, Tante. Dulu saat kecil aku sering main dengannya, tapi dia selalu digangguin Bang Dava."


"Oh, Fimi, sebentar Tante panggil dulu ya." Wanita paruh baya itu pun beranjak hendak memanggil putri bungsunya. Namun, saat menuju kamar putrinya, Marina dihadang oleh Fir yang saja bangun tidur siang.


"Fil aus, Oma," ujar anak kecil itu sambil mengucek netranya.


"Cucu Oma udah bangun, ayo kita minum." Marina menggendong tubuh gembul cucunya, lalu membawanya ke dapur untuk mengambil minum. Setelah itu, Marina kembali dan menuju kamar putrinya 


"Fimi! Kamu baik-baik saja kan, Nak?"


Marina mengetuk pintu kamar Fimi.


"Iya, Ma, Fimi oke."


"Ini lo ada anaknya Om Ganendra!"


"Hah." Fimi mengusap pipinya dan beranjak dari tempat tidur, setelah itu melihat penampilannya yang berantakan di cermin.


"Ya ampun, muka gue gini amat." Fimi menyisir rambutnya sebentar lalu memoles wajahnya dengan bedak tipis dan sedikit lipkrim di bibir mungilnya. Dirasa penampilannya sudah aman, Fimi pun membuka pintu kamarnya, terlihat sang mama menggendong putra kecilnya.

__ADS_1


"Anak Mimi udah bangun." Fimi langsung mengambil alih menggendong sang putra dari gendongan mamanya.


"Siapa sih, Ma?" Fimi baru bertanya siapa yang datang.


"Kai, anaknya Om Ganendra kamu ingat?" tanya Marina sambil berjalan menuju ruang tamu. Fimi terlihat berpikir saat mendengar nama itu, tetapi tak berapa lama wanita itu pun mengangguk. "Fimi ingat, Ma."


Saat mereka sampai di ruang tamu, terlihat dua pria berbeda usia sedang berbincang sambil sesekali terlihat tertawa lepas.


"Apa kabar, Kai?" Fimi menyapa pria muda itu sambil tetap menggendong Fir yang memeluk erat lehernya.


Kaivan menoleh dan sedikit terkejut dengan teman kecilnya. "Lo, Fifi si anak cengeng itu, kan?" Kaivan tak bisa menahan diri untuk menyebut panggilan kecilnya.


"Ish, nyebelin nggak usah bawa-bawa cengeng, gue udah dewasa." Fimi mengomel sambil duduk di samping pria muda itu.


"I-ini anak lo?" Anggukan dari Fimi membuat Kai kembali terkejut.


"Sombong banget nggak undang ke pernikahan lo, tahu-tahu udah ada anak." Kaivan mencoba mengajak Fir berkenalan, tetapi anak kecil itu terlihat masih malu-malu.


"Bukan itu, Nak Kavin ...."


"Iya, Pa." Tiba-tiba Fimi memangkas ucapan sang papa saat akan memberitahu kebenarannya. Fimi masih belum siap, tetapi dia akan melakukannya sendiri dan bukan saat ini.


"Lo nya aja yang ngilang tanpa kabar, Kai." Fimi berkilah agar pembahasan ini cepat selesai.


"Mimi nggak cengeng, Om. Mimi kuat dan pintel ya kan, Mi?" Tiba-tiba Fir menegakkan tubuhnya di pangkuan Fimi dan menyangkal ucapan Kaivan.


"Tuh denger!"


Perdebatan itu terus berlangsung, sampai mereka lupa bahwa masih ada Marina dan Hendra di sana.


"Kalian sudah dewasa, tapi masih saja berantem," sela Marina.


"Eh ... maaf, Tante. Abis Kai kesel nikah kok nggak undang-undang," jawab Kai.


"Itu ... biar Fimi yang cerita aja ya," jawab Marina.


"Ya udah, kita ke dalam dulu ya. Kalian ngobrol saja, nanti malam kita pasti datang. Ayo, Pa!" Marina mengajak suaminya untuk ke dalam.


Kini tinggal Fimi, Fir dan Kaivan yang ada di ruang tamu. Mereka berbincang cukup lama, sampai akhirnya Kai pun pamit undur diri dan mengingatkan kembali untuk datang nanti malam.


*


Malam pun tiba, Fimi sudah cantik dengan dress panjangnya, Fir juga didandani dengan tampan oleh Fimi. Marina dan Hendra juga sudah siap. Setelah dirasa siap dan tidak ada yang tertinggal, mereka pun akhirnya pergi, Fimi yang menyetir mobil, karena wanita itu tidak akan membiarkan sang papa menyetir malam hari.


"Biar Papa saya, Fi." Hendra bersikeras untuk menyetir, tetapi Fimi hanya menggelengkan kepalanya, lalu mendorong tubuh sang papa untuk masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Biar Papa di depan, memang kamu tahu rumah Om Ganendra?" tanya pria paruh baya itu. Fimi kembali menggelengkan kepalanya, lalu membiarkan sang papa duduk di sampingnya.


Selama perjalanan menuju kediaman Pramudya, Hendra terus menunjukkan jalan mana yang harus dilalui oleh Fimi, sampai akhirnya mereka sampai di kediaman Pramudya. Rumah besar dengan gaya modern itu terlihat mewah di mata Fimi.


"Akhirnya kita sampai, ayo turun!" ajak Hendra sambil membuka sabuk pengamannya.


Mereka berempat pun kemudian turun, Fimi menggendong Fir dan berjalan di belakang Marina dan Hendra, orang tuanya.


Namun, karena gaunnya yang panjang, Fimi sedikit limbung saat berjalan menggendong sang putra hingga saat mereka menaiki tangga teras rumah besar itu, tiba-tiba saja dress-nya terinjak healnya, hingga Fir hampir saja terjatuh, kalau tidak ditangkap oleh tangan kekar yang memegang tubuhnya.


"Astagfirullah!" pekik Fimi saat tubuhnya hampir terjengkang ke belakang.


"Hati-hati kalau jalan, Nona!" Suara bariton yang Fimi kenal dan sedang memegang pinggangnya dengan erat agar tak terjatuh.


"Makasih." Satu kata saja yang keluar dari bibir mungil Fimi, wanita itu ingin segera pergi menyusul kedua orang tuanya.


"Om Dava, Fil mau sama Om boleh? Fil mau ketemu Asa." Tiba-tiba Fir merentangkan kedua tangannya meminta digendong Dava.


"Eh."


"Ayo, Om gendong!" Dava mengambil alih Fir dari gendongan Fimi, yang kini sudah sudah kembali berdiri. Fimi hanya terdiam saat Dava mengajaknya untuk masuk, jika dilihat dari jauh mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.


Ganendra dan Alifa menyambut kedatangan keluarga Atmaja dengan suka cita. Kawan lama yang kembali bertemu itu kini sedang meluapkan kerinduan dengan berbincang segala hal. Saat makanan sudah siap, kini Alifa mengajak semuanya untuk ke meja makan.


Kavindra dan Riri juga anak kembarnya sudah berada di sana, Fimi merasa senang karena ada teman untuk ngobrol.


"Nggak nyangka ternyata kamu anaknya temen Papi, Fi." Riri sangat senang dengan kedatangan Fimi hari ini.


"Iya, Mbak."


"Kamu masih belum dapat 'Pipi' buat Fir, kan? Ada yang naksir lo," bisik Riri yang membuat Fimi salah tingkah.


"Mbak Riri jangan ngaco deh."


"Ih, aku serius tuh orangnya datang." Riri menunjuk pria berjas abu yang berjalan ke arahnya.


"Eh."


Bersambung


Happy Reading


Monmaaf kemarin nggak up ya, aku cape banget kemarin abis kesana-kemari pokonya, jadi nggak sempet buat ngetik, malamnya aku langsung tepar.


Jan lupa jempolnya ya gerakin, gampang kok. Timamakasih. 

__ADS_1


__ADS_2