Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Rencana


__ADS_3

Fimi berdecak sebal saat mendengar penuturan Dava, bahwa dirinya bukan untuk menjemput sang mami, tetapi malah ingin menemuinya.


"Ayo, Tante, Fimi anter," ajak Fimi pada Alifa yang saat ini masih duduk di tempatnya.


Fimi beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamarnya hendak mengganti pakaiannya. Saat wanita itu sudah selesai dan kembali ke ruang tamu. Tante Alifa dan Dava sudah tak berada di sana.


"Lho, Tante Alifa ke mana?" Fimi bertanya pada sang mama, kemudian mencari keberadaan putranya juga.


"Udah pulang barusan sama anaknya, oh iya Fir juga ikut, katanya nanti ke sini lagi, kok." Marina menjawab kemudian beranjak dan pergi ke kamarnya.


"Oh, ya udah. Mama mau bakso nggak?" teriak Fimi pada sang mama yang berada di kamarnya.


"Mau," balas Marina dengan teriak juga dari dalam.


"Ayo!" Fimi duduk di sofa menunggu sang mama.


Tak berselang wanita paruh baya itu pun menghampirinya. "Ayo! sambil nungguin papa pulang."


Fimi pun beranjak dar duduknya dan berlalu keluar, tetapi wanita itu tidak menggunakan mobilnya. Fimi mengeluarkan motor matiknya.


"Kita naik motor?" tanya Marina dengan senyum lebar. Anggukkan dari Fimi membuat wanita paruh baya itu langsung menghampiri putrinya dan duduk di jok belakang.


"Andai saja Mama punya anak lelaki, mungkin sekarang yang bonceng Mama tuh dia," ucap Marina pada putrinya.


"Udah, Ma. Yang ada kan Fimi." Wanita itu kemudian melajukan motornya menuju kedai bakso langganan mereka.


Perjalanan menuju kedai bakso itu hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit menggunakan motor. Awalnya mereka akan membungkusnya dan memakan di rumah, tetapi Marina bilang bahwa sudah lama tidak makan bakso bersama di sini.


Fimi dan Marina pun duduk di meja dekat dengan jendela.


Di kedai bakso ini temanya lesehan, jadi hanya ada beberapa meja. Keduanya sedang memesan bakso kesukaan mereka. Sambil menunggu, Marina bertanya mengenai hubungan putri bungsunya dengan putra kedua keluarga Pramudya.


"Jadi, kamu dan Nak Dava sudah sejauh mana?"


"Jauh banget, Ma," jawab Fimi asal sambil mengaduk sambel yang ada di depannya.


"Jangan gitu, Mama lihat Nak Dava itu serius sama kamu," sela Marina.


Bersamaan itu, pesanan mereka datang.

__ADS_1


Fimi mulai mengaduk baksonya, kemudian membubuhkan saos, sambal dan kecap juga jeruk nipis. Saat akan menambah sambal lagi, tiba-tiba seseorang menepis tangannya hingga sendok sambal itu jatuh kembali ke mangkuknya.


"Jangan pedes-pedes, kamu nggak sayang sama perut kamu," ucap suara bariton itu.


"Iya, Mimi." Kini suara anak kecil yang sangat Fimi kenal.


"Kalian, tahu kita di sini dari mana?" Marina bertanya pada kedua pria beda usia itu.


"Om Hendra yang ngasih tahu, Tante. Tadi kita udah ke rumah, Om Hendra juga baru datang sepertinya."


"Oh, Mama udah kasih tahu tadi sebelum, pergi ke sini. Ya udah pesan bakso gih!" Marina melirik ke arah putrinya.


"Kamu mau bakso apa?" tanya Fimi pada Dava.


"Samain sama kamu saja." Dava melirik ke arah mangkuk bakso milik Fimi yang kuahnya sudah berubah merah. Namun, terlihat begitu menggiurkan. Akhirnya, pria itu menggeser mangkuk itu dan mulai mencobanya, rasanya enak, memang pedas tetapi terasa segar.


"Dava makan duluan aja punya Fimi ya, Tante," ucap pria itu pada wanita paruh baya yang sedang menyuapi cucunya. Marina hanya menganggukkan kepalanya.


Saat Fimi kembali, wanita itu terkejut saat melihat baksonya yang kini sudah berpindah tangan. "Kenapa makan punya aku?" gerutunya.


"Kan aku pesen bakso yang sama, jadi nggak apa ya aku duluan," jawab Dava menyebalkan, bahkan peluh di keningnya sudah bercucuran.


"Fir, Mimi udah pesenin juga buat Fir, jadi jangan minta punya Oma ya, Sayang," ucap Fimi lembut.


Sementara itu, Dava dan Marina melanjutkan makan baksonya. Tak berselang lama, pesanan Fimi pun datang. Wanita itu kembali meracik baksonya dengan bumbu kesukaannya. Fir juga mulai memakan bakso kecil kesukaannya.


Dava dan Marina sudah menghabiskan baksonya. Namun, saat pria itu hendak mengambil minuman Fimi. Wanita itu, mengambilnya dan langsung meminumnya.


"Ya ampun, Tante anaknya jahil banget, ini Dava kepedesan." Dava mengadu pada Marina yang malah terkekeh melihat tingkah keduanya.


"Kalian itu pasangan yang cocok, menurut Tante." Marina malah membahas hal lain.


Perdebatan mereka berakhir, saat Fir merengek ingin pulang.


**


Waktu terus berjalan, setelah kejadian di kedai bakso itu. Dava semakin gencar untuk menggoda Fimi. Jika makan siang tiba, pria itu tiba-tiba datang di tempat Fimi makan siang. Siapa lagi yang memberi kabar kalau bukan Nesa.


Namun, hari ini ada yang berbeda di butik. Tiba-tiba saja Alifa datang ke sana dan memesan baju pengantin untuk Dava.

__ADS_1


"Fimi bisa buatin, kan buat Dava?" tanya wanita paruh baya itu.


"Tentu saja, Tante. Kami di sini akan membuatkan baju yang Tante inginkan." Fimi menjawab secara profesional, walau di sudut hatinya bertanya dengan siapa pria itu akan menikah, dan mengapa harus gencar mendekatinya kalau ternyata dia akan menikah dengan orang lain.


"Maaf, Nyonya apa bajunya hanya untuk Pak Dava? Tidak dengan calon istrinya?" Nesa yang mengajukan pertanyaan itu.


"Tentu saja dengan calon istrinya, biar Dava saja nanti yang mengajaknya ke sini ya," jawab Alifa.


Nesa memandang ke arah Fimi yang berusaha tetap bersikap profesional, walaupun ia tahu, sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Terima kasih ya, Nak. Kalau gitu, Tante pulang dulu," pungkas Alifa sambil mendekap tubuh Fimi.


"Sama-sama, Tante. Tante pulang sama Om?" tanya Fimi. Wanita itu menganggukkan kepalanya, kemudian pamit undur diri dan pergi dari butik Klarisa.


Setelah kepergian wanita itu. Fimi menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dadanya terasa sesak, entah kenapa perasaannya juga tak karuan.


"Fi, lo baik-baik aja?" Nesa bertanya padahal ia tahu kalau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Apa ini karma gue karena selalu nolak cowok, Nes?" Fimi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hei, kamu jangan gitu. Kalau memang dia jodoh kamu, sejauh apa pun dia berlari, dia akan tetap kembali ke kamu, Fi." Nesa mencoba menghibur sahabatnya.


"Entahlah. Merancang baju pengantin untuk kekasih yang akan menikah dengan orang lain, miris sekali nasibku," gumam Fimi.


Sementara itu di dalam sebuah mobil, seorang wanita paruh baya sedang menelepon seseorang. "Tenang saja rencana kita sepertinya berhasil, aku sudah menjalankan bagianku."


Wanita yang tetap cantik di usia senja itu, menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku sebenarnya kasihan lihat dia tadi, kamu tahu dia tetap berusaha profesional walau aku tahu mungkin hatinya sedang tak baik-baik saja."


"Nggak apa-apa biar dia tahu perasaannya sendiri." Lawan bicaranya menjawab dalam sambungan telepon itu.


"Kalian benar-benar ... tapi Papi dukung kalau itu untuk kebaikan putra kita."


Bersambung...


Happy Reading


Happy Reading

__ADS_1


Siapa yang ikut 17-an? Aku juga ikutan jadi lemes banget bestie. Aku ikut lomba makan kerupuk, lomba makan, tapi lemesnya sampe sekarang. Wkwkw.


Jan lupa jempolnya ya bestie...


__ADS_2