
Setelah beberapa hari sibuk dengan pekerjaannya, akhirnya weekend pun tiba. Fimi akan mengajak Fir ke wahana permainan anak seperti biasa. Namun, entah mengapa kali ini Fir kekeh ingin mengajak Arya.
"Fil mau pelgi kalau sama Om Alya, Mi." Anak kecil itu merajuk sambil melipat kedua tangannya.
"Kalau Om Aryanya lagi ada acara lain gimana?" tanya Fimi yang sudah kesekian kalinya membujuk sang putra agar pergi berdua saja seperti biasa.
"Fil nggak mau titik."
"Ya udah kalau nggak mau, Mimi mau bobo aja di rumah." Fimi pura-pura menguap dan berbalik menuju kamarnya.
"Mimi, Fil mau jalan-jalan!" teriak anak kecil itu sambil berkacak pinggang. Mata bulatnya terlihat melotot menunjukkan bahwa anak kecil itu sedang kesal.
"Oke, tapi sama Mimi dan Oma kalau mau, nggak ada yang lain." Fimi memberi syarat."
"Assalamu'alaikum!" Tiba-tiba terdengar suara bariton dari luar yang sangat Fimi dan Fir kenal.
"Om Alya, ayo ikut Fil jalan-jalan!" Fir tiba-tiba berlari menuju pintu dan langsung melompat pada pria tinggi di hadapannya.
"Ish, ngapain sih pagi-pagi datang ke sini?" gerutu Fimi pada pria di depannya yang sedang menggendong sang putra.
"Mimi jangan malahin Om Alya!" Anak kecil itu mengibaskan satu tangannya, sementara tangan lainnya merangkul leher Arya.
"Jangan galak-galak gitu kenapa sih? Ini aku bawain makanan buat kalian, oleh-oleh dari Jogja kemarin." Arya menyodorkan dua paper bag ke tangan Fimi.
"Ih, makasih Arya." Fimi menerima dua paperbag itu dengan senyum di bibirnya.
"Tuh seneng, kan? Kalau bawa makanan kesukaan baru senyum," ledek Arya. Namun, Fimi seolah tak peduli, wanita cantik itu malah fokus pada makanan kesukaannya.
"Jangan lupa kasih Tante Marina!" Pria tinggi itu mengingatkan, karena tahu bahwa wanita di hadapannya itu selalu lupa dengan yang lain jika sudah memakan bakvia kesukaannya.
"Iya, bawel!" Fimi menatap sinis ke arah Arya.
Hingga perdebatan itu berakhir, karena Fir sudah merengek untuk segera pergi. Akhirnya, dengan terpaksa Fimi pergi bersama Arya. Jika dilihat mereka memang seperti keluarga kecil.
Arya yang mengemudi saat ini, karena mereka menggunakan mobil Arya.
"Fil boleh ya manggil Om Alya pipi, sehali ini aja, boleh ya?" ucap anak kecil itu dengan wajah yang begitu menggemaskan.
"Fir jangan aneh-aneh ya, Sayang," sela Fimi sambil menoleh ke arah sang putra, tetapi Arya menggenggam tangan Fimi dan menggelengkan kepalanya.
"Boleh dong, Fir." Arya langsung menjawab. Anak kecil itu langsung bersorak kegirangan.
Akhirnya mobil mereka pun melaju membelah jalanan yang mulai macet seperti biasa, apalagi hari ini weekend, banyak orang ingin berlibur setelah penat dengan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, wahana permainan anak. Arya membuka sabuk pengamannya, lalu membantu Fimi juga, sebelum akhirnya pria tinggi itu keluar dan menggendong Fir.
Sementara itu, Fimi mengikuti kedua pria beda usia itu dari belakang. Wanita itu tersenyum getir saat melihat sang putra terus memanggil Arya dengan sebutan pipi.
"Andai saja dulu mas tak pergi, mungkin Fir tak akan memanggil sebutan khusus itu pada yang lain," gumam Fimi.
"Mimi ayo sini! Fil mau mandi bola sama Pipi!" teriak sang putra yang kini sudah berada dalam sebuah kolam bola.
Fimi mengangguk dan berjalan lebih cepat menuju ke arah sang putra.
"Hati-hati, Sayang!" Fimi mulai mengarahkan ponselnya pada Fir untuk mengambil gambar.
Sementara itu, tak jauh dari sana terlihat dua orang pria sedang menjaga dua anak lelaki dan perempuan.
"Hati-hati, Ale!" ucap pria dengan kaos lengan hitam itu.
"Iya, Om bawel. Dari tadi berisik terus, padahal Ale cuma main ayunan doang," gerutu gadis kecil itu sambil kembali mengayunkan tubuhnya.
"Om takut kamu jatuh, Sayang."
"Papi, ajak Om Dava main yang lain, Ale pusing!" rengek gadis berkuncir dua itu pada pria di sebelahnya yang lebih tinggi.
"Om Dava mau main ayunan juga, tapi nggak ada yang muat, makanya bawel," jawab pria itu yang membuat Dava berdecak sebal.
Mereka adalah Kavindra dan Davanka. Mereka sedang mengajak liburan Aksa dan Aleena. Riri dan Sera juga ikut, mereka berdua sedang menjaga Aksa yang asyik bermain perosotan.
Untuk mengalihkan perhatiannya, Dava pura-pura sedang mengambil gambar dari ponselnya, dan setelah lebih dekat ternyata memang benar wanita itu adalah Fimi, ibu dari anak kecil bernama Firdaus.
Karena fokus terus pada ponselnya, Dava sampai menabrak pengunjung lain hingga membuat Fimi menoleh ke arahnya.
"Maaf, saya tak sengaja," ucap Dava.
Hal itu, tak lepas dari perhatian Fimi, wanita itu merasa pernah bertemu dengan pria berbaju hitam itu, tapi di mana? Sampai akhirnya, ia mengingat kejadian menjengkelkan saat dirinya buru-buru ke sekolah Fir saat itu.
"Eh, itu cowok berantakan itu, kan? Ngapain di sini coba?" gumam Fimi tanpa sadar. Sampai akhirnya sebuah tarikan di tangannya membuyarkan lamunannya.
"Mimi, Fil mau main perosotan di sana boleh?" tanya anak kecil itu.
"Eh, iya boleh dong sana, awal jangan lari-larian!" ucap Fimi sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra.
"Oke, Mimi, ayo, Pipi!" Fir kembali beralih pada Arya yang ada di sampingnya.
Ternyata hal itu terdengar jelas oleh Dava, hingga membuat dada pria itu berdetak tak karuan, hatinya terasa sakit tiba-tiba saat tahu bahwa wanita itu benar-benar istri orang.
__ADS_1
"Oh, hati please yang normal-normal aja sih, kenapa harus nyari mati buat dapatin bini orang," gumamnya sambil memegang dadanya.
"Eh, Om Dava, kan? Ini Fil temennya Asa." Tiba-tiba Fir menyapa pria di depannya saat anak kecil itu hendak pergi ke tempat perosotan.
"Hai, anak ganteng, Om ingat kok." Dava menghampiri Fir dan berjongkok di hadapan anak lelaki yang menggemaskan itu.
Fimi tertegun saat mendengar penuturan putranya.
"Mimi, ini om nya Asa sama Ale, Mimi ingat, kan?" tanya Fir pada sang mami.
"Oh ya, maaf Mimi lupa, Fir." Fimi menjawab canggung.
"Ih, Mimi makanya kalau Fil ngomong itu dengelin, jangan iya-iya telus!" gerutu Fir sambil mendelik kesal pada miminya, tetapi justru malah terlihat lucu di mata orang dewasa.
"Lagi ajak main Aksa sama Ale juga ya?" tanya Fimi kaku, karena ia ternyata salah menduga bahwa pria itu yang dulu hampir menabraknya, pria di depannya malah om dari sahabatnya Fir.
"Iya, sama papi maminya juga, kok." Dava menjawab sambil sesekali mencuri pandang ke arah wanita di depannya. Arya yang melihat itu, tahu bahwa pria di hadapannya ini tertarik pada Fimi.
"Mimi, ayo kita ke sana!" ajak Arya dengan sengaja, dan sukses membuat Fimi mendelik kesal.
"Apa-apaan sih?" bisik Fimi.
"Kita ke sana dulu ya, kenalin Arya pipinya Fir!" Arya menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman pada Dava.
"Dava." Dava menyambut tangan pria tinggi itu.
"Dava kamu lihat Aksa nggak?" Tiba-tiba seorang wanita cantik datang dengan wajah cemas.
"Nggak, bukannya sama kamu?"
"Apa?"
Bersambung
Happy Reading
Duh Aksa ilang kah? Fimi lupa ingatankah masa udah beberapa kali ketemu masih lupa aja sama Dava. Kasian Dava ya.
Readers: Fiminya aja yang cuek bebek, mungkin tauma gegara si Heru itu.
Iya juga kali ya, lagian ngapain ada si Heru si?
Readers: Gegara lu ya thor, elu yang bikin si Heru.
__ADS_1
Aku gitu? Kok lupa ya🤔
Readers: Emang minta ditimpuk nih othor😤