
"Mimi, Fil mau main ke lumah Asa boleh, kan?" Anak kecil terus merengek saat Fimi baru saja akan memejamkan netranya, setelah seharian ini dibuat kesal dan kecewa, saat pulang disuguhkan dengan rengekan sang putra yang tak seperti biasanya.
"Fir, bolehkan besok bicaranya, Mimi cape, Sayang," bujuk Fimi tanpa membuka netranya.
"Tapi, Fil mau Mimi. Mimi tinggal bilang boleh atau nggak," desak sang putra yang membuat Fimi akhirnya hilang kendali.
"Firdaus, stop!" bentak Fimi sambil beranjak dan menatap tajam ke arah putra kecilnya. Tanpa sadar Fimi telah membentak putra kecilnya, hingga anak lelaki itu menangis. Marina berlari menuju kamar putrinya dan melihat sang cucu menangis.
"Ada apa ini, Mi?" tanya wanita paruh baya itu sambil menggendong cucunya.
"Maaf, Ma. Fimi cuma sedang lelah hari ini," sesal Fimi sambil beranjak dan berusaha mengambil alih Fir dari gendongan mamanya.
"Fil, nggak mau sama Mimi, Mimi jahat!" teriak anak kecil itu sambil mengeratkan pelukannya pada sang oma.
"Maafin Mimi, Sayang," bujuk Fimi sambil terus berusaha menggendong putranya. Namun, anak kecil itu tetap tidak mau.
"Fil, mau sama Oma, Mimi jahat, Oma," ucap Firdaus disela tangisnya. Fimi menghela nafas berat. Namun, saat kembali membujuk putranya, Marina menggelengkan kepala. "Biar Fir sama Mama dulu, nanti kita bicara." Wanita paruh baya itu berbalik dan keluar dari kamar putrinya.
"Aaargh!" Fimi mengacak rambutnya dengan kesal. Entah kenapa hari ini dia tak bisa mengontrol emosinya, sampai putra kesayangannya menjadi korban dari rasa kesalnya.
"Maafin Mimi, Fir," gumamnya.
Fimi semakin tak bisa tidur, wanita itu hanya mondar-mandir di kamarnya menunggu sang mama datang. Masih terdengar suara Fir yang mengadu ke omanya. Namun, tak berselang lama suara itu berangsur hilang, sampai suara pintu kamar Fimi terbuka.
"Ma, Fir udah tidur?" Fimi menghampiri wanita paruh baya itu. Marina hanya mengangguk lalu duduk di tepi ranjang milik putrinya. Wanita paruh baya itu juga menepuk kasur di sebelahnya agar Fimi duduk. Wanita yang terlihat berantakan itu duduk di samping mamanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Marina sambil merapikan rambut putrinya yang berantakan.
"Maaf, Ma. Hari ini Fimi benar-benar penat di butik," sesal Fimi dan kini air mata yang ia bendung sejak siang tadi tumpah di hadapan sang mama.
Marina menarik sang putri dan memeluknya sambil mengusap punggungnya.
"Maafin Mama, seharusnya kamu tidak menanggung tanggung jawab sebesar ini, Fi. Maafin Mama dan Papa." Marina berbisik mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
"Nggak Ma, Fimi ikhlas dengan takdir Fimi, hanya saja … hari ini terjadi sesuatu yang membuat Fimi lelah." Fimi menggelengkan kepalanya dan melepas pelukan sang mama.
"Papa minggu depan akan pulang, semua akan baik-baik saja, maafin Mama, Sayang."
"Benarkah, Papa akan pulang, Ma?" Netra Fimi berbinar saat tahu cinta pertamanya akan segera pulang.
Hendra Atmajaya adalah suami Marina Saraswati, ayah dari Fimi Klarisa Atmajaya. Hendra Atmajaya adalah seorang designer terkenal yang kini sedang berada di luar negeri untuk mengikuti event di sana. Sudah tiga bulan pria paruh baya itu berada di luar negeri, dan minggu depan pria itu akan kembali pulang ke tanah air.
"Iya, Papa akan berada bersama kita lagi, Sayang." Marina menganggukkan kepalanya.
Sementara di tempat lain, Dava sedang duduk di ranjang king size nya sambil memainkan ponselnya. Pria itu sedang mencari nomor seseorang di sana.
"Gue belum dapat nomor ponselnya ternyata," gumam pria itu sambil terus mengecek daftar nomor telepon yang ada di ponselnya.
"Besok, main ke rumah si kembarlah sambil nanya ke Risha, dia kan pelanggannya pasti punya nomor cewek jus, eh …." Dava menepuk mulutnya sendiri.
Keesokan harinya, Fimi tidak pergi ke butik, wanita itu mengantar Fir ke sekolahnya dan menunggunya sampai pulang. Wanita itu akan mengantar putranya ke mana pun ia mau. Untuk menebus kesalahannya tadi malam karena sudah membentak sang putra.
Saat dalam perjalanan ke sekolah, Fir masih menampilkan wajah cemberut, anak kecil itu masih marah pada Miminya. "Fil nggak suka diantelin Mimi." Anak kecil itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Benalkah, Mimi?" Fir menoleh ke arah Fimi dengan wajah berbinar. Fimi mengangguk.
"Ah, nanti Mimi pelgi lagi ke butik, telus lupa yang jemput pasti Ate Nesnes." Fir kembali menyilangkan tangannya dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Nggak, Sayang. Mimi akan tungguin Fir sampai pulang sekolah, Mimi nggak akan ke butik hari ini," ucap Fimi meyakinkan sang putra. Setelah itu, tak ada percakapan lagi diantara mereka. Fimi fokus menyetir dan Fir fokus melihat jalanan yang selalu macet setiap pagi.
Tak berselang lama mereka samapi di sekolah Fir. Fimi benar-benar menunggu Fir di kantin sampai putra kecilnya itu sampai pulang. Fir menghampiri Fimi dengan Aksa dan Ale.
"Mi, ayo kita ke rumah Asa!" ajaknya sambil menarik tangan Fimi.
"Iya, Sayang. Aksa sama Ale ikut mobil Tante saja ya?" Fimi mengalihkan pandangan kepada anak kembar di samping Fir.
"Boleh, Ateu, ayo!" Ale menarik tangan Fimi.
__ADS_1
Sebelumnya Fimi memang sudah menghubungi Riri untuk berkunjung ke rumahnya dan akan mengantar Ale dan Aksa sekalian, jadi Riri ataupun suaminya tak perlu menjemput anak kembarnya.
"Ayo!" Fimi berjalan menuju mobilnya, setelah ketiga anak kecil itu dan aman, Fimi pun mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Kavindra. Perjalanan yang mereka tempuh hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, apalagi perjalanan hari ini cukup lancar tanpa.
Fimi sudah memasukan mobilnya ke pelataran luas milik Kavindra, setelah gerbang putih tulang itu dibuka. Mereka disambut oleh Riri dengan baik dan dipersilakan masuk.
"Mbak Risha apa kabar?" Fimi menyapa wanita cantik di sebelahnya saat keduanya akan masuk rumah, sementara ketiga anak kecil itu sudah masuk lebih dulu.
"Alhamdulillah baik."
"Maaf ya, Mbak. Fir maksa banget pengen main ke sini," sesal Fimi. Namun, mendapat gelengan dari wanita yang selalu cantik di depannya.
"Nggak apa-apa, aku seneng Aksa sama Ale jadi banyak teman, anak yang lain juga sering kok main ke sini."
"Mbak Risha nggak lagi sibuk, kan?"
"Nggak, aku baru aja selesai masak sama Bi Sumi. Jadi sekarang kita makan dulu yuk!" ajak Riri.
"Nggak usah, Mbak. Makasih jangan ngerepotin," ucap Fimi.
"Ih, nggak kata siapa repot, ayo! Suami aku juga hari ini nggak makan di rumah, lagi sibuk, tapi udah aku bawain bekal sih tadi pagi, jadi ayo temenin aku sekalian nyuapin anak-anak juga," ucap Riri sambil menarik Fimi ke dalam menuju meja makan.
Mereka pun akhirnya makan bersama, Fir terlihat senang bermain bersama Aksa dan Ale. Hingga sore menjelang, akhirnya Fimi memutuskan untuk pulang. Awalnya Fir tidak mau, tetapi setelah dibujuk akhirnya anak kecil itu pun menurut.
Setelah mengucapkan terima kasih, Fimi dan Fir pun pamit.
Saat mobil mereka keluar gerbang, ada mobil lain masuk ke halaman rumah Riri.
"Dava?"
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Yah telat nih Bang Dava, jadi nggak ketemu jus kan? Eh...
Jangan lupa jempolnya gerakin ya bestie.