
Fimi baru saja sampai di butik. Wanita cantik itu menghela nafasnya setelah duduk di kursi kerjanya. Wanita itu, akhirnya bisa kembali ke ruangan favoritnya.
"Akhirnya Bu Bos kembali." Tiba-tiba Nesa datang dengan membawa satu paper bag di tangannya.
"Iya, Fir sudah kembali sekolah, aku baru aja nganterin mereka," jawab Fimi dengan posisi bersandar pada kursinya.
"Ya udah nih sarapan dulu, tadi pagi ibu sengaja buat ini untuk kita berdua." Nesa mengeluarkan dua kotak makan dari paper bag itu.
"Wah, masakan ibu kamu selalu membuat nafsu makan aku nambah." Fimi langsung mengambil satu kotak makan yang diberikan Nesa.
"Iya dong, ayo makan!"
Keduanya pun menyantap makanan dengan lahap, walaupun Fimi sudah sarapan roti di rumah, tetapi wanita itu memang hobi makan, jadi bagi dirinya tak masalah jika sekarang makan makanan berat lagi. Tubuh Fimi type yang susah gemuk walaupun makan banyak, jadi wanita itu merasa beruntung dan menikamti semuanya.
Sekitar lima belas menit, mereka menyelesaikan makannya, setelah itu langsung kembali bekerja dengan serius, karena harus menyelesaikan semua pesanan pelanggan.
Fimi saat ini sedang menatap layar laptopnya. Ada banyak design baju di sana. Wanita itu sedang memadukan warna yang cocok untuk semua karyanya yang telah wanita itu buat selama berada di rumah saat menunggu Fir sakit.
"Nes, nanti siang aku akan jemput Fir dan mama seperti biasa, kamu tolong beberapa stok baju yang sudah ada untuk klien kita," ucap Fimi pada Nesa yang duduk di seberang mejanya.
"Oke." Nesa membentuk huruf O dengan jarinya.
"Eh, aku belum cerita ya, saat aku mau jemput Fir pas dia jatuh ada kejadian apa?" Fimi tiba-tiba mengingat kejadian tak menyenangkan saat mobilnya dihadang oleh pria berantakan.
"Belum, emang kenapa? Ketemu jodoh ya?" Sebuah pulpen sukses mendarat di meja Nesa, untung saja tak mengenai wajahnya.
"Ish, mana ada, tetapi saat itu kalau aku nggak buru-buru mengerem mobil, tahu dah gimana?"
"Eh, emang kenapa?" Nesa kini mendatangai meja Fimi, lalu duduk di kursi yang tersedia di sana.
__ADS_1
"Masa tiba-tiba ada mobil item, nyalip gitu terus menghadang mobil aku, kaget dong lebih tepatnya marahlah, mana aku keinget Fir lagi," papar Fimi.
Nesa mendengar cerita sahabatnya itu dengan menopang dagunya di atas meja. "Terus lo marahin kayak biasa dong?" Wanita itu tahu bagaimana kelakuan Fimi jika sedang panik.
"Iyalah, aku turun, aku ketuk tuh kaca jendela mobilnya, eh pas keluar cowok berantakan banget tahu nggak sih, kayak bangun tidur gitu," ucap Fimi sambil mengingat kejadian saat pertama kali bertemu cowok paling berantakan.
"Lah, jadi dia nyetir sambil tidur? Gila! Kalau sampai kecelakaan gimana ya?"
"Iya, makanya aku marahin dong, dia cuma minta maaf sambil memegang kepalanya, beneran bangun tidur kayanya sih. Amit-amit jangan sampai ketemu lagi sama orang kaya gitu, udah berantakan, nggak tahu aturan, pokoknya ancur deh." Fimi bergidik sambil mengetuk meja dengan tangannya bergantian ke kepalanya.
"Jangan gitu, biasanya nih ya apa yang lo nggak suka, itu yang akan Allah kasih buat lo, Fi." Nesa mengingatkan.
"Ih, amit-amit jangan sampai!" Fimi mengetuk mejanya tiga kali bergantian ke kepalanya. Sementara itu Nesa hanya tergelak melihat tingkah sahabatnya itu.
"Gue doain lo ketemu lagi pas dia lagi ganteng, rapi, dan wangi," ucap Nesa yang malah mendapat tatapan tajam dari Fimi.
"Udah ah balik kerja sono! Nyesel gue cerita sama lo," gerutu Fimi yang membuat Nesa kembali tergelak, tetapi kembali juga ke mejanya.
Fimi fokus mengemudi dan berdoa agar kejadian beberapa hari lalu tak terulang. Sekitar dua puluh menit perjalanan menuju ke Kober Ar-Riadhah dari Butik Klarisa. Saat mobil Fimi masuk ke halaman sekolah Fir, datang juga mobil hitam di belakangnya. Tentu saja orang tua siswa sekolah ini yang akan menjemput putra-putri mereka.
Saat Fimi keluar dari mobilnya, bersamaan itu juga seseorang keluar dari mobil hitam. Lelaki dengan kemeja hitam, yang terlihat begitu rapi dan tampan tentu saja. Fimi hanya melihatnya sekilas, kemudian berlalu menuju arena permainan dekat kantin sekolah. Fir dan sang mama menunggunya di sana.
Sementara itu, lelaki berkemeja hitam itu juga melakukan hal yang sama, bukan mengikuti Fimi, tapi keponakan kembarnya juga menunggu di tempat yang sama.
Fimi menemukan sang putra sedang bermain perosotan bersama dua temannya yang Fimi kenali bernama Aksa dan Aleena.
"Hai, Sayang. Maaf menunggu lama," sapa Fimi pada sang putra yang langsung berlari ke arah dirinya.
"Mimi!" panggil anak kecil itu sambil memeluk tubuh sang ibu. Pemandangan itu tak luput dari perhatian seorang pria di belakangnya.
__ADS_1
"Om Dava!" Tiba-tiba Aleena memanggilnya dan melakukan hal yang sama seperti Fir.
"Siang, Sayang, audah siap untuk pulang?" tanya Dava sambil menghampiri keduanya. Sebenarnya Dava ingin memastikan apakah benar wanita di hadapannya itu, wanita yang beberapa hari lalu mobilnya ia hadang dan marah-marah pada dirinya. Semakin dekat, Dava semakin yakin bahwa wanita itu adalah dia.
"Hai, Om Dava, ini Mimi Fil," sapa anak bernama Fir itu yang masih bergelayut manja di pangkuan sang mama.
Fimi menoleh ke arah pria di sampingnya, dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Aksa sama Ale nggak dijemput mami ya?" tanya Fimi lembut.
"Nggak Tante, kita lagi nginep di rumah oma, jadi nggak dijemput mami, giliran Om Dava sama Om Kai kalau di rumah oma," jawab gadis berambut dikuncir dua itu dengan lantang.
"Oh, salam sama mami ya, udah lama nggak ketemu," imbuh Fimi. Setelah itu wanita cantik itu pamit undur diri untuk pulang lebih dulu.
Dava hanya mengangguk dan menata hatinya yang tiba-tiba tak karuan. Setelah Fimi dan Fir pergi, kini giliran Dava dan keponakan kembarnya pulang. Saat mereka berada di dalam mobil, Dava bertanya pada keduanya mau langsung pulang ke rumah atau jalan-jalan dulu. Tentu saja kedua anak itu memilih untuk jalan-jalan dulu dan jajan eskrim kesukaan mereka.
Dava pun mulai melajukan mobilnya. "Oh iya, yang tadi itu maminya teman kamu ya? Siapa namanya Fi …."
"Firdaus panggilannya Fir, Om. Iya yang tadi maminya, kalau yang nunggu di kantin itu omanya," jawab Aksa.
Dava hanya menjawab oh tanpa bersuara, kemudian kembali fokus menyetir walau hatinya terus bergumam, "Apa iya gue suka istri orang? Please, Dav lo emang patah hati, tapi nggak usah jadi perebut istri orang juga."
Bersambung...
Happy Reading
Eeaaa ... Babang Dava galon, hatinya bergetar lihat bini orang.
Readers: Ya udah gaskeun!
Jangan dong, masa jadi pebinor, nggak asyik ah.
__ADS_1
Readers: Belum tahu si othor sekarang bini orang lebih menggoda dari perawan.
Ish mau elu itu mah.