Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Acara Tahunan


__ADS_3

Dava mengerjap saat seseorang memanggilnya.


"Pak Dava?" Haris mengguncang pelan. bahu Dava.


"Anak cengeng?"


"Siapa, Pak?" Haris mengerutkan dahi mendengar panggilan bosnya.


Dava mengucek netranya dan melihat siapa yang ada di sampingnya. "Eh … Haris kenapa? Maaf tadi saya ketiduran."


"Maaf, Pak Dava saya mengganggu istirahat Anda. Ada beberapa hal yang harus Pak Dava …." Haris langsung menyodorkan beberapa berkas di tangannya.


Waktu terus berjalan, Perusahaan Pramudya saat ini sedang mengadakan acara tahunan di hotel Aghata. Semua karyawan dan keluarga Pramudya berkumpul di sana. Banyak tamu yang diundang dalam acara itu.


Dava terlihat sibuk berbincang dengan beberapa tamu dan kolega. Riri dan Kavindra juga si kembar tampak hadir di sana.


Keluarga kecil itu sesekali ikut berbincang bersama tamu yang hadir. Namun, Riri sepertinya lebih fokus ke putra-putrinya yang sedang aktif ke sana ke mari.


Sementara itu, di tempat lain. Fimi sudah cantik dengan dress panjang warna biru dongker. Kulitnya yang putih menjadi lebih bercahaya. Wanita itu sedang menunggu di ruang tamu bersama sang papa.


"Kamu nggak bilang ke Arya dulu, Fi?" tanya Hendra saat putrinya akan kembali bersandiwara sebagai tunangan dari sahabat kecilnya, Vano.


"Kenapa harus bilang ke Arya, Pa?" Fimi mengerutkan keningnya.


Hendra menyentil kening sang putri. "Kamu lupa, kalau kamu juga sedang berpura-pura jadi istri Arya?"


"Oh, iya ya, kenapa Fimi bisa lupa?" Wanita itu mengusap keningnya yang terkena sentilan sang papa.


"Lebih baik kamu jujur pada diri kamu sendiri, Fi. Untuk apa berpura-pura, secara tak langsung kamu sedang membohongi dirimu sendiri." Hendra menasihati putri bungsunya.


Bersamaan itu sebuah klakson mobil berbunyi dari luar. "Vano udah datang, Pa. Kalau gitu Fimi berangkat dulu." Fimi mencium punggung tangan papanya.


"Oh, iya nanti kalau Fir pulang sebelum Fimi, telepon Fimi ya, Pa." Wanita itu mengingatkan kembali.


"Iya, hati-hati di jalan!"


Kini wanita cantik itu sudah duduk di samping kemudi bersama pria tampan dengan kulit eksotis. Jas hitam yang melekat pada tubuhnya begitu pas dan terlihat begitu rapi.


"Tumben lo bisa dandan cantik, Fi." Pria bernama Vano itu berkomentar sambil melajukan mobilnya.


"Dih, gue mah udah cantik dari sononya, lo nya aja yang nggak nyadar." Fimi menjawab sewot ke arah pria di sampingnya. "Gue batalin juga dah."


"Eits, enak aja nggak bisa uang gue udah masuk ke rekening lo, lagian lo mana mungkin balikin ke gue," bantah Vano.

__ADS_1


Fimi hanya terkekeh geli, kemudian menepuk bahu pria di sampingnya. "Tenang aja akting gue pasti meyakinkan, seperti biasa."


Perjalanan mereka menuju Hotel Aghata selalu diselingi dengan percakapan yang memancing pertengkaran keduanya.


Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah Hotel bintang lima yang sudah terkenal di kota ini.


"Ini temen lo yang mana? Mereka nggak kenal gue, kan?" Fimi baru bertanya mengenai orang yang mengundang sahabatnya itu.


"Nggak, udah tenang aja, ini tuh kolega baru gue, jadi gue yakin mereka nggak akan kenal sama lo," ucap Vano yang kini menggandeng tangan Fimi layaknya pasangan.


"Oke, kalau gitu." Fimi membentuk lingkaran dengan jari jempol dan telunjuknya.


”Oh, iya inget lo manggil gue Mas Vano, gue manggil lo sayang. Nggak ada gue-lo lagi, ingat!" Vano kembali mengingatkan Fimi soap panggilan mereka yang sudah disepakati beberapa hari lalu.


"Siap, Mas Vano." Fimi berucap dengan lembut yang membuat Vano sedikit bergidik.


"Demi kelancaran semuanya, walaupun gue geli, terpaksa," bisik Vano.


"Ayo, Sayang!"


Setelah menunjukkan kartu undangan mereka pun masuk. Fimi dan Vano tetap bergandengan tangan layakanya pasangan. Fimi melihat sekeliling dan tak seorang pun diantara mereka yang wanita itu kenal. Wanita itu pun dengan luwes berakting seperti biasanya.


Vano mengajak Fimi ke beberapa koleganya. Namun, pria itu belum bertemu dengan pemilik perusahaan yang mengadakan acara ini. Sehingga keduanya memutuskan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia di sana.


"Tumben biasanya juga porsinya banyak," bisik Vano sambil terkekeh.


"Ish, lo lupa apa gue jadi tunangan lo, Mas Vano." Fimi juga berucap dengan berbisik.


"Duh, mesra sekali." Tiba-tiba seseorang menyapa dari belakang.


Vano dan Fimi langsung berhenti tertawa dan pria tinggi itu lebih dulu membalikkan tubuhnya. 


"P-Pak Dava, akhirnya saya bisa bertemu dengan Anda." Vano sedikit tergagap saat melihat pemilik perusahaan berada di depannya.


"Selamat sore, Pak Vano. Terima kasih sudah hadir di acara kami," ucap Dava sopan.


Fimi masih belum membalikan tubuhnya, wanita itu kini sudah tak karuan dengan perasaannya. Apa mungkin Dava teman Vano, adalah Dava yang sama? Pikirnya.


"Oh, iya kenalkan ini tunangan saya." Vano mengajak Fimi untuk berkenalan dengan Dava. Sebenarnya Fimi ragu, tetapi demi membantu sahabatnya ia harus benar-benar mendalami perannya.


Saat berbalik, Fimi dan Dava saling bertatapan. Namun, dengan segera Dava memutus tatapan mereka.


"Davanka." Pria itu menjabat tangan wanita di depannya dengan menyebutkan namanya.

__ADS_1


"Mm ... Klarisa." Fimi akhirnya hanya menyebutkan nama panjangnya seperti biasa jika bersama dengan Vano.


"Tunangan Anda begitu cantik, kapan rencana pernikahan kalian?" Dava bertanya seolah tak mengenal Fimi.


"Minta doa terbaik saja buat hubungan kami, Pak Dava. Iya kan, Sayang?" Vano meminta persetujuan Fimi. Wanita itu hanya mengangguk, tanpa banyak bicara. Perasaannya sudah tak karuan. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke toilet.


"Mas, aku permisi ke toilet sebentar," bisik Fimi pada Vano.


"Mau aku anter?" tawar Vano. Namun, gelengan dari wanitanya membuat Vano mengangguk. Fimi juga bahkan mengangguk pada Dava.


Wanita itu langsung pergi mencari toilet. Hatinya sudah tak karuan, malu semalu-malunya. Bagaimana bisa seorang istri bisa menjadi tunangan pria lain. Ish Fimi-Fimi lo bener-bener siyal. Bener kata papa gue cuma boongin diri gue sendiri. 


Saat hatinya sedang berdebat dengan dirinya, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan mendorong tubuhnya ke sebuah dinding yang sempit. "Jadi seorang istri bisa jadi tunangan pria lain dalam waktu bersamaan, apa kamu mau melakukan poliandri, Nona?" ucap pria yang kini mengunci tubuhnya di dinding.


"Lepasin gue!" pekik Fimi saat tahu siapa pelakunya.


"Apa aku bisa daftar jadi suami kamu berikutnya, Nona Klarisa?" ejek Dava yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Fimi, yang kini sudah memucat.


"Jangan kurang ajar. Aku bukan wanita seperti itu," bantah Fimi yang memalingkan wajahnya.


"Apakah satu lelaki tidak cukup memuaskanmu? Hingga harus mencari pria lain?" desis Dava.


Fimi naik pitam saat perkataan Dava begitu merendahkannya. 


Plak! Satu tangan Fimi melayang dan menampar pipi kiri Dava dengan keras.


Dava tersenyum miring saat tamparan itu membuat pipinya terasa kebas.


"Jangan pernah ikut campur urusanku, Tuan Dava! Jangan menilai seseorang tanpa tahu kebenarannya, lo akan menyesal!" Fimi mendorong tubuh Dava hendak pergi dari sana. Namun, tanpa wanita itu duga, Dava menahannya dan menghimpitnya, hingga wanita itu berteriak.


Sampai sebuah benda kenyal dan basah membungkamnya. Dava mencium Fimi dengan paksa, hingga wanita itu terus berontak dan memukul dadanya. Ciuman pertama Fimi yang direnggut paksa oleh pria yang ia benci.


"Gue benci sama lo!" Fimi kembali menampar Dava dan langsung pergi dari sana. Dava memegang pipinya yang dua kali terkena tamparan.


"Aaargh!"


Bersambung...


Happy Reading


Ada yang masih nungguin Bang Dava nggak ya?


Komen di bawah.

__ADS_1


__ADS_2