Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Sepakat


__ADS_3

Fir sedang bergurau bersama seorang pria dewasa di ruang keluarga. Anak kecil itu sesekali terdengar tertawa lepas. Sementara Fimi dan Marina berada di dapur.


"Jadi kamu sama Nak Dava udah ... bersama?" Marina menggoda putrinya sambil menata kue di piring.


"Nggak, Ma. Aku sama Bang Angka eh dia nggak jadian, kita cuma kebetulan ketemu di suatu tempat, dan kami terjebak hujan ...."


"Oh, gitu aja? Kok Mama nggak percaya?" Marina kembali tersenyum jahil pada putrinya.


"Ya udah kalau nggak percaya." Fimi meninggalkan sang mama dengan nampan berisi teh hangat dan kopi.


Marina hanya menggelengkan kepalanya, kemudian wanita paruh baya itu membawa nampan juga yang berisi kue dan cemilan lainnya.


"Jadi Om sama Mimi mau pelgi?" Fir terlihat mengerutkan keningnya.


"Iya, boleh, kan?" Dava melirik ke arah Fimi yang menyimpan nampan di meja.


"Nggak usah didengerin Fir. Om Dava bohong." Fimi menyela perbincangan mereka.


"Diem dulu, Mimi." Fir menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri. Fimi memutar bola matanya.


"Memangnya Om mau ngajak Mimi ke mana?"


"Ke pulau Minan."


Fir dan Fimi saling pandang. Kemudian anak kecil itu yang kembali mengutarakan pertanyaannya.


"Pulau Minan itu di mana, Om. Jauh nggak? Fil boleh ikut ya?"


"Kenapa aku baru denger nama pulau itu, di negara mana sih? Atau mungkin Minang?" Fimi ikut menimpali.


Dava menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kamu akan tahu dengan syarat kamu menyetujuinya," tukas Dava.


"Mana bisa gitu, jelasin dulu dong," tolak Fimi mentah-mentah.


"Ya udah kalau gitu."


"Ya udah."


Dava menempelkan punggungnya pada sofa, saat melihat Fimi biasa saja. "Emang nggak penasaran?"


"Nggak."


"Fil penasalan Om. Kasih tau dong." Anak kecil itu menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya. Tubuh kecilnya duduk di atas karpet bulu yang empuk bersama Dava. Matanya yang bulat berbinar menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh pria di depannya.


"Mimi kamu nggak penasaran kayaknya, Fir." Dava menunjuk Fimi yang sedang meminum tehnya.


Fir mendekat ke arah Dava, kemudian anak kecil itu berbisik di telinganya. "Mimi tuh sebenelnya sama kayak Fil, Om. Cuma Mimi pula-pula aja."

__ADS_1


Dava terkekeh mendengar bisikan anak kecil yang selalu menggemaskan itu. Kemudian, Dava menarik tubuh mungil Fir ke dalam pangkuannya. "Tapi ... Fir janji ya, harus setuju." Fir hanya mengangguk dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.


"Pulau Minan itu ... ada di sini."


"Iya kah, Om?" Dava menganggukkan kepalanya. Kemudian pria itu menatap ke arah Fimi, yang juga sedang menatapnya. Namun, saat pandangan mereka beradu, Fimi yang yang lebih dulu memutusnya.


"Aku tau kamu penasaran. Pulau itu adalah 'Pelaminan Kita'," goda Dava yang malah mendapat lemparan sofa dari Fimi. Untung saja pria itu sigap menangkapnya, kalau tidak mungkin saja Fir yang akan terkena lembaran bantal itu.


"Nggak lucu, garing banget. Dih," omel Fimi. Sementara Fir hanya menatap bingung ke arah orang dewasa di hadapannya.


"Fil mau ke Oma, Fil udah ngantuk." Anak kecil bermata bulat itu beranjak dari pangkuan Dava. Saat Fimi akan mengantarnya, Fir menolaknya.


"Mimi sama Om Dava aja, Fil bisa sendili, kok."


Fimi kembali duduk di karpet bulu itu. Kemudian melihat Fir, hingga putranya itu menghilang dibalik pintu.


"Udah malam, pulang gih!" usir Fimi.


"Ya ampun, aku masih betah di sini, lagian mobil aku kan sama Haris."


"Taksi, angkutan umum, ojek juga masih banyak, nggak usah banyak alasan. Manja banget." Fimi kembali menggerutu.


Sementara itu di ruangan lain. Fir dan Marina saling tos, karena rencana mereka untuk menyatukan keduanya berhasil. "Om Dava lagi ajakin Mimi ke pulau Minan, Oma."


"Hah? Di mana itu?" Marina mengerutkan keningnya.


"Katanya di sini, Oma."


"Nggak, Oma. Katanya di sini."


**


Keesokan harinya, Dava pergi ke kantor dengan suasana hati yang baik. Walaupun semalam dia benar-benar diusir, karena Fimi sudah memesankan taksi online untuknya, tetapi hatinya bahagia karena ternyata perasaannya disambut dengan baik.


"Haris apa jadwal saya minggu ini padat?" tanya Dava pada asistennya.


"Jadwal minggu ini lumayan padat, Pak. Apalagi ada beberapa klien yang sudah menunggu lama untuk membahas beberapa proyek." Haris membuka ponselnya dan melihat jadwal atasannya.


"Baiklah, saya akan memenuhi semuanya. Karena mungkin mulai minggu depan saya akan ada beberapa urusan." Dava kembali pada laptopnya.


"Baik, Pak." Haris pun meninggalkan ruangan atasannya dan kembali bekerja.


Dava fokus pada pekerjaannya. Pria itu kini sudah tenang, sehingga bisa kembali fokus pada pekerjaannya. Saat makan siang tiba, Dava memilih untuk makan di kantor saja dan memesan makanannya.


Pria itu mengingat percakapannya tadi malam bersama Fimi.


"Kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Dava saat putra kecil Fimi berkata ingin tidur.

__ADS_1


"Jangan buru-buru, emangnya udah siap nerima aku sama Fir?" jawab Fimi.


"Aku akan menerima kalian berdua. Mencintai kamu berarti juga mencintai keluarga kamu termasuk keponak ... maksud aku putramu." Dava menelan salivanya saat ia hampir saja keceplosan menyebut keponakan.


Fimi menghela nafasnya. "Aku tahu kamu udah tahu tentang status Fir. Namun, aku tetap menganggap dia sebagai putraku."


"Maafkan aku. Bisakah kita membuat kesepakatan untuk hubungan kita?" ucap Dava lembut.


"Kesepakatan apa?" Fimi menatap pria itu penuh tanya.


"Usiaku sudah tak muda lagi, aku sadar itu."


"Tua ya?" Fimi terkekeh.


"Dengarkan aku dulu!" Dava mengusak rambut Fimi.


"Aku sudah malas untuk berpacaran, apakah bisa kita langsung menikah saja? Soal biaya aku sudah menyiapkannya sejak dulu, kamu jangan khawatir." Dava menarik satu tangan Fimi dan menggenggamnya.


"Secepat itukah? Memangnya aku setuju untuk diajak ke pulau Minan-mu itu?" sela Fimi.


Dava menatap teduh ke arah Fimi dan mengeratkan genggamannya. "Aku serius Fimi. Kalau kamu memang ingin berpacaran dulu, aku bisa tapi aku pikir satu bulan cukup untuk kita saling mengenal kebiasaan kita."


"Satu bulan? Kamu yakin dalam satu bulan itu kita bakal bertemu tiap saat. Aku itu orangnya so sibuk." Fimi menarik tangannya, tetapi tak dilepaskan Dava.


"Kita sudah sama-sama dewasa, Fi. Aku yakin kamu pasti bisa."


"Ya udah kita coba satu bulan, kalau aku ngerasa belum mengenal kamu, tambah jadi tiga bulan, bagaimana?" tawar Fimi.


"Baiklah, jadi mulai saat ini kita sepakat untuk menjalin hubungan, kan?" Dava memastikan. Anggukkan dari Fimi membuat pria itu tersenyum.


"Oh iya, minggu ini aku sibuk banget, banyak pesanan di butik, aku kayanya nggak bisa ketemu sama kamu."


"Tidak apa-apa, tenang saja. Aku juga sepertinya akan sibuk minggu ini, karena banyak pekerjaan yang tertunda kemarin-kemarin."


Dava terhenyak saat suara ketukan terdengar di pintu ruangannya.


"Masuk!"


Saat pintu berwarna cokelat itu, terbuka, seseorang yang tak ia harapkan datang berdiri di sana dengan senyum miring.


"Mau apa lo ke sini?"


Bersambung


Happy Reading


Merdeka, merdeka! Selamat hari kemerdekaan buat Indonesia tercinta. Semoga Indonesia makin berkembang dalam segala bidang, terutama perekonomian. Merdeka dari harga mihil terutama.

__ADS_1


Oke guys menurut kalian apa arti merdeka bagi kalian.


Kalau aku merdeka untuk bisa ngehalu kapan aja wkwkw. Jan lupa jempolnya ya bestie.


__ADS_2