
Dava sudah berada di villa sang papi. Ada satu asisten rumah tangga dan satu tukang kebun. Mereka adalah suami istri yang bertugas menjaga villa keluarga Pramudya. Dava disambut dengan baik, dan dilayani sebagaimana mestinya. Tak jauh dari villa itu ada sebuah danau berbentuk hati dengan air yang sangat jernih.
"Dava akan di sini beberapa hari, Bi." Pria itu berkata pada asisten rumah tangganya.
Dava beranjak ke lantai atas untuk menempati salah satu kamar yang ada di sana. Dava menikmati suasana baru di villa ini. Pria itu akan menggunakan masa cutinya untuk mengikuti rencana adiknya, mengenai kencan buta. Memang terdengar gila, tapi sepertinya Dava memang sudah tak berminat untuk mencari sendiri, rasa sesalnya masih terlalu dalam karena kejadian masa lalu.
Tak berselang lama, tiba-tiba pria itu sudah terlelap dengan ponsel masih berada di tangannya. Mungkin karena lelah telah melewati perjalanan yang cukup jauh, membuat pria tampan itu akhirnya tertidur.
Sekitar dua jam Dava tertidur dengan posisi yang sama, sampai suara dering telepon membangunkan pria itu.
"Halo," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur, bahkan netranya masih terpejam.
"Bang, besok ketemu di resto Prima jam makan siang," balas pria yang ternyata Kaivan.
"Iya, kamu shareloc aja," jawab Dava malas bahkan kembali mendengkur.
"Eh, malah tidur." Terdengar omelan dari sang adik lewat sambungan teleponnya.
"Mm … iya, iya." Dava beranjak duduk dan bersandar pada kepala ranjang sambil menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Bang, oi!" Kaivan terdengar berteriak.
"Iya,iya berisik!" gerutu Dava.
"Dengerin besok, Abang ketemu sama kandidat pertama ya, tenang aja udah Kai seleksi kok, oh iya satu lagi, jangan ngaku Ceo ya, pedagang apa kek, kita lihat ceweknya tulus apa nggak?" papar Kaivan panjang lebar yang membuat Dava mengangguk, seolah adiknya itu bisa melihatnya.
"Ish, malah tidur lagi, dengerin Kai nggak sih?" Kaivan kembali mengomel.
"Nggak, Kai. Abang dengerin iya, terserah kamulah, besok Abang datang." Dava sudah bangun sepenuhnya dan tentu saja mendengar ucapan sang adik dengan jelas.
"Oke, Kai shareloc dan kasih nomor ponsel ceweknya." Kaivan mengakhiri panggilan teleponnya.
Dava menyimpan benda pipih itu di atas nakas, kemudian mengusak rambutnya dengan satu tangannya. Badannya terasa segar setelah bangun tidur siang ini. Biasanya jam seperti ini Dava tengah sibuk di kantor, tetapi tidak untuk satu minggu ke depan.
Pria itu lalu turun dari ranjang hendak membersihkan tubuhnya. Hari pertama di villa Pramudya, akan pria itu gunakan untuk beristirahat saja. Setelah mandi, pria itu turun ke lantai bawah untuk membeli makan siang. Namun, makan siang sudah disiapkan oleh Bi Noni.
Wanita paruh baya itu baru saja menyajikannya di meja makan. "Silakan makan dulu, Den! Bibi sudah masakin makanan kesukaan, Den Dava." Wanita paruh baya itu menarik kursi untuk majikannya.
"Makasih, Bi. Kirain Bi Noni udah lupa makanan kesukaan Dava," ucap pria jangkung itu lalu duduk di kursi yang tadi ditarik Bi Noni.
__ADS_1
"Bibi memang sudah tua, tapi tetap masak tiap hari, Den, jadi nggak mungkin lupa," ucap wanita paruh baya itu sambil terkekeh.
"Sini, Bi temenin Dava!" Pria itu menepuk kursi kosong di sampingnya.
"Nggak usah, Bibi masih ada kerjaan di belakang, Bibi pamit ya, Den. Makan yang banyak!" ucap wanita berkebaya biru itu setengah berbisik.
Dava mengangguk dan mengangkat jempol tangannya. Setelah itu, mulai mengambil nasi dan beberapa lauknya. Makanannya terasa lezat dan mengingatkan dirinya pada masa kecil. Dava benar-benar menikmati hari ini.
Waktu terus berjalan, malam pun tiba, Dava kembali ke kamarnya setelah berbincang dengan Bi Noni dan Mang Agus. Saat pria itu sampai di kamarnya, Dava melihat ponselnya yang berada di nakas setelah bangun tidur tadi. Banyak notif yang masuk, salah satunya dari Kaivan yang mengingatkan untuk kencan buta pertamanya esok hari.
Kemejanya warna merah maroon ya, Bang.
Kalimat itu tertulis dari chat yang dikirim Kaivan.
"Apa-apaan sih, pakai merah maroon, gue nggak suka, Kai." Dava bergumam sendiri.
Sementara itu, di tempat lain Nesa dan Fimi sedang berdebat mengenai kencan buta yang akan Fimi lakukan esok hari.
"Udah deh, Nes, gue jadi gue aja sekarang dengan Fir, nanti setelah waktunya tiba gue pasti cerita ke lonyang sebenarnya," ucap Fimi pada Nesa yang terus mendesak mengenai kebenaran statusnya.
"Iya, tapi kan ... maksud gue biar nanti lo kenalan sama mereka pasti nanyain status lo ...." Nesa terdiam saat merasa ucapannya sudah sedikit keterlaluan.
"Iya juga sih, okelah. Oya besok lo ketemuan di resto Prima, tahu kan?" tanya Nesa.
"Hm." Fimi mengangguk.
"Jam makan siang ya, nanti gue share nomor dia, katanya sih pengusaha muda gitu, oya fotonya nanti gue kirim juga." Nesa mengotak-atik ponselnya.
"Ya udah, karena sekarang udah sore mau malam, kita pulang, nggak usah lembur hari ini sampai acara kencan maksa ini selesai," ucap Fimi mendelik dan membuat Nesa tergelak.
"Ye, lagian suruh siapa nggak mau pacaran, padahal Arya masih berharap tau, Fi."
"Udah deh jangan mulai, gue nggak bisa sama dia, Arya udah kaya abang buat gue, jantung gue nggak pernah deg-degan kalau deket dia," ucap Fimi sambil mengambil tasnya dan berjalan keluar kantornya.
"Ya, iya. Terus yang bikin lo deg-degan siapa dong?" tanya Nesa penasaran.
"Orang gila yang deket rumah lo, Nes. Sumpah gue takut kalau dia udah ngamuk," jawab Fimi asal yang membuat Nesa berdecak sebal.
"Siyalan."
__ADS_1
Keduanya pun masuk ke dalam mobil Fimi. Rumah Nesa memang searah dengan rumah Fimi, jadi wanita itu akan menumpang jika Fimi tidak ada keperluan lain.
"Oya, lupa gue dresscode nya lo pake baju warna merah ya, Fi." Nesa mengingatkan saat melihat ponselnya.
"Ish, kenapa mesti merah sih gue kan nggak suka warna itu," ucap Fimi yang memang tak menyukai warna merah itu.
"Katanya biar gampang cowoknya juga pakai kemeja warna merah maroon." Nesa menjelaskan.
"Ah, perasaan gue udah nggak enak ini."
"Namanya juga usaha, Fi. Permulaan pula, nggak apa-apalah."
"Ya udahlah, besok nyari di butik ada kali yang warna merah," ucap Fimi, karena wanita itu tak pernah memiliki baju berwarna merah.
"Ada banyak, Fi. Tenang aja, besok gue pilihin."
Akhirnya, Fimi sampai ke rumahnya dengan disambut celotehan sang putra.
"Hole, Mimi pulang!" Fir berlari ke arah Fimi sambil merentangkan kedua tangannya, lalu digendong oleh Fimi.
"Mimi nggak bawa oleh-oleh untuk Fil?" tanya anak kecil itu saat tak melihat apa-apa di tangannya selain tas sang mami.
"Aduh, maaf Mimi lupa, Sayang. Bagaimana kalau kita ke mini market yang di depan aja?" ajak Fimi mengabaikan rasa penatnya.
"Fir, Mimi masih cape nanti saja ya?" Tiba-tiba Marina datang dengan dua gelas teh hangat dan memberikannya pada sang putri.
"Nggak apa-apa, Ma. Fimi pergi dulu sebentar ya," ucap Fimi dan mengembalikan gelas itu pada sang mama.
Marina hanya menggelengkan kepalanya, melihat sikap putrinya yang tak kenal lelah. "Mama berdoa kamu mendapatkan pria yang baik dan bertanggung jawab pada kamu dan Fir, Nak."
"Aamiin."
Bersambung
Happy Reading
Mereka restonya sama, dresscode nya juga sama, jangan-jangan? Janganlah ya.
Jan lupa like, komen, vote nya ya bestie.
__ADS_1