
"Keputusan ada pada Fir sekarang." Kalimat itu yang terakhir diucapkan Fimi pada Dava.
Kini pria itu sedang menyetir dan menuju ke sebuah taman baca. Kalimat terakhir dari Fimi terus saja berputar di kepalanya.
Bahkan saat lampu lalu lintas yang berubah menjadi hijau pun, Dava masih belum melajukan mobilnya, sampai akhirnya suara klakson dari kendaraan lain bersahutan.
"Iya, iya." Dava menggerutu sambil melajukan mobilnya. Tak berselang lama, akhirnya ia sampai di sebuah taman baca Karamel adalah tempat biasanya ia melepas penat. Taman ini menyediakan bangku panjang dengan rumah pohon berisi berbagai macam buku bacaan.
"Ya Tuhan, baru saja aku akan bahagia akan menikahi wanita pujaanku, tapi kenapa harus ada cobaan lagi?" gumam Dava sambil menumpukan kedua tangannya di atas lutut.
Pria itu masih duduk, kini dengan bersandar pada sandaran kursi. Matanya terpejam, kedua tangannya ia lipat di depan dada. Langit semakin gelap, tetapi Dava masih bergeming di tempatnya. Sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Bangun!"
Dava terperanjat saat seseorang menepuk pundaknya dan menatap sengit ke arah pria di depannya. Pria tinggi dengan kulit eksotik yang hari ini sukses membuatnya hampir batal nikah.
"Ngapain lo di sini?" bentak Dava.
"Tenang-tenang, gue ke sini dengan damai." Pria yang tak lain adalah Vano itu duduk dengan hati-hati di samping Dava.
"Maafin gue, soal tadi. Sebenarnya ... gue hanya ingin ngetes aja," imbuhnya.
Dava beranjak dari duduknya, kemudian menarik kerah kemeja Vano dengan kasar. Namun, pria tinggi itu tetap bergeming. "Maksud lo apa?"
"Gue hanya ingin memastikan kalau Fimi benar-benar menikah dengan orang yang tepat, gadis itu sebenarnya sangat sulit jatuh cinta." Bersamaan itu Dava melepas cengkraman pada kerah baju Vano.
"Namun, sekalinya jatuh cinta, dia akan sangat setia." Vano melanjutkan ucapannya.
Mendengar pernyataan Vano, Davanka pun kembali duduk dan menghela nafas. "Setelah kejadian tadi, Fir jadi takut sama gue, gue harus bagaimana?" lirih Dava sambil mengacak rambutnya.
"Gue akan bantu lo, tenang aja. Tapi inget kalau sampai lo nyakitin Fimi, lo berurusan sama gue," ancam Vano.
"Udah makan belum?" imbuhnya.
Dava menggelengkan kepalanya. Setelah itu Vano mengajak Dava untuk makan malam bersama sambil membicarakan tentang kelanjutan hubungan Fimi dan Dava juga Fir. Walau bagaimana pun Fimi dan Fir tak dapat dipisahkan.
Mereka mengendarai mobil masing-masing untuk menuju resto terdekat.
Saat keduanya sampai di tempat tujuan, sambil menunggu pesanan mereka datang, Vano menjelaskan rencananya untuk membantu Dava agar diterima Dir kembali.
__ADS_1
Sememtara itu di kediaman Fimi. Wanita itu sedang berbicara kepada orang tuanya, mengenai kejadian tadi siang.
"Mimi harus gimana, Ma? Kalau Fir malah jadi takut sama Bang Dava," lirih wanita yang saat ini bersandar pada bahu sang papa.
"Emang Vano beneran suka sama kamu? Kenapa dari dulu cuma ngajak pura-pura jadi pasangan kamu, kalau emang dia serius?" Marina malah berbalik memberi pertanyaan pada putrinya.
"Mimi juga nggak tahu, Ma."
Hendra yang masih mendengarkan curahan hati putrinya, akhirnya mengeluarkan suara. "Papa yakin Vano cuma ngetes kamu, Fi."
Fimi mendongak melihat sang papa. "Iyakah? Buat apa?"
"Ya, kali aja kamu masih ragu dengan pernikahan ini, tapi sepertinya kamu memang sudah jatuh hati sama Nak Dava." Hendra terkekeh dan membuat Fimi merengek.
"Fir tidurnya nyenyak, kan?" Marina bertanya mengenai keadaan cucunya.
"Sekarang udah nyenyak, Ma. Kalau tadi dia tidur di gendongan Mimi terus."
"Ya udah, sekarang lebih baik kamu juga istirahat gih! Biar besok kita putuskan bersama, Mama dan Papa yakin kalau Fir akan baik-baik saja." Marina mengusap kepala putrinya dengan sayang.
Fimi pun beranjak dan pamit ke kamarnya. Setelah kepergian putrinya, Marina berdiskusi dengan suaminya untuk membahas masalah yang terjadi. "Pa, coba telepon Vano, ada kan nomor teleponnya?"
Pria paruh baya itu mengangguk dan mengambil ponselnya di atas meja. Setelah berhasil menemukan nomor yang akan dituju, pria itu menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
Di seberang sana Vano menjawab bahwa ia baik-baik saja, dan setelah berbasa-basi. Kini Hendra mulai menanyakan prihal kejadian dan maksud dari pria itu terhadap putrinya. Ternyata dugaanya benar, Vano memang hanya ingin mengetes Fimi tentang keputusannya menikah dengan Davanka. Bahkan pria itu juga berkata saat ini sedang bersama calon suami Fimi. Vano juga menceritakan keadaan Dava yang kacau.
Hendra mengangguk mengerti dan mengakhiri panggilan teleponnya. "Tenang saja, Ma. Dugaan Papa benar, Vano hanya mengetes Fimi saja."
Setelah itu keduanya pun memutuskan untuk tidur.
**
Keesokkan harinya, Fimi mengantar Fir ke sekolah seperti biasa. Namun, anak kecil itu terlihat cemberut tak seperti biasanya.
"Anak Mimi kenapa sih? Pagi-pagi udah cemberut kaya gini?" Fimi berjongkok dan mencubit pelan kedua pipi gembil putranya.
Fir menepis tangan Fimi, lalu melipat kedua tangannya. "Fil nggak suka sama om yang kemalin itu, Mimi."
Fimi mengerutkan keningnya. "Om Dava?"
__ADS_1
"Bukan, Mi. Itu om yang kulitnya cokelat, yang datang-datang malahin Mimi, Fil nggak suka." Anak kecil itu kini menggembungkan kedua pipinya.
"Oh, Om Vano. Dia temen Mimi juga, kok." Wanita dengan blazer hitam itu berkata dengan hati-hati.
"Kok, Fil nggak tahu, temen Mimi tuh bukannya Om Aya?" bantah anak kecil dengan seragam paud itu.
"Om Vano memang jarang ke sini, dia kerja. Dulu juga sering main ke sini kok, saat Fir masih kecil, mungkin Fir lupa."
"Oh ya? Tapi Fil nggak suka sama om itu, Mimi. Fil suka sama Om Dava." Mendengar kalimat terkahir putranya, entah mengapa perasaan Fimi yang semalam berantakan kembali tertata.
"Iya, Sayang. Maafin Mimi ya, kalau gitu kita berangkat sekarang ya, nanti kesiangan lo." Fimi menggandeng tangan kecil putranya untuk masuk ke dalam mobil.
Kemudian keduanya pun berangkat menuju sekolah Fir. Perjalanan mereka diselingi dengan percakapan mengenai sekolah Fir saja. Fimi takut jika harus membahas tentang Dava dan Vano.
Saat mereka sampai di sekolah Fir. Anak kecil itu berlari masuk seperti biasa, dan Fimi menunggu di sebuah gazebo tempat para orang tua menunggu putra-putri mereka, sebenarnya ada sebagian yang menunggu di kantin juga, tetapi tidak dengan Fimi, saat pemilik kantin itu menuduhnya yang macam-macam.
Saat wanita itu, sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya, saat itu Fimi memang duduk sendirian, wali murid yang lainnya sepertinya sedang berada di tempat lain.
"Bisakah kita bicara, Fi?" Suara bariton yang sangat dikenal Fimi membuat wanita itu sedikit terlonjak.
"Maaf, aku sedang sibuk." Fimi beranjak dari duduknya hendak pergi dari sana. Namun, tanpa diduga, pria yang tak lain adalah Dava itu menarik tangannya.
"Aku mohon, Fi." Pria itu menatap sendu ke arah wanitanya.
"Ini di sekolah, tolong jaga sikap, Bang." Fimi menepis tangan Dava.
"Jangan ganggu Mimi!" Tiba-tiba Fir datang sambil berlari.
"Fir?" Fimi dan Dava berucap bersamaan.
"Om nggak gangguin Mimi, kok, Sayang." Dava mencoba mendekati putra kecil wanitanya.
Fir berkacak pinggang dan melihat ke arah Dava dengan wajah marah. Namun, tetap saja malah terlihat lucu.
"Maafin, Om, ya, Fir."
Fir menggelengkan kepalanya. "Tidak, Om halus ...."
Bel berbunyi dan Fir tak melanjutkan ucapannya, karena harus segera berbaris dan masuk kelas.
__ADS_1
Bersambung
Happy Reading