
Dava memejamkan netranya di sofa ruangan Fimi dirawat. Pria itu sebenarnya tidak tidur, bahkan saat ponselnya berdering beberapa kali pun, pria itu abaikan. Dava tidak mau diganggu. Pria itu sedang meredakan jantungnya yang tak karuan setelah mengungkapkan isi hatinya pada pria yang ternyata ayah dari sang gadis.
Namun, tak berselang lama tubuhnya ditindih oleh sesuatu hingga memekik. Dava terhenyak dan membuka netranya yang langsung bertatapan dengan mata indah milik Fimi.
"Apa kamu sedang menggodaku, Nona?" godanya sambil menatap lekat ke arah Fimi yang hanya berjarak beberapa inci saja.
"Aw! Sakit banget ini," ujar Fimi sambil menahan tubuhnya dengan mendorong dada Dava.
Pria itu hanya tersenyum, melihat Fimi yang kini berada di pangkuannya. Sementara Nesa hanya terkekeh melihat adegan di depannya.
"Bantuin aku bangun ih, malah ngeliatin kaya gitu, ini tangan aku sakit," gerutu Fimi sambil memukul dada Dava dengan tangan lainnya. Namun, pria itu sepertinya lebih senang menggodanya daripada membantunya. Sampai akhirnya, tubuh Fimi melayang dan Dava menggendongnya.
"Lain kali jangan godain aku seperti ini, Nona." Dava berbisik tepat di telinga Fimi, hingga membuat wanita itu meremang.
Setelah Fimi dibaringkan kembali, Dava juga menggantungkan botol infus pada tempatnya, lalu memeriksa jalannya cairan itu. Saat melihat ke arah selang infus di tangan Fimi, warnanya berubah merah, ternyata cairan itu berhenti mengalir hingga membuat tangan Fimi berdarah. Namun, Dava sudah memperbaikinya dan kini cairan itu kembali mengalir.
"Aku bukan godain kamu, cuma mau ngasih tau hp kamu bunyi terus, berisik tahu." Fimi menggerutu.
"Oh iya, maaf. Aku lupa nggak silent."
*****
Satu minggu kemudian, Fimi dan Nesa akhirnya bisa pulang. Keduanya dijemput oleh keluarga masing-masing. Saat kepulangan Fimi, Dava tidak ada di sana karena saat itu, perusahaan Dava sedang mengadakan meeting penting.
Kepulangan Fimi disambut bahagia oleh Fir, sang putra.
"Mimi, Fil kangen banget sama Mimi. Mimi jangan nginep di lumah sakit lagi ya." Anak kecil itu terus berceloteh di pangkuan Fimi.
"Iya nggak, Mimi juga nggak suka nginep di sana."
"Mulai hari ini, kamu nggak boleh nyetir lagi, Mi. Mama nggak mau, pokoknya kamu nyari supir aja," ucap Marina sambil membawa teh hangat untuk sang putri.
"Jangan gitu, Ma. Fimi baik-baik saja." Wanita yang masih ada plester di pelipis dan tangannya itu berucap.
"Mama nggak mau sampai hal seperti ini terjadi lagi, Fi. Mama takut." Wanita paruh baya itu menahan sesak di dadanya. Fimi menurunkan Fir dari pangkuannya dan mendudukkan putra kecilnya di sofa, lalu Fimi beranjak dan memeluk tubuh sang mama. "Maafin Fimi, karena udah bikin Mama khawatir, semuanya nggak akan terulang lagi, Fimi janji."
Suasana haru itu kini kembali berubah menjadi kebahagian dan kehangatan yang selalu terjalin di keluarga itu. Tak terasa hari sudah menjelang sore, Fir enggan beranjak dari pangkuan Fimi, sampai suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka.
"Bial Fil yang buka ya, Mi." Anak kecil itu menawarkan diri.
"Emang tangan Fir udah nyampe gagang pintu?" Anggukkan dari sang putra membuat Fimi melakukan hal yang sama.
Saat Fir berjalan menuju pintu depan, suara ketukan itu masih terdengar. "Sebental!" teriak Fir lalu anak kecil itu menarik gagang pintunya dan benda itu pun terbuka. Terlihat seseorang dengan buket di tangannya, sehingga wajahnya tertutupi.
"Cali siapa, Om?"
__ADS_1
"Siapa, Fir?" Fimi menghampiri sang putra.
"Selamat sore, Nona! Selamat kembali ke rumah," ucap pria itu. Tanpa Fimi sadari, Fir sudah mendekat ke arah pria itu dan melihat siapa yang ada di balik buket coklat itu.
"Om Dava, kan?" Fir menebak pria yang memakai masker itu.
Pria itu menoleh dan menggelengkan kepalanya. Sementara Fimi masih berdiri di depan pintu dengan melipat kedua tangannya.
"Kalau bukan Om Dava pasti Om Aya, iya kan?" Fir kembali menebak dan pria bermasker itu memutar bola matanya.
"Mau ketemu siapa?" Fimi kini mengeluarkan suaranya, ia tahu sebenarnya siapa pria yang ada di hadapannya ini.
"Boleh masuk nggak? Kaki aku pegel ini," ucap pria bermasker itu.
"Boleh, tapi Om halus buka maskel dulu, takutnya olang jahat," celoteh Fir yang kini sudah kembali berada di depan sang mama.
"Baiklah aku ngalah." Pria itu pun memberikan buket berisi berbagai macam coklat itu pada Fimi, lalu ia menarik maskernya.
"Om Dava! Yeee! Fil benel, kan?" Anak berbaju biru itu bersorak girang.
"Jadi, Om boleh masuk dong?"
"Boleh."
"Kok, nggak boleh, Mimi. Om Dava kan bukan olang jahat? Fil sama Mimi juga kan kenal." Fir mengerutkan keningnya heran.
"Om Davanya lagi sibuk, Sayang. Jadi, harus kembali ke kantor." Fimi beralasan. Namun, saat melihat pria di depannya, pria itu malah tersenyum kepadanya.
Tentu saja wanita itu merasa jengkel.
"Iya, maaf aku tadi nggak bisa jemput kamu, aku beneran sibuk, tapi sore ini udah nggak, makanya aku datang ke sini." Dava menjelaskan, dan Fimi malah jadi serba salah, karena bukan itu maksud dari alasannya. Wanita itu hanya sedang tidak mau bertemu dengan Dava. Namun, ucapannya ternyata malah disalah artikan oleh Dava, seolah ia marah karena Dava tak mengantarnya.
"Eh, nggak gitu ...."
"Udah, Mi. Om Dava ayo masuk!" Fir menarik tangan pria itu dan masuk ke dalam melewati Fimi dengan buketnya. Fimi menghentakkan kakinya kesal, lalu mengikuti keduanya dari belakang. Fir bahkan digendong oleh Dava. Setelah itu keduanya duduk di sofa.
Saat Fimi menyimpan buket itu di meja, tiba-tiba Marina datang. "Buket dari siapa, Mi? Kayanya tahu kalau kamu nggak suka bunga," ucap wanita paruh baya itu.
Fimi hanya menunjuk seseorang dengan dagunya.
"Eh, Nak Dava? Memangnya sudah nggak sibuk?" Marina bertanya pada pria yang sedang bercanda dengan cucunya.
"Alhamdulillah Tante, urusan Dava sudah selesai." Pria itu menjawab apa adanya.
"Sepertinya ada yang ngambek ya, Tante. Padahal Dava udah minta maaf karena sibuk." Pria itu menggoda Fimi yang menatapnya dengan jengah.
__ADS_1
"Ambilin minum, gih!" Marina menyuruh putrinya. Dengan malas Fimi pun pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Siapa yang ngambek? Gue malah seneng dia nggak datang. Enak aja," gumam Fimi sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
"Gue harus biasa-biasa aja, tapi ... liat muka dia gue tuh kesel." Fimi terus berdecak sebelum membawa minuman itu ke depan.
"Hati-hati lo, benci sama cinta itu bedanya tipis banget." Tiba-tiba Hendra datang dan menyela ucapan putrinya.
"Ih, Papa ngagetin. Mana ada sih aku suka sama dia, nggak, Pa. Pokoknya nggak titik." Fimi pun berlalu membawa minuman tadi untuk Dava.
Saat wanita itu sampai di depan, terlihat Marina dan Dava sedang berbincang serius, bahkan Dava sesekali menganggukkan kepalanya. Entah apa yang dibicarakannya, Fimi juga tak tahu. Sementara Fir sedang sibuk mengunyah coklat yang dibawa Dava.
"Kalian ngobrolin apa sih?" Fimi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Eh, Fimi. Nggak ada cuma ngobrol biasa kok. Ya udah kalian ngobrol dulu, Mama mau ke belakang dulu." Wanita paruh baya itu pun beranjak dan meninggalkan mereka bertiga.
"Fir, sedikit-sedikit, Sayang." Fimi mengingatkan putranya.
"Kamu ngasih aku coklat sebanyak itu, mau bikin aku diabetes apa?" Fimi beralih pada Dava yang saat ini tengah menatapnya.
"Ya, nggaklah, kan bisa kamu bagi-bagi ke orang rumah, atau nggak kamu simpan sebagian." Dava berucap lembut.
"Sini!" Dava menunjuk sofa kosong di sampingnya.
"Nggak usah." Fimi memalingkan wajahnya dan tetap duduk di sofa tunggal.
"Kemarin-kemarin aja duduk di sini." Dava menepuk pahanya sendiri dan mendapat pelototan dari Fimi. "Nggak usah dibahas ya, itu kecelakaan nggak sengaja."
Dava terkekeh, lalu pria itu beralih pada Fir yang masih asyik dengan makanannya. "Kamu suka coklatnya?"
"Suka, Om. Fil suka coklat." Anak kecil itu menjawab dengan pipi yang sudah belepotan dengan coklat.
"Kalau tiap hari Om bawain coklat mau?" Fir hanya mengangguk, karena mulutnya penuh dengan makanan manis itu.
"Nggak boleh tiap hari juga, nanti anak aku sakit giginya." Fimi menyela dengan menggerutu.
"Kalau Om, jadi pipinya Fir boleh?"
"Eh."
Bersambung
Happy Reading
Makasih buat kalian yang udah baca sampai bab ini, tapi tolong gerakin hati kalian untuk mengajak jempolnya bergerak juga buat komen dan like ya, votenya juga boleh. Karena aku juga bikin cerita ini berkat gerakin jempol lo. Timamakasih 😘
__ADS_1