
Dava terus menggoda Fimi hingga wanita itu menggeram kesal. Sampai seorang wanita cantik dengan rambut panjang tiba-tiba menyapa mereka.
"Dava kamu di sini juga?" ucap wanita itu yang ternyata mantan sekretaris Dava dulu, Azrina.
"Azrina?" Dava menyebut nama wanita itu.
"Kamu ke sini bareng siapa?" Azrina mendekat dan duduk di samping Dava, tanpa mempedulikan tatapan dari para orangtua siswa yang lain. Sementara Fimi tetap melanjutkan makannya, tanpa terganggu dengan kehadiran orang baru.
Dava melirik ke arah Fimi yang masih sibuk dengan makanannya, sesekali wanita itu menyuapi putranya dan juga si kembar. "Aku bareng sama anak istri aku," jawab Dava mantap.
"Kamu udah nikah? Kapan?" Azrina terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar.
"Iya, ini istri aku." Dava menarik pinggang Fimi hingga wanita itu memekik kaget.
Namun, saat Fimi akan protes Dava malah mengeratkan rangkulannya dan saat wanita itu menoleh hendak protes, tatapan Dava berbeda, seperti sedang memohon.
"Kenalin Azrina mantan Davanka." Wanita itu mengulurkan tangannya dengan menekankan kalimatnya.
"Fimi." Hanya itu yang keluar dari bibir mungil Fimi dengan sikap biasa saja.
"Selamat ya atas pernikahan kalian, anak kalian yang mana?" Azrina seperti enggan pergi dari sana dan ingin memastikan kebenarannya.
Dava hanya menunjuk ke arah tiga anak yang sedang menikmati makan siangnya. "Maaf kami sedang ada acara sekolah, jadi aku harap kamu mengerti." Dava mengusir Azrina secara halus.
"Oke, oke. Oya suami kamu itu dulu pernah neglakuin semuanya dengan aku," pungkas Azrina setelah berbisik pada Fimi. Kemudian pergi dari sana.
"Lepasin!" Fimi menepis tangan Dava yang melingkar di pinggangnya.
"Kamu tahu, gara-gara kamu ibu-ibu di belakang pasto sekarang lagi gosipin aku," omel Fimi yang sejak tadi memang mendengar salah satu dari wali murid membicarakannya.
"Maaf aku terpaksa." Dava melepas rangkulannya.
"Lagian kenapa sih? Masih belum move on dari mantannya?" Fimi bertanya dengan memelankan suaranya.
"Nggak nyangka ya, acara rekreasi anak-anak dijadikan tempat buat acara pacara." Tiba-tiba suara melengking seorang wanita terdengar dari belakang.
"Iya, kan pantesan bu kantin bilang, kalau di sekolah ada jendes nggak aman," timpal ibu lainnya.
__ADS_1
Fimi memejamkan netranya dan menghela nafas pelan. "See?"geramnya dengan suara pelan.
"Tolong ya, kasihan anaknya masih kecil juga, kalau mau ya langsung nikah aja udah ada anak juga."
Fimi mengepalkan kedua tangannya, tetapi wanita itu juga tidak bisa melemparkan protes pada wali murid yang entah kenapa mereka bertiga selalu membuat dirinya tak nyaman. Di sini masih ada Fir yang harus dijaga perasaannya.
Namun, beruntung tak berselang lama, guru mereka kembali mengajak untuk berkeliling ke tempat lain.
"Ayo semuanya kita kembali melihat hewan yang ada di sini, mau?" ucap Bu Lena.
"Mau!" jawab anak-anak serentak dengan girang.
"Kalau begitu bereskan dulu bekas makannya ya, kan anak mandiri harus bisa sendiri." Bu Lena kembali berucap.
Fimi dan yang lainnya membereskan bekas makannya, dan membuang sampah pada tong yang tersedia di sana. Lalu wanita itu menggendong sang putra dan pergi lebih dulu dari sana.
"Fil mau baleng Asa, Mi." Anak kecil berbaju olah raga itu merajuk.
"Iya, Sayang nanti juga Aksa ke sini." Fimi membujuk sang putra.
"Tapi Fil mau sekalang, Mimi. Fil mau tulun." Anak kecil itu memberontak hingga Fimi kehilangan keseimbangan. Saat wanita itu hampir terjatuh, sebuah lengan kekar menangkap tubuhnya.
Fimi berterima kasih, tetapi saat melihat siapa yang menolongnya wanita itu langsung memalingkan wajahnya. Sementara itu, Fir kini sudah turun dan berjalan bersama Aksa dan Ale. Fimi menghela nafas berat, karena bagaimanapun dirinya tak bisa menghindar dari Dava. Sementara ketiga ibu biang gosip makin asyik membicarakan Fimi.
"Udah nggak usah didengerin, biasanya yang iri itu karena mereka tak mampu." Dava yang berjalan di samping Fimi memberi petuah.
"Hm."
Sekitar jam dua siang, akhirnya mereka pulang. Fimi mengendarai mobilnya dengan mengeratkan tangannya pada stir, hingga buku-buku tangannya memutih. Sementara Fir sudah terlelap di sampingnya. Perasaannya tak karuan hari ini setelah ucapan dari beberapa wali murid tadi.
Wanita itu ingin menangis, berteriak, tetapi semuanya ia tahan karena demi sang putra. Namun, yang membuat wanita itu kesal saat Dava tiba-tiba bertanya kembali tentang statusnya.
"Apa benar kamu itu maaf janda, seperti yang ibu-ibu itu bilang? Lalu Arya?" Pertanyaan itu terus berputar di kepala Fimi, hingga tanpa sadar mobilnya telah jauh melewati rumahnya.
Saat sadar, wanita itu sudah berada tepat di depan butiknya. "Ish, ngapain gue ke sini? Jauh banget kelewatnya." Fimi hendak memutar balik mobilnya. Namun, tiba-tiba Nesa datang menghampiri mobilnya. Wanita itu mengetuk kaca jendela mobilnya.
Dengan terpaksa Fimi membukanya.
__ADS_1
"Kamu nggak jadi ikut study tour Fir?" tanyanya.
"Ini baru pulang, tapi ... udah gue pulang dulu ya." Fimi hendak menutup jendelanya dan melajukan mobilnya. Namun, Nesa mencegahnya.
"Ish, udah ke sini juga. Masuk dulu ada yang mau ketemu."
"Siapa?"
"Udah ayo!" ajak Nesa.
"Lo nggak liat Fir tidur, Nes. Kasihan." Fimi menolak dengan halus.
"Biar gue gendong, Fi. Buruan buka pintunya!" titah Nesa yang berputar menuju kursi Fir.
Fimi pun akhirnya pasrah, wanita itu membuka kunci mobilnya dan membiarkan Nesa menggendong putranya. Fimi mengikuti Nesa dari belakang. Saat masuk para karyawan menyapa Fimi dengan sopan.
Saat mereka sampai di ruangan kerja Fimi, tak ada siapa-siapa di sana. Nesa menidurkan Fir di kamar yang ada di ruangan itu. Fimi memang sengaja membuat satu kamar di ruangannya. Hal itu dilakukan jika dirinya kerja lembur dan tak bisa pulang.
"Nesa apa-apaan sih, nggak lucu banget?" Fimi menggerutu ambil membanting tubuhnya di atas sofa. Kemudian memejamkan netranya lalu menutupinya dengan lengan kirinya.
Kemudian Fimi merasa kalau ada seseorang yang duduk di sampingnya. "Nesnes, mana orang yang mau ketemu? Nggak ada orang juga. Lo tuh kalau mau gue ke butik bilang aja." Fimi berkata tanpa membuka matanya.
Namun, tak ada jawaban dari omelan yang Fimi layangkan pada asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Nes?" Hening tak ada jawaban.
"Nesa nggak lucu ya?" Fimi kini kembali menggerutu. Nesa saat itu, masih di kamar dan mengusap kepala Fir, karena saat ditidurkan anak kecil itu memeluk erat leher Nesa, seperti tak ingin ditinggalkan. Sementara Fimi di luar masih mengomel.
"Nesa!" Fimi kini membuka netranya, tetapi belum menurunkan lengannya.
Masih tak ada jawaban dari sahabatnya itu. Saat Fimi menurunkan lengannya dan bangun dari bersandarnya. Tiba-tiba tubuhnya mematung. "Kamu?"
"Fi, maaf Fir baru tidur lagi." Nesa tiba-tiba datang sambil menutup pintu kamar.
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Timamakasih buat kalian yang masih mau baca karya akoh. Love sekebon dah pokokknya.