
Dava sudah kembali terlelap di sofa saat mereka duduk bersama dan menyambut bayi kecilnya.
Bahkan saat sang istri bertanya mengenai nama untuk bayi mereka pun, Dava malah mendengkur.
"Astagfirullah tidur lagi," pekik Fimi yang kini sudah mulai memberi asi pada bayinya. Bayi itu terlihat sanagt rakus saat dsusui oleh miminya.
Namun, sepertinya Dava tak terusik dengan keributan keluarganya, pria itu tetap terlelap walau dlam posisi duduk.
Menit telah berganti menjadi jam, hari pun muali berunah menjadi gelap. Malam ini keluarga Pramudya makan malam bersama. Fimi kali ini tidur di kamar bawah untuk sementar waktu sampai tubuhnya benar-benar pulih.
Dava sedang menggendong putri kecilnya, karena Fimi akan makan malam dulu. Wanita itu didahulukan karena akan menyusui bayinya kembali.
"Makan yang banyak, Yang. Biar putri kita cepat tumbuh besar." Dava menoleh pada sang istri yang duduk di sofa.
"Iya, Bang, lagian aku jadi gampang baget lapar, tahu." Kemudian wanita itu kembali menyuapkan nasinya ke dalam mulut.
"Tadi siang aku mimpi lho, Yang. Ketemu sama ... Fiona, dia bilang Afia anak yang sehat dan cantik." Dava kini duduk di samping sang istri.
"Kak Fio?" Anggukkan dari sang suami membuat wanita itu menghentikan kegiatannya. Netranya sudah berkaca-kaca saat mendengar ucapan suaminya. Sang kakak yang sangat ia rindukan selama ini. Rindu yang menyakitkan adalah rindu pada orang yang telah tiada.
Dava mengusap pipi sang istri yang sudah basah dengan jari tangannny yang tak menyangga tubuh kecil bayinya.
"Namanya Afia aja, aku suka nama itu," lirih Fimi yang saat ini menahan sesak di dadanya karena menahan tangisnya.
"Iya, Sayang nama itu juga cantik." Dava kembali mengusap pipi istrinya dengan ibu jari.
Fimi kemudian melanjutakan makannya, karena bayinya sudah mulai menangis.
"Aku udah beres makannya, sini Afianya aku gendong," ucap Fimi setelah menyimpan piring bekas makannya di atas meja. Sementara itu, yang lain makan di meja makan. "Makan dulu gih, Bang," ucap Fim setelah mengambil alih putrinya.
"Iya, Sayang, aku makan dulu, Pipi makan dulu ya, Fia." Pria itu mencium kening istrinya kemudian beralih pada putrinya yang masih saja menangis karena ingin disusui.
Dava pun beranjak dari sana lalu pergi kew ruang makan. Semua keluarganya ada di sana termasuk mertuanya, mereka baru saja memulai makan malamnya. Dava duduk di samping Kaivan yang sibuk dengan ponselnya.
"Makan dulu." Pria itu mengambil ponsel sang adik dengan mudah, saat Kaivan akan memprotes, sebuah deheman dari sang kakak, membuat pria itu mengurungkan niatnya.
Akhirnya mereka makan bersama dengan suasana yang lebih ramai, bahkan sesekali mereka berbincang ringan.
"Oh iya, udah dapat belum nama buat bayi cantik itu, Dav?" tanya sang mami setelah mereka selesai dengan makan malamnya.
__ADS_1
Dava tersenyum dan mengangguk. "Udah, Mi. Namanya ...."
"Buruan elah!" omel Kaivan dengan tak sabar.
"Pindah aja ke ruang keluarga deh, biar sama Fimi juga." Dava beranjak dan meninggalkan keluarganya begitu saja menuju ruang keluarga yang terdapat istri dan bayinya.
"Haish, untung aja abang, kalau bukan udah gue slepet dah," gerutu Kaivan yang sejak tadi terlihat begitu kesal. Selain karena ponselnya diambil juga karena ada seseorang yang bertanya mengenai nama keponakan barunya itu.
Mereka semua pun pindah ke ruang keluarga. Fimi baru saja selesai menyusui bayinya. Kini bayi cantik itu suda terlelap dalam dekapan miminya.
"Yah, cucu Oma sudah tidur, ya?" sesal Marina yang duduk di samping putrinya.
"Iya, Ma. Baru aja tidur."
"Kata Dava kalian udah dapat nama buat cucu Mami ya?" tukas Alifa.
Fimi menoleh dan mengangguk. "Namanya Afia Isya Pramudya, Mi."
Dava terdiam sebentar saat mendengar nama putrinya. "Panggilannya Fia, Mi." Dava menambahkan.
"Kok ada isya-nya?" tanya Kaivan.
"Oh, oke. Deal nih namanya itu?" Kaivan kembali meyakinkan.
"Iyalah, nama itu diberikan oleh seseorang yang sangat aku sayangi, artinya bayi yang sehat dan cantik."
Kaivan pun mengangguk, kemudian pria itu membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.
Malam ini pun bayi Dava dan Fimi sudah mempunyai nama. Nama pemberian sang kakak.
\*
Satu bulan sudah berlalu, Fia ternyata tumbuh denan baik, bayi itu menjadi gemuk dan berisi, jauh saat bayi itu lahir, tubuhnya hanya berbobot dua kilogram saja, menurut dokter itu berat badan dibawah normal, tetapi karena Fia lahir secara prematur maka, bobot dua kilogram luamyn besar.
Seperti biasa pagi ini, Fimi dan Tari sedang menjemur Fia di teras belakang. Fir sendiri sudah mulai masuk sekolah. Setelah membantu menjemur Fia. Tari akan langsung mengantar Fir ke sekolahnya.
Fir tidak rewel atas kehadiran adiknya, anak kecil itu bahkan begitu senang dan bahagia. Makin hari Fir tumbuh menjadi anak yang baik dan mandiri.
Setelah Fir dan Tari berangkat ke sekolah, Fimi kemudian kembali masuk dan melihat suaminya yang ternyata masih duduk di ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang.
__ADS_1
"Ya ampun, Pipi, belum mandi juga? Emang hari ini nggak kerja?" tanya Fimi sambil menidurkan bayinya pada box bayi.
Dava kemudian beranjak dan menghampiri sang istri. Pria itu lalu meeluk tubuh istrinya dari belakang. "Fia sudah tidur ya?" Dava menempelkan dagunya pad bahu istrinya.
"Iya, sekarang aku tinggal ngurusin kamu." Fimi berbalik menghadap suaminya, ternyata hal itu membuat dirinya terkurung.
"Emang masa nifas kamu udah selesai, Yang?" ucap Dava serak.
"Ish, mana ada? Baru juga satu bulan, biasanya 40 hari, Pi." Fimi mendorong dada suaminya agar menjauh. Fimi memtuskan untuk memanggil sang suami dengan sebutan Pipi, agar anak-anaknya terbiasa.
"Ya udah, aku mandi dulu." Dava terlihat lemas kemudian melepas dekapan pada sang istri dan berbalik menuju kamar mandi.
"Mau bareng nggak, Pi," goda Fimi sambil terkekeh.
"Jangan mancing-mancing deh, Mi." Dava mendelik kesal sambil mencebikkan bibirnya.
Kemudian pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu langsung membersihkan tubuhnya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Fimi bahkan masih berada di tempatnya, saat Dava sudah keluar dengan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Rambutnya juga masih basah. "Cepat banget, Pi?"
"Aku udah telat, Sayang." Dava langsung menyambar pakaian kerjanya yang sudah disiapkan oleh sang istri sebelumnya.
"Lagian, ngapain dari tadi malah diem aja sih?" Fimi kini mulai mengomel.
"Biasanya kalau aku balik dari jemur Fia, kamu udah rapi," imbuhnya.
"Kamu nggak tahu gimana rasanya puasa 40 hari, kan?" ucap Dava yang sudah lengkap berpakaian.
Fimi hanya tergelak mendengar ucapan dari suaminya. "Udah ayo, sarapan aku udah lapar lagi malah," ajak Fimi yang kini menggandeng lengan suaminya.
"Ish, nggak usah dekat-dekat dulu deh, Mi." Dava mendorong tubuh istrinya sedikit.
"Ih, nyebelin banget sih." Fimi kini melepas gandengannya dan berjalan lebih dulu. Dava hanya bisa menghela nafasnya.
Saat Dava mengikuti sang istri dari belakang, tiba-tiba wanita itu berteriak, "Papi!"
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Karena nggak ada yang ngasih saran jadi aku nyari sendiri nama anaknya babang Dava, semoga suka ya.