Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Khawatir


__ADS_3

Alifa baru saja izin ke toilet pada suaminya. Wanita itu tiba-tiba saja perutnya sakit. mereka baru saja selesai sarapan. Namun, saat Alifa pergi, pria paruh baya itu tiba-tiba memegang dada kirinya dan ambruk ke lantai.


Bersamaan dengan itu Fimi datang bersama Dava di belakangnya. "Papi!" Fimi berteriak histeris saat melihat papi mertuanya tergeletak di lantai.


"Papi?" Dava ikut berlari bersama sang istri. Priaitu kemudian menyangga kepala sang  pada pangkuannya dan berusaha untuk membangunkan pria paruh baya itu, tetapi tak berhasil.


"Kita bawa ke rumah sakit aja, Pi," ujar Fimi khawatir. Tak berselang lama Alifa datang. "Pi," panggilnya sambil membenarkan bajunya yang agak berantakan. Saat wanita itu menleh, suaminya sudah berada dalam pangkuan sang putra.


"Papi? Dav, Papi kenapa?" Wanita paruh baya itu dengan segera menghampiri mereka.


 "Nggak tahu, Mi. Tadi Fimi lihat papi sudah tergeletak di lantai," jawab Fami dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"Kita ke ruamh sakit sekarang, Mi. Kamu di rumah saja, jaga Fia ya, Sayang." Davakemudian mengangkat tubuh sang papi dibantu oleh maminya dan memapahnya menuju mobil. PAk sopir yang melihat itu langsung datang menghampiri dan membantu tuannya.


"Kta ke rumah sakt sekarang." Dava langsung duduk di samping kemudi dan membiarkan sopir pribadi sang papi yang mengemudi.


Fimi dan beberapa asisten rumah tangga menunggu di rumah. Entah mengapa perasaan wanita it makin tidak tenang, sampai akhirnya ia memutuskan menghubungi sang mama.


Suasana pagi ini berubah kelabu, padahal Fia tadi masih bisa menikmati hangatnya mentari pagi. Fimi yang melamn, terusik saat mendengar tangisan putrinya. Dengan segra wanita itu menggendong putri kecilnya dan memeriksa jangan-jangan popoknya sudah basah. Namun, semuanya masih aman, Fim pun kemudian memberi asi untuk bayi cantiknya.


Fia meminum asi dengan rakus  seperti biasa. tetapi kali ini bayi itu tidak kembali tidur. Sepertinya ia tahu bahwa miminya sedang sedih, sehingga Fia sesekali melepaskan asinya dan menangis.


"Kamu kenapa, Sayang?" Fimi mulai menggendong bayinya sambil berdiri. Karena khawatir dengan bayinya, wanita itu ikut menangis, sampai akhirnya salah satu asisten rumah tangga rumah itu menghampirinya.


"Kenapa dengan Non Fia, Nyonya?" tanya wanita bernama Ita itu.


"Nggak tahu, Bi. Tiba-tiba saja nangis terus kaya gini, dikasih asi juga nggak mau," ucap Fimi ambil sesekali mengusap pipinya ang basah. Fia masih saja menangis, samapi akhrnya Ita mngambil alih menggendongnya.


Setelah Fia digendong Ita, bayi itu perlahan mulai tenang dan akhirnya terlelap. "Bi, aku ttip Fia sebentar ya, aku mau telepon pipinya." Fimi langsung kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya.


Suara sambungan telepon pun tak berselang lama diangkat oleh pemliknya. "Pi, gimana keadaan papi? Aku khawatir banget," cerocos Fimi pada suaminya. Dava menjawab bahwa papinya sudah ditangani oleh dokter, mereka sedang menunggu.


Fimi pun menganggukan kepalanya, setelah itu mematikan sanmbungan teleponnya. Ita masih menggendong Fia. "Tidurin aja, Bi," ucap Fimi saat melihat bayinya sudah terlelap kembali.


Setelah Ita menidurkan Fia, wanita yang seusia dengan sang kakak itu kemudian memberi tahu sesuatu. "Bayi itu sensitif, Nya. Kalau Nyonya sedih, pasti bayinya juga sedih."


"Aku sedang mengkhawatirkan papi, Bi." Fimi dduk di tepi ranjang.


"Kita berdoa semoga tuan lekas sehat lagi, Nya."

__ADS_1


"Aamiin."


"Sebaiknya Nyonya istirahat saja ya, saya harus kembali bekerja. Oh iya, Nyonya mau makan sesuatu?" tawar Ita, tetapi Fimi langsung menggelengkan kepalanya.


Setelah kepergian asisten rumah tangganya itu, Fimi kni membaringkan tubuhnya di sofa dekat box bayinya. Perasaan khawatir ini sama saat kecelakaan sang kakak beberapa tahun lalu.


Semoga papi sehat kembali ya, pi. Fimi nggak mau kehilangan papi, mertua yang sangat baik buat Fimi.


Mungkin karena kelelahan dan stres memikirkan papi mertuanya, akhirnya wanita itu pun terlelap di sofa.


"*Kak Fio, mau ke mana? Fir jangan dibawa, Kak."


"Nggak aku cuma kangen sama anakku, Fi."


"Papi? Papi lagi apa di sini?" Fimi melihat Ganendra sedang duduk di taman.


"Papi nyaman di sini, Papi udah tenang*."


"Papi!" Fimi berteriak histeris dan langsung bangun dari tidurnya.


Bersamaan itu Fia juga bangun dengan menjerit. Fimi langsung beranjak dan melihat bayinya. Ternyata bayi itu pup, dengan segera Fimi mengganti membersihkan putrinya dan mengganti popoknya.


Tak berselang lama, Fimi yang sedang mengajak main putrinya di ruang keluarga dikejutkan oleh kedatangan putranya bersama Tari.


"Kok, tumben telat pulangnya, Sayang?" tanya Fimi pada Fir.


"Maaf, Mi. Fir tadi diajak Suster Tari ke mal." Fir duduk di samping sang adik.


"Iya, Bu. Maaf tadi saya beli keperluan saya sebentar." Tari ikut duduk di samping Fir sambil mengajak main Fia.


"Oh, iya nggak apa-apa, lain kali kasih kabar orang rumah ya, biar nggak khawatir." Fimi berucap sambil mengusap kepala putranya.


Fir kemudian diajak Tari untuk mengganti bajunya terlebih dulu. Entah kenapa anak itu sekarang jadi jarang tidur siang. Biasanya kalau pulang sekolah anak itu pasti akan tidur.


Setelah Fir kembali dengan pakaian rumah bersama Tari, anak kecil itu duduk di tempatnya semula sambil sesekali memegangi tangan mungil adiknya. "Fir nggak ngantuk?" tanya Fimi.


"Nggak, Mi. Nanti saja Fir tidur siang bareng ade Fia, boleh?" ucap Fir tanpa melepaskan pandangannya pada sang adik.


"Boleh, Sayang. Fir makan dulu aja gih!" suruh Fimi.

__ADS_1


"Udah, Mi. Tadi diajakin makan juga sama Suster Tari."


"Makasih ya, Sus. Jadi ngerepotin." Kini Fimi beralih pada Tari.


"Nggak kok, Bu. Saya yang terima kasih, karena udah diizinkan mengasuh Fir."


Mereka bertiga bermain bersama Fia cukup lama, sampai akhirnya bayi kecil itu menguap dan menangis karen sepertinya mulai mengantuk. Fimi dengan segera menyusui bayinya dan di sebelahnya duduk Fir yang bersandar pada bahu Fimi. Sementara itu, Tari izin ke kamarnya.


Tak berselang lama, bayi perempuan dan Fir itu pun terlelap bersamaan. Fimi sedikit kesulitan saat akan memindahkan keduanya, sampai akhirnya Dava datang bersama sang kakak.


"Pi? Bagaimana keadaan papi sekarang?" Fimi mendongak saat mendengar panggilan suaminya.


Kavindra yang berada di samping Dava pun dengan segera menggendong tubuh Fir, sementara Dava menggendong bayi cantiknya. "Tidurin di kamar Dava aja, Bang." Dava lebih dulu berjalan menuju kamarnya yang berada tak jauh dari ruang keluarga.


Fimi bisa sedikit beristirahat dan meregangkan ototnya. Saat wanita itu akan beranjak untuk mengambil minum. Dava mencegahnya dan segera mengambilkan minum untuk sang istri.


"Mbak Riri nggak ikut, Bang?" tanya Fimi saat Kavindra duduk di sofa tunggal.


"Tadi anak-anak lagi tidur siang, jadi nanti sore saja Abang jemput mereka."


"Papi gimana?"


"Masih ... kritis ...."


"Besok kita ke rumah sakit semuanya, Yang." Tiba-tiba Dava sudah kembali dengan membawa dua gelas air di tangannya. Satu untuk Fimi dan satu lagi untuk kakaknya.


"Aku ikut."


"Iya. Kita semua."


"Tadi aku mimpi kalau ...."


"Assalamu'alaikum."


Bersambung


Happy Reading


Mohon doanya buat papi Nendra ya bestie. Mertua yang paling baik.

__ADS_1


__ADS_2