Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Minta Maaf


__ADS_3

Malam ini Fir tidur bersama Alifa dan Ganendra. Walaupun sebenarnya Fimi ingin putranya bersamanya, tetapi wanita itu tidak mau membuat mertuanya juga kecewa.


"Kalau Fir rewel, kasih tahu Fimi ya, Mi. Takutnya Fir tiba_tiba nangis sambil tidur," ucap Fimi untuk yang kesekian kalinya, saat mereka sudah menyelesaikan makan malam.


"Iya, tapi kayanya Fir nggak akan rewel ya, Sayang?" Alifa beralih ke arah Fir yang duduk di sampingnya.


"Iya, Mimi tenang saja, kata Oma, nanti Fil bakal dibacain dongeng sama Opa," jawab Fir yang kini sedang memainkan mobil-mobilannya.


Fimi hanya tersenyum, pada putra kecilnya. Sementara suaminya berada di ruang kerja bersama Kaivan setelah mereka makan malam bersama.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Fi?" Alifa kini beralih pada menantunya.


"Alhamdulillah lancar, Mi. Butik aku sedang banyak pesanan baju juga," ucap Fimi.


"Baguslah kalau gitu, tapi ingat jangan sampai lupa makan dan pulang, sekarang kan kamu sudah punya suami juga," nasihat Alifa.


"Iya, Mi." Fimi menghela nafasnya pelan sebelum kembali mengutarakan maksud hatinya. "Mi ... besok pulang kerja aku boleh mampir ke rumah Mama dulu nggak?" Fimi bertanya ragu.


Alifa terkekeh. "Kamu nggak betah tinggal di sini?"


"Eh, bu-bukan gitu, Mi. A-aku hanya ingin melihat keadaan mama sama papa aja."


"Nggak boleh." Tiba-tiba Dava datang dan langsung duduk di samping Fimi. Wanita itu terkejut, begitu juga dengan Alifa.


"Kenapa?" Alifa yang bertanya.


"Nanti saja bareng sama Dava, Mi. Kalau besok belum bisa di kantor masih banyak kerjaan," jelas Dava yang dianggukki oleh Alifa.


"Walaupun mami kasih izin, tapi kalau suami kamu nggak ngasih, mami nggak bisa apa-apa, Sayang." Alifa berkata lembut pada menantunya itu. Karena keasyikan ngobrol mereka tak menyadari kalau Fir ternyata sudah tertidur dengan bersandar pada perut Ganendra.


Fimi pun akhirnya terdiam dan melihat ke arah sang putra. "Eh, Fir nya udah bobo, Mi. Biar aku gendong."


"Nggak usah biar sama Papi aja, Papi masih kuat, kok." Pria paruh baya itu dengan pelan mengangkat kepala Fir, kemudian mulai menggendongnya dan membawa anak kecil itu ke kamarnya.


"Lho, Fir mau dibawa ke mana, Pi?" Dava terkejut saat sang papi membawa Fir ke kamarnya.


"Mulai hari ini, Fir tidur sama kita," ucap Alifa kemudian beranjak dan mengikuti sang suami.


Kini di ruangan itu hanya tinggal Fimi dan Dava, karena Kaivan juga sudah pergi ke kamarnya sesaat setelah dari ruang kerja bersama Dava.


Fimi masih terlihat tak acuh pada sang suami. Saat pria itu mendekatinya, Fimi beranjak hendak pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Dava.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Dava lembut.


"Aku mau ke dapur, mau ambil minum," jawab Fimi kemudian melepaskan tangan Dava dengan sekaligus. Wanita itu pun berjalan ke arah dapur, tanpa mempedulikan suaminya. Namun, tanpa Fimi duga, pria itu juga mengikutinya.

__ADS_1


Fimi mengambil air dingin dari kulkas, saat berbalik, tubuhnya menubruk seseorang yang ternyata suaminya. "Astagfirullah, ngapain sih? Ngagetin aja." Fimi mengomel kemudian mendorong tubuh suaminya. Namun, bukannya menyingkir, Dava malah menempelkan kedua tangannya di kulkas, hingga mengurung sang istri.


"Kamu mau minum juga?" tanya Fimi sewot.


"Nggak, aku mau makan," jawab Dava parau dengan senyuman di bibirnya.


"Lapar lagi?"


"Banget." Dava terus mencondongkan wajahnya ke wajah sang istri.


Fimi tahu apa yang akan dilakukan suaminya, tetapi tanpa diduga, wanita itu langsung menginjak kaki suaminya dengan keras, hingga Dava memekik kesakitan dan memegang kakinya.


"Makan sana!" Fimi menyimpan gelas dan botol minum di atas meja terus berlalu meninggalkan Dava begitu saja.


"Awas kamu, Yang." Dava mengikuti sang istri dengan jalan terpincang-pincang. Sementara Fimi sudah pergi ke lantai atas menuju kamar.


Saat sampai di kamar mereka. Dava melihat sang istri sedang membawa bantal dan selimut menuju sofa.


"Kamu ngapain, Yang?" tanya Dava.


"Kita pisah ranjang." Fimi menjawab sambil mulai menyimpan bantal itu di sofa. Dava tergelak mendengar jawaban sang istri. Pisah ranjang masih sekamar gini, entar udah tidur juga aku pindahin, Yang. Dava tersenyum miring.


"Kenapa ketawa?" Fimi mendelik kesal ke arah suaminya.


"Nggak, ya udah kamu mau tidur di sana, kan?" Dava mendekati sang istri ke arah sofa, yang membuat wanita itu waspada.


Namun, bukan pergi Dava malah makin gencar menggoda sang istri. "Aku juga belum pernah nyobain di sofa, kayanya menyenangkan juga," ujar Dava penuh arti, berbeda dengan tanggapan Fimi.


"Ya udah, kalau mau di sini, aku di ranjang." Fimi beranjak dari duduknya dan hendak kembali ke ranjang. Namun, Dava berhasil menangkapnya, hingga Fimi kini berada di pangkuannya.


"Lepasin aku, Bang!" Fimi berontak ingin lepas dari suaminya.


"Nggak akan, udah sejak sore aku dicuekin sama kamu," ucap Dava sambil mengeratkan pelukannya pada perut sang istri.


"Kamu yang mulai, tiba-tiba marahin aku nggak jelas," balas Fimi.


"Aku minta maaf, aku salah, Sayang."


"Nggak."


"Kok gitu sih?"


"Kamu udah nuduh aku nggak bisa jaga Fir, dan bilang kalau aku juga ...." Dava tiba-tiba menarik tengkuk sang istri dan membungkam mulutnya dengan bibirnya. Fimi berontak dengan memukul dada suaminya, tetapi lama-kelamaan kegiatan itu pun berlangsung lama. Fimi kalah oleh buaian sang suami.


Namun, saat Dava membaringkan tubuh sang istri, Fimi tiba-tiba tersadar kalau ia masih marah dengan suaminya. Dengan segera ia mendorong tubuh suaminya yang sudah melemah, hingga Dava terjungkal ke lantai.

__ADS_1


"Aduh! Sayang, kamu ngapain sih?" protes Dava.


"Aku masih marah sama kamu, jangan harap ada jatah malam ini, nggak!" tolak Fimi yang langsung pergi ke toilet.


"Yang, tanggung ini. Ya ampun!" Dava frustrasi karena hari ini hasratnya untuk bersama dengan sang istri kembali gagal. Wanita itu benar-benar masih marah pada dirinya. "Yang, nolak suami itu dosa tahu," lirih Dava sambil mengetuk pintu toilet.


"Marahin istri tanpa sebab juga dosa ya, Bang." Fimi menjawab dari toilet yang terkunci.


"Maafin aku, aku cuma cemburu sama kamu, Sayang."


"Cemburu? Aku kerja sama Nesa, dia cewek, karyawan aku juga cewek semua," teriak Fimi dari dalam.


"Iya, aku minta maaf. Memangnya kamu mau tidur di toilet?"


"Iya." Fimi menjawab asal.


"Jangan dong, Sayang. Nanti kamu sakit." Dava terus menggedor pintu toiletnya.


"Berisik!" Fimi tiba-tiba membuka pintu toiletnya. Namun, ada yang berbeda dari wanita itu, kini ia memakai baju hangat tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Kamu kenapa, Yang? Sakit?" Dava mengerutkan keningnya saat melihat penampilan sang istri.


"Aku takut ada yang jahil tengah malam, udah sana tidur di sofa!" usir Fimi kemudian berjalan menuju ranjang.


Saat Dava akan ikut berbaring di ranjang, tiba-tiba Fimi melempar satu bantal ke arah suaminya.


"Jangan tidur di situ, aku nggak mau pokoknya!"


"Astagfirullah, Yang. Aku itu suami kamu."


"Nggak pokoknya titik. Atau besok aku pulang ke rumah mama?" ancam Fimi.


"Iya,iya."


"Awas!Kalo pindah ke sini!" Fimi memberi batasan pada ranjang itu dengan menumpuk bantal di sisi-sisinya.


"Tapi, Yang ...."


"Nggak!"


"Iya, udah iya."


Bersambung


Wkwkw kok aku seneng ya Bang Dava gagal hiya-hiya sama Fimi.

__ADS_1


Jan lupa gerakin jempolnya ya besti.


__ADS_2