
Nesa baru saja ke rumahnya. Seperti biasa wanita itu disambut oleh sang ibu dan adiknya.
"Teh, Aji harus bayar buat uang PPL, waktunya tinggal seminggu lagi, Teteh ada uang, kan?" Pemuda dengan rambut belah tengah itu berkata saat Nesa baru saja duduk dan meminum teh hangat.
Sebelum menjawab Nesa menelan dulu air yang penuh di mulutnya. "Berapa? Besok Teteh kasih uangnya. Yang penting kamu sekolah yang bener."
"Iya, Aji nggak bakal ngecewain Teteh." Pemuda yang sibuk dengan bukunya itu berkata.
"Uang belanja masih ada, Bu?" Nesa berbalik ke arah sang ibu.
"Ada, kamu jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Teh." Wanita berhijab itu mengelus kepala putri sulungnya.
"Ibu, tenang aja, Teteh nggak apa-apa, Nesa menikmati pekerjaan Teteh. Selama Teteh sehat apa yang Ibu dan Aji mau pasti Teteh usahain," jawab Nesa.
"Memangnya Teteh belum punya pacar?" Pertanyaan itu membuat Nesa tersedak.
"Pelan-pelan, Teh."
"Usia kamu sudah cukup untuk menikah, kalau sudah ada yang serius cepat kenalin ke ibu," ujar Lisa.
"Iya, nanti kalau bener-bener yang serius aja, Bu. Teteh juga nggak mau pacaran lama-lama eh, nggak jadi. Mendingan langsung nikah kalau bisa mah," jawab Nesa.
*****
Keesokan harinya, Nesa berangkat ke butik seperti biasa, saat wanita itu baru saja sampai. Seseorang sedang menunggunya di depan butik.
"Pak Dava? Nggak ke kantor?" Nesa bertanya langsung pada pria yang sedang bersandar pada tembok itu.
"Mau, tapi kemarin saya lupa minta nomor rekening kamu," ujar pria itu sambil memainkan ponselnya.
"Aduh, padahal bisa kirim pesan aja, Pak." Nesa juga mengeluarkan ponselnya. Bersamaan itu, mobil Fimi datang, saat wanita dengan rambut sebahu itu keluar dari mobilnya. Perasaan tak karuan kembali menyerangnya, saat melihat Dava dan Nesa sedang tertawa bersama.
Fimi menghela nafas, lalu berjalan sepeti biasa, saat akan melewati pasangan baru itu, Nesa menyapanya seperti biasa. "Abis ngaterin Fir dulu ya, Fi?" tanya Nesa seperti biasa.
__ADS_1
"I-iya, seperti biasalah."Fimi sempat tergagap, tetapi berusaha kembali biasa saja. Apalagi saat melihat Dava, pria itu masih fokus pada ponselnya, jangankan menyapa, melirik pun tidak.
"Fimi-Fimi, lo beneran yang baper, udah lupain semuanya," gumam wanita itu dalam hati.
"Ya udah gue duluan, Nes." Fimi berlalu begitu saja, tetapi masih terdengar saat Dava berkata bahwa ia akan kembali menjemput Nesa.
Saat sampai di ruangannya, Fimi membanting tasnya ke meja kerjanya, lalu duduk di kursi putarnya. Wanita itu menghela nafasnya kasar. Masih pagi tetapi mood wanita berambut pendek itu sudah berantakan.
"Ah, lebih baik gue ke sekolah Fir saja." Fimi kembali beranjak dan menyambar tas juga kunci mobilnya, bersamaan itu Nesa masuk.
"Mau ke mana, Fi?" Nesa mengerutkan keningnya saat melihat bosnya itu kembali berkemas.
"Aku ada urusan di luar, mungkin hari ini aku nggak akan balik ke butik dulu, kamu bisa handle semua, kan?" jawab Fimi dengan nada biasa.
"Oh, oke. Tenang aja semua pasti beres, sukses terus ya, Fi. Hati-hati di jalan!" Nesa sedikit berteriak karena Fimi sudah berlalu melewatinya begitu saja.
Setelah melajukan mobilnya dan membelah jalanan yang mulai ramai seperti biasa, Fimi malah bingung ke mana arah tujuannya hari ini. Jika pergi ke sekolah Fir, sang mama pasti akan bertanya kenapa? Akhirnya wanita itu hanya melajukan mobilnya melewati jalanan ramai yang tak pernah mati itu.
"Ada apa dengan gue? Kenapa gue ngerasa kesal melihat kedekatan Nesa dan 'Cowok Julid' itu?" Fimi memukul stirnya saat lampu lalu lintas berubah merah.
Perjalanan yang akan ditempuh sekitar empat jam menggunakan mobil. Fimi juga mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan dan minuman. Setelah dirasa cukup, wanita itu pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu, Dava juga yang hari ini berusaha untuk mengabaikan Fimi, tetapi saat wanita itu terlihat biasa saja. Sepertinya, membuat Fimi cemburu adalah hal yang salah, karena wanita itu malah semakin menjauh. Akhirnya, pria itu pun memutuskan untuk pergi ke sebuah danau segitiga yang dulu sering ia kunjungi jika hatinya sedang merasa penat. Hanya dia seorang tak ada satu pun mantan kekasihnya yang pernah ia bawa ke tempat itu, termasuk Riri.
Dava sampai ke tempat itu lebih dulu dibandingkan dengan Fimi. Pria itu sedang duduk di bangku panjang yang ada di pinggir danau. Sesekali ia melempar kerikil kecil yang ada di depannya ke danau itu, sehingga warna birunya memudar menjadi warna yang lain. Semakin banyak benda dilempar ke sana, semakin banyak pula warna yang tampak.
"Ah! Akhirnya aku sampai juga di sini!" teriak seorang wanita yang berada tak jauh dari Dava duduk. Namun, memang terhalang oleh sebuah pohon pinang yang cukup besar.
"Di sini kamu boleh mikirin diri sendiri, Fi. Di sini kamu bisa jadi diri kamu sendiri, pokoknya kamu adalah kamu," imbuhnya.
Dava mendekat ke pohon pinang itu, untuk mengintip siapa sebenarnya wanita yang mengganggu ketenangannya itu. Apalagi saat mendengar suaranya, terdengar begitu familiar. Saat pria itu, mencoba melihat, dari balik pohon, sang wanita sedang berbalik membelakanginya.
Dava pun mencoba kembali melihat dari arah lain, sampai akhirnya ia tahu siapa yang ada di sana. Wanita yang saat ini membuat hatinya berantakan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia ada di sini juga?" gumamnya. Namun, untuk menarik perhatian wanita itu, Dava kembali melemparkan beberapa kerikil kecil ke danau itu.
Sampai akhirnya Fimi sadar, bahwa ada orang lain selain dirinya. Namun, wanita itu akhirnya hanya mengabaikan. Di sini Fimi akan menjadi dirinya sendiri, tanpa menjadi seorang ibu dan wanita karir. Dirinya yang selalu ceria, dan tersenyum bahagia.
Selama ini, beban hidupnya terlalu berat, saat tiba-tiba harus mendadak menjadi seorang ibu, bekerja dan membagi waktu untuk putranya. Sehingga waktu untuk dirinya sendiri nyaris tak ada. Rasa sayangnya terhadap Fir, memang begitu besar, tetapi ia lupa menyayangi dirinya sendiri sampai akhirnya terus menunda untuk menikah.
"Aku sebenarnya mau aja pacaran dan nikah sama cowok yang bener-bener serius, tapi ... aku takut dia nggak mau nerima Fir." Wanita itu melempar kerikilnya satu per satu.
"Apa kamu tahu, kalau aku ... ah bukan sepertinya aku memang baper sendirian. Ternyata dia suka sama temen gue." Fimi tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.
Dava terus mendengarkan apa yang wanita itu ucapkan. Apa mungkin Fimi benar-benar sudah salah paham pada dirinya dan Nesa? Kalau iya, berarti rencananya berhasil.
"Kamu tahu, padahal aku baru saja akan membuka hati untuk seseorang, tapi sayang dia milik orang lain. Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang lain, apalagi sahabatku sendiri." Fimi kembali berucap.
"Aku pura-pura jutek, aku pura-pura tak peduli, aku pura-pura galak, pokoknya aku selalu menjadikan diriku wanita yang menyebalkan agar perasaanku tak mudah ditebak oleh dia. Namun, ternyata semua itu percuma, karena bukan aku yang dia mau, tapi sahabatku." Kini wanita itu mulai terisak.
"Aku benci pada diriku sendiri. Aku nggak bisa meraih apa yang aku mau."
Dava yang sudah paham semua yang dikatakan wanita cantik itu. Kini beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Fimi. Pria itu berdiri tepat di belakang tubuh mungil yang kini menunduk sedangkan bahunya masih naik turun, karena menangis.
"Dasar cengeng! Udah gede juga masih aja cengeng!" Dava berucap sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ya Tuhan, bahkan aku merasa dia sedang menggerutu. Aku mohon jauhkan dia dari pikiranku." Fimi menutup telinganya.
Dava mengembuskan nafasnya pelan. Kemudian pria itu melangkahi bangku panjang itu dan kini duduk di samping Fimi. "Hei, Anak Cengeng!" bisiknya.
Fimi tersentak dan saat berbalik, wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Dava yang saat ini mengangkat satu alisnya dengan ujung bibirnya.
"Ka-kamu?"
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Nah lo, yang dimaksud Fimi tuh Dava bukan ya?
Jan lupa gerakin jempolnya ya. Maaf upnya malam-malam, si ilhamnya baru pulang, dari pagi ampe sore dia mabur teroos.