Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Bayi Cantik


__ADS_3

Fimi sudah mendapatkan penanganan. Wanita itu benar-benar akan melahirkan di usia kandungannya yang akan menginjak delapan bulan.


Wanita itu masih berada di ruang persalinan. Seorang perawat keluar dan memanggil keluarga dari Fimi. Kavindra mendahului sang mami dan mama dari Fimi.


"Bagaimana keadaan adik saya, Suster?" tanya Kavindra.


"Bayi dala kandungannya harus segera dikeluarkan, karena air ketubannya sudah berkurang," ucap dokter wanita yang saat ini berdiri di samping suster itu.


"Lakukan yang terbaik untuk adik saya." Kavindra menganggukkan kepalanya.


Sementara itu di kantor Pramudya, Dava sedang sibuk menyambut para investor. Pria itu sangat sibuk sampai tak sempat melihat ponsel yang terus berdering.


Sekitar jam tiga sore, akhirnya Dava selesai dengan para investornya, mereka sedang beristirahat. Bersamaan itu, Haris datang dan memberitahukan bahwa Fimi sedang berada di rumah sakit.


"Apa?" Dava terkejut dan langsung memeriksa ponselnya. Terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Riri dan Kavindra. 


Dava langsung menghubungi sang kakak. Pria itu terlihat begitu khawatir raut wajahnya. Untung saja Kavindra langsung mengangkatnya dan memberi tahu di rumah skit mana mereka berada.


"Haris, setelah ini tidak ada meeting lagi, kan?" Dava bertanya dengan tergesa,


"Tidak, Pak. Sebaiknya Anda segera pergi ke rumah sakit," usul Haris.


Dava hanya mengangguk kemudian dengan segera menyambar kunci mobilnya di atas meja. Pria itu engan gegas meninggalkan kantornya untuk menemui sang istri di rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh sang kakak.


Dava menegmudiakan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, saat lampu merah, priaitu tiba-tiba teringat ucapan sang istri untuk selalu tenang kalau sedang mengendarai mobil.


Setelah menghela nafas pelan, Dava kini melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Pria itu berusaha untuk tetap tenang.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang karena macet, akhirnya pria itu sampai di tempat yang dituju. Pria itu dengan segera menghubungi kembali sang kakak sambil terus berlari saat tahu ke mana harus pergi, Dava pun menutup sambungan teleponnya.


Terlihat sang mami dan mertuanya sedang duduk di ruang tunggu. Kavindra bahkan terlihat mondar-mandir.


"Bang, bagaimana keadaan Fimi?" tanya Dava saat dirnya sudah berada di hadapan mereka.


"Maaf, Abang sudah menandatangani surat izin, kalau Fimi harus segera melahirkan bayinya," lirih Kavindra.


Dava hanya mengangguk dan berterima kasih pada sang kaka. "Fir, Ale dan Aksa di mana?" Dava melihat sekekliling dan hanya ada sang mami dan mertuanya.


"Mereka sudah pulang bersama Riri dan Tari, anak kecil tidak boleh berada di sini." Kavindra kini duduk di samping sang mami.

__ADS_1


"Fimi nggak akan kenapa-napa, kan, Mi?" Pria itu terlihat begitu gusar. Wajahnya begitu kacau.


"Kamu tenang ya, bantu doa agar Fimi dan bayinya selamat dan sehat." Marina menepuk bahhu menantunya.


"Iya, Ma." Dava hanya mengangguk.


Tak berselang lama seorang perawat keluar dan memanggil keluarga Fimi. Wanita berbaju putih-putih itu memanggil suami dari Fimi.


Dava pun langsung berdiri dan menghampiri wanita itu. "Saya suaminya."


"Bapak dipersilakan untuk masuk dan mendampingi istrinya."


"Baik, Sus." Dava langsung beranjak saat diberi kesempatan untuk mendampingi sang istri. Pria itu ikut masuk ke ruang persalinan.


Saat masuk sang istri terlihat meringis kesakitan sambil memegangi tiang ranjang. Dava setengah berlari menghampiri sang istri yang sudah basah dengan peluh.


"Bang, sakit!" pekik wanita itu saat berjuang melahirkan bayinya secara prematur. Entah bagaimana, saat pulang sekolah, Fimi sudah merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya, tetapi Fimi tak menghiraukannya, sampai saat di parkiran resto, sakit perut itu sudah tak tertahan dan ada bajunya sudah basah oleh cairan bening.


Saat ke rumah sakit, ternyata air ketuban Fimi sudah pecah, sehingga harus segera melahirkan bayinya. Padahal usia kandungan wanita itu baru masuk 36 minggu.


Fimi kini memegang erat tangan suaminya, bahkan Dava sempat meringis karena genggaman sang istri begitu erat, karena menahan sakit.


Fimi berjuang melahirkan bayinya hingga sekitar jam tujuh malam, akhirnya seorang bayi perempuan lahir ke dunia dengan bobot hanya dua kilogram.


Setelah itu, dokter masih mengurusi Fimi, Dava masih setia mendampingi sang istri sambil sesekali menciumi kepala istrinya. "Makasih, Sayang."


Tak berselang lama, Dava dipanggil oleh perawat untuk mengadzani bayinya. Sementara itu Fimi masih diurusi oleh sang dokter dan perawatnya. 


Marina, Alifa dan Kavindra tersenyum bahagia saat melihat bayi dari Dava dan Fimi sudah lahir dan selamat. Namun, mereka masih menunggu kabar tentang ibunya.


tak berselang lama Dava keluar dengan seorang suter. Tentu saja Alifa menghadang mereka sebentar untuk mengetahui kabar Fimi.


"Dava, Fimi bagaimana?" tanya Alifa pada putranya.


"Fimi baik-baik saja, Mi. Dava mau ke ruangan bayi untuk mengadzani bayi Dava." Pria itu memegang bahu sang mami dan izin untuk mengikuti suster yang tadi bersamanya.


Alifa mengangguk dan membiarkan putranya pergi.


*

__ADS_1


Satu minggu kemudian. Fimi sudah diperbolehkan pulang bersama bayinya. Keluarga mereka menyambutnya dengan bahagia. Fimi tetap pulang ke kediaman Pramudya, tetapi orang tua wanita itu mungkin akan menginap beberapa hari di sana.


Saat ini bayi perempuan itu digendong oleh Marina. Fimi dan Alifa duduk di sisi kiri dan kanan Marina. Sementara Dava duduk di depan bersama Kaivan yang mengemudi.


"Anak aku masih tidur ya, Ma," ucap Fimi sambil melirik pada bayi mungil dalam gendongan sang mama.


"Iya, Sayang. Dia kayanya masih kekenyangan karena sudah diberi asi tadi pagi." Marina mengusap kening bayi mungil itu.


Sementara itu, Dava terdengar mendengkur halus. Pria itu selalu bergadang menunggui istri dan bayinya setiap malam, bahkan Dava selama satu minggu pergi ke kantor pun dari rumah sakit.


Akhirnya pria itu saat ini sudah terlelap.


Kaivan mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati, selain ada bayi di dalam mobilnya, juga ada Fimi yang baru melahirkan, katanya luka orang baru melahirkan itu sangat istimewa.


Saat Kaivan memasukkan mobilnya ke kediaman Pramudya, tiba-tiba saja bayi perempuan itu menangis histeris. "Ma, dedek bayinya kenapa?" Dava langsung mengerjap kaget dan bangun.


"Tidak apa-apa, mungkin dia mulai lapar." Alifa yang menjawab pertanyaan putranya. "Ayo turun, kita sudah sampai."


Mereka semua pun turun, Fimi digandeng oleh sang suami untuk masuk ke dalam rumah. Bagaimana pun, ternyata wanita itu masih sedikit kesulitan saat berjalan karena sakit bekas lahiran.


Kini mereka berkumpul di ruang keluarga seperti biasa. Semuanya sudah hadir, Fir bahkan berlari ke arah sang mimi. "Mimi, Fir kangen!" Anak kecil itu menubruk tubuh sang mimi, bahkan Fimi hampir saja terjatuh kalau tidak ditahan oleh Dava.


"Pelan-pelan, Sayang. Mimi masih sakit," ucap Dava.


"Maaf, Pi. Fir cuma kangen sama Mimi." Anak kecil itu menundukkan kepalanya.


"Sudah, ayo duduk," ajak Fimi sambil menggandeng tangan putra kecilnya.


"Dedek bayi, namanya siapa sih, Mi?" tanya Fir yang kini sedang melihat bayi mungil yang menangis dalam gendongan omanya.


"Fir mau ngasih nama buat adeknya, nggak?"


"Kasih asi dulu, Fi. Kasian nangis terus," tukas Marina sambil menyodorkan bayi perempuan itu pada Fimi. Wanita itu pun mengambil alih menggendong sang bayi dan mulai menyusui bayi cantiknya.


"Kamu udah dapat namanya belum, Bang?" Kini wanita yang sedang menyusui itu menoleh ke arah sang suami yang duduk di sampingnya.


"Astagfirullah tidur lagi."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Kalian mau nyumbang nama buat anak babang Dava ngga? Kalo iya kuy tulis di komen ya biar jempolnya gerak terus eeaa wkwkw.


__ADS_2