Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Berduka


__ADS_3

Kaivan yang sedang dinas luar, langung kembali pulang saat mendengar kabar bahwa sang papi masuk rumah sakit.


Pria itu mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang. Rasa khawatirnya telah menguasainya sehingga ia tak mempedulikan dirinya sendiri, sampai akhirnya ia berhenti di lampu. 


Terdengar suara makian seorang perempuan dari kendaraan lain. "Heran gue sama orang yang buru-buru pergi dengan alasan urgent, tapi nggak mikirin keselamatan dirinya sendiri."


"Lo nyindir gue?" terdengar suara lain yang menyahuti.


"Iya, gue nyindir lo, lo nggak sadar kalau yang lo lakuin saat ibu lo masuk rumah sakit ... lo ngebut. Nggak mikir apa kalau lo celaka gimana?"


"Gue kan panik."


"Ibu lo udah jelas masuk rumah sakit pasti udah ditanganin lah, terus lo ngebut tiba-tiba amit-amit kecelakaan gimana? Ketemu ibu lo nggak, ketemu malaikat maut iya."


Lampu lalu lintas pun berubah hijau, kini Kaivan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, apa yang ia dengar dari wanita yang mengendarai motor tadi.


Namun, saat akan menuju ke rumah sakit, Kaivan dihubungi sang kakak untuk pulang ke rumah dulu. Akhirnya, pria itu pun melajukan kendaraannya menuju rumah.


Tak berselang lama, oria itu udah sampai di halaman rumah.


"Assalamualaikum," sapanya sambil masuk ke dalam rumah. Saat di ruang keluarga terlihat kedua kakaknya dan Fimi. Istri Kavindra sepertinya belum datang ke sini.


"Papi sama siapa di rumah sakit, Bang?" Kaivan langsung bertanya dan duduk di samping  Dava.


"Mami masih di rumah sakit. Oh, iya tadi kamu mimpi apa, Yang?" Dava beralih pada istrinya.


"Tadi aku mimpi papi bareng sama kak Fio ... katanya papi udah tenang berada di sana." Fimi menatap netra suaminya.


"Papi beneran akan baik-baik aja, kan?" imbuhnya sambil mengguncang lengan suaminya.


"Kita berdoa saja, semoga papi lekas sehat lagi, Sayang." Dava merangkul bahu istrinya dan menariknya ke dalam dekapannya.


Saat mereka masih berbincang, terdengar suara ribut dari arah depan. 


"Opa pasti sembuh, Ale."


"Ale cuma takut aja, Aksa."


"Sudah-sudah kalian jangan ribut terus dong, nanti dedek Afi bangun lho." Itu suara Riri.


Kavindra beranjak dari duduknya dan menghampiri anak dan istrinya. "Kenapa nggak tunggu aku jemput, Mi?" 


"Anak-anak udah ngerengek pengen ke sini, Pi. Katanya mau lihat opanya," ucap Riri.


"Maaf aku juga udah ngasih tahu anak-anak tentang opanya, Pi."

__ADS_1


Kavindra hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mengajak istrinya untuk duduk. Baru saja Riri duduk, Fimi tiba-tiba langsung pamit, karena bayinya terdengar menangis.


Dava juga mengikuti sang istri, mungkin saja Fir juga sudah terbangun. Saat mereka sampai di kamar. Fir sedang menunggui adiknya yang terus saj menangis.


"Makasih, Sayang." Fimi mengusap kepala putra kecilnya kemudian menciumnya. Wanita itu lalu menggendong bayinya dan memeriksa kalau-kalau bajunya basah.


Karena hari sudah mulai sore, Fimi pun berniat memandikan bayinya terlebih dulu, dibantu oleh Tari. Ternyata Tari juga bisa mengurus bayi dengan baik. Setelah selesai, baru ia kembali berkumpul bersama keluarganya.


Alifa dan Ganendra sudah memiliki cucu dan menantu, hanya tinggal satu putranya yang belum menikah yaitu, Kaivan.


Semua orang kini fokus pada bayi Fia. Rasa sedihnya sedikit teralihkan karena celotehan bayi itu.


Namun, hal itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja Alifa menelepon salah satu putrana dengan menangis.


Tanpa menunggu mereka pun semua menuju ke rumah sakit. Fimi dan bayinya pun ikut serta, awalnya Dava melarang, tetapi Fimi ingin melihat papi mertuanya. Firasatnya sudah tidak enak.


Tari bahkan menyiapkan semua keperluan Fia, dengan sangat teliti agar taka ada yang tertingal. Mereka semua akhirnya kembali ke rumah sakit, dan di rumah hanya ada asisten rumah tangga.


Kaivan mengemuikan mobilnya bersama dengan keluarga Dava. Sementara Kavindra mengemudikan mobilnya sendiri bersama anak dan istrinya.


Kaivan dan Kavindra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, keduanya sudah paham arti keselamatan.


Fimi bergantian menggendong bayinya bersama Tari yang juga duduk di belakang.


"Bagaimana keadaan papi, Mi?" tanya Kaivan pada sang mami yang saat ini sedang menahan tangisnya.


"Kita berdoa semoga papi cepet sehat lagi ya, Nak." Hendra menepuk bahu Kaivan.


Mereka semua menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Sampai akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Kaivan langsung menghampiri pria berjas putih itu. 


"Pasien ingin beremu dengan keluarganya, bergantian saja." Pria itu mempersilakan masuk beberapa orang, kemudian kembali menutup pintunya.


Yang pertama masuk adalah, Alifa, Kavindra, Dava dan Kaivan, Sementara yang lainnya menunggu di luar.


"Pi …." Alifa menghampiri sang suami yang  terlihat pucat dengan selang oksigen di hidungnya.


Pria paruh baya itu tersenyum pad sang istri. "Terima kasih sudah menemaniku sampai hari ini, Alifa."


"Pi, jangan bilang gitu. Mami masih mau sama Papi." Alifa kini mulai terisak karena tak bisa menahan lagi sesak di dadanya.


"Papi sudah tua, Mi." Ganendra terkekeh walau pria itu masih sangat lemah.


"Tetaplah menjadi Alifa yang aku kenal, untuk anak dan cucu kita, Mi."


Setelah itu, kini giliran Kavindra yang menghampiri sang papi. "Pi, kita pulang ya," ajak pria tinggi itu.

__ADS_1


"Papi sudah ditunggu mami kamu, Vin." Pria yang semakin lemah itu menggelengkan kepalanya. "Papi akan bilang ke mami kalau kamu punya anak kembar seperti keinginannya."


Setelah itu, kini giliran Dava. " Jaga Fimi dan Fir dengan baik, Dav. Fir tetap cucu Papi. Bayi kamu juga sangat cantik."


Ganendra semakin melemah, tetapi pria paruh baya itu seperti ingin memberi pesan terakhir pada keluarganya satu per satu. Kaivan sudah sejak tadi menangis, pria itu memang paling manja dibanding kedua kakaknya.


"Kamu harus memiliki istri yang baik seperti kedua kakakmu, Kai. Jangan pernah main api dengan mereka jika kamu tak mau terbakar."


"Papi harus datang buat melamar ceweknya, Kai, Pi." Pria itu mengusap pipinya yang basah.


"Papi mau pulang, kamu nanti sama kakak kamu saja ya."


"Papi mau ketemu menantu dan cucu papi juga, panggil mereka," ucapnya.


Dava segera keluar an memanggil semuanya.Kini mereka semua benar-benar berada di dalam menyaksikan papi Ganendra yang terbaring lemah.


"Terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga Pramudya. Papi sayang sama kalian semua. Jaga Mami untuk Papi." TAk berselang lama nafas Ganendra mulai tersengal. Dokter yang berada di sana dan juga suster langsung memeriksa keadaannya. 


Tak berselang lama dari itu, suara monitor terdengar berbunyi nyaring dan di layarnya berubah menajdi garis lurus saja.


"Papi!" pekik Alifa dan yang lainnya.


"Mohon maaf, kami sudah berusaha dan yang memiliki keputusan hanya yang di atas. Pak Ganendra telah meninggal dunia tepat pukul lima sore." Dokter berkacamata itu mengumumkan.


Isak tangis tak terbendung lagi dari keluarga besar itu. Mereka benar-benar berduka atas meninggalnya pria berwibawa itu.


Kavindra segera mengurus kepulangan jenaszah sang papi agar segera bisa dimakamkan.


Fimi masih menangis dalam pelukan suaminya, sementara bayinya digendong oleh Tari.


"Fr akan jagain Oma Ifa. Oma tenang saja." Fir tiba-tiba menghampiri Alifa yang saat ini sedang duduk.


"Makasih, Sayang." Wanita paruh baya mendekap cucunya.


Sekitar jam tujuh malam, mereka pulang, hanya Kavindra dan Kaivan yang berada di rumah sakit untuk mengurus jenazah sang papi yang akan pulang sekitar jam 9 malam.


"Mas Ivan?"


Bersambung


Happy Reading


Mon maaf ya kemarin ga up, aku sakit barengan sama suami juga.


Jan lupa gerakin jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2