Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Rutinitas Baru


__ADS_3

2 tahun kemudian


"Selamat ulang tahun, kami ucapkan, selamat panjang umur kita kan doakan." Suara nyanyian itu terdengar di kediaman Pramudya. Hari ini adalah ulang tahun kedua bagi putri Davanka dan Fimi. Afia Isya Pramudya, bayi kecil itu kini sudah berusia 2 tahun, makin cantik, aktif dan berisik.


"Mimi, Afi mau uus agi," ucap gadis kecil yang duduk di pangkuan sang pipinya.


"Ish, masa minum susu lagi, Sayang. Lihat tuh lagi ada temennya," jawab Fimi sambil menunjuk ke arah tamu yang juga anak seusia sang putri atau di atasnya beberapa tahun.


"Emang uus apaan sih, Yang?" tanya Dava yang entah kenapa pria itu tak mengerti apa yang diucapkan oleh putrinya selama ini, tetapi tidak dengan istrinya.


"Susu, Pi." Fimi terkekeh geli saat mendengar pertanyaan suaminya.


Dava juga ikut tergelak saat mendengar jawaban istrinya. Bagaimana bisa putrinya menyebut susu menjadi uus. Karena Fia terus merengek akhirnya Fimi pun menuruti kemauan putrinya untuk membuatkan susu, walaupun asinya sudah berhenti satu bulan lali, tetapi Fia tetap mengkonsumsi susu formula.


Diantara para tamu itu hadir juga Nesa bersama Aji. Wanita itu sepertinya masih belum memiliki pasangan sehingga kemana-mana pasti diantar sang adik.


"Afi, sini deh Ateu punya hadiah, Afi mau?" Tiba-tiba Nesa mendekati gadis kecil itu sambil membawa boneka beruang berwarna merah muda.


"Fia mau digendong Tante Nesa?" tanya Dava pada putrinya, ternyata gadis kecil itu mengangguk ceria. Pria itu pun langsung memberikan putrinya pada Nesa, sementra dirinya pamit sebentar ke belakang. Pria itu bahakan berpapasan dengan sang istri yang membawa botol susu putrinya.


"Mau ke mana, Pi?" tanya Fimi.


"Kebelet, Mi. Mau ikut, ayo!" Dava menarik tangan istrinya yang langsung mendapat omelan dari wanita itu. Dava hanya tergelak saat mendengar omelan istrinya.


Acara berlangsung hingga sore hari. Satu per satu tamu mulai pulang, kini di rumah besar itu tinggal keluarga Pramudya. Nesa dan Aji juga belum pulang. Keduanya masih bermain bersama anak-anak.


"Nes, katanya mau ngenalin cowok, kok datangnya bareng Aji lagi?" Fimi berucap sambil duduk di samping sahabatnya setelah mengantar tamunya pulang ke depan.


"Haish, nantilah, gue juga lagi pendekatan."


"Pendekatan aja teros, jadi kagak." Tiba-tiba Aji menyela percakapan mereka.


"Diem lo!"


Perdebatan mereka selalu terlihat lucu di mata Fimi. Sementara itu, Fia ternyata sudah terlelap dalam pangkuan Nesa. Dava yang saat itu masih berada di sana pun akhirnya memutuskan untuk menggendong putrinya dan memindahkannya ke kamar. Sementara itu, Fimi dan yang lainnya jadi lebih leuasa untuk mengobrol.


"Mbak Riri, katanya udah telat ya?" Nesa kini mengalihkan percakapan pada hal lain, agar tak ditanya mengenai pasangan hidupnya terus.


"Iya nih, tapi nggak tahu juga in jadi apa nggak, soalnya belum aku periksa." Riri menjawab sambil mengambil kue yang tersedia dan memakannya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan jadi, Mbak. Si kembar juga udah gede udah kelas dua SD, kan?" ucap Nesa.


"Aamiin."


\*


Waktu tus berjalan, keadaan rumah Pramudya selalu ramai dengan celotehan anak-anak. Karena sejak Ganendra meninggal, Kavindra dan keluarganya sering berkunjung ke rumah itu. Dava dan Fimi akan tetap tinggal di sana untuk menjaga Alifa. 


Kaivan sendiri kadang tidur di apartemennya. Pria itu masih belum menemukan tambatan hatinya, mungkin. Karena Kaivan walaupun terlihat tebar pesona pada wanita, tetapi belum pernah membawa seorang wanita ke rumahnya.


Pagi ini, keluarga itu sedang berkumpul di taman belakang, kebetulan hari ini hari Sabtu. Mereka semua sedang berlibur. Alifa senang saat anak dan cucunya berkumpul bersama di rumah itu.


"Aksa, hati-hati larinya, Nak!" teriak Riri pada putranya yang sedang bermain bola bersama Fir, Kaivan, Dava dan Kavindra.


Sementara Alena dan Afia bermain boneka bersama Tari. Fimi dan Riri juga Alifa sedang membakar sosis, jagung, daging dibantu oleh asisten rumah tangga.


"Mami senang kalau kalian akur kaya gini, Sera kenapa nggak diajak, Ri?" Alifa bertanya pada menantu pertamanya itu.


"Sera lagi ada kerjaan katanya, Mi."


"Oh, sayang banget nggak bisa ikut ngumpul ya. Kalau Nesa, Fi?" Wanita paruh baya itu kini berbalik ke arah Fimi yang sibuk mengolesi jagung dengan mentega.


"Nesa katanya  lagi ada acara keluarga, Mi." 


"Udah ah, Om cape istirahat dulu ya," ucap Kaivan yang kini duduk di teras sambil merebahkan tubuhnya.


"Udah sini kita makan dulu! Bolanya simpan dulu." Alifa mengajak anak dan cucunya untuk berhenti bermain.


"Ale juga mau, Oma, sama dedek Afi." Ale berlari ke arah sang oma yang membawa nampan berisi makanan.


"Mimi, abos!" teriak Afia yang saat itu sudah bisa berjalan dengan lancar.


"Hei, abos apaan, Afi?" protes Kaivan. Karena anak itu selalu memiliki kosakata baru yang tak bisa dimengerti oleh dirinya.


Sementara itu Fimi langsung memberikan bakso kecil pada putrinya. Gadis kecil itu tertawa senang mendapat makanan yang ia inginkan.


"Astagfirullah, Bang. Anak lo bahasanya. Susu jadi uus, bakso jadi abos, kenapa jadi kebolak semua coba." Kaivan menggelengkan kepalanya.


"Kebalik oi."

__ADS_1


"Gara-gara anak lo ini, Bang."


"Sudah-sudah, ayo makan makanannya keburu dingin nggak enak lho." Alifa menyudahi perdebatan putranya.


Mereka semua menikmati makanannya dengan senda gurau. Sampai tiba-tiba Alifa menitikkan air matanya.


"Oma, nangis?" Fir yang memiliki kepekaan lebih itu, langsung bertanya pada sang oma.


"Nggak, Sayang." Alifa langsung mengusap pipinya yang basah.


"Mi, kita kan lagi ngumpul, jangan sedih dong." Kaivan ikut menimpali.


"Andai papi kalian masih ada, pasti dia akan bahagia lihat kalian akur kayak gini, berkumpul bersama." Alifa kini benar-benar menangis, wanita itu sangat merindukan mendiang suaminya.


Riri dan Fimi yang duduk di samping Alifa langsung memeluk tubuh ringkih mertuanya.


"Papi sudah tenang di sana, Mi. Kita masih ada buat Mami." Riri mengusap air mata mami mertuanya.


"Iya, Mi. Fimi dan Bang Dava juga anak-anak udah janji buat selalu nemenin Mami, kan?" sela Fimi.


"Iya, Mi." Dava dan yang lainnya juga ikut berkomentar.


"Makasih, karena kalian selalu ada buat Mami." Wanita itu kini mengusap kembali tersenyum walaupun air matanya masih saja mengalir.


"Oma anis, Mi." Fia yang tadi sibuk dengan makanannya menghampiri sang mimi.


"Iya, Oma manis, kan, Sayang," ucap Fimi. Namun, gadis kecil itu malah menggeleng dan cemberut.


"Oma anis, Mimi."


"Iya, Oma manis, kan?" Gadis kecil itu kembali cemberut.


"Nah lho, apa lagi nih bocah?" sela Kaivan.


"Oma nangis?" Riri mencoba menebak dan anggukkan dari gadis kecil itu membuat semua orang tertawa.


Tamaaaat


Happy Reading

__ADS_1


Ucapan anaknya Fimi terinspirasi dari anakku ya bestie, jadi aku nggak ngadi-ngadi. Seriusan anak aku bilang susu jadi uus, bakso jadi abos pokoknya kebolak semua dah.


Makasih buat kalian yang selalu setia nunggu cerita ini ya.


__ADS_2