Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Detik Terakhir


__ADS_3

Sudah lima hari Dava dan Fimi berada di pulau Dewata. Pasangan suami istri itu menikmati kebersamaan mereka dengan jalan-jalan dan kuliner.


"Kita di sini tinggal dua hari lagi, Yang. Kamu beneran nggak mau beli apa-apa?" tanya Dava pada sang istri yang saat ini sedang duduk di tepi pantai.


"Nanti aja kalau ada yang aku suka, aku beli, paling buat Fir dan orang rumah aja si," jawab Fimi tanpa menolh ke arah suaminya. Wajahnya esekal terhalang oleh rambut pendeknya yang terkena hembusan angin sore ini.


"Aku berdoa semoga kita diberi umur panjang, agar suatu hari nanti bisa pergi lagi ke sini dengan keluarga kita, atau mungkin anak-anak kita." Fim mnerawang jauh ke laut lepas yang terlihat begitu indah.


"Aamiin." Dava menarik tubuh sang istri ke dalam dekapnnya. "Mudahan-mudahan setelah kita pulang dari sini, kamu tiba-tiba ngidam," imbuhnya yang diamini oleh sang istri.


"Kita balik ke hotel yuk," ajak Dava kemudian pria itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang istri.


 Keduanya pun kembali berjalan dan hendak ke hotel. Sesaat setelah mereka sampai ke kamar hotelnya. Fimi langsung ke kamar mandi. Wanita itu akan memberihkan dirinya, sambil membersihkan diri dari hadasnya.


Dava sedang menerima panggilan telepon, saat Fim udah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang dililit handuk. Baru saja, wanita itu akan duduk di depan meja rias, tiba-tiba Dava sudah menghadangnya.


"Yang, kamu ...." Dava langsung menggendong tubuh sang istri hingga wanitamemekik kaget, bahkan handuk yang melilit rambutnya pun jatuh ke lantai.


"Bang!"


"Kamu bohong, katanya kalau tamu bulanan kamu akan pergi setelah delapan hari, ini baru lima hari?" Dava berucap sambl terus menciumi leher sang istri.


"Ish, aku nggak bohong, Bang. Kan aku bilang biasanya, tapi ekarang tumben udah bersih padahal bau lima hari." Fimi menahan dada suaminya.


"Akhirnya di detik-detik terakhir kita beneran honeymoon, Yang."


"Iya, sebenatr aku pakai baju dulu," ucap Fimi yang masih mengenakan jubah mandi itu.


"Ngapain?" Dava mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum mesum ke arah sang istri.


"Sebentar," cegah Fimi sehingga Dava menghentikan kegiatannya. "Apa lagi, Sayang?" Dava menggeram kesal.


"Kita matiin lampunya, Bang, biar nggak ada yang ngintip," jawab Fimi kemudian mematikan lampu kamarnya.

__ADS_1


Ruangan itu pun menjadi gelap. Yah, karena gelap kita nggak bisa tahu apa yang dilakukan oleh mereka.


Keesokan harinya, pasangan suami istri itu masih bergelung dalam selimut. Sepertinya mereka tidak akan kemana-mana hari ini. Padahal besok lusa mereka sudah harus kembali ke ibu kota dan berjibaku dengan pekerjaannya masing-masing.


"Kita beli oleh-oleh buat orang rumah yuk, Bang," ajak Fimi pada suaminya yang saat ini sedang mendekapnya dengan erat.


"Aku masih mau di sini, Sayang." Pria itu ******* bibir istrinya dengan rakus.


"Besok saja, kita masih punya satu hari."


Fimi pun pasrah dan membiarkan suaminya melakukan apa yang dia mau. Menjelang siang, akhirnya Fimi pun memutuskan untuk mandi, tubuhnya terasa sakit semua.


"Aku mandi duluan, Bang." Wanita cantik itu pun turun dari ranjang.


"Bareng aja yuk!"


"Nggak mau, bisa-bisa aku nggak keluar-keluar dari kamar mandi," gerutu wanita cantik itu.


Dava hanya terkekeh, lalu membiarkan istrinya untuk mandi terlebih dahulu. Kemudian pria itu mengambil ponselnya, ada beberapa pesan dari sang papa juga Kaivan. Dava awalnya takut terjadi sesuatu di kantor, tetapi ternyata mereka hanya menanyakan kabar.


"Hm. Udah mandi gih! Jangan deket-deket aku masih cape, Bang." Fimi menghindar dari suaminya.


"Ish, padahal kan ini judulnya bulan madu."


"Ya, nggak terus-terusan juga, Abang. Udah mandi gih!" Fimi yang awalnya akan ke meja rias, langsung beralih ke lemari untuk mengambil pakaian.


Dava pun mengalah dan langsung beranjak ke kamar mandi, sementara Fimi langsung berpakaian. Setelah itu baru ke meja rias untuk memoles wajahnya. Walaupun tidak terlalu suka berhias, tetapi Fimi tetap melakukan perawatan pada wajahnya.


Setelah seharian ini hanya diam di kamar dan memesan makanan lewat layanan hotel.


***


Hari pun terus berlalu, kini mereka akan kembali pulang ke ibu kota, setelah seharian kemarin berbelanja banyak untuk oleh-oleh bagi orang rumah, termasuk untuk Nesa dan karyawan Fimi yang lain.

__ADS_1


Selama perjalanan pulang, Fimi merasa tubuhnya tidak fit. Wajahnya juga agak pucat. Fimi pun akhirnya memutuskan untuk tidur. Dava menggenggam tangan sang istri selama dalam pesawat dan membiarkan istrinya untuk tidur. Dava hanya berpikir mungkin sang istri kelelahan saja.


Sampai akhirnya mereka tiba kembali di bandara, Dava membangunkan istrinya, tetapi tak kunjung bangun, pria itu pun mulai panik dan meminta bantuan pada pramugara di sana. Saat diperiksa sang istri ternyata pingsan. Dava pun segera menggendong sang istri keluar dari pesawat, dan meminta bantuan petugas untuk mengambil barang-barangnya.


Untung saja Kaivan sudah datang menjemput, sehingga Dava tak perlu pusing mencari tumpangan. "Loly, kenapa, Bang?"


"Abang nggak tahu, tadi saat di pesawat dia cuma bilang ingin tidur, tapi saat Abang bangunin, dia nggak bangun-bangun, ayo kita ke rumah sakit dulu!" ucap Dava sambil menidurkan kepala sang istri pada pahanya.


"Mungkin, Fimi kecapaian, tapi aku juga nggak tahu, kemarin dia baik-baik saja." Dava terus mengusap lembut kepala istrinya. Sebelum melajukan mobilnya, Kaivan memberikan minyak kayu putih pada sang abang untuk membantunya istrinya agar cepat siuman. Setelah Dava mengusapkannya pada pelipis dan juga membiarkan istrinya menghirup wangi kayu putih, akhirnya wanita itu pun perlahan membuka netranya.


"Sayang?" Dava senang melihat sang istri sudah siuman.


"Kepala aku sakit banget," lirih Fimi.


"Kita ke rumah sakit sekarang, kamu bertahan ya, Sayang."


Fimi hanya mengangguk, kemudian kembali memejamkan matanya. Dava tetap mencoba mengajak bicara sang istri agak tetap sadar. Tak berselang lama Kaivan sudah membelokkan mobilnya ke sebuah rumah sakit terdekat di sana.


Dava kembali menggendong sang istri, kemudian disambut oleh perawat di sana. Kemudian Fimi dibaringkan di blankar IGD untuk di periksa. Dava terlihat begitu khawatir. Namun, Kaivan menenangkan sang abang. "Kai yakin kalau Loly akan baik-baik saja."


Setelah menunggu, akhirnya seorang perawat keluar dan memanggilnya. "Bagaimana keadaan istri saya?"


"Bapak tenang saja, istri Anda hanya kelelahan. Hari ini juga sudah bisa pulang."


Dava bernafas lega mendengar penjelasan perawat tadi. Setelah membereskan administrasi, dan menebus obat, akhirnya mereka pun kembali menempuh perjalanan menuju rumah.


"Aku mau tidur lagi ya, Bang." Fimi menyandarkan kepalanya pada sang suami dan kembali memejamkan netranya.


"Jangan pingsan lagi tapi," sela Dava.


"Hm."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Jan lupa jempolnya ya bestie...


__ADS_2