
Fimi dan Nesa baru saja selesai mengambil beberapa gaun di butik. Sebenarnya Nesa melarang, tetapi Fimi kekeh karena ada yang harus ia ambil di ruangannya.
"Lo gila, Fi. Kalau nanti orang tua lo marah ke gue gimana?" Nesa dan Fimi saat ini duduk di belakang kemudi, karena keduanya menggunakan taksi online untuk sampai ke butik.
"Tenang aja, abisan gue sebenarnya kesel juga diem di rumah terus, Nes. Yang penting kita selamat, kan. Bentar lagi juga nyampe, kan?" jawab Fimi sambil tergelak.
Memang benar, keduanya baru saja akan sampai di depan rumah Fimi, tetapi sebuah mobil menyalip dan hampir bertabrakan.
"Astagfirullah!" pekik Fimi dan Nesa berbarengan. Sang sopir juga terdengar mengumpat saat mobil hitam itu dengan seenaknya masuk ke halaman rumah.
"Aduh, maaf, Non. Untung saja saya sempat mengerem mobilnya." Sopir yang ditaksir berusia empat puluh tahunan itu meminta maaf.
"Nggak apa-apa, Pak. Makasih kita turun di sini saja, rumah saya di depan, kok." Fimi pun keluar lebih dulu dengan satu paper bag di tangannya, begitu pun Nesa, tetapi wanita itu membawa tas cukup besar di tangannya.
Saat masuk, keadaan rumah tampak sepi, dan Fimi pun akhirnya masuk lewat depan tanpa takut ketahuan. Namun, tanpa dia duga keluarga sedang berkumpul di ruang tengah dengan wajah panik. Ternyata ada seseorang yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu dari mana saja, Fimi Klarisa?" Suara bariton itu terdengar sedikit menakutkan di telinga Fimi. Sementara itu, Nesa yang mengikuti dari belakang juga langsung terdiam.
"A-aku abis dari butik sebentar, ada yang harus aku ambil," jawab Fimi tergagap.
"Kenapa nggak bilang sama yang lain? Nesa juga kenapa nggak dia sendiri saja?" Dava sedikit menaikkan suaranya.
"Kamu kenapa marah-marah kaya gitu sih? Aku cuma sebentar ini juga udah balik lagi." Fimi ikut emosi saat Dava terus memprotesnya lebih tepatnya mungkin memarahinya.
Dava menghela nafasnya dan mengembuskannya pelan, lalu berjalan mendekati calon istrinya yang kini sudah berkaca-kaca netranya. "Aku khawatir kamu kenapa-kenapa, Sayang. Lagian ini udah malam."
"Iya, Fi. Kami khawatir," tukas Hendra yang kini menghampiri putrinya.
"Maaf, Pa."
Kemudian Hendra mengajak putrinya untuk duduk begitu juga dengan Dava. Sementara itu yang lainnya kembali pada aktifitas yang lain. Di ruangan itu kini tinggal Hendra, Marina, Dava, Haris, Fimi dan Nesa.
"Kenapa kamu nggak izin Mama atau Papa dulu, Mi?" Marina mulai mengutarakan isi hatinya.
"Maaf, Ma, Fimi pikir kan cuma sebentar dan lagi belum tentu dapat izin." Wanita yang terlihat lebih cantik itu menjawab sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Maaf, Tante. Ini salah Nesa juga." Wanita yang akan menginap di rumah Fimi hingga menjelang hari H itu, ikut menundukkan kepalanya.
"Nak Dava dapat kabar tentang penculikan seorang wanita yang sosoknya mirip sekali dengan kamu, Mi. Jadi, dia langsung kemari saat mendengar kabar kalau kamu nggak ada di rumah." Hendra mencoba menjelaskan kenapa Dava bisa bersikap semarah tadi.
"Iya, Nona, Pak Dava takut terjadi apa-apa pada Nona." Kini Haris yang menimpali.
Sementara itu, Dava masih terlihat mengeratkan rahangnya. Pria itu masih terlihat marah, walau berusaha di tahannya. "Om, bolehkah Dava bicara sama Fimi sebentar?"
"Tentu saja boleh, tapi jangan apa-apain dulu anak Om ya, kamu tunggu tiga hari lagi," jawab Hendra sambil tergelak.
"Nggak, Om." Kemudian Dava beranjak dan mengajak calon istrinya keluar. Keduanya duduk di taman belakang. Keduanya masih terdiam dengan pikiran masing-masing, sampai tiba-tiba Dava menarik tubuh calon istrinya dan mendekapnya.
"Aku senang kamu baik-baik saja, Sayang." Dava terus mendekap tubuh mungil Fimi, dan membenamkan kepalanya pada bahu wanita cantik itu.
"Aku minta maaf udah bikin kamu khawatir, Bang." lirih Fimi.
"Maaf, tadi aku sudah membentakmu, bukan maksud aku memarahimu, Sayang. Aku benar-benar takut kehilangan kamu." Dava melepaskan dekapannya dan memegang kedua bahu calon istrinya, untuk melihat wajah cantiknya.
"Aku nggak kemana-mana, Bang. Maaf sudah bikin kamu panik kaya gini."
Dava tersenyum dan tanpa bersuara ia mencondongkan wajahnya kemudian mengecup bibir Fimi sekilas. Namun, wanita itu hanya diam tanpa penolakan. Sepertinya Fimi terkejut, dan Dava malah mengartikannya lain. Pria itu kemudian melanjutkan kegiatannya. Fimi menarik kaus yang digunakan Dava dan memeganginya dengan erat, nafasnya juga ia tahan. Saat Dava melakukan pergerakan kecil, Fimi mendorong Dava, hingga pagutannya terlepas.
"Sesek, Bang." Fimi mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sambil memegang dadanya yang berdetak tak karuan.
Dava terkekeh, kemudian kembali mencondongkan wajahnya. Namun, kali ini Fimi menutup bibirnya dengan telapak tangan. "Kenapa?"
"Engap, Bang. Udah sana pulang udah malam juga," usir Fimi sambil tetap menutup bibirnya.
"Nginep ajalah, aku malas pulang," balas Dava yang kini menghadap ke depan dan menyandarkan punggungnya.
"Jangan macem-macem deh!" gerutu Fimi.
"Sebentar lagi juga kan kita nikah, Sayang." Dava menjawab tanpa menoleh ke arah Fimi.
"Iya, makanya sana pulang!"
__ADS_1
"Kita cicil aja dari sekarang gimana?" Sebuah cubitan pun sukses pria itu dapatkan di lengannya.
"Sembarangan banget kalau ngomong," omel Fimi tanpa melepaskan cubitannya.
"Iya, nggak. Sakit tahu, Yang."
Setelah perdebatan mereka berakhir dan tentu saja dimenangkan oleh Fimi, sekarang Dava akan kembali pulang, dan pamit pada keluarga calon istrinya.
Sebelum benar-benar pulang pria itu berkata, "Tolong jagain Fimi ya, Om. Jangan sampai kabur lagi, kalau masih bandel kunci aja di kamar, Tante."
Marina mengangguk setuju.
Semntara itu, Fimi berdecak mendengar ucapan calon suaminya. "Nggak gitu juga kali, sekali doang, nggak sampai seharian juga padahal mah."
"Nggak usah protes, pokoknya kamu diem di rumah jangan bikin aku khawatir." Dava mengacak rambut pendek calon istrinya yang kini mengerucutkan bibirnya.
"Kalau gitu Dava pamit pulang ya, Tante." Pria itu pun kini beranjak keluar bersama Haris. Setelah berada di dalam mobil, Haris langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan kediaman Fimi.
"Sepertinya sekarang Bos bisa tidur dengan tenang. Nona Fimi aman di rumahnya." Haris berucap sambil sesekali melihat atasannya dari spion dalam.
"Mudah-mudahan saja, tapi aku penasaran siapa yang mengirim foto itu, Ris?"
"Saya sudah melacaknya dan sepertinya mereka salah sasaran, karena mereka bukan salah satu dari teman atau bahkan saingan Pak Dava," jelas Haris.
Dava pun menghela nafas lega. "Syukurlah, kalau seperti itu, tapi kamu harus tetap awasi kediaman Fimi. Aku khawatir kalau-kalau ada kejadian seperti tadi lagi."
"Siap, Pak Dava. Semoga pernikahan Bapak lancar dan langgeng."
"Aamiin, makasih doanya, Haris." Dava kini memejamkan matanya, tubuhnya juga terasa lelah.
Saat Dava mulai terlelap, tiba-tiba ....
Brak!
Bersambung
__ADS_1
Happy Reading
Syukurlah Fimi nggak diculik ya, jadi aman dong nikahnya. Ngomong-ngomong kalian udah dapat undangannya belum sih?