
Dava berhasil menangkap istrinya dan menggendongnya ke kamar mereka. Kini keduanya membaringkan tubuh mereka di ranjang.
"Cape banget sih," keluh Fimi sambil mengibaskan tangannya karena kepanasan.
Dava meraba nakas dan mengambil remot untuk menyalakan ace. Rasa sejuk kini membuat keduanya terdiam.
"Bang?"
"Hm."
"Mantan kamu banyak ya?" Fimi tiba-tiba bertanya hal yang sensitif.
"Jangan mancing, Sayang."
"Siapa yang mancing? Aku cuma nanya," kilah Fimi.
Dava berdehem sebentar, kemudian ia menoleh ke arah sang istri yang berbaring di sampingnya. "Kamu tahu nggak, segalau apa aku pas pertama ketemu kamu?"
"Kapan?"
Dava kini melihat langit-langit kamar. "Saat kamu marahin aku, waktu aku hampir nabrak kamu. Awalnya aku juga kesel udah mah pusing dimarahin cewek pula, di tengah jalan lagi."
Fimi terkekeh geli mendengar gerutuan suaminya. "Waktu itu aku lagi khawatir dan buru-buru karena Fir katanya jatuh di sekolah."
"Iya, aku tahu, tapi entah kenapa waktu itu aku jadi suka sama kamu," ujar Dava.
"Halah modus."
"Iya, Sayang." Dava kini berbalik dan melingkarkan lengannya di perut rata Fimi. "Tapi, aku harus kecewa saat kamu ternyata sudah punya anak. Aku pikir pasti kamu istri orang dong." Kini Dava mengecup pipi Fim.
Fimi tergelak mendengar cerita suaminya. Pria itu memang gencar menggodanya dulu, wanita itu pikir Dava sama seperti pria lainnya yang hanya ingin mempermainkannya.
"Aku selalu berdoa semoga kamu jadi milik aku, walaupun harus merebut kamu dari suami kamu," lanjut Dava.
"Ada ya doa kaya gitu." Fimi tak berhenti tertawa mendengar curahan hati suaminya.
"Sampai aku tahu kalau kamu ternyata putri Om Hendra, anak cewek yang sering aku tarik rambutnya dulu," pungkas Dava.
"Kamu emang nyebelin sejak dulu, Bang Angka. Sampai sekarang aku jadi nggak suka rambut panjang, trauma aku ditarik rambut itu sakit tahu." Fimi memukul lengan suaminya yang masih betah melingkar di perutnya.
"Iya, maaf, Sayang. Kamu itu emang udah ngegemesin dari dulu sih," jawab Dava yang kini berhasil mengungkung tubuh istrinya. Kemudian, perlahan menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir ranum istrinya.
Fimi menahan dada suaminya agar tak terlalu melekat ke tubuhnya.
__ADS_1
Dava tahu bahwa istrinya masih kaku dalam hal ini, sehingga pria itu melakukannya dengan pelan-pelan saja. Saat keduanya aling melepas untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dava bertanya, "Siapa orang pertama yang merebut ini?" Dava menyentuh bibir Fimi dengan telunjuknya.
Wanita itu memalingkan wajahnya karena malu. Namun, Dava menahannya agar istrinya tetap melihat dirinya.
"Kamu sendiri?" Fimi malah balik bertanya.
"Kamu dulu," kilah Dava.
"Kamu."
"Ish kamulah." Dava gemas sendiri.
"Iya, emang kamu yang udah ngambil first kiss aku," jawab Fimi sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Dava tersenyum dan bahagia mendengar jawaban istrinya. Walaupun dirinya bukanlah pria yang baik di masa lalu, tetapi ia merasa tak rela jika istrinya bercumbu dengan yang lain sebelum mereka menikah.
Setelah itu, Dava tiba-tiba memeluk tubuh istriny, dan kembali mencumbui istrinya dengan lembut, sampai tanpa sadar, kaus yang mereka gunakan sudah terbang berantakan.
Fimi terkejut saat Dava beralih mencumbu lehernya kemudian berpindah ke dadanya. "Bang," pekik Fimi saat Dava mulai menciumi area itu.
"Bisakah kita melakukannya sekarang?"
Iklaan!
Fimi masih merasa takut, tetapi juga tak mungkin menolak keinginan suaminya, karena ia selalu mendapat nasihat jika menolak atau membantah keinginan suami adalah dosa. Namun, tak bisa dipungkiri rasa takut itu masih menguasai dirinya.
Fimi mengangguk pelan, walaupun raut khawatir masih terlihat jelas di wajahnya. Untuk mengalihkan rasa takutnya, Dava pun kembali mencumbu istrinya dengan lembut, tetapi tangannya tetap lincah melucuti helaian benang di tubuh mereka.
Hari yang beranjak sore itu, pun terasa panas bagi keduanya. Padahal matahari mulai kembali pulang dan bersembunyi. Namun, kedua insan itu masih berusaha untuk saling menyatukan diri. Setelah perjuangan yang cukup lama, akhirnya Dava bisa menerobos pertahanan istrinya, yang ditandai dengan pekikan dan tangisan sang istri.
Namun, Dava terus mencumbu istrinya untuk mengalihkan rasa sakit yang wanita itu rasakan.
***
Malam pun tiba, tetapi Hendra belum juga pulang. Sampai dering ponsel Fimi berbunyi begitu nyaring, Fimi yang masih berbaring di tempat tidurnya dengan ditutupi selimut, mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang memanggilnya. Tertulis nama "Papa" di sana, Fimi pun langsung mengangkat teleponnya, saat mengucapkan kata halo, pria paruh baya di seberang memberitahukan bahwa mereka akan menginap di hotel sekitar dua hari, karena ada sahabat sang papa yang mengundangnya ke suatu acara.
"Fir, bagaimana, Pa?" Fimi beranjak duduk, tetapi langsung meringis saat sadar bahwa inti tubuhnya masih terasa sakit dan perih.
"Tenang saja, Fir suka di sini, kalian bersenang-senanglah," kekeh sang papa yang membuat Fimi tersipu malu.
"Ih, Papa ...." Setelah itu panggilan telepon pun terputus.
"Siapa, Yang?" Dava bertanya saat pria itu datang sambil membawa segelas air di tangannya.
__ADS_1
"Papa dan Mama nggak akan pulang, katanya mereka akan menginap di hotel," jawab Fimi sambil menyimpan kembali ponselnya.
Dava bersorak saat mendengar itu, kemudian langsung kembali menyergap sang istri.
"Abang!"
"Sekali lagi ya?"
"Nggak!" Fimi menggeleng cepat saat suaminya sudah kembali beraksi.
"Ayolah, ya," bujuk Dava.
"Sakit, Abang." Fimi menutupi tubuhnya dengan selimut hingga lehernya.
Dava pun akhirnya mengalah, pria itu kini duduk bersandar pada kepala ranjang. "Baiklah, aku akan menunggu. Ini udah malam lho, kamu nggak lapar?" Dava mengusap kepala istrinya.
"Lapar, Bang, tapi ... aku nggak bisa masak, paling mie instan sama nasi goreng," jawab Fimi jujur.
"Kita beli saja ya, delivery. Kamu mau apa?" Dava menyodorkan ponselnya dan wanita itu pun mulai memilih menu makan malam untuknya.
Fimi masih betah di tempatnya, sebenarnya bukan betah, tetapi jika bergerak ternyata rasa perihnya masih terasa.
"Bang ...."
"Iya, mau lagi?" goda Dava yang mendapat decakan sebal dari istrinya.
"Bukan, ih! Aku mau ke kamar mandi, tapi ...."
Dava mengerti, kemudian pria itu pun beranjak dan kini menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi. "Kamu mau mandi?" Anggukkan dari sang istri membuat Dava membantu wanita itu menyiapkan air untuknya.
Setelah itu, Dava memberitahu tata cara mandi besar pada sang istri, sambil menuntunnya, pria itu tetap menunggunya di dalam, sampai sang istri benar-benar selesai. Setelah itu, Dava kembali menggendong tubuh istrinya yang dibalut dengan handuk.
Dava kembali membantu sang istri mengambil piyama tidurnya. Setelah selesai mereka pergi ke ruang depan menunggu makan malam mereka. Saat menunggu di ruang keluarga, Dava tak pernah melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.
Sampai, hasratnya kembali muncul. Saat pria itu sedang asyik bercumbu tiba-tiba ...
Tok, tok,tok!
Bersambung
Happy Reading
Air mana air? Panas banget ini. Aku mau ngumpet dulu ya bye.
__ADS_1
Oh, iya kalau mau tahu Kiandra itu siapa kalian bisa baca kisahnya di BATAL CALON KAKAK IPAR.
Jempolnya tolong digerakin ya bestih.