Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Menginap


__ADS_3

Tanpa diduga Dava benar-benar menginap di rumah sakit malam ini, menunggu Fimi dan Nesa. Sementara Hendra dan istrinya juga Fir pulang untuk membawa baju Fimi. Nesa ditunggu oleh adiknya, Aji.


Dava menjaga Fimi dengan telaten, pria itu selalu memperhatikan wanita yang masih terlihat lemas itu, jadi jika dia membutuhkan sesuatu, Dava akan langsung menghampirinya.


Sementara itu, Aji adik dari Nesa sibuk dengan ponselnya.


"Dek, ambilin minum, Teteh haus." Nesa berucap pelan sambil menarik ujung seragam pemuda itu. Namun, entah kenapa Aji malah fokus pada ponselnya. Dava yang memperhatikan itu pun menghampiri dan mengambil ponsel Aji.


"Woi! Ah kalah dah ah," ucap pemuda itu kesal, tetapi mau protes pun tatapan Dava begitu tajam, sehingga pemuda itu mengurungkan niatnya. Apalagi melihat interaksi Hendra dan pria di depannya, Aji tahu bahwa pria yang mengambil ponselnya itu bukan orang sembarangan.


"Kamu di sini untuk menjaga Kakakmu, lihat apa yang kakakmu butuhkan saat ini." Dava beralih menatap Nesa yang sama tak berdayanya dengan Fimi.


"Kakak mau apa?" Aji bertanya.


"Aus, dari tadi juga kamu nggak denger apa?" Nesa setengah mengomel pada adiknya.


"Udah nggak usah ngomel dulu, minum dulu!" Aji pun membantu sang kakak untuk duduk dan memberi minum pada kakaknya.


"Seneng banget kayanya liat Teteh sakit kaya gini, padahal uang jajan juga udah ditambahin."


Perdebatan mereka tak luput dari perhatian Dava saat ini. Pria itu terlihat khawatir juga melihat teman Fimi yang dijaga oleh anak remaja itu.


"Kalau menurut saya, lebih baik potong saja uang jajannya, jagain pas sakit aja ogah-ogahan malah main game." Tiba-tiba Dava berucap lebih tepatnya menyindir, pria itu tahu Aji main game saat mengambil ponselnya tadi.


"Ya Allah jangan dikomporin Bang. Aduh teteh saya suka beneran." Aji mengaduh dan mengusak rambutnya.


Sementara itu, Fimi hanya menahan senyumnya, dia tahu Aji anak yang baik sebenernya, hanya saja kalau sudah main game dia suka lupa sekitarnya. Hal itu yang sering dikeluhkan Nesa pada Fimi.


"Eh, jangan sembarang kamu, Abang-abang emang dia siapa? Panggil Pak Dava!" Nesa mengomel pada sang adik yang dengan kurang ajarnya menyebut Dava dengan panggilan Abang.

__ADS_1


Perdebatan antara adik-kakak itu pun berakhir saat seorang perawat datang untuk memeriksa. Namun, saat perawat itu selesai memeriksa, tiba-tiba Fimi menahannya. "Maaf, Sus. Bisa antar saya ke toilet?" Fimi bertanya ragu.


"Bisa, Bu. Kenapa nggak mau dengan suaminya, lagi marahan ya? Masa sih istrinya abis celaka malah dimarahin," ucap perawat itu setengah berbisik saat kalimat terakhir yang ia lontarkan.


"Eh, bu-bukan dia bukan ...."


Dava menaikan satu alisnya dengan menarik satu sudut bibirnya. Kemudian membiarkan perawat itu memapah Fimi menuju toilet. Saat perawat itu menunggu di luar dengan memegang gagang pintu dan botol infusan di tangan lainnya infusan, tiba-tiba Dava menghampirinya.


"Biar saya saja, Sus." Pria itu mengambil alih botol infusan dan gagang pintu.


"Iya, jangan dimarahin istrinya, Pak. Kasihan celaka kan nggak ada yang tahu." Perawat itu mengingatkan dan memberi semangat pada Dava.


Dava hanya mengangguk dan tersenyum, lalu perawat itu pun pamit undur diri.


Fimi sepertinya sudah selesai di kamar mandi, wanita itu pun berucap, "Sus, bantuin saya, kepala saya pusing banget."


Dava yang mendengar itu langsung mendorong pintu kamar mandi, saat Fimi memegang lengan pria itu, ia terkejut dan kembali melepaskan pegangannya. Namun, kepalanya yang pening membuat wanita itu limbung hingga nyaris terjatuh, kalau Dava tidak menarik pinggang wanita itu.


Setelah membaringkan kembali tubuh Fimi, pria itu juga kembali menggantungkan botol infusan ke tempatnya dan memeriksa juga jalannya cairan itu di selang. Sementara Fimi hanya menatap Dava tanpa bersuara.


"Aku emang ganteng dari dulu." Tiba-tiba Dava berucap saat melihat ke arah Fimi yang menatapnya.


"Ish." Fimi memalingkan wajahnya ke arah lain dan saat melihat ke ranjang Nesa. Wanita itu sudah terlelap begitu juga adiknya, yang duduk di kursi sedangkan kedua tangannya dilipat sebagai sandaran.


"Udah malam, sekarang kamu bobo, atau mau minum dan makan dulu?" Dava menawarkan sesuatu pada Fimi sambil duduk di kursi dekat ranjang.


"Ngapain masih di sini? Emang nggak kerja?" Fimi bertanya tanpa menatap ke arah Dava.


"Om Hendra dan Tante Marina akan kembali besok. Udah nggak usah judes-judes itu, kata perawatnya tadi aku disangka marahin istrinya lo." Dava terkekeh saat melihat ekspresi kaget dari Fimi yang malah menggemaskan di mata Dava.

__ADS_1


"Jangan ngaco deh, istri dari mana coba? Kenal aja ... baru ...."


"Dari sekarang dong. Baru kenal gimana sih kamu masih orok aja aku udah tau," ucap Dava melipat kedua tangannya.


Fimi berdecak sebal, kemudian ia pun mencoba memejamkan matanya. Namun, kembali terbuka yang membuat Dava menaikkan satu alisnya. "Awas kalau macam-macam aku akan teriak!" ancamnya.


"Satu macam doang, tenang aja." Dava menjawab santai membuat Fimi membulatkan matanya.


"Aku panggil dokter biar kamu keluar dari sini." Fimi hendak menekan tombol untuk memanggil dokter atau suster. Namun, ditahan oleh Dava.


"Aku masih waras, Fi. Nggak mungkin aku ngapa-ngapain kamu dalam keadaan tak berdaya kaya gini." Dava menaikkan dagunya ke arah Fimi.


"Udah sebaiknya kamu bobo, temen kamu aja udah tidur, kalau kamu masih ribut, justru kamu yang ganggu orang lain."


Fimi pun terdiam, ucapan Dava ada benarnya juga, karena saat ini di ruangan ini juga ada yang lain yaitu, Nesa. Tak berselang lama, wanita itu pun mulai memejamkan matanya dengan perlahan, lalu nafasnya pun mulai teratur, wanita itu sudah terlelap.


Sementara Dava, masih duduk di tempatnya, pria itu pun mulai mengeluarkan ponselnya dan memainkannya. Kemudian ada panggilan masuk. Dava pun keluar dari ruangan itu untuk menerima panggilan telepon.


"Iya, aku masih di rumah sakit." Dava menjawab panggilan telepon dari seseorang. Selanjutnya pria itu hanya mengangguk dan menjawab iya. Lalu panggilan telepon pun terputus. Saat pria itu hendak kembali ke kamar Fimi, tiba-tiba ponselnya kembali berdering, ada nomor tak dikenal yang tertera di layar datar itu. Saat pria itu megangkatnya, awalnya biasa saja. Namun, tak berselang lama raut wajahnya berubah panik.


"Kamu jangan main-main?" tegasnya. Dava mulai mengacak rambutnya dan kemudian mengepalkan tangannya.


Dava mondar-mandir di depan ruang inap Fimi dan Nesa. Ponselnya masih menempel di telinga kirinya, itu artinya sambungan teleponnya masih terhubung. Namun, entah siapa yang menghubunginya, hingga membuat pria itu kini terlihat kacau.


"Lo jangan macam-macam, gue akan ke sana sebentar lagi!" pungkasnya.


"Maafin aku, Fi."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Aku pengen bikin gc wa nih, ada yang mau ikutan nggak? Kalau mau follow akun aku dulu ya nanti aku chat. Yang serius baca novel aku ya, yang mau tahu info novel aku pokoknya.


__ADS_2