Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Malam Pertama


__ADS_3

"Kamu?" Dava beranjak dari duduknya. Kemudian akan menghampiri wanita itu, tetapi ditahan oleh Fimi.


"Kamu lupa kalau aku ini istri kamu?" geram Fimi.


Wanita dengan dress putih itu sekilas mirip sekali dengan Riri, tetapi wanita ini terlihat lebih dewasa.


"Maaf tamu dipersilakan menunggu di depan." Nesa menghampiri wanita itu.


"Apa kamu lupa dengan aku, Sayang?" Dengan tidak tahu malu wanita itu mendekati Dava.


"Siapapun kamu, saat ini Bang Dava udah jadi suami saya dengan sah." Fimi menghalangi suaminya dari wanita tak dikenal ini. Namun, Dava hanya bergeming dan tak mengucapkan sepatah kata pun.


Fir yang saat ini masih berada di sana memeluk kaki Miminya. "Jangan ganggu, Mimi."


Namun, saat wanita yang tak lain adalah Kiandra itu akan kembali berucap, seorang pria bule datang dan menarik tubuhya. "Sayang, kamu ternyata di sini. Mana pengantinnya?" Pria itu berkata dengan logat bule yang khas jika berbicara menggunakan bahasa Indonesia.


Fimi melihat suaminya yang saat ini menahan senyumnya. "Apa-apaan ini, Bang?"


"Kenalin aku Kiandra dan ini suamiku, Mike." Wanita itu memperkenalkan diri. Fimi menyambutnya dengan biasa, kemudian tak berselang lama seseorang memanggil mereka karena para tamu undangan sudah cukup lama menunggu mereka.


Fimi menuntun sang putra berjalan lebih dulu keluar, tanpa mempedulikan yang lain, termasuk suaminya. Sementara itu, Keynara berusaha membantu Dava untuk mengganti pakaiannya. Tidak langsung membantu hanya memberikan baju yang harus pria itu pakai. Kiandra dan suaminya sudah kembali ke luar juga setelah Dava sedikit menggerutu pada Kiandra.


Kiandra dulu adalah calon istri dari Kavindra, kakak dari Davanka. Namun, saat tiga hari menjelang pernikahannya, wanita itu menghilang entah kemana. Sebelumnya, Kiandra juga memang menjalin hubungan dengan Davanka, mereka mengkhianati Kavindra. Namun, setelah kebenaran terbongkar, karma mereka memang langsung diterima secara tidak langsung. Kiandra yang diasingkan oleh sang papa ke luar negeri dan hidup terlunta-lunta di negeri orang. Kemudian, Davanka juga menerima kenyataan kalau mantan kekasihnya juga malah menjadi kakak iparnya.


Setelah selesai mengganti bajunya, Dava pun keluar dari sana dan akan kembali ke pelaminan. Dava melihat Fimi duduk dengan Fir, istrinya terlihat bercanda dengan putra kecilnya itu.


Dava menghampiri mereka, saat tamu sibuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.


Pria itu duduk di samping istri dan putra sambungnya.


Namun, kedatangannya diabaikan oleh sang istri.


"Om yang tadi itu siapa?" Fir mendekati Dava dan bertanya tentang kejadian tadi.


"Itu temannya Om, Sayang. Eh, kok Om sih, kan sekarang udah jadi pipinya Fir. Panggil pipi coba,"ucap Dava sambil mengusap kepala Fir.


"Memangnya Fil boleh panggil Om Dava, 'Pipi'?" tanya anak kecil itu ragu.

__ADS_1


Dava mengangkat tubuh kecil Fir dan mendudukkannya di pangkuannya. "Boleh dong, sekarang kan emang udah jadi pipinya, Fir."


Dava sesekali mencuri pandang ke arah sang istri yang duduk di sampingnya, tetapi fokus pada hal lain. Saat suasana masih canggung, Dari arah panggung, terlihat Nesa dan Kaivan juga Aji berada di sana. "Ish, mau ngapain mereka?" Fimi bergumam sendiri.


"Mohon perhatian, kami di sini akan mempersembahkan sebuah lagu untuk raja dan ratu kita hari ini." Kaivan menunjuk ke arah pelaminan.


Kaivan memegang mic bersama Nesa, sedangkan Aji duduk sambil memegang gitar. Namun, alih-alih menyanyikan lagu slow dan romantis ternyata mereka bertiga memilih lagu dangdut yang membuat orang ingin berjoget. Nesa dan Kaivan menyanyikan lagu pecah seribu milik penyanyi dangdut senior Indonesia.


Fimi menundukkan kepalanya, sementara Dava dan Fir beranjak dari duduknya dan mulai menggerakkan tubuh mereka.


"Nesnes ... dasar." Fimi menepuk dahinya pelan.


Tanpa diduga suasana di gedung itu menjadi riuh dan meriah, apalagi suara Nesa dan Kaivan juga terdengar merdu.


Acara pernikahan Dava dan Kaivan berlangsung hingga sore hari. Pesta pernikahannya berjalan dengan lancar. Fimi meminta agar malam ini menginap di rumahnya terlebih dahulu, walau bagaimana pun Fimi masih ingin bersama orang tuanya. Karena sudah jelas bahwa Fimi akan diboyong ke kediaman Pramudya setelah menikah, itu sudah menjadi kesepakatan dan juga keharusan, karena seorang istri harus mengikuti kemana pun suaminya pergi.


Malam ini, Dava berada di rumah Fimi. Pria itu baru saja selesai membersihkan diri dan menggunakan piyama tidur yang sudah disediakan oleh istrinya. Namun, harapannya untuk berduaan dengan sang istri hanya mimpi saja, karena Fir terus mengikutinya.


Fimi sendiri baru saja akan membersihkan diri. Wanita itu masuk ke kamar mandi dan mulai dengan ritual mandinya. Dava dan Fir menunggunya di ruang keluarga. Sambil terus berceloteh, anak itu tetap berada di pangkuan Dava.


"Fir nanti ikut sama Mimi dan Pipi ke rumah baru ya," ucap Dava.


"Kenapa?"


"Fil jauh dali Oma sama Opa dong, Pi? Fil nggak mau."


"Kan, nanti Fir juga bisa sering main ke sini, di sana juga ada Oma Alifa sama Oma Nendra." Dava mencoba membujuk sang putra.


"Fil nggak mau."


"Nggak mau apa, Sayang?" Tiba-tiba Fimi datang menghampiri keduanya dengan wajah yang lebih segar karena baru selesai mandi. Kemudian wanita itu duduk di samping suaminya.


"Fil mau diajak pindah dali sini, Mi. Fil nggak mau." Anak kecil itu mengadu pada Miminya.


Fimi melirik suaminya yang ternyata sedang menatapnya. "Ngapain diomongin sekarang sih?" bisik Fimi.


"Nanti kita ngobrol lagi ya, sekarang Fir bobo aja ya, tadi udah makan, kan?" bujuk Fimi pada putra kecilnya.

__ADS_1


"Iya, tapi Fil mau bobo di kamal Mimi sama Pipi, boleh?" tanya anak kecil itu.


"Eh, tapi ...."


"Boleh dong, Sayang. Ayo!" Fimi memotong ucapan Dava dan memukul lengan suaminya agar diam dan mengiyakan saja.


"Sayang, tapi malam ini kan ...."


"Ssstt! Aku juga masih marah sama kamu, Bang." Fimi menempelkan telunjuknya pada bibir.


"Ayo, Fir. Kita bobo ya!" ajak Fimi sambil meninggalkan suaminya begitu saja.


Dava mengacak rambutnya, dia menyesal sudah mengundang Kiandra ke pernikahannya. Mereka memang menjadi teman setelah semua kejadian terungkap.


Bersamaan itu Hendra datang dengan teh hangat di tangannya.


"Lho, Fimi ke mana?" Pria paruh baya itu melihat sekeliling mencari putrinya.


"Sedang menemani Fir tidur, Om," jawab Dava.


"Oh iya, jangan panggil Om dong Papa saja sama seperti Fimi." Hendra duduk di sofa tunggal yang ada di sana. Dava tersenyum mendengar itu.


"Maaf, malam pertama kalian jadi terganggu, tapi Fir memang sudah menganggap Fimi sebagai ibunya."


"Eh, nggak apa-apa, Pa. Dava juga sudah menganggap Fir seperti putra Dava sendiri."


"Terima kasih sudah menerima Fimi dan Fir. Tolong jaga mereka, kami hanya punya mereka setelah kepergian Fiona dan suaminya." Hendra sedikit tersekat saat mengungkapkan kalimat itu.


Dava pun mendekat dan menggenggam tangan pria paruh baya itu. "Papa tenang saja, Dava akan menjaga Fir dan Fimi dengan baik, dan tentu saja akan memberikan Fir adik yang banyak juga, agar rumah ini ramai."


Hendra tersenyum mendengar ucapan menantunya. Setelah melepas genggaman tangannya, pria paruh baya itu kini menepuk bahu menantunya. "Berusahalah untuk memberi Papa cucu yang banyak."


"Siap."


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Bang Dava udah sah dong jadi pipinya Fir. Kalian datang kan ke acara pernikahannya? Awas aja kalo engga.


__ADS_2