Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Terbuka


__ADS_3

"Ka-kamu?"


"Iya, ini aku, emang siapa?" Dava mencolek hidung mancung Fimi yang masih memerah karena menangis.


"Ngapain di sini? Bukannya ke kantor?" Wanita itu kini menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Seperti biasa, ia memasang muka judes untuk Dava.


"Nggak usah dijutek-jutekin mukanya, biasa aja. Aku udah tahu semuanya kok." Dava menarik tubuh Fimi agar mendekat ke tubuhnya.


"Ish! Nggak usah macem-macem deh. Aku nggak mau ngerusak hubungan kamu sama Nesa. Dia sahabat aku." Fimi berucap dengan menahan sesak di dadanya.


Dava tergelak, dan kini malah mengeratkan dekapannya pada wanita cantik itu, walaupun Fimi sudah memberontak.


"Aku serius sama kamu, Fimi Klarisa. Aku sudah tak pantas lagi untuk sekedar berpacaran. Aku ingin berumah tangga, membangun keluargaku sendiri." Dava berucap dengan lembut dan serius.


"Kamu jangan mainin perasaan Nesa, dia itu sahabat aku." Fimi kekeh dengan dugaannya.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nesa, Fi. Aku hanya minta bantuannya saja," ucap Dava sambil terkekeh.


"Maksudnya?" Fimi membulatkan matanya saat mendengar pengakuan Dava.


"Aku cuma minta bantuan Nesa buat tahu gimana perasaan kamu," jawab Dava jujur. Hal itu membuat Fimi kembali berontak dan kini memukul dada pria itu. "Jahat!"


"Kalau nggak gitu, aku mana tahu kalau ternyata kamu juga suka sama aku, kan?" goda Dava.


"Nggak!"


"Iya."


"Nggak!"


Saat perdebatan mereka berlangsung, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Dava menarik tangan Fimi untuk berteduh di sebuah gazebo yang tak jauh dari sana.


"Kenapa malah hujan sih?" Fimi mengeratkan blazernya dan duduk di tepi gazebo.


"Karena hujan tahu kalau di sini ada yang kepanasan." Dava berkata sambil mengusap-usap rambutnya yang basah kena air hujan.


"Dih, nggak lucu."


"Siapa yang ngelucu, aku cuma bilang ada yang kepanasan."


"Kamu emang nyebelin." Fimi memalingkan wajahnya.


"Yang penting suka, kan?"

__ADS_1


Fimi mendelik kesal. Hujan malah semakin deras. Fimi dan Dava masih terjebak di gazebo itu. "Aku mau pulang sajalah, serem ternyata suasana hujan di danau ini," ucap Fimi.


"Dari sini ke tempat parkir mobil, lumayan jauh, Fi. Tenang saja kan ada aku, aku juga janji nggak macam-macam." Dava mengacungkan dua jarinya.


"Ish!"


Akhirnya Fimi pun kembali diam. Lalu ia ingat bahwa sebelum datang ke danau ini, ia membeli beberapa cemilan. Wanita itu pun mengeluarkan beberapa makanan dari tasnya.


"Hei, mau nggak?" tawar Fimi pada Dava yang saat ini sedang merebahkan tubuhnya, menutup matanya dengan lengannya.


Dava menurunkan lengannya, lalu beranjak duduk. Tanpa berkata apapun, pria itu mulai mengambil satu bungkus keripik kentang dan membukanya. Lalu mulai memakannya tanpa menoleh ke arah Fimi.


Sementara Fimi memakan snack lainnya yang ia beli. Hanya suara kunyahan yang mendominasi saat ini, hingga membuat Fimi sedikit merinding. "Hei, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Fimi mencolek lengan pria itu dengan telunjuknya. Namun, Dava hanya meliriknya sekilas kemudian kembali mengunyah makanannya.


"Hei!" Fimi kembali memanggilnya. Dava memutar bola matanya.


"Jangan nakutin deh?" Fimi mulai tak nyaman.


Dava menarik satu ujung bibirnya, kemudian mulai mendekati Fimi yang kini beringsut mundur. "Ka-kamu mau ngapain?" Fimi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Dava tergelak saat melihat Fimi yang ketakutan. "Bisa nggak manggil Abang atau Kakak kaya dulu, masa Hei?" Dava sedikit menggerutu dan hal itu membuat Fimi membuka telapak tangannya.


"Baiklah, Bang Angka." Fimi menyebut nama panggilan pria itu saat mereka kecil.


"Ish, kenapa nama itu?" gerutu Dava sambil melipat kedua tangannya, kini pria itu sudah kembali duduk, tetapi saat ini di samping Fimi, bukan di depannya. Setelah itu, keduanya hanya diam menikmati suasana hening di tempat itu.


"Bang Angka, ayo pulang!"


"Sebentar lagi lah, masih deres ujannya."


"Aku laper."


Dava akhirnya membuka matanya, saat mendengar kata terakhir dari Fimi. Pria itu baru sadar, kalau seharian ini mereka berdua telah melewatkan makan siangnya karena hujan.


"Ya udah, ayo!" Dava beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Fimi bangun. Namun, karena cuaca dingin dan mungkin wanita itu terlalu lama duduk di sana. Saat bangun, kakinya malah terasa kesemutan hingga hampir saja kembali terjatuh, kalau tidak Dava tahan pinggangnya.


"Apa kamu kembali menggodaku, Nona?" Saat posisi mereka begitu dekat. Namun, bukan Fimi jika terbawa suasana, wanita itu malah mendorong wajah Dava, hingga pria itu melepas pegangan di pinggangnya. Otomatis Fimi kembali terjatuh, begitu juga dengan Dava. Saat ini, Fimi berada tepat di bawah Dava.


"Bang Angka!" pekik Fimi saat pria itu mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Fimi. Wanita itu juga kembali mendorong tubuh Dava. Namun, Dava mencoba menahannya dan terus menggoda.


"Kalau macam-macam aku teriak nih, biar orang-orang gebukin kamu, mau?" ancam Fimi yang membuat Dava tergelak. Kemudian pria itu pun beranjak. "Iya, udah ayo katanya lapar?"


Kemudian Dava pun menggandeng tangan Fimi untuk menuju ke parkiran. Saat keduanya sudah sampai. Dava ikut memasuki mobil Fimi.

__ADS_1


"Ish, ngapain di sini, Bang?"


"Biar nanti Haris yang bawa mobil aku, aku ngantuk banget boleh ya, numpang sekali aja?" Dava berucap sambil mulai menempelkan kepalanya pada sandaran kursi mobil, lalu mulai memejamkan matanya.


"Ish, perasaan dari tadi juga udah tidur," gumam Fimi yang kini mulai melajukan mobilnya. Mereka akan menuju rumah makan yang ada di sekitar sana. Sementara Dava terlihat sudah lelap, nafasnya teratur bahkan sesekali terdengar dengkuran halus dari pria itu.


"Apa sengantuk itu ya? Pules banget tidurnya." Fimi bergumam sendiri. Tak berselang lama, Fimi pun membelokkan mobilnya ke sebuah resto. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya. Wanita itu membuka sabuk pengamannya, tetapi saat akan membangunkan pria di sampingnya. Fimi sedikit ragu, apalagi Dava terlihat begitu pulas.


Namun, akhirnya Fimi pun mulai menggoyangkan lengan pria itu untuk membangunnya.


"Bang, bangun," bisik Fimi. Katanya ingin membangunkan, tetapi malah takut berkata lebih keras, sehingga ia hanya berbisik. Karena, Dava tak juga bangun. Akhirnya wanita cantik itu pun kembali duduk dan mulai memainkan ponselnya. Hujan masih saja turun, walau tak sederas tadi.


Satu menit, lima menit, sampai tiga puluh menit berlalu, dan Dava masih belum juga bangun. Akhirnya Fimi pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu, dan membiarkan Dava tertidur di mobilnya.


Fimi masuk ke resto itu dan memesan makanan kesukaannya, sop iga. Fimi menikmati makan malamnya, karena saat ini sudah hampir jam tujuh malam. Makan siangnya terlewat karena hujan deras.


Saat makanannya baru habis setengah, tiba-tiba seseorang menghampirinya.


"Kenapa ninggalin aku sih?" Pria itu langsung mengambil sendok dan piring berisi nasi yang Fimi makan, kemudian menyuapkan pada mulutnya.


"Hei, itu ...."


"Pelit banget sih, tenang aja aku bayarin." Pria dengan rambut berantakan itu kembali menyuapkan makanannya.


"Udah aku bangunin juga, dari tadi nggak bangun-bangun." Fimi kini mengambil gelas minumnya.


"Aku akhir-akhir ini lagi kurang tidur, jadi tadi ngantuk banget."


"Banyak kerjaan? Lembur?"


"Bukan, banyak pikiran."


"Normallah, orang idup punya pikiran."


"Ish, bukan gitulah."


"Terus, mikirin apa?"


"Mikirin kamu."


"Eh."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Maaf guys kemarin ga up, aku sibuk banget RL. Jadi nggak sempet ngetik. Jan lupa gerakin jempolnya ya bestie.


__ADS_2