
"Mas, hari ini kamu jadi ketemu klien?" tanya wanita cantik berambut panjang itu sambil bergelayut manja pada lengan suaminya.
"Iya, Sayang. Kamu doakan semoga proyek kita sekarang berjalan lancar." Pria itu mengusap kepala istrinya dengan sayang.
Keduanya pun berjalan keluar rumah. Wanita cantik itu melambaikan tangannya setelah sang suami masuk ke dalam mobil dan melajukannya.
"Ah, beresin rumah sudah, masak juga sudah. Aku mau nonton drakor aja deh." Wanita itu kembali masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintunya.
Kegiatan sehari-hari pasangan suami istri itu selalu menyenangkan, sampai suatu hari, sang suami pulang dalam keadaan babak belur. Abimanyu mengerang kesakitan dengan tubuh lebam dan beberapa luka di tubuhnya.
Tari sang istri berteriak histeris saat mendapati suami yang dicintainya itu terkapar di hadapannya.
"Mas Abi! Apa yang terjadi sam kamu?" pekik wanita cantik itu sambil memeluk tubuh suaminya. Tari langsung menghubungi ambulans untuk membawa sang suami ke rumah sakit. Wanita itu terus menggenggam tangan sang suami selama dalam ambulans, walaupun pria itu sudah tak sadarkan diri.
"Mas, kamu harus sembuh, kamu nggak boleh tinggalin aku," lirih Tari.
Tari menunggu di ruang tunggu, sementara sang suami diperiksa di dalam. Wanita itu, baru saja bahagia karena semalam telah memberitahu bahwa dirinya tengah berbadan dua. Abimanyu juga tampak bahagia mendengar kabar baik itu. Saat pagi tadi, Abimanyu akan pergi untuk mengurus proyek bersama Davanka Pramudya. Namun, entah mengapa saat pulang tubuhnya sudah terkapar di depan pintu.
"Keluarga Pak Abimanyu?" Tiba-tiba suara seorang perawat memanggilnya.
"Saya istrinya, Suster?" Tari beranjak sambil mengusap pipinya yang basah.
"Pak Abimanyu ingin bertemu, Nyonya. Silakan masuk!" Perawat itu mempersilakan Tari untuk masuk ke ruangan.
"Mas, kamu baik-baik saja, kan?" Tari setengah berlari menghampiri suaminya yang terlihat begitu pucat.
"Iya, Sayang." Abimanyu mengusap pipi istrinya.
"Ka-kamu harus kuat, Sayang. Aku sudah tidak ... punya waktu lagi. Dav-Davanka Pramudya dia ... yang telah ... aah!"
"Mas!" Tari panik saat suaminya memekik kesakitan.
"Ca-cari dia ... ah! Aku mencintaimu ...." Abimanyu melepaskan genggaman tangan istrinya dan memejamkan matanya. "Mas! Kamu jangan pergi, Mas! Kamu udah janji akan besarin anak kita bersama. Mas!" Teriakan Tari membuat dokter dan beberapa perawat datang menghampiri mereka. Dokter dan suster sudah memeriksa pasien itu, tetapi nyawanya sudah diambil oleh pemilik-Nya.
"Maafkan saya, Nyonya. Kami turut berbelasungkawa." Dokter itu berkata dengan penuh penyesalan. Tari menggelengkan kepalanya, dan kembali berteriak histeris, sampai akhirnya tak sadarkan diri.
__ADS_1
*
Setelah kematian suaminya, Tari terus mengurung diri di dalam kamarnya, orang tuanya begitu khawatir, apalagi Tari adalah putri tunggal. Karena depresi, akhirnya bayi dalam kandungannya pun ikut bersama suaminya. Tari keguguran dan hal itu membuat wanita itu semakin terpuruk. Namun, dalam hatinya ia bersumpah akan mencari pria bernama Davanka Pramudya dan membalas semua yang terjadi pada keluarganya.
Walaupun belum jelas apa sebenarnya yang terjadi antara Abimanyu dan Davanka, tetapi Tari menyimpulkan sendiri bahwa yang membuat suaminya celaka itu adalah Davanka.
Wanita itu terus mencari nama itu dan menyelidiki semuanya, sampai satu bulan lalu, ada seseorang yang mencari suster untuk anak dari Davanka. Pria yang selama ini ia cari. Tari berhasil masuk ke keluarga itu berkat bantuan dari seseorang yang ternyata teman dari Alifa. Alifa adalah ibu dari Davanka.
Saat tahu istri dari Davanka berambut pendek, wanita itu pun mengikuti gaya istri pria incarannya itu. "Terima kasih Tuhan, karena telah memberiku kesempatan untuk membalas dendam suami dan anakku."
Tari diberi tugas untuk mengantar jemput putra dari Davanka. Anak itu begitu lucu dan menggemaskan. Tari sangat suka anak kecil, tetapi dia harus mengubur semua keinginan memiliki putra bersama suaminya, karena calon bayinya juga ternyata lebih memilih ikut bersama sang papa.
Tari dasarnya memang orang baik dia juga sangat menyukai anak kecil, sehingga Fir bisa langsung menyukainya. Karena Fir bisa menerimanya dengan baik, wanita itu pun benar-benar menjadi suster yang baik untuk anak kecil itu. Tari hanya akan membalas dendam pada papanya bukan pada anak dan istrinya.
Dia ingin melihat Dava hancur, seperti saat suaminya terkapar di hadapannya. Saat ini ia telah menyusun rencana untuk membalas semua kejahatan yang dilakukan oleh keluarga Pramudya itu terhadap suaminya.
Kesalahan fatal yang Tari lakukan adalah saat meminta nomor ponsel Davanka pada istrinya, hingga membuat wanita itu menjadi curiga pada dirinya. Walaupun ia berhasil mendapatkan nomor ponsel Dava dari Alifa akhirnya.
Fimi menjadi bersikap judes pada dirinya. Namun, sepertinya hal itu tidak membuatnya gagal juga, pada akhirnya Tari akan manfaatkan kecemburuan Fimi pada Dava, sehingga membuat Dava tak nyaman.
"Walaupun aku bukan pelakor, tetapi sepertinya ide bagus juga, jika istri si Dava itu selalu curiga pada suaminya," gumam Tari saat dirinya sedang berada dalam kamarnya.
Wanita itu tertidur ketika jam dinding menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Sekitar jam 6 pagi, dia sudah kembali bangun dan menyiapkan keperluan sekolah majikannya. Dia merasa memiliki putra sendiri, Tari selalu menyiapkan semuanya dengan baik.
Saat sedang menunggu di meja makan, Fir datang dituntun oleh sang ibu. Anak kecil itu sudah tampan dengan seragam paudnya.
"Pagi, Sustel Tali," sapa anak lelaki itu.
"Pagi, Fir. Sarapan dulu ya, Suster udah siapin semuanya," ucap Tari lembut.
"Ayo salapan baleng, Suster!" ajak Fir, tetapi saat melihat ibunya, Tari langsung menggelengkan kepalanya.
"Suster udah sarapan tadi."
Fimi pun mengajak putranya ke meja makan, yang diikuti oleh suaminya. Pria itu terlihat terburu-buru.
__ADS_1
"Kamu sarapan dulu, Bang. Walau kamu sibuk jangan lupa makan! Kalau sakit gimana?" Terdengar Fimi mengomeli Dava.
"Iya, Sayang. Ayo! Maaf hari ini nggak bisa nganter kalian."
"Iya, udah aku sama Fir bisa pergi sendiri."
"Lho nggak sama suster?" Dava mengerutkan keningnya.
"Iya sama dia jugalah, nggak mungkin makan gaji buta."
Perdebatan itu tentu saja didengar jepas oleh Tari yang duduk tidak jauh dari mereka.
Pertunjukan dimulai nih, nanti aku pastiin Dava akan berpaling padaku, Nyonya Fimi. Tapi tenang saja aku tidak akan memilikinya, aku tidak sudi. Cintaku sudah penuh untuk Mas Abi seorang.
"Ayo berangkat!" Tiba-tiba Fimi sudah berdiri di hadapannya.
"Eh, baik, Bu." Tari langsung mengambil tas milik Fir dan mengikuti Fimi dan Fir dari belakang.
Saat mereka sudah berada dalam mobil, Fimi langsung melajukan mobilnya. "Kamu jangan hubungi suami saya lagi ya, Sus. Dia lagi sibuk banget."
"Iya, Bu."
"Lagian kamu dapat nomor suami saya dari siapa sih?" tanya Fimi sambil fokus menyetir.
"Mm, itu dari Nyonya Alifa, Bu."
"Hm."
Aku bukan hanya hubungin suami kamu, tapi juga aku akan membuat suami kamu bertekuk lutut di depan aku dan mengakui semua perbuatannya. Dia akan merasa bersalah dan tentu saja akan memilihku.
Tari terus berbicara dalam hatinya.
Let's play baby!
Bersambung
__ADS_1
Bang Dava beneran jahatin suaminya ya sampe babak belur gitu? Masa sih kok aku ga percaya ya.
Jan lupa gerakin jempolnya ya bestie