Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Pindah


__ADS_3

Tok,tok,tok!


Suara ketukan di pintu membuat Dava menghentikan kegiatannya. "Ish, awas aja kalau orang nggak jelas lagi?" Protes Dava, kemudian pria itu pun beranjak dan menuju ke ruang depan.


Saat membuka pintu, ternyata kurir pengantar makanan pesanan mereka. Dava pun kembali ke dalam dengan dua kantong kresek di tangannya.


"Kita makan dulu, Yang. Nanti kita lanjutin," ucap Dava pada istrinya.


Fimi pun menyiapkan makan siang mereka. Keduanya begitu lahap menikmati makan siang mereka. Dava bahkan lebih dulu menghabiskan makanannya.


"Cepet makannya, Yang."


Fimi menggigit sendok makannya, saat Dava menyuruhnya untuk cepat menghabiskannya.


"Wahai manusia ketahuilah bahwa terburu-buru itu adalah perbuatan setan," ucap Fimi kemudian melanjutkan makannya.


Dava tergelak mendengar ocehan istrinya. "Iya, ya?"


"Iya, ssstt!" Fimi menempelkan jari telunjuknya pada bibir suaminya.


Setelah itu, Dava pun duduk dan membiarkan istrinya makan hingga selesai. Namun, rasa kantuk mulai menyerangnya dan Dava pun akhirnya tertidur di atas sofa dengan posisi duduk.


"Ish, seneng banget tidur dah laki gue."


***


Satu minggu sudah Fimi dan Dava menikah. Hari ini mereka akan pindah ke kediaman Pramudya. Fir akhirnya mau ikut bersama Fimi. Walaupun awalnya anak kecil itu tetap menolak, tetapi setelah Fimi dan Dava berjanji akan sering berkunjung ke rumah Hendra, akhirnya anak itu pun menyetujui. Satu lagi yang Fir minta, jika ia ingin menginap di rumah Hendra, maka Fimi dan Dava harus mengizinkan.


Dava sudah memasukkan barang-barang sang istri dan putranya ke bagasi mobil. Dava masuk untuk mengajak ank serta putranya berangkat. Namun, saat pria itu masuk, terlihat Fir berada di pangkuan opanya, lengannya dilingkarkan pada leher Hendra dengan erat.


"Opa jangan sedih, ya. Nanti Fil akan seling main ke sini sama Asa dan Ale, iya kan, Mi?" Fir menoleh ke arah Fimi. Anggukkan dari wanita itu, membuat Fir kembali menatap opanya.


"Ma, Pa, kita pamit dulu," ucap Fimi sambil memeluk kedua orang tuanya secara bergantian, begitu juga dengan Dava.


Kini ketiganya sudah berada dalam mobil dan siap untuk berangkat. "Kalian sudah siap?" tanya Dava sambil melihat Fir dari spion dalam, karena anak itu duduk di belakang.


"Siap, Pi."


Dava pun mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang sudah padat pagi ini. Fimi masih sibuk dengan ponselnya karena Nesa mengabari akan ada beberapa pesanan baju untuk minggu depan.


"Bang, besok aku boleh ke butik, kan?" tanya Fimi hati-hati.


"Boleh, Sayang. Asal saat aku pulang kamu sudah ada di rumah, bagaimana?" ucap Dava.


"Baiklah, terima kasih."


"Mimi, Fil boleh ikut sama Mimi, kan?" sela Fir di belakang.

__ADS_1


"Besok, kan Fir sekolah, Sayang."


"Fir, kan mau ikut, Mimi." Anak kecil itu kini kembali merajuk.


"Bagaimana kalau setelah Fir pulang sekolah, Mimi ajak Fir ke butik?" Kini Dava ikut menimpali percakapan antara. ibu dan anak itu.


"Jadi, Fil halus sekolah dulu ya, Pipi?"


"Iya, dong biar Fir jadi anak yang pin-"


"Pintel, Pipi. Oke deh, besok Fil sekolah dulu," pungkas Fir dan kini kembali fokus pada mainan di tangannya.


Fimi menghela nafas lega, karena wanita itu tahu jika Fir sudah merajuk, cukup sulit untuk membujuknya. Kini perjalanan mereka hanya didominasi oleh deru mesin mobil yang mereka tumpangi, dan kendaraan lain. Bahkan tak berselang lama, Fir terlihat terlelap di kursinya.


"Bang, kalau nanti pas pesanan baju aku banyak banget, dan aku harus lembur boleh?" Tiba-tiba Fimi bertanya, saat Fir sudah tertidur.


"Nggak boleh. Kamu kan udah punya aku ada Fir juga, masa kerja terus, nggak ada lembur-lembur, pokoknya." Dava memprotes permintaan istrinya.


"Iya, nggak usah marah-marah juga kali, aku kan nanya?" sewot Fimi.


Dava mengusap rambut istrinya lembut. "Maaf, Sayang."


Suasana kembali hening, dan akhirnya mereka pun sampai di kediaman Pramudya. Dava menyuruh satpam untuk menurunkan barang-barang mereka. Dava menggendong Fir yang masih terlelap. Ketiganya berjalan menuju pintu utama.


"Assalamu'alaikum, Mi, Pi. Dava pulang." Pria itu membuka pintu depan dan tak ada sahutan dari dalam.


"Nggak tahu, mungkin di taman belakang, ayo masuk aja, anggap kaya rumah sendiri," ajak Dava yang melihat sang istri menjadi ragu.


Fimi pun mengangguk, lalu mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah besar itu. Saat Dava menidurkan Fir di sofa. Pria itu menyuruh istrinya untuk menunggu di sana bersama putra kecilnya. Fimi hanya mengangguk, sejujurnya ia masih merasa canggung berada di rumah ini, walaupun mertuanya terlihat begitu baik, tetapi entah mengapa ada perasaan takut dalam dirinya.


Fimi pun akhirnya, memainkan ponselnya kembali, sambil melihat beberapa pesanan baju yang dikirimkan Nesa, yang harus ia buat dalam minggu ini. "Alhamdulillah lumayan banyak pesanannya ternyata," gumamnya.


Bersamaan itu, Dava datang bersama kedua orang tuanya juga keponakan kembarnya. "Ateu Fimi!" teriak Ale sambil berlari ke arah wanita yang kini menatapnya dengan tersenyum


"Hai, Cantik," jawab Fimi kemudian merangkul gadis kecil itu dalam pangkuannya.


"Eh, Fir nya bobo, ya, Ateu?" Ale melihat ke arah Fir yang masih lelap di sofa besar itu.


"Iya, Sayang."


Kemudian Alifa dan Ganendra menghampiri menantu barunya itu. "Apa kabar, Nak?" sapa Ganendra, lalu Fimi pun beranjak dan mencium punggung tangan mertuanya.


"Alhamdulillah baik, Pi."


"Kalian belum makan siang, kan?" tanya Alifa ramah.


"Belum, Mi. Kan sengaja biar makan siang di sini," jawab Dava yang kini duduk di samping istrinya.

__ADS_1


"Iya, baguslah, Bi Neni juga udah masak banyak buat kita semua, nanti juga Kavin sama Riri mau ke sini, katanya ada sesuatu yang harus diurus dulu," papar Alifa.


"Ale sama Aksa emang nginep di sini?" tanya Dava.


"Iyalah, Om. Masa gara-gara nikah Om jadi lupa kalau Aksa sama Ale nginep kalau weekend," protes anak lelaki yang wajahnya begitu mirip dengan Ale, tetapi versi cowoknya.


Dava tergelak mendengar jawaban keponakan lelakinya itu. "Iya, iya maaf."


Fimi terkekeh geli mendengar omelan dari keponakan suaminya itu. "Lagian kok bisa lupa sih?"


"Gara-gara kamu, tahu nggak sih?" bisik Dava pada istrinya.


"Kok, aku?"


"Nanti aku jelasin," jawab Dava. Bersamaan itu Fir bergumam tak jelas dan akhirnya membuka matanya. Anak kecil itu sempat mengerutkan keningnya saat melihat suasana rumah yang tak ia kenali.


"Mimi?"


"Iya, Sayang." Fimi pun mengangkat tubuh putranya dan mendudukkan Ale dulu sebelumnya.


"Hai, Fir," sapa Ale.


"Ale."


"Kita udah sampai, salam dulu sama Oma dan Opa." Fimi menurunkan tubuh putranya untuk menyalami Alifa dan Ganendra. Fir pun menurut dan menghampiri keduanya.


"Anak pinter, Fir sekarang di sini sama Oma, ya?" ucap Alifa sambil mengusap kepala Fir.


"Iya, Oma."


Tak berselang lama, Bi Neni memanggil nyonyanya dan mengabarkan bahwa makan siang sudah siap.


"Ayo, kita makan siang dulu!" ajak Ganendra sambil beranjak dari duduknya.


Saat mereka sudah duduk di tempat masing-masing. Ganendra menyuruh salah satu cucunya untuk memimpin doa.


"Fil aja ya, Opa," tawar anak lelaki itu. Ganendra pun mengangguk.


"Alloohumma baalik lanaa fiimaa lozaqtanaa wa qinaa adzaabannaal," ucap Fir dengan gaya cadelnya.


"Aamiin," jawab semua yang ada di meja makan.


"Jangan ambil itu!"


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Bab panas dinginnya udah ya, tapi reviewnya lama. Jadi jangan salahin aku nggak up, emang review nya lama. Mudah-mudahan hari ini langsung lolos ya besti.


__ADS_2