
Fir baru saja pulang dari sekolahnya. Anak kecil itu langsung mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian rumah.
"Oma, Fil boleh nggak punya pipi?" Tiba-tiba anak kecil itu melontarkan pertanyaan tak terduga.
"Memangnya Oma sama Opa masih kurang?" Marina mencoba memancing cucu kecilnya.
"No, no, Oma. Fil mau tidul baleng Mimi dan Pipi, kayak temen-temen Fil." Anak berkaus hitam itu mengibaskan satu tangannya, hal itu terlihat begitu menggemaskan di mata Marina.
"Kalau gitu, suruh Mimi cari Pipi buat Fir, dong." Marina berjongkok dan mengusap pucuk kepala cucunya.
"Ada lo, Oma. Fil juga suka sama Om Dava." Fir menyebutkan salah satu nama yang sangat familiar di telinga Marina.
"Siapa Om Dava?"
"Itu, lho Oma yang ngasih Fil coklat." Fir menunjuk beberapa coklat yang masih tersisa banyak itu.
"Emang Fir suka sama Om Dava? Kalau Om Arya?" ucap Marina lembut.
"Om Dava kan Omnya Asa sama Ale, Oma. Jadi, Fil bisa main baleng telus. Kalo Om Aya ... dia kalah sama Mimi, kalo dimalahin diem aja." Fir menjawab tak terduga.
"Mimi kamu emang segalak itu ya, Fir?" Marina menggendong cucunya dan mendudukkannya di sofa.
"Iya, Oma. Mimi tuh seling malah-malah sama Om Aya sama Om Dava juga, tapi ...."
"Tapi apa, Sayang?"
"Tapi Fil suka kalau Mimi malahin Om Dava, Om Davanya malah becandain Mimi." Anak kecil itu kemudian terkekeh geli.
Marina ikut tergelak saat mendengar penuturan cucu kecilnya.
"Bagaimana kalau kita bikin mereka deket terus?" saran Marina.
"Calanya?"
"Sini Oma bisikin!" Wanita paruh baya itu mengajak cucunya untuk mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga cucunya. Fir tampak menganggukkan kepalanya.
*
__ADS_1
Sementara itu di butik Klarisa, Dava sedang berbincang dengan dengan Nesa. Sementara, Fimi sibuk dengan laptopnya.
"Nanti pulang dari sini aku jemput saja ya, kalau gitu aku balik kantor dulu." Dava beranjak dan pamit pada Nesa. Fimi sendiri masih tak peduli, ia masih sibuk dengan laptopnya. Walau sebenarnya wanita itu juga mendengar percakapan keduanya. Wanita itu kira Dava akan menghampirinya, tetapi pria itu langsung pergi begitu saja setelah pamit pada Nesa.
Hal ini, membuat Fimi sedikit kecewa, tetapi suara hati yang lainnya berbicara ngapain kecewa, bukannya itu yang dia mau. Akhirnya, Fimi pun kembali fokus pada pekerjaannya, begitu juga Nesa. Setelah kesepakatannya terjadi bersama Dava. Wanita itu pun hanya fokus pada pekerjaannya.
Suasana hening di ruangan itu, membuat Fimi merasa tak nyaman, Nesa yang biasanya cerewet hari ini berubah serius, lebih tepatnya setelah makan siang tadi. Tak berselang lama jam pulang pun tiba, Nesa langsung membereskan barangnya.
"Nes, lo mau pulang bareng gue lagi, kan?" Fimi bertanya saat wanita itu menutup laptopnya.
"Sorry, Fi. Gue ada yang jemput. Gue duluan ya." Nesa langsung pergi keluar, tanpa menunggu jawaban dari Fimi.
Fimi mengerutkan keningnya heran, tetapi akhirnya Fimi pun menepis semua pikiran buruknya. Setelah membereskan barangnya, wanita itu pun keluar dan tak lupa pamit pada karyawan lainnya, yang memang akan pulang jam delapan malam.
Saat Fimi keluar, wanita itu melihat mobil Dava di sana, tetapi tanpa diduga Nesa yang masuk ke mobil itu. Perasaan Fimi jadi tak karuan, saat melihat pemandangan di depan matanya. Namun, wanita itu langsung masuk ke dalam mobilnya, dan tak memedulikan pasangan baru itu. Bahkan, Fimi mendahului mobil Dava.
Sementara itu, di dalam mobil Dava, Nesa merasa takut. "Aduh, Pak Dava itu bos saya beneran nggak apa-apa, saya kok takut ini."
"Kamu tenang saja, kalau dia terlihat biasa saja, berarti memang saya harus berusaha lebih keras, tapi kalau dia marah-marah artinya ...." Dava menarik satu ujung bibirnya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu juga menanyakan tentang rumah Nesa.
"Saya turun di sini aja, Pak." Nesa meminta berhenti padahal mobil baru melaju.
Pergerakan itu, sebenarnya disadari oleh Dava, tetapi pria itu juga akhirnya hanya diam. Tak berselang lama, Nesa meminta Dava untuk menghentikan mobilnya.
"Kenapa?" Dava menepikan mobilnya dan berhenti di depan gapura.
"Rumah saya masuk gang itu, Pak. Terima kasih, saya biasa jalan." Nesa membuka sabuk pengamannya. Namun, saat wanita itu hendak membuka pintu mobil. Tiba-tiba Dava memanggilnya.
"Nesa, kamu nggak usah khawatir saya yakin Fimi akan baik-baik saja. Terima kasih sudah mau membantu saya, kalau bisa besok saya akan jemput kamu lagi." Dava berkata dengan hati-hati.
"Jangan lama-lama deh, Pak. Nanti kalau saya baper bagaimana?" ucap Nesa apa adanya.
Dava tergelak, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tenang saja semua yang kamu lakukan akan ada imbalannya."
"Nah, kalau gitu deal deh, saya usahain pokoknya nggak baper." Nesa antusias dengan tawaran yang menggiurkan itu. Walau bagaimanapun dia harus membiayai sekolah adiknya juga kebutuhan sehari-hari. Setelah sang ayah meninggal dunia, Nesa menjadi tulang punggung keluarga.
Wanita cantik itu pun kini keluar dari mobil Dava setelah kembali berterima kasih. Setelah mobil Dava melaju, Nesa pun mulai berjalan menuju rumahnya.
__ADS_1
Di tempat lain. Fimi baru saja sampai ke rumahnya. Wanita itu, menarik nafasnya dalam kemudian mengembuskannya pelan, sebelum keluar dari mobil. Perasaannya benar-benar tak karuan saat melihat Dava dan Nesa tadi.
"Kalo mau nyari cewek lain, kenapa harus Nesa sih." Fimi menggerutu sendiri di dalam mobilnya. Sampai suara ketukan dari kaca mobil menyadarkannya.
"Mimi, kenapa lama?" Fir mengetuk kaca mobil dengan keras.
"Iya, sebentar, Sayang. Awas! Mimi mau buka pintunya," ucap Fimi lembut.
Anak kecil itu pun menghindar dan berdiri di depan mobil. Saat Fimi keluar, wanita itu menenteng sebuah kantong kresek warna putih.
"Apa itu, Mimi? Jangan bilang coklat, Fir udah bosen, di lumah juga kan masih banyak." Anak kecil itu bersedekap.
"Bukan, Sayang. Fir lihat di dalam ya." Wanita itu menggendong tubuh mungil putranya, lalu mengajaknya masuk ke dalam.
Saat sampai di rumah, Fimi menurunkan Fir di sofa. Kemudian memberikan bungkusan tadi pada putranya.
"Mi, anak tuh jangan dibiasain jajan makanan ringan terus, nggak baik," ucap Marina yang sedang duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.
"Ini aku beliin KFC, Ma. Buat Mama juga ada," ucap Fimi sambil mengeluarkan empat box dari dalamnya.
"Kalian pasti laper, kan? Mimi sengaja beli lo ini, udah lama kan nggak makan ini."
"Pa, sini! Ini lo Fimi bawa makanan buat kita!" teriak Marina pada sang suami.
"Kamu makan ya, Nak. Mimi mau ke kamar dulu ganti baju." Wanita itu beranjak dan berjalan menuju kamarnya.
Saat sampai di kamar. Fimi mengunci pintunya dan melempar tasnya sembarangan.
Bayangan saat Dava mengambil first kiss-nya kembali berputar di kepalanya, tetapi juga saat Nesa tiba-tiba berubah sikap dan ternyata dijemput Dava, membuat sudut hatinya sakit.
"Kalau dia deketin gue buat dapatin Nesa, jadi selama ini gue yang baper sama dia. Ish! Siyalan!" Fimi melempar sesuatu yang ada di sampingnya.
"Oke, Fi. Mulai sekarang lupain semua tentang dia. Soal di hotel itu, anggap aja lu lagi siyal." Wanita itu beranjak sambil mengusap pipinya yang basah.
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Maaf ya kemarin aku nggak up, aku lagi meriang nggak enak badan pokoknya. Sehat-sehat juga buat kalian semua. Jangan lupa jempolnya ya guys.