Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Acara Kenaikan Kelas


__ADS_3

Fimi terganggu oleh teriakan suaminya.


"Nggak!" Dava terus menggelengkan kepalanya denga keringat yang membasahi dahinya.


"Bang, Bang Dava!" Fimi mengguncang bahu suaminya.


Namun, pria itu terus menggelengkan kepalanya gelisah. Fimi pun kembali kembali mengguncang tubuh suaminya, sampai akhirnya pria itu mengerjapkan netranya.


"Aku nggak pernah sentuh dia, Yang." Dava langsung terbangun dan meyakinkan istrinya.


"Kamu mimpi apa sih?" Fimi mengerutkan keningnya.


Pria itu tertegun saat mendengar pertanyaan istrinya. Dengan lembut ia menarik tubuh istrinya untuk kembali berbaring, kemudian ia dekap dengan erat. "Maaf, tidur kamu jadi terganggu."


Fimi menatap wajah suaminya. "Kamu mimpi apa, Sayang?" Wanita itu kembali mengulang pertanyaannya.


Dava menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan dari wanita yang dicintainya. "Aku mimpi Alisa hamil, dan bilang bahwa dia anakku, padahal aku tak pernah menyentuhnya." Dava menjawab jujur, ia juga pasrah jika istrinya marah.


"Sudahlah, sekarang kamu istirahat, ayo tidur lagi!" ajak Fimi sambil melingkarkan lengannya di perut sang suami.


Dava pun bernafas lega, kemudian mencium kening istrinya dengan lembut.


\*


6 bulan kemudian


Perut Fimi sudah membuncit, wanita itu kini hanya beraktifitas di rumah saja. Semua orang melarang Fimi untuk bekerja. Hari ini adalah hari pembagian raport di sekolah Fir. Anak itu akan naik tingkat ke kelas B.


"Aku boleh menghadiri acara sekolah Fir kan, Bang?" tanya Fimi pagi itu saat sedang memasangkan dasi pada suaminya.


"Kamu berangkat sama Tari?" tanya Dava sambil menatap wajah cantik istrinya.


"Iyalah, sama Mbak Riri juga, mami juga katanya mau ikut," jawab Fimi yang sudah menyelesaikan tugasnya memasang dasi suaminya. 


"Ya udah boleh, tapi di sana jangan kecapean ya." Dava mencium kening istrinya, tak lupa ia juga mencium perut buncit istrinya yang kini sudah menjadi kebiasaan barunya.


Bersamaan itu ponsel milik Fimi berdering, wanita itu pun mengambil ponselnya dari atas nakas.


"Siapa?" tanya Dava.


"Mama, Bang." Fimi pun mengangkat panggilan teleponnya. Wanita paruh baya itu memberitahu bahwa ia dan suaminya juga akan menghadiri acara sekolah sang cucu. Fimi pun kembali mengabari suaminya tentang kabar baik itu.


Dava tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kamu hati-hati ya, hari ini mungkin aku akan pulang terlambat, karena ada investor dari luar negeri yang akan datang hari ini," ucap Dava sambil mencubit pipi istrinya gemas.


"Oke! Kamu juga hati-hati ya, Bang. Semoga semunya lancar." Kini wanita itu bergelayut manja pada lengan suaminya. Mereka pun turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Fir sudah berdiri di depan tangga, menunggu mereka seperti biasa. Anak lelaki itu makin mandiri, dia akan menyambut orang tuanya dan mencium perut buncit sang mimi, untuk menyapa adiknya.


"Anak Mimi ganteng banget." Fimi memeluk tubuh putranya.


"Ade bayi udah bangun kan, Mi?" Pertanyaan yang sama setiap pagi yang dilontarkan oleh Fir.


"Sudah dong, kan mau sarapan bareng kakaknya," jawab Dava.


Fir pun tersenyum, kemudian menggandeng lengan miminya.


Seperti biasa mereka sarapan bersama, tetapi kini lebih ramai karena ada Kavindra dan keluarganya juga. Merreka akan berangkat bersama menuju sekolah anak-anaknya.


"Papi beneran nggak mau ikut?" tanya Alifa pada suaminya.


"Papi di rumah saja, nanti Hendra juga akan ke sini," jawab Ganendra pada sang istri.


Fimi memang sudah menceritakan bahwa sang mama juga akan ikut, tetapi ternyata sang papa hanya mengantar saja sepertinya dan akan langsung ke rumah ini.


Kemudian sekitar jam delapan mereka pun berangkat ke tempat masing-masing. Acara di sekolah Fir akan berlangsung agak siang, jadi mereka berangkat jam delapan.


Fimi, Fir dan Alifa masuk ke dalam mobil Fimi yang akan dikemudiakan oleh Tari seperti biasa. Sementara Kavindra dan keluarganya masuk ke dalam mobil mereka.


"Bu, nggak mau mampir buat beli makanan dulu?" tanya Tari.


"Nggak usah, langsung ke sekolah aja, Sus." Fimi duduk di belakang bersama putranya.


Tak berselang lama mereka pun sampai ke sekolah. Suasana sekolah itu terlihat meriah dengan dekorasi warna-warni dan balon berbagai bentuk.


Fimi keluar bersama sang putra, di belakang mereka juga Aksa dan Ale sudah turun dari mobil bersama maminya. Mereka masuk bersama-sama. Sementara itu, Kavindra kembali melajukan mobilnya untuk pergi ke kantornya.


Fimi dan Riri juga Tari duduk bersama di tempat yang sudah disediakan. Semua orang terlihat senang, apalagi anak-anak. Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Fimi bangga karena putranya sudah tumbuh kembang dengan baik selama di sekolahnya.


Saat menerima raport, Fimi ikut mendampingi putranya. Wanita itu terharu saat mendengar penjelasan gurunya mengenai perkembangn Fir yang lebih mandiri, apalagi anak itu sering bercerita bahwa dirinya akan menjadi seorang kakak.


Fimi pun mengucapkan terima kasih pada semua gurunya yang telah mendidik putranya dengan baik.


Acara sekolah Fir pun berakhir sekitar pukul 13.00 wib. Mereka akan pulang. Namun, saat akan masuk ke dalam mobil. Marina dan Alifa mengajak cucu dan menantunya untuk makan siang bersama di sebuah resto yang sudah ia pesan sebelumnya. Tentu saja mereka sangat gembira, apalagi anak-anak.


"Fir mau eskrim ya, Mi." Anak itu berkata dengan benar saat menyebutkan huruf R.


"Eh, kamu udah bisa bilang huruf R, Sayang?" Fimi malah mengomentari pelapalan huruf putranya.


"Eh, iya ya, Mimi. Hore!" Anak itu bersorak dan benar saja Fir sudah bisa menyebutkan huruf r dengan benar.


"Fir, kan sudah naik kelas ya, Mi, Jadi nggak cadel lagi." 

__ADS_1


Kini mereka pun melajukan mobilnya menuju resto yang sudah dipesan oleh Alifa. Marina ikut bersama mobil Fimi, sementara Riri sudah dijemput kembali oleh suaminya.


Selama perjalanan menuju resto yang mengusung tema keluarga dengan ada banyak arena mainan bagi anak-anak itu, semuanya masih normal dan baik-baik saja. Namun, saat Tari dan Kavindra memarkirkan mobilnya, tiba-tiba Fimi memekik kesakitan.


"Aw!"


"Sayang? Kamu kenapa?" Marina yang duduk di sampingnya terkejut.


"Aduh, Ma, ini sakit banget!" Fimi memegang perutnya dan tiba-tiba saja cairan bening keluar menyusuri kakinya.


"Astagfirullah, kamu akan melahirkan, Fi." Marina memekik dan menyuruh Tari untuk kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Kavindra yang baru keluar dari mobilnya mengerutkan keningnya, saat melihat Tari memutar balik mobilnya. Tentu saja pria itu memanggil sang mami.


"Mi, kenapa balik lagi?" Riri dan kedua anaknya pun sudah turun dan turut heran dengan apa yang terjadi.


"KIta  rumah sakit, Fimi sepertinya mau lahiran," ucap Alifa sambil membuka kaca mobil, sebelum mobil itu kembali melaju.


"Iya, Mi. kita ikut dari belakang." Kavindra setengah berlari menuju mobilnya.


"Ada apa, Pi?" Riri tentu saja heran dengan sikap suaminya.


"Ayo masuk! Kita harus ke rumah sakit." Pria itu langsung duduk di balik kemudi, kemudian memasangkan sabuk pengamannya, begitu juga dengan anak dan istrinya.


"Mudah-mudahan Fimi dan bayinya baik-baik saja."


"Fimi baru mau delapan bulan kalau nggak salah, Pi." Riri mencoba menghitung kehamilan adik iparnya itu.


"Iyakah? Aku khawatir, aku takut kaya kamu waktu melahirkan si kembar, Sayang." Kavindra mengingat bagaimana dirinya saat itu harus memilih antara istri dan anaknya.


"Semoga nggak, Pi. Aku hubungi Dava sekarang atau gimana?" tanya Riri.


"Kamu hubungi saja, dia suaminya harus tahu." Kavindra terus mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Tari.


Riri pun mengambil ponselnya dan menghubungi adik iparnya itu. Namun, teleponnya tak juga diangkat oleh pria itu.


"Nggak diangkat-angkat, Pi."


Tanpa terasa mereka sudah sampai ke rumah sakit. Fimi langsung dibaringkan di blankar. Wanita itu terus mengaduh kesakitan.


"Fir boleh ikut Mimi kan, Oma?" tanya Fir saat melihat miminya di masukan ke ruangan persalinan.


"Fir sama Oma saja ya di sini." Alifa menarik tubuh kecil cucunya ke dalam dekapannya.


"Ya Allah semoga mimi Fir nggak sakit lagi. Aamiin."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Doain ya Fimi mau lahiran kayanya prematur lahirannya.


__ADS_2