
Waktu terus berjalan, Arya sudah satu bulan berperan sebagai suami pura-pura Fimi jika mereka bertemu dengan Davanka. Sebelumnya Hendra sempat marah mendengar ucapan sang putri. Namun, setelah Fimi menjelaskan semua kejadian yang menimpa dirinya dari mulai Heru, tukang mie ayam dan yang lainnya, akhirnya Hendra pun setuju. Semua demi kebaikan putri dan cucunya.
"Papa cuma titip kamu jaga diri, walau bagaimanapun Arya itu pria dewasa, Fi."
"Iya, Pa. Fimi janji nggak ngapa-ngapain sama Arya."
Hari ini sekolah Fir mengadakan acara rekreasi ke kebun binatang. Semua murid dan orangtua ikut serta dalam acara itu.
Fimi dan Fir tentu saja ikut, tetapi tidak dengan Arya, karena pria itu kebetulan sedang ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.
"Fir, kamu mau bekal apalagi, Sayang?" tanya Marina pada sang cucu saat menyiapkan bekal untuk mereka bawa ke acara rekreasi.
"Udah aja Oma, itu udah banyak, nanyi pelut Fil gendut kaya Opa." Anak kecil itu terkekeh sambil melihat ke arah pria paruh baya yang sedang menikmati tehnya.
Hendra hanya tergelak mendengar ucapan cucunya. Sementara itu Fimi baru saja keluar dengan tas ranselnya. Ada beberapa barang keperluan Fir di dalamnya.
"Udah siap, Bunny?" Fimi memanggil Fir dengan panggilan sayangnya.
"Siap, Mimi. Ayo!" Anak kecil itu berlari ke arah sang mama.
"Nanti di sana dengerin kata bu guru, ya. Awas jangan jauh-jauh dari Mimi." Fimi menjawil hidung mungil putranya.
"Oke, Mimi." Fir mengangkat tangannya memberi hormat.
"Sudah cepat berangkat, kalian hati-hati di jalan ya!" Marina memberikan tote bag berisi bekal untuk putri dan cucunya.
"Kita pergi dulu ya Oma, Opa, assalamu'alaikum." Fimi dan Fir melambaikan tangan pada kedua orangtuanya.
Selepas kepergian Fimi. Hendra kembali duduk di tempatnya. Kemudian mengajak sang istri untuk ikut duduk di sampingnya.
"Memangnya putra Ganendra itu menyukai Fimi, Ma?" tanya Hendra tiba-tiba.
"Mama nggak tahu, tapi belakangan ini pria itu memang sering bertemu dengan putri kita, awalnya sih kata Fimi sejak perusahaan Dava memesan beberapa baju di butik Fimi untuk acara bulanan atau tahunan kantornya, Mama lupa."
Hendra mengangguk paham. "Padahal sejak kecil mereka sering bermain bersama, apa Fimi benar-benar sudah lupa?"
"Mungkin saja, usia mereka kan terpaut tujuh tahun, Pa. Apalagi sudah lama juga nggak bertemu."
__ADS_1
"Menurut Papa sih, keturunan Ganendra itu baik-baik, coba kamu lihat, putra pertama dari istri pertamanya saja sangat baik, bahkan Alifa teman kamu menganggap putra Ganendra seperti putranya sendiri." Hendra menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Iya sih, tapi kenapa Fimi malah menghindar?" Marina ikut bersandar pada sofa.
"Kita lihat saja, kalau memang mereka berjodoh pasti akan dipertemukan dengan jalan yang tepat. Papa nggak mau putri bungsu kita terus menanggung beban yang sebenarnya bukan untuk dirinya." Hendra menarik tubuh istrinya pada dekapannya.
"Iya, Pa. Kalau gitu Mama juga akan coba bantu mereka untuk lebih dekat, mengenai Arya sebaiknya Papa yang urus. Fimi itu hanya menganggap Arya sebagai abangnya nggak lebih."
"Biar nanti itu jadi urusan Papa. Urusan kita sekarang ... Papa baru pulang setelah sekian lama ada yang sangat merindukan Mama," bisiknya yang membuat Marina mencubit kecil lengan suaminya. (Urusan orangtua anak-anak nggak boleh ikut campur).
Di tempat lain terlihat rombongan dari kelompok bermain sedang berbaris untuk masuk ke kebun binatang. Hari ini mereka akan mengenal nama-nama binatang secara langsung.
Fimi menunggu di belakang bersama para orangtua lainnya. Tak jauh dari sana terlihat pria tinggi dengan dua anak kecil berlari.
"Maaf Aksa dan Aleena terlambat," ucap pria tinggi itu sambil mengajak kedua anak kembar itu masuk barisan.
"Tidak apa-apa, Pak. Untung saja belum masuk semua." Wanita berhijab biru itu berucap dan menuntun Aksa dan Ale untuk masuk barisan.
Fimi masih fokus pada ponselnya, karena Nesa menanyakan beberapa hal. Sampai suara bariton menyapanya.
"Kamu ikut juga, gadis cengeng," bisik suara bariton itu.
"Aku nganter si kembarlah." Dava menjawab sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa nggak Mbak Risha aja sih?" gerutu Fimi yang tetap didengar oleh Dava.
"Mereka lagi ada keperluan, jadi aku yang nganter, kenapa keberatan?"
"Terserah." Fimi beranjak dari sana dan pergi menjauh dari Dava.
Tak berapa lama rombongan dari sekolah itu sudah masuk semua. Sekarang setiap anak berjalan bersama orangtuanya, tak terkecuali Fimi dan Dava.
Namun, sebelum pengenalan nama hewan itu dimulai, gurunya membagi menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok dibimbing oleh satu guru.
Fir, Aksa dan Ale berada dalam satu kelompok dengan beberapa murid lainnya.
"Hole, Fil baleng sama Asa sama Ale juga, Mi." Fir berteriak girang. Ternyata bukan hanya anak kecil itu yang terlihat bahagia, Dava juga terlihat menampilkan deretan giginya yang putih.
__ADS_1
"Ya udah, ayo dengerin Bu Lena, Fir." Fimi berusaha mengalihkan perhatian putra kecilnya.
Dava masih menggandeng tangan Ale tepat di belakang Fimi. Fir dan Aksa saling bergandengan tangan sambil melihat berbagai macam binatang yang telah disebutkan namanya oleh sang guru.
Sekitar dua jam mereka berkeliling melihat hampir semua binatang yang ada di sana. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah gazebo dekat dengan taman bermain anak.
"Baiklah, kita istirahat di sini ya, yang membawa bekal silakan segera makan!" pungkas Bu Lena yang ikut duduk diantara para wali murid.
"Fir, ayo makan dulu, Sayang!" Fimi menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya ke mulut sang putra.
"Fil mau makan sama Asa, Mimi." Fir berkata sambil mengambil sendok berisi makanan itu dan menyuapkannya sendiri.
"Baiklah." Fimi memberikan kotak makan berbentuk beruang itu pada sang putra.
"Aksa sama Ale mau ini?" Fimi menyodorkan satu kotak makan lagi yang berisi beberapa macam makanan.
"Makasih Ateu, tapi Ale kayanya mau ini." Gadis kecil itu membawa satu makanan berwarna oren.
"Ale juga mau makan sendiri, Ateu." Kemudian gadis kecil itu mendekat ke arah Fir dan Aksa.
"Nggak nyangka gadis cengeng bisa keibuan juga," celetuk seseorang yang sejak tadi terus mengikuti Fimi.
Fimi hanya mendelik sebal pada pria di sampingnya, lalu mulai menyuapkan makanannya. Namun, tanpa Fimi duga Dava juga menyendok makan daei kotak yang sama dengan Fimi.
"Ish, ini punya aku." Wanita yang menjepit rambutnya itu mengambil kotak makannya.
"Ya ampun pelit banget si," ucap Dava sambil kembali mengambil makan dari kotak milik Fimi.
Fimi berdecak dan membiarkan pria itu memakan jatah makan siangnya.
Dava menahan senyumnya saat melihat wajah kesal dari Fimi.
"Dava kamu di sini juga?"
Bersambung...
Happy Reading
__ADS_1
Monmaaf ya mungkin aku nggak tentu kapan upnya soalnya sekarang udh mulai masuk sekula lagi, jadi udah ada tugas negara lagi, tapi tenang aku akan tetap up tiap hari diusahain pokonya tiap hari.
Yang minta dobel up mohon maaf ya aku belum bisa kabulin, karena sebenarnya cita2 aku juga pengen banget crazy up, tapi aku belum mampu. Jan lupa jempolnya ya bestie.