Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Adaptasi


__ADS_3

Kavindra dan Riri baru saja sampai di kediaman orang tuanya. Riri terlihat meninggalkan suaminya.


"Tunggu aku, Sayang. Aku minta maaf." Kavin terlihat berlari membujuk istrinya.


"Aku nggak suka ya, Pi." Riri terdengar mengomel dan tetap meninggalkan suaminya.


Saat wanita itu, sampai di ruang makan, Riri tiba-tiba berteriak saat Ale mengambil sambal.


"Jangan ambil itu!" Tiba-tiba suara Riri menggema di ruangan makan itu, sehingga semua orang menatap ke arahnya.


"Mami?" Ale menatap heran ke arah sang mami.


"Kamu jangan ngambil yang itu, Sayang. Itu pedas," ucap Riri berubah lembut sambil menghampiri putrinya.


"Mana Kavin?" tanya Alifa yang belum melihat putra sulungnya.


"Ada di belakang, Mi." Riri kini duduk di samping putrinya.


Tak berselang lama Kavin datang dengan wajah khawatir. Namun, saat sadar ternyata di ruangan itu bukan saja orang tua dan istrinya, tetapi juga ada Dava dan Fimi.


"Kalian kapan datang?" tanya Kavin mengalihkan perhatiannya pada Dava dan Fimi.


"Agak tadian sih, Bang. Ayo makan bareng!" ajak Dava yang diangguki oleh Fimi.


Wanita itu sedang sibuk menyuapi putranya.


"Fil, mau makan sendili aja, Mi." Fir akhirnya berucap setelah melihat Aksa juga makan sendiri.


"Pinter, jangan cepet-cepet ya," ucap Fimi sambil mengusap kepala anak kecil itu.


"Nah, sekarang kamu makan." Dava memberikan beberapa lauk pada piring istrinya yang baru terisi nasi itu.


"Iya, Bang. Makasih."


"Makan yang banyak, biar banyak tenaga," bisik Dava tepat di telinga istrinya.


"Mau ngapain emang?" tanya balik Fimi sambil berbisik juga.


"Anulah pokoknya," jawab Dava menyebalkan.


Setelah itu, mereka pun fokus pada makanan mereka masing-masing. Apalagi Fimi sudah terbiasa makan tanpa bicara, jadi wanita itu tak menanggapi apa yang mereka bicarakan walau hanya sebentar.


Tak berselang lama, keluarga itu pun telah menyelesaikan makan siang mereka.


Mereka semua pindah ke ruang keluarga, anak-anak bermain di tempat permainan yang memang sudah tersedia di rumah itu, sejak kehadiran Aksa dan Ale.


Dava duduk di samping Fimi, sebelah Fimi ada Riri dan Kavin. Sementara Kaivan, pria itu sedang keluar sejak pagi dan belum pulang.


Sekitar jam dua siang, Alifa pamit untuk tidur siang bersama suaminya, wanita paruh baya itu sudah terbiasa tidur siang, jika tidak kepalanya akan terasa pusing.

__ADS_1


Kini di ruangan itu tinggal pasangan pengantin baru bersama Riri dan Kavindra.


"Aku mau lihat anak-anak dulu, Bang," ucap Fimi pada suaminya.


Dava pun mengangguk dan membiarkan istrinya pergi sendiri. Namun, ternyata Riri juga beranjak dan wanita cantik itu mengikuti adik iparnya.


Kini tinggal Dava dan Kavin di sofa itu. Kavin terlihat mengacak rambutnya.


"Kenapa sih, Bang?" tanya Dava akhirnya.


Kavindra menghela nafasnya pelan. "Tadi di kantor ada pegawai baru, dia hampir jatuh, lalu aku menangkap tubuhnya, hanya menolong, tapi istriku malah salah paha."


"Tinggal jelasin aja kali, Bang." Dava menganggap enteng masalah sang abang.


"Emang kamu nggak tahu kalau dia udah ngambek gimana?" tanya Kavin, padahal istrinya itu mantan dari adiknya yang ia tahu.


"Dulu saat sama aku, dia jarang marah sama aku sih," goda Dava yang sontak mendapat tendangan di kakinya hingga pria itu mengaduh.


"Iya, karena aku ternyata nggak terlalu dekat, Bang. Parahnya aku kan langsung diputusin," ucap Dava sambil mengusap kakinya.


"Iya juga sih, Riri bahkan bersikap manja sama Abang. Haish malah curhat, ini gimana?" Kavin kembali menghela nafas.


Sementara itu, di ruangan lain, Riri dan Fimi terlihat asyik mengobrol. Anak-anak sibuk dengan mainan mereka.


"Mbak Risha, aku kan sekarang harus tinggal di sini, aku ... takut," lirih Fimi.


"Kenapa takut? Papi sama Mami itu mertua terbaik yang pernah aku temui," ucap Riri.


"Aku kan nggak bisa masak, Mbak. Kalau Mbak kan jago," sela Fimi.


Riri memegang bahu Fimi, kemudian tersenyum. "Kamu tenang saja, ada Bi Neni yang masak, pokoknya kamu rukun-rukun ya sama keluarga kita."


Fimi pun mengangguk, tetapi tetap saja hatinya belum tenang, apalagi ada Fir juga. Fimi khawatir kebiasaan Fir mengganggu mertuanya.


Hari pun beranjak malam, Kavindra dan Riri pamit untuk pulang ke rumah mereka. Sebenarnya Fimi ingin mencegah kakak iparnya itu untuk pergi, tetapi keberaniannya belum sampai di tahap itu.


Fimi akhirnya membantu Fir untuk belajar dan menyiapkan untuk sekolah besok.


"Oh, iya Mimi, Fil lupa kata bu gulu, nanti ada acala ... aduh apa ya, Fil lupa?" Anak kecil itu menggaruk kepalanya yang tak gatal dan terlihat begitu lucu.


"Acara apa?" Tiba-tiba Dava ikut bergabung bersama keduanya.


"Fil lupa, katanya halus pakai baju putih-putih," jawab anak kecil itu.


"Ya udah biar besok, Mimi tanya ke bu guru, sekarang Fir bobo ya udah malam," ucap Fimi lembut.


"Fir bobo sama Oma ya, mau?" Tiba-tiba Alifa datang menghampiri mereka.


Fir terlihat ragu. "Fil masih mau bobo sama Pipi, Oma. Boleh?"

__ADS_1


Alifa tersenyum melihat tingkah sopan cucu barunya itu. "Boleh dong, tapi Oma mau juga bobo sama Fir, boleh?" Alifa menirukan cara bicara Fir.


"Boleh, Oma, tapi ... besok aja ya," ucap anak kecil itu.


"Emh, baiklah Oma ngalah, tapi besok tidur sama Oma ya, janji?" Alifa mengacungkan jari kelingkingnya sambil menunduk ke arah Fir.


"Janji." Fir mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking omanya.


"Anak pintar." Kini Alifa mengusap kepala anak kecil itu, kemudian beralih ke Dava. "Maaf ya, Mami nggak bisa bantu malam ini."


Dava tersenyum, sementara Fimi menatap bingung.


"Pokoknya pastiin Fir tidur dulu ya, Fi," ucap Alifa pada Fimi yang terlihat bingung, berbeda dengan mertuanya yang tersenyum penuh arti.


Setelah itu, Alifa pun pergi meninggalkan mereka. Dava mengajak anak dan istrinya ke lantai dua, menuju kamar Dava tentu saja. Sejak siang Fimi memang belum tahu kamar suaminya ada di mana, karena asisten rumah tangga yang membereskan barang-barang mereka.


"Mulai hari ini, kita tidur di sini." Dava membuka pintu bercat putih itu, ruangan kamar itu cukup luas, tidak banyak barang hanya ada satu tempat tidur king size, lemari pakaian, sofa dan meja.


Fir berlari ke arah ranjang dan mulai loncat-loncat di sana.


"Hati-hati, Sayang nanti jatuh," ucap Fimi.


Dava dan Fimi menghampiri Fir, kemudian menyuruh anak kecil itu duduk. "Sekarang waktunya tidur, Fir tahu doa sebelum tidur, kan?" ucap Fimi.


"Tahu dong, Mi. Bismila allohumma ahya wabismika amut, aamiin." Anak kecil itu kemudian mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya.


"Pinter, ayo sekarang Fir bobo ya," timpal Dava sambil menaik-turunkan alisnya menatap sang istri.


Tak berselang lama, Fir pun sudah terlelap, mungkin juga karena kelelahan bermain. Dava kini mendekati istrinya yang baru saja akan membaringkan tubuhnya.


"Mau apa, Bang?" Fimi terlihat waspada saat Dava sudah mengungkung tubuhnya.


"Mami aja ngerti masa kamu nggak sih? Udah nggak sakit, kan?"


"Ish, Fir baru tidur, Bang, kalau dia bangun gimana?" Fimi mendorong tubuh suaminya lalu ia pun beranjak duduk.


Namun, bukan Dava jika harus berhenti dan mengiyakan istrinya. "Di sana ada sofa, belum dicoba kan?" Dava menunjuk ke arah sofa panjang di sampingnya dengan dagunya.


"Jangan aneh-aneh deh, Bang," omel Fimi.


"Nggak aneh dong, Sayang. Ayo!"


"Nggak."


"Nolak, dosa lho, Yang."


"Ish, tapi ... Abang!" Bersamaan itu tubuh Fimi melayang karena digendong oleh suaminya.


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Jan lupa gerakin jempolnya ya bestie, makasih buat kalian yang masih setia buat baca cerita ini.


__ADS_2