Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Cemburu


__ADS_3

Dava sudah berada di kantornya setelah makan siang bersama sang istri. Pria itu kembali melakukan pekerjaannya.


Saat sedang fokus tiba-tiba Haris datang dan memberikan beberapa berkas. Kemudian keduanya keluar dengan berkas tadi kembali dibawa Haris. Mereka akan ke ruang meeting.


Namun, selama perjalanan menuju ruangan itu, terdengar obrolan karyawan permpuan.


"Pak Dava jutek sama kita, ternyata istrinya udah punya anak dari cowok lain, bekasan orang ternyata typenya."


"Mana katanya anaknya diurus sama mamanya, ish nggak banget ya." Walaupun obrolan mereka tidak terlalu leras, tetapi masih terdengar jelas oleh telinga Dava dan Haris juga sepertinya.


"Kata temen aku, yang anaknya sekolah bareng anak dia juga, tuh istri Pak Dava sering godain suaminya ibu kantin."


"Masa sih? Menang banyak dong dia dapatin Pak Dava yang udah ganteng, masih perjaka, tajir lagi."


Dava mengepalkan tangannya, tetapi pria itu masih menahan diri untuk tidak melabrak para karyawan wanitanya itu. Kedua pria itu berdiri tepat dibalik ruangan ketiga karyawati itu mengobrol, Dava bahkan pura-pura membaca berkas yang ada di tangan Haris, saat ada karyawan lain yang melewatinya.


"Malah katanya pernah dia lupa jemput anaknya karena sibuk kencan sama cowok. Ah, pokoknya aku kesel aja kenapa Pak Dava lebih milih dia."


Dava menoleh ke arah ruangan itu, kemudian mengajak Haris untuk segera pergi. "Ayo, Haris kita sudah terlambat." Dava sengaja mengeraskan suaranya.


"Eh, ada Pak Dava buruan balik kerja." Terdengar suara seseorang dari ruangan itu.


"Aduh, kedengeran nggak ya kita gibahin istrinya."


"Mudah-mudahan nggak buruan balik kerja."


Itu kalimat terakhir yang didengar oleh Dava dan Haris. Setelah itu, kedua pria itu pun beranjak dari sana dan kembali ke tujuan awal menuju ruangan meeting.


Namun, saat Dava berada ruangan itu pikirannya malah dipenuhi oleh sang istri yang tadi terlihat salah tingkah, apalagi Fir terlihat marah juga terhadap maminya itu.


Akhirnya, Dava pun menyerahkan semuanya pada Haris, kemudian ia pamit pulang.


Selama perjalanan Dava menuju ke rumahnya, pria itu sesekali memukul stir mobilnya. Ia ingin segera menemui sang istri. Apakah benar yang dikatakan karyawatinya bahwa Fimi wanita yang selalu menggoda pria lain dan tak mempedulikan putranya. Namun, selama yang ia tahu, istrinya itu begitu telaten terhadap Fir. Jika dibilang wanuta penggoda, wanita sejudes Fimi tidak mungkin melakukan hal itu. Bahkan Dava sendiri berjuang keras untuk mendapatkan hatinya.


Namun, sepertinya semua pendapat yang ia utarakan dalam benaknya, kembali ia bantah karena rasa cemburu yang sudah menguasai hatinya. Dava membayangkan jika sang istri telah bersama pria lain, hingga lupa menjemput Fir di sekolah. Apalagi saat makan siang tadi, Fimi juga tengah sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Saat sampai Dava langsung mengajak sang istri ke kamar dan membicarakan semuanya. Mereka bertengkar hebat sampai Dava hampir bersikap kasar pada istrinya. Untung saja suara ketukan di pintu kamar itu menghentikan Dava untuk memaksakan kehendaknya.


Tok, tok, tok!


"Mimi, Fir halus ngeljain pl, Fil lupa." Anak kecil itu terus menggedor pintu kamar orang tuanya.


Fimi mendorong tubuh Dava dengan kuat, kemudian berlari ke arah pintu. Pakaiannya terlihat berantakan, bahkan tiga kancing keja atasnya terbuka begitu saja. Fir mengerutkan keningnya.


"Mimi kenapa?"


"Mimi nggak apa-apa, Sayang." Wanita itu berjongkok mensejajari tinggi putranya.


"Itu, kancing bajunya telbuka, Mimi. malu ih sama Pipi." Fir mengintip ke dalam dari balik tubuh Fimi, tetapi ternyata Dava juga sedang bertelanjang dada.


"Eh, Mimi mau ganti baju kok, Sayang." Fimi jadi salah tingkah.


"Kalau Pipi?" Fir menatap bingung ke arah sang mimi juga pipinya.


"Pipi mau mandi, kan baru pulang kerja. Kalau gitu Fir tunggu di sofa ya, Mimi ganti baju dulu." Fimi menggendong putranya masuk ke kamar, kemudian mendudukkannya di sofa.


Dava terlihat mengatur nafasnya, emosinya belum reda, tetapi karena ada Fir pria itu berusaha untuk menahannya. Sementara itu, Fimi dengan gegas mengambil bajunya dan masuk ke toilet.


"Hm." Hanya itu yang keluar dari bibir Dava. Fir jadi takut untuk kembali bertanya. Akhirnya, ia hanya menunggu sang mimi yang sedang mengganti bajunya.


Tak berselang lama, Fimi keluar dengan kaos lengan panjang dan celana jins biru. Wanita itu, langsung menghampiri sang putra dan tak mempedulikan suaminya yang saat ini sedang menatapnya lewat pantulan kaca.


Setelah Fimi menutup pintu kamarnya, Dava berteriak kesal. Pria itu mengacak rambutnya. Apalagi hasratnya juga belum terselesaikan. Akhirnya Dava pun masuk ke toilet dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Rasa cemburunya telah menghancurkan semuanya hari ini. Fimi pasti sangat marah pada dirinya.


Sementara itu di ruangan lain, Fimi sedang asyik menemani Fir mengerjakan pekerjaan rumahnya. Anak kecil itu cukup pintar saat mulai meniru sebuah angka di bukunya.


"Mi, lihat Fil udah bisa nulis." Fir memberikan buku PR-nya dan memperlihatkan hasil karyanya.


"Pinter, anak Mimi memang pinter." Fimi mengusap kepala putranya, kemudian menciumnya.


Walaupun perasaannya sedang tak karuan karena prasangka suaminya, tetapi di hadapan Fir, wanita itu selalu bersikap seolah-olah tak terjadi apapun pada dirinya.

__ADS_1


Padahal pernikahan gue baru setengah bulan, tapi hidup gue udah berasa kaya gini, sakit banget tahu nggak sih. Fimi bergumam dalam hatinya.


"Mi? Mimi!" Fir tiba-tiba memanggilnya sambil mengguncang lengannya.


"Eh, iya, Fir. Kenapa, Sayang?" Fir terkejut saat guncangan di lengannya membuyarkan lamunannya.


"Itu, dipanggil Pipi dari tadi." Anak kecil itu menunjuk ke arah Dava dengan dagunya.


Fimi pun menoleh dan melihat suaminya sudah duduk di sampingnya dengan senyuman yang selalu membuat Fimi meleleh, tetapi tidak untuk saat ini. Wanita itu, tak mengucapkan sepatah kata pun, lalu kembali membantu Fir mengerjakan PR-nya.


Dava mencoba mendekati istrinya lagi lebih dekat, tetapi tiba-tiba Fimi berdiri. "Kamu haus ya, Sayang. Sebentar Mimi ambilin minum." Kemudian Fimi berjalan ke arah dapur tanpa menghiraukan suaminya sama sekali.


Fir hanya mengangguk. "Pi, lihat Fil udah bisa nulis angka lho," ujarnya tanpa mengerti situasi yang sebenarnya.


"Coba lihat!" Dava mendekat ke arah putra kecilnya dan kemudian mengangguk lalu mengusap kepala putranya. "Pintar. Yang rajin belajarnya ya."


Dava juga membatu Fir untuk menghafal angka-angka tersebut, sampai akhirnya Fimi kembali dengan nampan berisi gelas air putih dan cemilan kecil.


"Mimi, Fil.udah selesai! Hole!" Anak kecil itu berdiri dan melompat-lompat.


"Hati-hati, Fir. Duduk dulu, ayo minum airnya!"


Fir menurut dan meminum air putih itu. Kemudian mulai mengambil cemilannya.


"Duduk sini, Yang." Dava menepuk sofa kosong di sampingnya.


Namun, Fimi hanya menatapnya sekilas dan duduk di samping Fir.


"Fir kangen sama Oma Marina nggak?" tanya Fimi pada putranya. Anak kecil itu hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan cemilan.


"Besok kita pulang ya, Sayang." Fimi berkata tanpa melihat ke arah Dava.


"Eh."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Monmaaf ya kemarin nggak up, aku lagi ngerjain dulu tugas yang lain. Oh iya, maaf juga kemarin bukan aku ngeprank jadi 2 bab, ternyata dobel. Karena saat aku kirim naskah gagal terus aku kirim lagi eh malah dobel. Walau diapus pun karena udh up jd nggak akan ilang. Jadi maaf ya sekali lagi.


__ADS_2