
"Fio udah telat dua minggu, Pa." Wanita cantik dengan rambut panjang itu terlihat bahagia saat mengabari kehamilannya.
"Benarkah? Jadi Papa akan menjadi seorang kakek," ucap pria paruh baya dengan sweater hitamnya.
"Jangan lari-larian kaya gitu, Fio!" teriak sang mama yang baru saja keluar dari dapur dengan dua gelas teh di tangannya.
"Suami kamu udah tahu?" Wanita paruh baya itu menyodorkan satu teh pada suaminya, sementara satu gelas lagi untuk dirinya.
"Aku mau ajak Fimi untuk periksa hari ini, nanti Mas Rafa biar aku kasih kejutan." Wanita dengan tubuh langsing itu mendekati sang adik yang sibuk dengan laptopnya.
"Fimi lagi banyak kerjaan, Kak." Gadis dengan wajah mirip itu menolak tanpa mengalihkan pandangannya dari benda persegi di depannya.
"Sebentar doang, Fi. Mumpung Mas Rafa masih di kantor." Wanita itu terus merajuk sampai akhirnya Fimi pasrah.
"Iya, iya bentar aku ganti baju dulu." Wanita itu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar.
"Udah punya suami juga tapi tetep aja aku yang repot," gumam Fimi sambil berlalu.
"Kakak denger ya, Fi." Fiona terlihat melipat kedua tangannya.
Tak berselang lama, Fimi sudah keluar dengan celana jeans biru dan kaos panjang warna hitam. Rambutnya yang pendek hanya dibiarkan begitu saja.
Fimi memasuki mobil sang kakak, setelah menggunakan sabuk pengaman, wanita cantik baru melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Mereka sampai di rumah sakit setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit. Mereka sengaja memilih rumah sakit terdekat untuk memeriksa hasil tespek yang dilakukan oleh Fiona subuh tadi.
Mereka menunggu antrian dan duduk di ruang tunggu, ada beberapa orang dengan perut yang sudah membuncit. Fiona terlihat berbinar dan mengelus perutnya sendiri.
"Fi, kalau nanti usia kandungan Kakak udah besar, perut Kakak pasti besar seperti ibu itu, ya?" bisik Fiona sambil menunjuk pada seorang wanita dengan dress hamil warna putih di depannya.
"Iya, Kak. Yang penting pastiin dulu sekarang bener nggak itu tesnya," jawab Fimi asal yang sukses mendapat tabokan di lengannya.
"Sakit," pekik Fimi.
"Awas lo kalau sampai beneran Kakak hamil dan melahirkan, Kakak berdoa semoga dia nempel sama kamu, biar kakak bisa pacaran terus sama Mas Rafa." Fiona mengeluarkan sumpah seraphnya.
"Ish, mana bisa gitu, Fimi harus kerja nyari uang yang banyak, nyari pacar juga, enak aja," gerutu gadis bersurai pendek itu.
__ADS_1
Perdebatan mereka terjeda saat seorang perawat memanggil nama Fiona. Dengan segera kedua wanita itu berdiri, Fimi ikut masuk ke dalam, ingin tahu bagaimana kakaknya diperiksa dan hasilnya aecara langsung. Setelah mengikuti arahan dokter, Fiona pun kembali duduk dan menunggu hasilnya sebentar.
"Selamat Bu Fiona, Anda akan menjadi seorang ibu, saat ini usia kandungan Anda sudah masuk bulan kedua." Wanita bersneli putih itu menjabat tangan Fiona. Fimi juga bahagia mendengar kabar bahagia ini.
"Terima kasih, Dok." Fiona dan Fimi berucap bersamaan, setelah mendapat resep obat, mereka pun keluar dan menunggu di ruangan lain untuk menebus obat.
Fimi yang bertugas menebus obat untuk sang kakak. Sementara Fiona menunggu di mobil.
Antrian cukup panjang, hingga membuat Fimi merasa bosan dan memainkan ponselnya. Sampai akhirnya tiba gilirannya untuk mengambil obat. Setelah membereskan administrasi, Fimi pun pergi keluar menuju mobilnya. Saat masuk, terlihat sang kakak sedang mengelus perutnya yang masih rata.
"Kita langsung pulang, kan?" Fimi memastikan dahulu, karena biasanya sang kakak selalu pergi membeli sesuatu dulu sebelum pulang.
"Kak Fio kayanya pengen bakso mercon sama mie ayam, Fi." Wanita cantik itu mengutarakan keinginannya sejak tadi.
"Beuh mulai ngidam ya? Yakin mau bakso mercon? Bukannya Kak Fio nggak suka?" Fimi terkejut dengan keinginan sang kakak.
"Iya serius, Fi."
"Ya udah, di tempat biasa aja ya yang deket rumah, Kak." Fimi mulai melajukan mobilnya. Fiona hanya mengangguk sambil kembali mengusap perutnya.
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya mereka sampai di tempat bakso langganan mereka. Si pemilik kedai menyapa dengan ramah dan menyebutkan menu yang biasa mereka pesan.
"Tumben Neng Fio pengen bakso mercon, biasanya langsung geleng kepala kalau ditawarin." Bang Jono terlihat heran.
"Lagi pengen nyobain aja, Bang." Fiona menjawab santai.
"Oke, mau dimakan di sini atau dibungkus?"
"Dibungkus aja, Bang."
Fimi menyuruh sang kakak untuk menunggunya di mobil saja, tetapi jawaban dari kakak perempuannya itu membuat dirinya menganga. Masa iya Fio mau nyium uap dari kuah bakso yang katanya seger.
Fimi hanya menggelengkan kepalanya, ternyata orang ngidam itu aneh.
Setelah selesai, Bang Jono memberikan bungkusan berisi pesanan Fiona dan Fimi.
"Kak, ayo!" Fimi menarik tangan sang kakak yang masih betah berada di depan panci besar berisi kuah bakso itu.
__ADS_1
"Bentar lagi, Fi." Wanita berambut panjang itu masih tetap berada di posisinya.
"Ya ampun, Kak. Banyak yang ngantri mau beli, ayo ah!" Fimi akhirnya menarik sang kakak. Setelah masuk ke dalam mobil, Fimi langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Saat sampai di rumah, Fiona langsung membuka mie ayam baksonya, tetapi bukan dimakan, wanita itu malah menghirup uapnya saja.
"Makan, Kak. Udah ngantri lama juga." Fimi menuangkan baksonya ke dalam mangkuk, papa dan mamanya juga mereka belikan.
"Kata siapa aku mau makan, aku cuma suka wanginya aja, Fi. Nanti kalau udah nggak wangi kamu abisin ya?" Wanita itu mengibaskan tangannya di atas mangkuk yang masih mengeluarkan uap itu.
"Astagfirullah, mimpi apa Fimi semalam," gerutu gadis berambut pendek itu.
"Emang kakak kamu beneran udah isi, Fi?" Marina bertanya sambil mengaduk bakso di mangkuknya.
"Iya, Ma tadi kata dokter udah masuk dua bulan," jawab Fimi.
"Berarti kakak kamu lagi ngidam, Fi. Udah biarin aja yang penting jangan sampai mencelakai diri sendiri." Marina berucap.
"Fi, nanti Kakak mau beli martabak, anter lagi ya?"
"Astagfirullah."
***
Bayangan bersama sang kakak tiba-tiba saja terbayang di benaknya. Kakak yang selalu ceria dan membuat dirinya repot, tetapi Fimi menyukainya.
"Maafin aku, Kak. Aku ngerasa gagal jaga Fir." Wanita cantik itu menelungkupkan wajahnya di atas bantal.
Hari ini, setelah kejadian menyebalkan yang menimpanya, Fimi memutuskan untuk menunjukkan siapa jati dirinya. Namun, di sisi lain Fimi juga takut Fir membencinya. Perasaan itu selalu saja ada disaat keadaan Fimi seperti ini. Karena kejadian dua tahun lalu yang menimpa sang kakak, akhirnya Fimi menjadi ibu tunggal dari putra yang tak pernah ia lahirkan.
Fimi menangis semalaman sambil mendekap foto sang kakak. Fiona Safa Atmajaya dan Rafa Iskandar bersama seorang seorang bayi bernama Firdaus Iskandar.
"Maafin Mimi, Fir. Maafin atas semuanya." Fimi akhirnya terlelap sekitar jam tiga pagi. Wanita itu tetap mendekap figura berwarna keemasan itu.
Bersambung
__ADS_1
Happy Reading bestie
Nah tahu dong sekarang kalau Fimi tuh masih ori pokoknya. Makanya jangan buru-buru didapatin Dava, enak aja mau dapat perawan semudah itu, nggak ya.