
Seorang wanita sedang berdiri di atas rooftop sebuah bangunan. Wanita itu terlihat sedang menelepon seseorang.
"Aku akan loncat dari sini kalau kamu nggak datang nemuin aku."
"Aku serius, aku udah ada di rooftop gedung kantor kamu."
Wanita itu tersenyum licik saat seseorang yang ia hubungi akan mendatanginya. "Gue nggak akan nyerah gitu aja apalagi hanya dengan gadis ingusan macam dia. Dava itu milik aku, dan siapapun nggak boleh memilikinya."
Sekitar satu jam berada di ruangan terbuka malam hari pula membuat wanita itu mengusap kedua bahu tangannya karena kedinginan. "Sialan tahu gini gue ambil jaket tadi."
Saat wanita itu bergumam sendirian sebuah pintu besi arah masuk rooftop itu didorong dengan kuat. Terlihat pria yang ditunggunya berdiri di sana dengan nafas yang memburu, tatapannya tajam dan tangannya mengepal kuat.
"Akhirnya kamu datang, Dav. Aku tahu kamu masih peduli sama aku." Wanita itu berkata dan mulai menjalankan rencana liciknya.
"Ck. Nggak usah kepedean gue datang ke sini, hanya nggak mau ada masalah di kantor gue. Kalau mau mengakhiri hidup cari tempat lain sana!" Dava berdecak dan kini melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu jahat, Dav. Padahal dulu kita saling mencintai, apa kamu benar-benar sudah tak menginginkan aku lagi?" Wanita dengan dress putih tanpa lengan itu mulai terisak dan perlahan mundur ke belakang.
"Sebentar lo fobia ketinggian, kan? Atau pura-pura agar gue ...." Dava tak melanjutkan ucapannya saat wanita itu, kini hampir terjatuh ke bawah. Pria itu berlari dan menarik tangan wanita bernama Tania itu.
"Udah gue bilang lo jangan ngotorin kantor gue." Dava mencekal lengan Tania dan membawanya turun dari sana.
__ADS_1
Kini keduanya sudah berada di ruangan Dava, pria itu membanting tubuhnya ke sofa. Sementara Tania masih berdiri di tempatnya. "Apa yang lo mau, gue udah kasih semua ke lo. Hubungan kita udah selesai, sebaiknya lo kembali ke pacar lo lagi, apa yang kalian mau udah gue kasih."
Tania meremas jari-jemarinya dengan menundukkan kepalanya. "A-aku minta maaf, Dav ... tapi aku ternyata masih sayang sama kamu." Tania berucap lirih.
"Makasih karena udah sayang sama gue, tapi gue hanya nganggap lo sebagai te ... masa lalu gue. Makasih buat hari-hari yang udah lo lakuin buat gue." Dava beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. "Lo bisa pulang sendiri, kan?" Dava membalikkan tubuhnya.
Tania terpaku saat melihat pria yang dulu pernah ia tipu bersama kekasihnya. Tania adalah wanita yang sengaja berpacaran dengan Dava untuk menguras hartanya. Padahal pria itu begitu baik memperlakukannya. Dava bahkan tak pernah berlaku kurang ajar pada dirinya, mencium dan memeluk pun tak pernah. Walaupun sebelumnya beredar bahwa Dava adalah seorang cassanova, tetapi saat berhubungan dengan Tania, pria itu bahkan berlaku sangat sopan dan tak pernah menyentuhnya. Sampai suatu hari rencananya terbongkar oleh Haris, asisten Dava.
Tanpa Tania duga, Dava memberikan sejumlah uang yang fantastis untuknya dan berkata untuk segera menikah dengan kekasihnya.
"Maafkan aku, Dav. Angga sudah membawa kabur semua uang yang kamu kasih. Aku telah ditipu oleh dia. Maafin aku." Tania mulai terisak. Wanita itu memang telah dibuang begitu saja oleh Angga kekasihnya yang menyuruhnya menguras harta Dava. Miris.
Dava menaikkan satu ujung alisnya dan menatap lekat ke arah Tania, menatap bola matanya yang sudah berkaca-kaca, ia mencari kebohongan di sana, tetapi nihil. Namun, Dava juga tidak mungkin kembali pada wanita yang telah tega menipunya, hatinya sudah mati saat ini, dan hanya Fimi yang bisa menghidupkannya kembali.
Saat mereka sudah berada di lobi kantor Tania tak melihat mobil berada di parkiran kecuali sebuah motor yang sejak kedatangannya sudah ada di sana. Mungkin motor satpam yang menjaga malam ini.
"Kamu nggak bawa mobil, Dav?" Akhirnya pertanyaan itu pun keluar dari mulut Tania.
"Gue naik taksi, maaf gue nggak bisa nganter lo, gue harus segera pergi." Tanpa menunggu jawaban dari Tania, Dava sudah menyetop sebuah taksi dan pergi meninggalkan Tania begitu saja. Namun, tak berselang lama, Tania juga sudah memasuki salah satu taksi yang masih bisa terlihat oleh Dava.
Dava pun menghela nafas dan pria itu memberitahu rumah sakit yang akan ia datangi pada sang supir. Dava memainkan ponselnya dan memberi pesan pada sang adik. Setelah itu, kembali memasukkan ponselnya pada saku celana. Kini pria itu hanya menikmati perjalanan di malam hari yang masih saja ramai.
__ADS_1
Akhirnya Dava pun sampai di rumah sakit, setelah membayar taksinya, pria itu langsung berlari masuk menuju ruang Fimi. Saat sampai di ruang Mawar 2. Dava mendengar percakapan dua orang di dalam sana.
"Kamu sekarang tidur ya, Sayang." Suara bariton itu terdengar jelas di telinga Dava.
"Iya, aku akan tidur, tapi tungguin Fimi di sini ya, Fimi takut." Itu jelas suara gadisnya.
Dava sudah mengeratkan rahangnya, rasanya ingin sekali ia menerobos masuk dan memukuli pria itu. Namun, Dava tak ingin membuat keributan. Pria itu mencoba mengintip dari kaca pintu yang sedikit terbuka, pria berjaket abu itu, menggenggam tangan gadisnya, sambil sesekali mengusap kepalanya.
"Ah, ****!" Dava meninju angin, pria itu benar-benar kesal. Baru saja kesempatan dekat dengan Fimi akan berhasil, tiba-tiba masa lalunya datang dan membuat keonaran. Namun, saat kembali pun kekacauan di hatinya malah makin berantakan dengan melihat fakta bahwa ada pria lain yang saat ini menjaganya dan membuat wanita itu terlihat nyaman.
Dava pun akhirnya pergi dari sana, sebenarnya tidak untuk pulang juga hanya berkeliling rumah sakit saja. Untuk menghilangkan kekacauan hatinya, ia akhirnya berhenti di masjid rumah sakit. Dava masuk ke sana dan mulai mengambil wudhu.
Dava berdoa untuk kesembuhan Fimi dan juga kebahagiaannya. Wanita yang selama ini ia cari, tetapi sudah menjadi milik orang lain. "Ya Allah izinkan aku menjadi perebut istri orang kali ini saja, rasanya aku sudah tak bisa ke lain hati, aamiin." Dava menutup doa terakhirnya.
Kemudian pria itu pun beranjak dari sana dan kembali ke ruangan Fimi. Dava hanya duduk di luar ruangan, karena saat pria itu kembali mengintip, Fimi dan penghuni yang lainnya sudah terlelap. Dava tidak ingin mengganggu istirahat mereka. Lalu pria itu pun mulai menyandarkan kepalanya pada tembok dan memejamkan netranya. Keduanya tangannya ia lipat di depan dada untuk sedikit menghalau rasa dingin yang menusuk tulang.
"Aku izinkan kamu jadi perebut istri orang, karena kamu akan tahu faktanya."
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Ya ampun ada ya doa kaya gitu wkwkwk. Ya udah yuk gerakin jempolnya ya bestie. Oya kalau mau masuk gc wa kuy ke gc ku di sana udah ada linknya.