Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Keputusan 2


__ADS_3

Dava dan Fimi masih menunggu di gazebo sekolah Fir. Keduanya terlihat berbincang mengenai keputusan apa yang akan diambil oleh Fir. Walaupun sebenarnya Fimi sudah tahu siapa yang putranya pilih.


"Apa semalam Fir tidur nyenyak?" Dava terlihat khawatir.


"Alhamdulillah dia tidur dengan nyenyak, walau awalnya harus aku gendong," jawab Fimi.


Dava hanya mengangguk dan akhirnya mereka saling diam, apalagi kini ada wali murid yang lain, sesekali Fimi juga berbincang dengan yang lainnya.


Akhirnya jam pulang pun tiba, Fimi menunggu sang putra di tempatnya, Dava juga menunggu keponakan kembarnya. Tak berselang lama ketiga anak kecil itu berjalan bersama sambil berceloteh.


"Mimi Fir dapat bintang empat," teriak anak kecil itu sambil berlari ke arah ibunya.


"Pinter dong anak Mimi." Fimi merentangkan kedua tangannya lalu menyambut sang putra.


Aksa dan Ale pun menghampiri omnya. Setelah itu, mereka pulang bersama-sama, bahkan mampir ke resto dulu untuk makan siang bersama, karena permintaan anak-anak. Selesai makan, mereka langsung pulang menuju rumah masing-masing.


"Nanti malam, aku akan ke rumah, aku ingin tahu apa keputusan Fir," ujar Dava sebelum pergi meninggalkan resto.


"Ingat ya kita lagi nggak boleh ketemu, mulai besok juga aku akan diem di rumah, papa yang akan nganter Fir." Fimi malah menjawab dengan kalimat lain.


"Ish, tapi keputusan ini penting buat aku, Sayang," bisik Dava gemas. Akhirnya Fimi hanya mengangguk dan kemudian mereka pun pergi ke mobil masing-masing.


Selama perjalanan, Fir terus berceloteh tentang kegiatan sekolahnya hari ini. Sampai akhirnya anak kecil itu menguap.


"Fil ngantuk, Mimi."


"Ya udah Fir bobo ya." Fimi mengusap kepala putra kecilnya yang kini mulai memejamkan matanya. Sementara itu, Fimi kembali fokus menyetir menuju pulang. Saat wanita memasuki halaman rumahnya, ada sebuah mobil yang terparkir rapi di sana, mobil yang sangat familiar.


Fimi pun bergegas turun sambil menggendong putranya yang masih terlelap. Saat wanita cantik itu memasuki rumahnya, terlihat orang yang saat ini ingin sekali wanita itu mencakarnya. Fimi bergegas menidurkan putranya di kamarnya. Setelah itu, ia kembali ke depan dan menatap sinis pria yang saat ini tersenyum ke arahnya.


"Ngapain lo ke sini?" sinis Fimi, padahal di sana ada Hendra sang papa.


"Gue mau ngelamar lo lah," jawabnya santai.


"Gila! Pergi sana!"


"Fi, sini duduk dulu." Hendra menepuk sofa kosong di sampingnya. Awalnya Fimi menolak, tetapi sang papa terus membujuknya sampai akhirnya wanita yang melipat kedua tangannya itu pun menurut.


Vano masih menampilkan senyuman di wajahnya, yang membuat Fimi berdecak sebal. "Ngapain disuruh masuk sih, Pa?" gerutu Fimi.


Hendra menggelengkan kepalanya. "Dengerin Vano dulu, Sayang." ucap pria paruh baya itu lembut.


Kemudian Vano pun mulai menjelaskan maksudnya tempo hari, pria itu memang mengaku kaget saat mendengar kabar bahwa Fimi akan menikah, tetapi untuk mengetes keseriusan Fimi, akhirnya Vano pun bersandiwara untuk merebut Fimi dari Dava. "Jadi, maafin gue ya, Loly." Vano mengakhiri ceritanya.


Namun, tanpa diduga Fimi beranjak dan mendekat ke arah Vano, pria jangkung itu masih menampilkan senyumannya, tetapi seketika berubah saat Fimi dengan ganas menjambak dan mencakar pria itu dengan brutal. "Lo emang bener-bener bikin gue gila, Vano!" Fimi terus menarik rambut Vano hingga pria itu mengaduh dan memegang tangan Fimi agar melepaskan jambakannya.

__ADS_1


"Ampun, Fi. Gue janji gue nggak bakal ulangi lagi. Aduh!"


Sementara itu, Hendra juga sepertinya tak berniat memisahkan keduanya, pria paruh baya itu malah beranjak dan masuk ke dalam.


"Om, bantuin Vano!" teriak Vano.


"Kalian udah dewasa, selesaikan saja urusan kalian sendiri. Om mau ke dalam." Pria paruh baya itu menjawab tanpa menghentikan langkahnya.


"Aduh, Fi! Ampun sakit ini pala gue!"


Fimi yang sepertinya belum puas terus menarik rambut Vano, sampai suara seseorang mengalihkannya.


"Apa-apaan ini?" Suara bariton itu membuat Fimi menoleh dan menghentikan aksinya, apalagi posisi Fimi saat ini begitu dekat dengan Vano.


"Aku nggak suka kamu deket-deket sama dia, Sayang." Pria itu menarik Fimi dan tentu saja jambakannya terlepas.


"Aduh, makasih banget, untung lo udah datang." Vano mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Yakin mau nikahin cewek galak kaya dia?" imbuhnya.


"Vano!" Fimi kembali akan menyerang Vano, tetapi ditahan oleh Dava.


"Lepasin, Bang. Aku masih murka banget sama dia." Fimi berusaha melepaskan kedua tangan Dava yang melingkar di perutnya.


"Calon laki lo juga udah tahu semuanya, gue ke sini cuma mau minta maaf sama lo dan Fir. Karena gue udah bikin dia ketakutan." Vano kini duduk dengan tenang, walaupun kepalanya masih terasa sakit.


Dava dan Fimi juga kini sudah duduk di sofa yang berbeda dengan Vano, hal itu dilakukan Dava agar Fimi tidak kembali menyerang Vano.


"Ya udah sekarang tinggal nunggu Fir bangun, dan lo nggak akan pernah gue lepasin kalau sampai Fir masih merasa takut, setelah lihat lo." Fimi menatap sinis ke arah Vano.


"Iya, iya, bawel."


Kini ketiganya hanya duduk di tempat masing-masing, tanpa percakapan apa pun, bahkan Dava juga hanya menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu memejamkan netranya.


"Jangan tidur, Bang!" Fimi menoyor pipi Dava dengan telunjuknya.


"Bentar doang, Sayang." Dava tetap memejamkan netranya. Sementara Vano sibuk dengan ponselnya.


Tak berselang lama, suara anak kecil yang mereka tunggu memanggil mamanya.


"Mimi, Fil mau makan buah. Mimi!" Fir terus berteriak memanggil ibunya.


"Iya, Sayang!" Fimi beranjak dari duduknya hendak menemui putranya. Namun, baru saja beberapa langkah, anak kecil itu sudah berdiri di hadapannya.


"Anak Mimi udah bangun." Fimi mencium kedua pipi gembil putranya dengan gemas.

__ADS_1


"Ada Om Dava sama Om Vano di sini, Fir mau ketemu mereka?" ujar Fimi hati-hati. Ternyata Fir mengangguk, kemudian meraih tangan Fimi dan mengikuti Mimi berjalan kembali ke sofa. Saat Fimi dan Fir sudah kembali duduk, Dava masih memejamkan matanya.


"Om Dava bobo ya, Mi?' Fir menoleh ke arah pria yang kini terlihat lelap.


"Bangunin aja, Sayang," jawab Fimi. Sementara itu, Vano masih diacuhkan oleh anak kecil itu.


"Om bangun!" Fir mengguncang bahu Dava, hingga pria itu mengerjapkan matanya.


"Eh, Fir." Dava mengucek netranya. "Maafin Om ya, Fir."


"Om mau kan jadi pipinya Fil, Fil nggak suka sama Om itu." Fir menunjuk Vano yang kini sedang tersenyum ke arahnya.


Dava terkejut dengan permintaan anak kecil itu, tetapi pria itu langsung menganggukkan kepalanya. "Om mau, makasih ya, Sayang."


"Om Vano minta maaf ya, Fir. Sekarang Fir udah besar ya, padahal dulu saat kecil Om sering lo main sama Fir." Vano mencoba mengambil perhatian Fir.


"Benalkah, Mimi?" Anak kecil itu menatap ibunya dan mendapat anggukan dari Fimi.


"Tapi, Fil nggak kenal sama Om," ujar anak itu polos.


"Makanya sekarang kita kenalan lagi ya, boleh?" Vano beranjak dan mendekat ke arah anak kecil itu.


"Boleh, nama Fil, Fildaus Iskandal." Fir mengulurkan tangan kananya.


"Nama Om, Vano." Pria itu membalas uluran tangan Fir.


"Om jangan galakin Mimi lagi, Fil nggak suka." Kini anak kecil itu melipat kedua tangannya.


"Iya, nggak. Maafin Om ya."


"Hm. Om jadi Omnya Fil aja ya, jangan jadi pipi Fil, kalena pipinya Fil sekarang pipi Dava."


Vano terkekeh mendengar ucapan anak kecil itu yang sudah bisa mengambil keputusan untuk dirinya.


"Iya, semoga kalian selalu bahagia dan diberikan keberkahan ya. Jangan lupa undangannya, awas kalau nggak ngundang aku rusuhin acaranya."


"Vano."


"Iya, iya."


Bersambung


Happy Reading


Siapa yang mau diundang ke nikahan babang Dava sama Fimi, absen di komen ya bestie.

__ADS_1


__ADS_2