
Nesa sepertinya lolos dari pantauan Abimana, sehingga perempuan itu berhasil mengendap ke belakang dengan mengambil tongkat kasti yang tadi dipakai oleh Alisa. Dengan perlahan wanita itu berjalan, sampai akhirnya bisa berada di belakang pria yang menyekap Fir dan Tari. Pria yang memegangi Tari audah terkapar saat tadi baku hantam bersama dirinya. Dengan hati-hati ia mengayunkan tongkat itu dan berhasil membuat pria yang memegangi Fir pingsan.
Tari terkejut dan hendak mengambil Fir, tetapi dengan sigap Nesa mengambilnya. "Jangan sentuh ponakan gue, atau lo gue bikin pingsan juga, mau?" ancam Nesa sambil mengayunkan tongkatnya. Tari pun mundur. Namun, bersamaan itu, tiba-tiba Fir berteriak saat melihat Fimi sudah berada di hadapan Abimana yang sudah menodongkan pistolnya.
"Lo udah bangunin singa tidur!" geram Fimi.
Nesa pun dengan sigap langsung berlari ke arah mereka dan tanpa aba-aba memukulkan tongkat itu kembali ke kepala Abimana. Tembakan keempat pun tak terjadi, karena pria paruh baya itu sudah ambruk ke lantai.
"Nes, Bang Dava. Fir, Sayang!" Fimi menghambur ke arah putra kecilnya dan menatap sinis ke arah Tari. "Suami kamu begitu baik, tapi kamu? Kamu tahu tidak betapa sibuknya suamiku mencari kamu untuk memberikan hak kamu atas kerja keras suamimu. Tapi kamu malah membuat putra dan suamiku celaka," desis Fimi sambil menggendong putranya.
"Aduh, mana gue nggak bisa nyetir lagi, Fi. Gimana dong?" Nesa kalang kabut melihat kondisi Dava yang sudah bersimbah darah.
"Biar gue yang nyetir, sekarang bantu gue angkat Bang Dava." Fimi menurunkan Fir dan menyuruh anak itu untuk mengikutinya.
"Bu, saya bisa menyetir, biar saya saja yang nyetir. Maafkan saya," ucap Tari tiba-tiba sambil mengikuti Fimi dan Nesa yang sedang memapah Dava.
Fimi hanya mengangguk dan membiarkan wanita itu menggendong sang putra. Dengan susah payah Fimi dan Nesa membawa Dava ke lantai bawah sampai akhirnya mereka sampai di mobil. Alisa juga ternyata sudah tak ada di sana sejak mereka baku hantam. Sepertinya wanita berbaju hitam tadi sudah membawanya pergi.
Dava dibaringkan di paha Fimi, sementara Fir duduk dipangkuan Nesa yang duduk di depan bersama Tari. Wanita itu ternyata benar-benar bisa menyetir dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Fimi merasakan sakit di perutnya, wanita memegangi perutnya sambil menggenggam erat tangan suaminya.
Nesa yang mendengar pekikan Fimi, melihat dari kaca spion dalam. "Fi, lo kenapa?" Nesa panik melihat Fimi yang mulai pucat.
"Perut gue ... sakit ... ah!" Rasa sakit itu makin menjadi dan akhirnya Fimi pun tak sadarkan diri. "Fi! Buruan nyetirnya, Sus!" Nesa mulai panik, sementara Fir mulai menangis memanggil miminya. Ikatan di tangannya sudah terlepas sejak Nesa berhasil mengambil alih anak kecil itu.
"Mimi hanya tidur, Sayang. Mungkin kecapean. Fir juga bobo ya," bujuk Nesa agar anak kecil berseragam itu berhenti menangis.
Tak berselang lama, Tari sudah memasuki parkiran sebuah rumah sakit. Dengan gegas wanita itu keluar dan memanggil petugas di sana. Dava dan Fimi masih dalam keadaan tak sadarkan diri saat keduanya dipindahkan ke blankar untuk dibawa ke UGD.
Nesa, Tari dan Fir mengikuti perawat itu, tetapi dipersilakan untuk menunggu di luar. Dengan gusar, Nesa dan Tari menunggu di luar. Sampai akhirnya Nesa pun menghubungi orang tua Fimi dan mertuanya.
Semuanya terkejut, dan akan segera datang.
"Fi, lo harus sehat, lo masih punya Fir, lo pasti kuat." Nesa mondar-mandir di hadapan Fir dan Tari yang sedang duduk.
Tari terlihat sedang mengajak ngobrol anak asuhnya. "Fir ... maafin Suster Tari ya?"
"Kenapa Sustel Tali bikin Mimi sakit?" tanya anak itu polos.
"Maafin Suster ya, Suster janji nggak akan ulangi lagi." Tari mengacungkan jari kelingkingnya. Namun, tanpa wanita itu duga Fir menyambutnya. "Janji ya, Sustel." Tari mengangguk kemudian mendekap tubuh kecil Fir.
__ADS_1
Tak berselang lama, dokter keluar dan Nesa langsung menghampirinya. "Bagaimana keadaan sahabat saya dan suaminya, Dok?" tanya Nesa tak sabar.
"Apa tidak ada keluarganya di sini?" tanya pria berkacamata itu.
"Mereka sedang menuju ke sini, Dok. Saya sahabat dekatnya, tolong beritahu saya," mohon Nesa yang pipinya kini sudah basah.
"Sebaiknya pasien wanita jangan terlalu cape dan tidak boleh stres, karena saat ini beliau sedang mengandung. Usia kandungannya sudah masuk minggu ke-enam." Dokter itu tersenyum.
"Apa? Alhamdulillah."
"Sedangkan suaminya harus dirawat dan melakukan operasi kecil karena ada peluru yang bersarang di punggungnya. Bagian bahunya hanya terkena goresan saja." Dokter itu pun mengakhiri ucapannya dan kembali masuk.
Bersamaan itu Alifa dan Ganendra juga Kavindra dan Kaivan datang bersama. Mereka setengah berlari. "Bagaimana Dava dan Fimi, apa yang telah terjadi?" Alifa terlihat begitu khawatir dengan keadaan putra menantunya itu.
"Tenang, Tante. Fimi baik-baik saja, tapi ...."
"Tapi apa, Nesa?" Kaivan kini yang menyela ucapan wanita cantik itu.
"Pak Dava harus segera dioperasi karena ada peluru yang bersarang di punggungnya."
"Apa?" Alifa lemas dan hampir saja ambruk kalau Kavindra dan Ganendra tak menahannya.
Pihak rumah sakit pun berjanji akan melakukan yang terbaik bagi pasiennya. Setelah menyelesaikan persyaratannya, Dava pun dibawa ke ruang operasi. Sementara Fimi yang baru siuman, bisa dijenguk oleh keluarganya.
"Bang Dava!" pekik wanita itu saat tersadar dari pingsangnya.
"Ini Mami, Sayang," ucap Alifa lembut sambil menggenggam tangan menantunya.
"Mami?" Fimi akan beranjak duduk, tetapi ditahan oleh mertuanya.
"Kenapa kamu sampai lebam kaya gini, Sayang?" Alifa menyentuh sudut bibir menantunya yang agak membiru.
"Mimi abis belantem, Oma. Kelen pokoknya." Tiba-tiba Fir berucap.
"Apa? Siapa yang berani ngajak berantem Mimi, Fir?" Alifa beralih pada cucunya yang berada dalam gendongan Tari.
Fimi terdiam, dan bingung harus memulai dari mana untuk bercerita.
"Tante, Fimi sedang mengandung," sela Nesa mengalihkan perhatian semuanya.
__ADS_1
"Bener, Sayang?" Fimi merasa linglung dengan ucapan Nesa.
"Iya, Tante. Kata dokter tadi, kalau Fimi sedang mengandung saat ini baru masuk minggu ke-enam."
"Alhamdulillah." Semua orang berucap berbarengan.
"Apa-apan anak saya masuk rumah sakit, kalian bilang alhamdulilah?" Tiba-tiba Marina datang dengan wajah murka.
Tentu saja orang yang ada di sana menoleh ke sumber suara. "Kita akan punya cucu lagi, Jeng." Alifa beranjak dan menghampiri Marina.
"Apa?"
"Iya, Ma. Fimi sedang mengandung." Wanita itu kini ikut meyakinkan sang mama.
Namun, alih-alih bahagia, Marina malah memperhatikan kondisi putrinya yang babak belur. "Kamu mulai berantem lagi, Fi? Sejak kapan?"
"Lho, Jeng? Memangnya Fimi bisa berkelahi?"
"Ma ...."
"Dulu saat SMA, dia sering banget berantem sama temannya. Entahlah dia bilang buat praktekin jurus bela diri yang sudah ia pelajari." Marina mengingat tingkah putri bungsunya saat masih sekolah.
"Oh ya? Keren ya, Pi." Alifa hampir bersorak saat mendengar fakta baru mengenai menantunya itu.
Sementara itu, di luar.
"Heh, lo mikirin Loly, tapi diri sendiri nggak. Itu tangan ada luka nggak sadar?" pria yang mirip dengan Alifa itu menunjuk lengan kiri Nesa yang terluka.
"Tinggal pakai obat merah juga sembuh, nggak usah ribet." Nesa menjawab dengan santai.
"Udah ayo diobatin mumpung masih di sini juga." Kaivan menarik tangan Nesa untuk mengobati lukanya.
"Eh."
Namun, sepertinya Nesa memang membutuhkan obat itu. Ia juga takut kalau nanti lukanya infeksi. Akhirnya Nesa oun pasrah saat tangannya ditarik paksa oleh Kaivan. Alih-alih tangannya yang sakit, tetapi jantungnya yang malah tak karuan berdetak lebih kencang.
Tolong jangan baper ya hati, ini cuma nolong bukan cari perhatian.
Bersambung
__ADS_1
Selalu ada hikmah dibalik musibah. Akhirnya, Fimi hamidun, tapi Dava lagi operasi doain ya biar lancar dan selamat.