Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Rencana Sebelumnya


__ADS_3

Beberapa bulan lalu setelah acara makan malam di kediaman Pramudya. Alifa dan Marina merencanakan perjodohan putra dan putri mereka.


"Kita buat mereka dekat dulu kaya dulu, bagaimana?" usil Alifa yang ingat betul kedekatan keduanya.


"Iya juga sih, tapi anak aku tuh yang judesnya minta ampun, katanya dulu Dava itu sering jahilin dia. Lucu sih." Marina tergelak saat mereka bertemu di sebuah resto.


"Aku yakin Dava kaya gitu karena udah tertarik sama Fimi." Alifa kemudian meminum jus pesanannya.


Setelah itu keduanya merencanakan untuk mendekatkan mereka, jika mereka sudah dekat, akan langsung dinikahkan. Karena kedua wanita paruh baya itu sudah mengurus semua persiapan pernikahan putra-putri mereka setelah ada kesepakatan untuk menjodohkan keduanya.


Keduanya kerap sekali bertemu untuk membahas persiapan pernikahan, tanpa sepengetahuan suami dan tentu sana anak mereka yang lain. Namun, saat diketahui bahwa Dava sering mengunjungi Fimi dan terlihat akrab, akhirnya wanita paruh baya itu pun menceritakan rencana mereka pada suami masing-masing.


Awalnya Hendra dan Ganendra tidak setuju dengan cara itu, tetapi para istri mereka meyakinkan keduanya bahwa rencana mereka akan berhasil. Ternyata benar, saat melihat kedekatan putra mereka terhadap Fimi, Ganendra yakin tentang rencana istrinya.


Semua persiapan dari mulai katering dan dekorasi untuk acara pernikahan sudah diurus oleh Alifa dan Marina, kecuali baju pengantin. Karena keduanya sudah merencanakan untuk membuat baju pengantin mereka di butik milik Fimi. Bukan karena mengirit, tetapi selain desain baju Fimi sangat bagus, juga untuk mempertemukan mereka yang awalnya sengaja dikabari bahwa Dava akan menikah dengan wanita pilihan mereka.


Mereka memang sukses membuat Fimi sakit hati, mungkin terpuruk, tetapi wanita itu terlalu kuat sehingga mampu menyembunyikan rasa kecewanya, kecuali pada Davanka. Sampai akhirnya tiba waktunya untuk mempertemukan mereka.


Saat Alifa dan Marina mengunjungi butik Klarisa, Fimi terlihat sibuk menyiapkan baju pengantin yang akan digunakan oleh Dava dan calon istrinya. Walaupun masih menahan sakit di dalam hatinya, tetapi gadis itu tetap profesional.


"Mama? Kenapa nggak bilang mau ke sini?" Fimi yang terkejut melihat sang mama langsung menghampirinya, tak lupa ia juga mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, termasuk Alifa juga.


"Pak Davanya belum datang ya, Tante?" Fimi berusaha bersikap profesional.


"Sebentar lagi, bajunya udah siap, kan?" Alifa bertanya sambil menahan senyumnya. Sebenarnya ia kasihan melihat Fimi, walaupun disembunyikan, matanya masih terlihat aga sembab. Mungkin gadis itu menangis semalaman.


"Sudah, Tante kami sudah menyediakan pakaian terbaik kami. Tante tenang aja, kami tidak akan mengecewakan konsumen." Fimi berbicara seperti pada pelanggan yang lainnya, dengan menyuguhkan karya terbaiknya.


Sampai tiba saatnya, Marina berbicara, "Apa kamu siap untuk menikah, Mi?"


Fimi menoleh ke arah sang mama yang berada tepat di samping Alifa. "Maksud Mama?"


"Kita itu udah nyari calon istri buat Dava, tapi nggak ada yang cocok. Tante cocoknya sama kamu, bagaimana?" Alifa menimpali percakapan ibu dan anak itu.


"Tante jangan bercanda, udah jelas-jelas kan Bang Dava nanti ke sini sama calonnya, Fimi nggak mau jadi pengganti, Tante." Gadis itu menolak apa maksud dari wanita di depannya.


"Tante nggak bercanda, Sayang. Memang kamu yang mau Tante jadiin calonnya Dava." Alifa menegaskan maksudnya.

__ADS_1


"Iya, Fi. Mama juga tahu kamu sama Nak Dava udah saling suka, kan?" sela Marina.


"Mama ...."


"Iya, Mama tahu kemarin kamu pasti abis nangis, kan?"


"Ma ...."


"Air mata kamu akan terbayar sekarang, karena apa yang kalian inginkan akan terwujud sekarang." Marina memeluk tubuh putrinya.


Nesa yang melihat dan mendengar semuanya ikut bahagia.


"Tapi, kita kerjain dulu Dava ya, biar rasa aja. Mami juga mau lihat reaksi Dava, ada perjuangannya nggak sih, atau pasrah aja?" tukas Alifa.


"Kamu juga setuju, kan, Nes?" Marina menoleh ke arah Nesa. Wanita cantik itu langsung mengangguk.


"Oh, iya Tante, Fimi udah nyiapin juga kok gaun pengantin untuk dirinya sendiri, udah lama malah," bisik Nesa pada Marina.


"Oh, bagus dong kalau gitu, jadi tinggal punya Dava ya," jawab Marina dengan berbisik juga.


"Ada deh.Udah sana cobain baju dulu gih!" Nesa mendorong tubuh Fimi ke kamar pas.


Sebelumnya Nesa sudah menyiapkan gaun pengantin milik Fimi. Fimi pun mendelik kesal ke arah asisten sekaligus sahabatnya itu.


Namun, akhirnya wanita itu pun mencoba beberapa gaun pengantin hasil karyanya, dan yang terakhir adalah kebaya putih tulang yang sengaja ia buat untuk dirinya. Semuanya bagus, tetapi saat menggunakan baju terakhir, Fimi merasa takjub juga dengan dirinya sendiri yang ada di cermin. Ukurannya sangat pas dengan tubuhnya, karena memang untuk dirinya, hanya saja wanita itu tak menyangka akan terlihat sebagus ini di tubuhnya.


Saat wanita itu keluar Alifa dan Marina menatapnya dengan kagum. Rencana mereka ternyata berjalan dengan lancar, apalagi kedatangan Dava tadi membuat keduanya menahan tawanya. Keadaan pria itu terlihat berantakan, lesu, pokoknya tidak bersemangat. Namun, sepertinya ancaman Alifa membuat pria itu tak bisa membantah lagi.


**


Surprise Marina dan Alifa kemarin berjalan dengan lancar, hari ini kedua wanita itu masih mengurus beberapa persiapan pernikahan putra-putri mereka. Sementara itu, Fimi saat ini berada di rumah bersama Firdaus. Wanita itu ingin bercerita mengenai pernikahan mereka pada putranya, tetapi Fimi bingung harus memulai dari mana.


"Jadi, Fir akan punya pipi ya, Mi?" ucap anak kecil itu yang kini sedang memainkan mobil-mobilan miliknya di ruang keluarga.


"Fir, emang mau kalau punya pipi?" Fimi bertanya sangat hati-hati.


"Mau, Mi. Biar kaya Asa sama Ale." Fir menganggukkan kepalanya, walaupun anak kecil itu tetap fokus pada mainannya.

__ADS_1


"Mm, tapi ... pipinya bukan ... Om Arya, Fir."


"Om Aya itu, Omnya Fil, Mimi. Bukan pipi." Anak kecil itu ini mendongak.


"Kalau Om ... Dava bagaimana?" tanya Fimi setengah berbisik.


"Horee!" Tiba-tiba Fir berdiri dan meloncat-loncat.


"Fir, awas jatuh, Sayang."


"Siapa yang mau menikah dengan Dava?" Tiba-tiba suara bariton seseorang mengagetkan keduanya.


"Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku dulu?" Pria itu terus bertanya.


"Sebentar-sebentar, jangan marah-marah dulu."


"Aku nggak terima, pokoknya. Aku udah lama cinta sama kamu, kenapa dengan mudah kamu menerima pria lain. Apa kurang aku, Fi?"


"A-apa? Kamu jangan bercanda?" Fimi terkejut dengan pernyataan itu.


"Menikahlah denganku, Fimi!"


"Kamu jangan gila!" Fimi setengah membentak ke arah pria itu.


"Mimi, siapa dia? Kenapa Fil belum pelnah melihatnya.


"Aku, pipimu, Fir."


"Hey!"


Bersambung


Happy Reading


Monmaaf ya mungkin update bang Dava belum bisa rutin tiap hari, akhir-akhir ini aku lagi sibuk RL banget. Makasih buat kalian yang masih mau nungguin Bang Dava.


Jan lupa gerakin jempolnya, tetep.

__ADS_1


__ADS_2