Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Bertengkar


__ADS_3

Fimi menghubungi suaminya saat Fir kekeh ingin bertemu dengannya. Namun, ternyata Dava mengizinkannya.


"Kita sambil makan siang bareng aja, Bang." Fimi menganggukkan kepalanya saat Dava menyetujui usulnya.


Kini keduanya akan menuju Resto Almahera, yang sudah disepakati oleh Dava dan Fimi. Kebetulan resto itu cukup strategis sehingga memudahkan pertemuan mereka.


Suasana dalam mobil itu tampak hening, karena Fir sepertinya masih marah pada Fimi. Wanita itu juga merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa sampai lupa. Mungkin karena Fir terbiasa pulang dengan sang mama, jadi Fimi lupa kalau saat ini, Fir benar-benar menjadi tanggung jawab sepenuhnya. Dia tidak bisa mengandalkan sang mama untuk menjemput putranya.


Kenapa gue bisa lupa sih, kalau gue udah pindah ke rumah Bang Dava.


Tak berselang lama, mereka sampai di tempat tujuan. Fimi memilih meja lesehan yang ada di atas. Fir hanya mengikuti Fimi saat wanita dewasa itu menuntunnya.


"Fir masih marah sama Mimi?" tanyanya lembut.


Fir hanya menggelengkan kepalanya. "Fil tadi hanya takut aja, Mi. Soalnya di sekolah sudah nggak ada siapa-siapa, kecuali bu gulu."


"Ada apa dengan Fir?" Suara bariton itu membuat Fimi terkejut begitu juga dengan Fir.


"Pipi? Tadi Mimi telat jemput Fil." Anak kecil itu kini mengadu pada Dava dan duduk di pangkuannya.


Lah kenapa Fir jadi deket sama Bang Dava? pikir Fimi.


"Kok bisa telat?" Dava melirik ke arah sang istri yang terlihat salah tingkah.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari bibir Fimi.


"Untung saja guru di sana akan pulang jika semua siswa sudah benar-benar pulang," ucap Dava.


Fimi hanya diam seribu bahasa, ini memang kesalahannya.


"Lebih baik sekarang kita makan dulu ya, Dir mau makan sama apa?" Kini Dava kembali menatap putra kecilnya.


Mereka memilih makanan kesukaan mereka masing-masing.


Fir terus saja bercerita pada Dava, sementara Fimi seolah diabaikan oleh mereka.


"Memangnya tadi Fir nggak ketemu sama Aksa dan Ale?" tanya Dava.


"Fil ketemu kok, tapi tadi pas Asa dan Ale dijemput maminya, Fil bilang mau tunggu Mimi saja," jawab Fir sambil menoleh ke arah Fimi yang saat ini sibuk dengan ponselnya.


Sebenarnya Fimi sedang memberitahu Nesa, bahwa dirinya tidak bisa kembali ke butik, dia akan langsung pulang.


"Tuh, kan Mimi sibuk telus sama hape, Pi." Fir kembali mengadu dan membuat Dava melirik ke arah sang istri yang kini sudah menyimpan ponselnya kembali ke saku.


"Kamu jangan main hape terus dong, Yang." Dava sedikit menggerutu.


"Aku cuma ngabarin Nesa kalau nggak akan balik ke butik, Bang." Fimi menjawab seadanya.


Dava hanya menganggukkan kepalanya, kemudian menyuruh untuk melanjutkan makannya.


Sekitar tiga puluh menit mereka telah selesai dengan makan siangnya. Dava akan kembali ke kantor sementara Fimi akan pulang ke rumah.

__ADS_1


"Kalian hati-hati di jalan ya, tunggu Pipi pulang nanti," ucap Dava sambil mengusap kepala Fir.


Fimi masih merasa salah tingkah, entah kenapa tatapan Dava hari ini tak seperti biasanya. Fimi jadi merasa tak enak hati. Bahkan saat wanita itu menyalami Dava pun, pria itu terlihat berbeda.


Kini Fimi sudah berada dalam mobil bersama Fir untuk pulang. Fir seperti biasa akan tertidur dalam perjalanan pulang. Selama menuju kediaman Pramudya, Fimi hanya ditemani keheningan. Namun, ia tetap berusaha fokus pada jalanan.


Akhirnya mereka sampai dan Fimi pun menggendong sang putra seperti biasa. Wanita itu masuk ke rumah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Alifa menyambut menantunya.


"Fir kenapa?" Alifa terlihat khawatir saat melihat cucunya digendong ibunya.


"Nggak apa-apa, Mi. Fir udah biasa tertidur kalau pulang sekolah." Fimi menjawab sambil membenarkan Fir dalam gendongannya.


"Oh, ya udah tidurin dulu di kamar Mami, kasihan." Alifa mengajak Fimi menuju kamarnya.


"Di kamar Fimi aja, Mi."


"Fir udah janji lo mau tidur sama Mami hari ini, udah nggak apa-apa, ayo!" ajak wanita paruh baya itu tak ingin dibantah.


Fimi pun akhirnya pasrah, dan mengikuti mami mertuanya menuju kamarnya. Kebetulan kamar Alifa dan Ganendra ada di lantai bawah, sehingga Fimi tak perlu naik tangga menggendong putranya yang sudah cukup besar itu.


Dengan hati-hati Fimi menidurkan Dir di atas ranjang king size milik Alifa. Anak kecil itu hanya bergumam kecil dan kembali terlelap setelah menyentuh bantal.


"Papi nggak apa-apa kalau Fir tidur di sini?" Fimi bertanya ragu.


"Nggak apa-apa, malah Papi yang minta, katanya dia rindu anak-anaknya saat masih kecil." Alifa menggelengkan kepalanya.


"Kamu udah makan belum? Biar Bi Neni siapkan untuk makan siang," imbuhnya.


"Kalau gitu kamu istirahat dulu, gih! Pasti kamu cape." Alifa mengusap punggung menantunya.


"Baik, Mi. Fimi ke kamar dulu kalau gitu," ucap wanita cantik itu. Setelah Alifa mengangguk, Fimi pun langsung beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.


Wanita itu melempar tasnya asal ke ranjang, setelah itu ia duduk di tepi ranjang sambil memegang kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada kedua lututnya.


"Karena kebiasaan Fir sama mama saat aku sibuk di butik, aku sampai lupa jemput Fir." Fimi mengacak rambutnya. Perasaannya tak karuan, bagaimana jika suaminya tahu, apa dia akan berpikir bahwa Fimi seorang ibu yang tak bertanggung jawab?


Akhirnya Fimi memutuskan untuk mandi, sambil menunggu Fir bangun sebentar lagi. Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi, kemudian menyalakan sower di sana, tubuhnya dibiarkan disiram air dari sana.


Rasa bersalahnya pada Fir membuat wanita itu menjadi tak tenang.


Sore pun menjelang, Fimi sedang menyuapi Fir di taman belakang. Wanita itu merasa senang karena Fir sudah bersikap seperti biasa lagi. Saat wanita itu baru saja selesai menyuapi Fir, tiba-tiba Dava menghampirinya dengan wajah tak terbaca.


"Bang?" Fimi terkejut. Namun, saat Fir menghampirinya, Dava langsung menjawab, "Fir, main sama Oma sebentar ya, Pipi mau bicara sama Mimi, boleh?"


"Baik, Pipi." Fir tersenyum ceria seperti biasa.


Kemudian ketiganya masuk, dan Dava memberikan Fir pada sang mami, sementara dirinya mengajak Fimi ke kamarnya.


"Bang, sakit," pekik Fimi saat Dava mencengkeram tangannya sedikit keras. Dava pun melepaskan cengkeramannya pada sang istri setelah mereka sampai di kamarnya. Dava menutup pintu dan menguncinya.


"Kamu tadi lupa jemput Fir, iya kan? Jawab," desis Dava dengan tatapan yang begitu menakutkan di mata Fimi.

__ADS_1


"A-aku, aku minta maaf, tadi ...."


"Kok, bisa sih lupa sama anak sendiri? Bagaimana jika nanti kita punya anak kita sendiri, apa kamu juga akan lupa?" Dava seperti meluapkan amarahnya pada kesalahan Fimi yang sebenarnya bisa dibicarakan dengan baik-baik.


"Bukan gitu, Bang ... aku lupa kalau aku udah pindah ke sini ...."


"Apa? Kamu itu udah punya suami dan kamu lupa ...." Dava mengacak rambutnya sendiri.


Fimi bahkan masih bergeming di tempatnya. Ia tak menyangka keteledorannya akan berakibat fatal.


"Maafin aku, Bang," lirih Fimi.


"Aku nggak nyangka kamu bisa lupa sama anak kamu sendiri, Fimi. Aku nggak yakin kalau selama ini kamu yang urus Fir," ucap Dava yang membuat Fimi tersinggung.


"Maksud kamu apa, Bang? Aku cuma ngelakuin kesalahan sekali ini saja dan kamu berpikir kalau aku nggak becus jadi ibunya Fir?" Kini Fimi pun naik pitam dan pertengkaran diantara mereka pun tak terelakkan.


"Iya!" Dava menjawab dengan wajah yang merah padam. Fimi tersentak kaget mendengar ucapan dari suaminya yang tak terduga.


"Oke, kalau gitu aku dan Fir akan pergi dari sini, dan nggak akan ganggu kamu lagi." Fimi mengusap pipinya yang sudah basah.


"Kalian tidak boleh ke mana-mana!" bentak Dava sambil menarik tubuh Fimi ke dalam pelukannya.


"Lepas!" geram Fimi.


"Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan pernah."


"Aku bukan ibu yang baik buat Fir, itu berarti aku juga bukan istri yang baik buat kamu," lirih Fimi.


"Lepasin aku!"


Namun, Dava tiba-tiba mendorong tubuh Fimi ke ranjang hingga wanita itu memekik.


"Abang!"


"Aku akan menghukum kamu." Dava membuka kancing kemejanya dengan tergesa kemudian melepaskannya dan melemparkannya sembarang.


Dava naik ke atas ranjang, hingga membuat Fimi beringsut ke kepala ranjang.


"Kamu mau apa?"


"Aku tidak akan melepasmu!"


"Nggak!" Fimi berteriak saat Dava menarik kakinya hingga wanita itu terlentang.


"Aku nggak mau!"


Tok,tok,tok!


Bersambung


Ish Bang Dava ngapa dah? Kayanya abis kena racun dah masa pulang-pulang ngamuk? Aku kesel, nggak suka pokoknya.

__ADS_1


Jempolnya tolong gerakin ya bestieee.


__ADS_2