Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 100. Menemukan Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Reinar baru saja membicarakan janji lamanya dengan Jihan kepada kelima istrinya, tidak ada yang sesuatu yang ingin ditutupinya dari para istrinya selain keberadaan sistem, oleh karena itu dia segera menceritakan janjinya pada Jihan pada mereka.


Awalnya Reinar mengira kelima istrinya bakalan marah, tapi nyatanya mereka justru memberi dukungan padanya untuk menepati janjinya. Bagi mereka, seorang pria sejati haruslah menepati janjinya.


Tak hanya masalah janji dengan Jihan yang dia ceritakan pada kelima istrinya. Reinar juga menceritakan pertemuannya dengan Wulan dan Sania. Bella, Sarah, Erina dan Wina jelas mereka sudah kenal siapa Wulan.


Untuk Sania, saat ini hanya Wina yang mengenal siapa wanita itu. Akan tetapi setelah mendengar keseluruhan cerita Reinar tentang kedua wanita itu, mereka menyimpulkan kalau Sania dan Malvin memiliki ketertarikan satu sama lain. Sedangkan Wulan, dari awal mereka yang mengenal wanita itu, jelas mereka tahu kalau Wulan memiliki perasaan pada Reinar.


Setelah mendengar keseluruhan cerita Reinar Bella berkata, “Empat dari lima wanita untuk melengkapi jumlah kita sepertinya sudah ada yang menempati.”


“Kita hanya perlu menentukan siapa yang kelima, untuk melengkapi anggota kita,” timpal Wina yang belum terpikirkan sosok yang tepat untuk melengkapi jumlah mereka menjadi sepuluh orang.


Empat orang yang sudah ditentukan adalah Clep, Wulan, Jihan, dan satu lagi wanita yang berasal dari asosiasi Black Dragon.


Untuk wanita kelima sekaligus wanita terakhir, mereka sebenarnya memiliki beberapa calon, tapi dari semua calon itu mereka belum menemukan sosok, yang benar-benar tepat untuk menyempurnakan jumlah mereka.


Sementara itu di gedung yang saat ini dipenuhi anggota kepolisian, mereka saat ini sedang melakukan pembersihan di tempat itu. Mayat-mayat dan darah dibersihkan, tapi saat ada dua orang polisi memeriksa ruangan di bawah tanah, tempat itu segera dilanda kehebohan.


Di ruangan bawah tanah ditemukan lebih dari lima puluh ton berbagai jenis narkoba. Selain narkoba, ditemukan juga ditempat itu tumpukan uang senilai miliaran, serta berbagai jenis senjata api ilegal.


Penemuan narkoba malam ini adalah penemuan terbesar yang selama ini pernah ditemukan anggota kepolisian. Penemuan begitu banyak narkoba menunjukkan kalau mereka yang mati adalah para penjahat yang sudah sewajarnya mendapatkan hukuman mati.


Benar saja, setelah dilakukan pemeriksaan identitas secara menyeluruh, setengah dari orang-orang yang mati di dalam gedung, mereka adalah buronan internasional yang masing-masing dari mereka telah divonis hukuman mati oleh beberapa negara.


Sedangkan sosok yang dicurigai sebagai pemimpin mereka, sosok itu diketahui telah divonis hukuman mati tak kurang oleh Sembilan belas negara, termasuk di negara I. Penemuan besar ditambah kematian mereka yang pantas mati.


Bukannya merasa senang, anggota kepolisian justru dibuat bertanya-tanya siapa sebenarnya orang-orang yang telah membunuh para buronan internasional, bahkan orang-orang itu tidak mengambil apa yang tersimpan di ruangan bawah tanah.


“Membunuh habis semua orang di dalam gedung tapi tidak mengambil barang-barang di ruangan bawah tanah. Apa mereka tidak mengetahui apa yang tersimpan di ruangan bawah tanah?”

__ADS_1


“Mustahil mereka menyerang dan membunuh semua orang ditempat ini tanpa mengetahui apa yang ada di ruang bawah tanah. Kemungkinan mereka memang tidak tertarik dengan apa yang tersimpan di ruang bawah tanah gedung ini.”


“Narkoba berbagai jenis sebanyak puluhan ton, tumpukan uang, serta berbagai jenis senjata. Kelompok bawah tanah mana yang tidak tertarik dengan semua itu? Setidaknya walau sedikit, pasti mereka mengambilnya.”


“Nyatanya mereka tidak mengambil apapun dari tempat itu, terlihat dari ruangan itu yang masih rapi, tak terlihat ada yang mengusik keberadaan ruangan itu.”


“Sebenarnya ada dua kelompok bawah yang selama ini tidak tertarik dengan barang-barang seperti itu. Asosiasi Black Dragon, dan mavia Black Rose, mereka dua kelompok dunia bawah yang kemungkinan besar tidak tertarik dengan barang-barang itu.”


“Kalau benar itu mereka, apa mungkin yang melakukan semua ini adalah kelompok assassin bayangan?” tanya salah satu polisi pada rekannya yang baru selesai berkata.


Rekannya yang ditanya segera menggelengkan kepalanya. “Mereka yang mati di tempat ini kebanyakan mati dengan luka pukulan, dan jelas itu bukan ciri dari kelompok assassin bayangan yang selalu membunuh menggunakan senjata tajam,” katanya.


“Akan tetapi, meski yang melakukannya bukan dari anggota assassin bayangan, yang membunuh semua orang di tempat ini masih berhubungan dengan kedua kelompok itu,” lanjutnya.


“Siapapun yang membunuh orang-orang di tempat ini, meski aku tidak bisa membenarkan apa yang dilakukannya, tapi apa yang dilakukan olehnya sebenarnya telah mempermudah tugas kita,” kata sang komandan, lalu dia memberi perintah pada anggotanya untuk memindahkan barang-barang di ruangan bawah tanah ke dalam mobil khusus yang telat disiapkan.


...----------------...


Selain merilis kedua berita yang berhasil membuar gempar seluruh negeri bahkan sampai negeri tetangga, kepolisian juga merilis berita tentang keberadaan kelompok misterius yang telah membunuh seluruh buronan internasional.


Pihak kepolisian masih belum mengetahui siapa saja anggota kelompok misterius itu, tapi demi menjaga keamanan masyarakat, pihak kepolisian berjanji secepatnya menangkap orang-orang itu.


Setelah mendengar berita ketiga yang dirilis pihak kepolisian, masyarakat segera terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dengan jumlah minoritas, mereka memberi dukungan pada pihak kepolisian untuk menangkap orang-orang itu.


Sedangkan kelompok kedua, kelompok mayoritas yang selama ini tidak puas dengan kinerja pihak kepolisian, mereka justru memberi dukungan pada orang-orang yang telah membunuh puluhan buronan internasional.


Perang di media sosial segera terjadi antara dua kelompok, tapi tak sampai satu jam, kelompok mayoritas memenangkan peperangan, dan berhasil membungkam mulut mereka yang terus memberi dukungan pada pihak kepolisian.


Sementara itu, Reinar yang sudah berada di ruang kerjanya, dia hanya tersenyum melihat banyaknya masyarakat yang memberi dukungan padanya, meski dukungan itu tidak diberikan secara langsung padanya.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka orang-orang yang semalam adalah sekelompok buronan internasional, yang selama ini keberadaannya sedang dicari-cari oleh polisi internasional. Kalau saja aku tahu identitas mereka sejak awal, mungkin aku menyisakan satu atau dua dari mereka untuk ditangkap hidup-hidup,” gumam liriknya.


Sedangkan di markas geng motor Night Butterfly, Jihan dan anggota geng motornya tersenyum senang melihat nasib buruk geng motor kapak merah yang selama ini sering berselisih dengan mereka, bahkan dua rekan mereka mati saat terakhir kali terjadi perselisihan, sebelum datangnya malam kehancuran geng motor kapak merah.


“Ketua, tanpa bantuan dua pria yang semalam membantu kita, mungkin pagi ini kita tidak bisa menikmati kabar yang begitu menyenangkan. Aku penasaran, siapa sebenarnya mereka, terutama pria yang membantu menerobos bagian depan. Jelas aku melihat puluhan peluru mengenai tubuhnya. Bukannya terluka, dia justru membalas tembakan mereka, dan membunuhnya,” ungkap Anggi, orang kepercayaan Jihan.


“Oh iya, bukannya Ketua semalam berterima dengan mereka, apa Ketua tahu identitas mereka?” tanya Lia, sama dengan Anggi, Lia juga termasuk orang kepercayaan Jihan selain dua orang lainnya yang saat ini masih tertidur setelah mengalami peristiwa besar, yang hampir merenggut kesucian mereka.


“Untuk pria yang membantu kalian menerobos bagian depan, aku tidak mengenalnya, tapi aku sangat mengensli pria yang membantuku menerobos dan membunuh semua orang didalam gedung seorang diri.” Jihan menjeda kata-katanya, membuat Lia dan Anggi semakin penasaran dengan identitas pria yang membantu mereka menghancurkan geng motor kapak merah.


“Ketua, apa kamu tidak bisa segera mengatakan pada kami siapa pria itu, dan ada hubungan apa Ketua dan orang itu?” ujar Anggi.


Mendengar itu, Jihan kembali melanjutkan perkataannya. “Pria yang membantuku adalah teman masa kecilku, dan malam tadi adalah pertemuan pertama kami setelah lebih dari delapan tahun tak lagi pernah berhubungan.” Senyuman terlihat di wajah Jihan setelah menyelesaikan perkataan nya.


“Teman masa kecil? Sepertinya bukan sekedar teman biasa,” ungkap Lia yang melihat wajah Jihan sangat bahagia, saat membahas pria yang telah menyelamatkannya.


“Ya, kamu benar, hubungan kamu di masa lalu memang bukan sekedar teman biasa,” kata Jihan yang tak sadar dengan jawabannya.


Sadar telah memberi jawaban yang tak seharusnya dia berikan, wajah Jihan tiba-tiba saja memerah karena malu, dan dengan gerakan sangat cepat dia berlari menuju kamar mandi meninggalkan Lia dan Anggi yang tertawa cekikikan melihat tingkahnya.


“Sepertinya Ketua kita menemukan cinta masa lalunya,” kata Lia.


“Sungguh cinta masa lalu yang indah,” timpal Anggi.


Jihan yang berada di kamar mandi jelas mendengar semua itu, dan wajahnya entah kenapa semakin memerah setelah mendengar semua itu. “Sial!... ada apa denganku?...”


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2