
Sampai di hotel yang menjadi tempat pertemuan, kedatangan Reinar dan Erina disambut oleh wanita berambut biru. “Nyonya sudah menunggu kedatangan Tuan Reinar dan Nyonya Erina.” Wanita berambut biru menyambut kedatangan mereka dengan keramahan, dan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat.
“Apa mereka berdua yang diluar tidak kamu ajak masuk?” Reinar menanyakan dua sosok yang terus saja bersembunyi, tapi mata tembus pandang miliknya dengan mudah menemukan keberadaan mereka.
Mendengar itu tentu saja membuat wanita berambut biru terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut saat dengan mudahnya Reinar menyadari tempat persembunyian kedua assassin bayangan, sementara dirinya saja belum mengonfirmasi keberadaan mereka.
“Daripada bersembunyi dan memancing kecurigaanku, sebaiknya suruh mereka keluar, dan biar aku melihat secara langsung wajah mereka.” Sambil tersenyum, Reinar mengatakan semua itu pada wanita berambut biru.
Wanita berambut biru yang tak memiliki pilihan lain, pada akhirnya dia memanggil dua assassin bayangan dari tempat persembunyian mereka, dan membiarkan mereka berdiri tepat di belakangnya. “Keberadaan kalian sudah diketahui Tuan Reinar.” Wanita berambut biru berkata pada dua assassin di belakangnya.
Kedua assassin tidak terkejut mendengar itu karena sebelumnya, mereka berdua merasakan ada sepasang mata mengerikan sedang mengawasi tempat persembunyian mereka, dan kini keduanya tahu siapa milik mata yang terlihat sangat mengerikan.
“Mereka hanya para assassin yang menjaga keamanan Nyonya, dan maaf jika keberadaan mereka membuat seolah-olah ada yang mengancam keselamatan Tuan.” Wanita berambut biru menundukkan kepala meminta maaf, dan sekarang dirinya mulai menyesali keputusan menempatkan para assassin bayangan untuk mengawal secara sembunyi-sembunyi keberadaan Rita.
“Aku tidak mempermasalahkan keberadaan mereka, dan aku sama sekali tidak merasa keselamatanku terancam. Hanya saja, aku merasa risih dengan keberadaan mereka yang hanya berani melihat dari tempat persembunyian.” Reinar mengatakan apa adanya yang dirasakannya saat menemukan keberadaan kedua assassin bayangan.
“Terimakasih atas pengertian Tuan, dan mari Tuan Reinar serta Nona Erina saya antarkan ke tempat Nyonya.” Wanita berambut biru masih tetap ramah pada Reinar dan Erina, walau dia merasakan emosi saat mendengarkan apa yang baru dikatakan Reina tentang kedua assassin bayangan. Namun, menilai dari kemampuan Reinar, wajar jika dia meremehkan kemampuan assassin bayangan.
Mendengar itu Reinar dan Erina hanya menganggukkan kepala, dan berjalan mengikuti wanita berambut biru. Sambil berjalan, Reinar membaca pesan yang dikirimkan Eliza. “Ternyata mereka tidak menempatkan orang-orangnya di hotel ini.” Reinar bergumam sambil menyimpan HP nya.
Saat ini Reinar dan Erina yang terus mengikuti wanita berambut biru, sekarang mereka berada di dalam lift, dan sedang mengarah menuju lantai tiga puluh. ‘Dari luar hotel ini terlihat hanya memiliki dua puluh sembilan lantai, tapi ternyata ada lantai ke tiga puluh.’ Reinar membatin.
__ADS_1
Keluar dari lift di lantai tiga puluh, Reinar dan Erina diarahkan menuju salah satu ruangan di lantai itu. “Silahkan masuk, Nyonya sudah menunggu di dalam!” Wanita berambut biru mempersilahkan Reinar dan Erina memasuki ruangan yang pintunya telah dia buka.
Reinar dan Erina bersamaan menganggukkan kepalanya, dan keduanya masuk ke dalam ruangan. Baru satu langkah masuk, tiba-tiba saja tangan kiri Reinar terulur ke sisi kiri tubuh Erina.
“Jangan terlalu dekat dengan wanitaku jika masih sayang dengan nyawamu.” Tangan Reinar mencengkram kuat leher salah satu assassin bayangan yang berjaga di dalam ruangan.
Sejak Erina masuk ke dalam ruangan, assassin itu sudah tergoda dengan kecantikan Erina, sampai dia lupa dengan tugasnya, dan tanpa sadar dirinya telah menyinggung sosok monster yang Rita sekalipun memilih mundur jika harus bersinggungan langsung dengannya.
Sementara itu Rita yang melihat kejadian seperti itu langsung di hadapannya, dia sangat terkejut dengan sorot mata Reinar yang seolah dapat melihat segalanya.
“Nyonya Rita, sepertinya malam ini kamu harus kehilangan salah satu dari mereka karena aku tidak pernah memberi maaf pada mereka yang begitu berani mengarahkan sorot mata menjijikkan pada wanitaku.” Tak menunggu balasan Rita, Reinar begitu saja mematahkan leher assassin di cengkraman tangannya.
Rita tahu dirinya tidak bisa melakukan apa-apa, dan semua memang salah dari assassin itu. Pada akhirnya dirinya lebih memilik membiarkan satu orangnya mati daripada harus bersinggungan langsung dengan sosok monster seperti Reinar.
Reinar mengarahkan sorot mata tajamnya ke arah assassin yang bersembunyi di sudut ruangan. Mengetahui bahaya besar mengancam hidupnya jika tidak segera keluar, assassin itu memilih keluar dan sekarang berdiri tepat di belakang Rita.
Ruangan itu akhirnya kembali tenang, dan Reinar memutuskan membawa Erina duduk di kusi berhadap-hadapan dengan Rita.
“Hari sudah malam dan aku tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar berbasa-basi! Katakan langsung ke intinya tujuan Nyonya mengundangku datang ke tempat ini!” Tegas Reinar berkat di hadapan Rita.
Rita terlebih dulu tersenyum, dan setelahnya dia berkata, “Aku memiliki satu penawaran padamu, dan aku tidak memaksamu memberi keputusan hari ini juga.” Rita menyodorkan selembar kertas pada Reinar.
__ADS_1
Reinar dan Erina bersama-sama membaca semua tulisan yang ada di dalam kertas, tapi tetap menggunakan mata tembus pandang miliknya Reinar mewaspadai pergerakan orang-orang di dalam ruangan, terutama pergerakan wanita berambut biru.
“Menjadi pemimpin baru assosiasi Black Dragon, mengisi kursi yang telah lama kosong tanpa pemilik. Nyonya Rita, apa kamu yakin ingin memberikan posisi ini padaku? Apa kamu tidak takut kalau aku justru menghancurkan assosiasi Black Dragon?” Reinar bertanya begitu selesai membaca isi lembaran kertas di tangannya.
“Apa kamu yakin ingin menghancurkan asosiasi Black Dragon sementara mereka adalah orang-orang yang mendirikan assosiasi ini?” Rita menyodorkan foto sepuluh orang pendiri assosiasi Black Dragon pada Reinar.
Melihat foto pendiri assosiasi Black Dragon awalnya tidak membuat Reinar tertarik, tapi saat kedua mata tajamnya menangkap dua sosok di dalam foto yang mana dua sosok itu sangat dikenalinya, kini timbul rasa penasaran kenapa mereka bisa betada diantara pendiri assosiasi Black Dragon, dan di foto itu terlihat jelas mereka sangat dihormati delapan orang lainnya.
Mengarahkan pandangan pada Rita, Reinar berkata. “Siapa mereka, dan kenapa yang lainnya sangat menghormati keberadaan mereka?” Reinar menanyakan dua sosok yang tak lain adalah Ayahnya dan ibunya.
Selain ayah dan ibunya, di foto itu juga terlihat sosok Adhitya, Juan, serta Yuna, dan untuk lima orang lainnya hanya Rita yang dikenalinya. Sisanya, dia tidak tahu.
“Mereka adalah pemimpin dan wakil pemimpin pertama asosiasi Black Dragon. Namun sayangnya, sejak kematian pemimpin pertama, wakil pemimpin menghilang tanpa jejak bersama putranya.” Rita mengatakan kebenaran yang selama ini tidak diketahui oleh Reinar, bahkan Erina sendiri baru tahu kalau ayahnya memiliki andil di assosiasi Black Dragon.
Reinar tidak begitu saja percaya dengan kenyataan yang memang sulit untuk dipercaya. Dirinya baru percaya kalau ibunya mengiyakan semua itu. Begitu juga dengan Erina, yang langsung saja mengirim sebuah pesan singkat pada ayahnya, menanyakan kebenaran dari apa yang baru dia ketahui.
Reinar sendiri memutuskan untuk bertanya langsung pada ibunya karena dia ingin mendengarkan jawaban itu langsung, bukan mendengar jawaban melalui suara panggilan telepon.
Sedangkan Rita, dia hanya tersenyum melihat ekspresi dua orang di hadapannya, dikarenakan sejak awal dirinya sudah menduga ekspresi seperti apa yang mereka tunjukkan setelah mengetahui keterlibatan keluarga mereka dalam assosiasi Black Dragon.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.