
Tiga pria yang telah kehabisan peluru pistolnya, mereka mulai pasrah dan ketakutan, saat melihat keadaan Reinar yang masih baik-baik saja setelah ratusan peluru menghujani tubuhnya.
Dengan tubuh kebal peluru dan senjata tajam membuat siapapun pasti kesulitan menghadapi Reinar, apalagi mereka yang menghadapinya tanpa persiapan khusus, tentu tak ada harapan baginya dapat mengalahkan Reinar.
Sedangkan Wulan dan Sania yang melihat seberapa besar kekuatan yang dimiliki Reinar, mereka tidak bakalan percaya dengan adanya manusia seperti mereka yang kebal terhadap peluru tajam, seandainya tidak melihat secara langsung menggunakan mata kepala sendiri.
Bukan hanya kebal terhadap peluru tajam, tapi jelas mereka melihat bagaimana peluru-peluru tajam itu berubah menjadi butiran debu sebelum bersentuhan langsung dengan tubuh Reinar.
Manusia biasa tentu tidak memiliki kemampuan seperti apa yang dimiliki oleh Reinar, dan keduanya mulai berpikir kalau Reinar adalah manusia super seperti yang ada dalam film-film. Jika benar Reinar manusia super, wajar baginya dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia pada umumnya.
Akan tetapi, dari segi penampilan fisik maupun perilaku, mereka sama sekali tidak melihat adanya perbedaan antara Reinar dan manusia pada umumnya. Tubuhnya memang terlihat berotot, tapi tak sebesar binaragawan, yang jelas terlihat Reinar adalah sosok kesempurnaan seorang pria.
"Kalau kalian berpikir kakak iparku adalah manusia super, kalian jelas salah! Dia dapat bertahan dari serangan peluru tajam berkat alat-alat luar biasa yang diciptakannya. Dengan alat-alat ciptaannya, tubuh kita dapat terhindar dari berbagai bahaya, termasuk dapat terhindar dari racun,” kata Malvin memberi penjelasan.
“Gelang di kedua tanganku adalah alat ciptaannya, dan dengan gelang ini aku memiliki kekuatan yang sama dengannya. Namun aku harus akui, apa yang dia miliki sedikit lebih baik dari apa yang aku miliki,” lanjutnya sambil menunjukkan keberadaan gelang di lengannya pada Wulan dan Sania.
“Kalau memang dia mampu menciptakan alat yang begitu luar biasa, kenapa dia tidak memperjualbelikan alat-alat ciptaannya? Bukannya dia bisa mendapatkan banyak keuntungan dengan menjual mahal alat-alat ciptaannya?” tanya Sania yang melihat nilai harga jual tinggi pada alat yang diciptakan Reinar.
Malvin menggelengkan kepala mendengar semua itu. “Alat ciptaannya memang luar biasa, tapi jika ala ciptaannya di jual bebas dan jatuh ke tangan orang yang salah, keberadaan alat ciptaannya besar kemungkinan disalah gunakan oleh mereka,” jawabnya.
Jawaban Malvin sangat masuk akal, membuat kedua wanita yang mendengarnya kompak menganggukkan kepala, dan mereka kembali mengarahkan fokus pandangannya kepada Reinar.
“Apa hanya itu yang bisa kalian lakukan untuk mengakhiri hidupku?” tanya Reinar yang saat ini berdiri tiga langkah di hadapan ketiga lawannya.
“Bukannya kalian tadi begitu ingin mengakhiri hidupku? Kenapa kalian tiba-tiba ketakutan saat aku berjalan mendekat? Apa sekarang kalian tahu seberapa besar perbedaan kekuatan diantara kita,” tanya Reinar beruntun sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.
Pria yang selama ini memperlihatkan profesinya sebagai seorang guru, tiba-tiba saja dia bersujud di hadapan Reinar. “Tu... Tuan Muda, maafkan aku! Ka... kalau Tuan Muda memaafkan aku dan memberi pengampunan, aa... aku berjanji bakalan setia dan menjadi pelaya Tuan Muda,” katanya dengan kening menyentuh lantai.
Arya dan Ragil yang melihat kelakuan pria, yang pangkatnya dalam kelompok Tubuh Besi lebih tinggi dibandingkan dengan mereka, keduanya segera melakukan apa yang dilakukan oleh pria itu, bersujud meminta maaf dan meminta pengampunan pada Reinar.
“Setelah apa yang kalian lakukan, sekarang kalian meminta maaf dan meminta pengampunan dariku! Apa kalian pikir aku begitu baik sampai harus memberi maaf dan pengampunan pada kalian?” ujar Reinar.
“Jelas aku bukan orang baik seperti apa yang kalian pikirkan. Setelah apa yang kalian lakukan, maaf dan pengampunan dariku hanya ada dalam angan-angan kalian karena pada akhirnya, aku bakalan membalas semua perlakuan kalian padaku!” katanya tegas.
__ADS_1
Tiga pria yang sedang bersujud di hadapan Reinar, ketiganya tahu kalau tak ada maaf serta pengampunan untuk mereka, setelah apa yang sudah mereka lakukan.
Menyadari semua itu, dengan gerakan yang sangat cepat, ketiganya mengeluarkan pisau lipat dari saku celana, dan bersamaan memasukkan pisau di tangan mereka kearah Reinar.
Bukannya berhasil melukai Reinar, pisau di tangan mereka justru bengkok, dan melukai jari tangan mereka. “Jika peluru tajam saja tidak dapat melukai tubuhku, apa kalian pikir pisau tumpul di tangan kalian dapat melukaiku? Ternyata anggota kelompok Tubuh Besi memang terdiri dari sekumpulan orang bosoh!” cibir Reinar sambil tersenyum sinis.
“Ka... kau, bagaimana manusia bisa memiliki kekuatan sepertimu? Kau pasti bukan manusia!” seru Ragil sambil mencoba menjauhi Reinar, tapi sayangnya gerakannya lebih lambat dari pukulan Reinar yang mengarah tepat ke wajahnya.
“Aku hanya manusia biasa sama seperti kalian, tapi jelas ada perbedaan besar diantara kita. Jika kalian bertiga terdiri dari orang-orang bodoh, aku adalah orang yang sangat mampu mengandalkan kepintaranku,” balas Reinar.
Sayangnya Ragil tidak lagi bisa mendengar balasannya, dikarenakan pria itu telah lebih dulu kehilangan kesadarannya, setelah terkena pukulan telak Reinar yang rasanya seperti dia dihantam potongan balok paling keras di seluruh muka bumi.
Ragil memang tidak mendengar, tapi dua pria lainnya jelas mendengar balasan Reinar, tapi belum juga merespon, Reinar sudah lebih dulu melayangkan pukulan ke arah wajah keduanya, dan tak lama nasib mereka sama seperti yang dialami Ragil. Tumbang, dan kehilangan kesadaran.
Tak lama setelah ketiganya tumbang dengan darah bercucuran dari lubang hidung mereka, tiga anggota assassin bayangan muncul, dan langsung membawa ketiganya ke tempat yang Reinar sendiri tidak tahu keberadaan tempat itu.
Reinar hanya tahu kalau nasib ketiganya tidak bakalan baik-baik saja, dan kemungkinan besar keberadaan mereka tak lagi dapat ditemukan dalam keadaan hidup. Kematian, itulah yang bakal mereka dapatkan setelah dibawa pergi anggota assassin bayangan.
Malvin, Wulan, serta Sania yang mendapatkan pertanyaan itu, bersamaan mereka menganggukkan kepala. “Seharusnya kami yang menanyakan semua itu padamu. Apa kamu baik-baik saja setelah apa yang terjadi?” Wulan memberi pertanyaan balik pada Reinar.
Mendengar itu Reinar tersenyum. “Aku sangat baik-baik saja,” jawabnya.
“Aku memang baik-baik saja, tapi sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini sebelum sekumpulan orang-orang merepotkan datang!” kata Reinar lalu dia dan yang lainnya pergi meninggalkan mall melalui tangga darurat, yang membawa mereka langsung ke tempat parkir mobil.
Tak lama setelah kepergian mereka, polisi yang mendapat laporan dari pengurus mall datang, dan melihat keadaan restoran yang sudah porak-poranda.
Polisi sudah berusaha cepat datang, tapi tetap saja mereka datang terlambat.
Mereka tidak menemukan apapun ditempat kejadian perkara, selain tiga buah pistol serta tiga buah pisau lipat yang sudah bengkok, dan tak lagi dapat digunakan.
Saat mereka mengecek rekaman CCTV di tempat kejadian perkara, dan kebetulan ada sekitar lima kamera CCTV yang mengarah ke tempat itu, mereka tak dapat mengoperasikan kamera CCTV dikarenakan ada yang sedang mengoperasikan kamera CCTV dari kejauhan.
Di layar yang seharusnya menayangkan tangkapan gambar kamera CCTV, saat ini layar hanya menunjukkan sebuah foto tengkorak kepala manusia, dan seluruh petugas tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengembalikan fungsi kamera CCTV.
__ADS_1
“Sepertinya kita sedang berurusan dengan kelompok besar, yang tentu kemampuan kita tidak cukup untuk melawan mereka,” kata salah satu polisi.
Rekannya yang mendengar itu menganggukkan kepala, sadar dengan keterbatasan kemampuannya.
“Bukan hanya kamera CCTV di tempat kejadian perkara yang tidak berfungsi untuk kita, tapi seluruh kamera CCTV maal, bahkan kamera CCTV bangunan di sekitaran mall juga tidak berfungsi...”
“Melihat apa yang sedang terjadi, sepertinya bukan ranah kita ikut campur dalam kasus ini,” kata komandan yang memimpin anggotanya mendatangi mall.
Komanda menyimpulkan kalau masalah malam ini adalah murni permasalahan antar kelompok dunia bawah, yang tidak mungkin dapat diselesaikan oleh anggota biasa seperti dirinya, maupun oleh anggotanya.
Semua masuk dalam ranah anggota kepolisian khusus, dan kasus ini bakal segera dilimpahkan pada mereka yang berkompeten.
“Tak ada korban maupun kerusakan berarti. Kita bisa segera pergi meninggalkan tempat ini, dan melimpahkan kasus di tempat ini pada komandan kepolisian yang memimpin anggota khusus!” kata sang komandan, lalu dia memimpin anggotanya meninggalkan mall.
Akan tetapi, baru juga ingin pergi meninggalkan mall, salah satu petugas kebersihan mall dengan wajah panik berlari menghampiri sang komandan.
Setelah mengatur pernapasan dan memenangkan dirinya, petugas kebersihan mall mulai berkata, “Aa... ada mayat di toilet lantai pertama. Bu... bukan hanya satu, ta... tapi ada tumpukan mayat!” Tak lagi sanggup mengontrol rasa takut setelah menemukan keberadaan mayat di toilet yang ingin dia bersihkan, petugas kebersihan itu pingsan setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Tak ingin menunda melihat tumpukan mayat di kamar mandi, sang komandan memberi perintah pada anggotanya yang merupakan dokter kepolisian memeriksa petugas kebersihan yang pingsan.
Sedangkan dirinya dan anggota yang lain langsung saja pergi menuju toilet di lantai satu untuk melihat secara langsung keberadaan tumpukan mayat di tempat itu.
Tanpa rasa takut dan was-was, sang komandan langsung saja masuk kedalam toilet yang dari beberapa meter dari toilet saka sudah tercium bau amis darah.
Masuk kedalam toilet, sang komandan dan anggotanya terkejut melihat tumpukan mayat, yang masih terlihat darah segar mengalir dari mayat yang ditumpuk selayaknya sampah.
“Cepat kalian amankan tempat ini! Bentangkan garis polisi dan larang siapapun yang tidak berkepentingan memasuki tempat ini!” perintah tegas sang komandan.
Semua anggota cekatan menjalankan perintahnya, sedangkan sang komandan masih setia melihat keberadaan tumpukan mayat. “Orang-orang dunia bawah memang kejam. Mereka tak pernah memberi ampun pada musuhnya.” gumamnya lirih.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1