
“Bukannya kalian tadi berada tepat di belakang mobil kami, kenapa kalian baru datang tiga puluh menit setelah kami datang?” Mendengar pertanyaan Bella, Reinar menjelaskan kejadian yang dialaminya setelah membantu seorang nenek menyeberangi jalan. Semua dia ceritakan lengkap pada mereka, tanpa ada sedikitpun kejadian yang ditutupinya.
Mendengar jawaban Reinar, Bella dan dua wanita lainnya seketika panik. Mereka memutar-mutar tubuh pria itu, mencari apa ada bagian yang terluka. Namun tak lama mereka bernapas lega karena pria mereka baik-baik saja.
“Kalian hanya mengkhawatirkan kakak ipar, tapi kalian melupakan keberadaanku yang saat itu juga berada di tempat kejadian perkara.” Malvin memasang wajah melas di hadapan para wanita Reinar, tapi sayangnya tidak ada yang iba dengan wajah memelasnya, termasuk Sarah yang merupakan kakak kandungnya.
“Aish sudahlah, tidak ada yang perlu di khawatirkan darimu karena aku tahu kamu pasti cuma jadi penonton!” Tebakan Sarah seratus persen benar. “Daripada berdiam diri di situ, lebih baik bantu kami memasukkan barang-barang ke dalam rumah!” Sarah memberi perintah pada Malvin yang hanya nyengir di samping mobil.
Malvin menganggukkan kepalanya, dan mulai membantu para wanita memasukkan barang. Barang-barang mereka cukup banyak, tapi berkat Reinar yang sangat cekatan dalam memindahkan barang-barang dari dalam mobil ke dalam rumah, dalam waktu yang relatif singkat, semua barang berhasil dipindahkan.
Bella dan Sarah menempati kamar di lantai dua, begitu juga dengan Erina. Untuk Reinar dan Malvin, mereka menempati kamar di lantai satu. “Sungguh rumah yang sangat besar dan luas selayaknya istana. Aku tidak bisa membayangkan seberapa banyak uang yang dihabiskan untuk membangun rumah seperti ini.” Malvin sangat takjub akan rumah tiga lantai yang sekarang ditempatinya.
Reinar hanya tersenyum mendengar itu, tapi seketika pandangannya tertuju kepada mobil yang baru memasuki halaman rumah. Saat ini dia dan Malvin berada di balkon rumah di lantai tiga. Dari tempat mereka, jelas dapat melihat mobil yang berhenti tepat di halaman rumah.
Dengan mata tembus pandang Reinar dapat melihat siapa yang datang, tapi dia tidak menyangka ada wanita lainnya yang datang bersama wanita yang sejak awal kedatangannya sangat ditunggu oleh dirinya, dan yang lainnya. “Malvin, sebaiknya kita cepat turu dan menyambut kedatangan mereka! Kebetulan, salah satu dari mereka yang datang adalah seseorang yang selama ini sangat ingin aku perkenalkan pada kalian.”
__ADS_1
Reinar langsung saja berlari menuju lantai satu dengan sangat bersemangat. Dia sama sekali tidak menyangka kalau hari ini dapat bertemu dengan wanita yang sangat dirindukannya. “Aku masih berencana menemuinya, tapi aku sama sekali tidak menyangka dia yang lebih dulu menemuiku.” Wanita yang sangat dirindukan Reinar adalah Indah, ibunya sendiri.
“Ibu...” Reinar berlari ke arah ibunya dan langsung memeluk wanita yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tak lagi muda. Usia Indah memang tak lagi kuda, tapi soal kecantikan dia bisa disandingkan dengan para wanita putranya.
Sementara itu, Indah yang dipeluk putranya, dia tersenyum senang dan membalas pelukan putranya dengan pelukan kasih sayang seorang ibu pada putranya.
“Putra ibu sudah dewasa, dan ibu tidak menyangka ada empat wanita cantik yang rela menjadi kekasih dari anak manja ini.” Sehari yang lalu Wina mendatangi kampung halaman Reinar dengan ditemani puluhan pengawal. Kedatangannya tentu untuk menemui indah. Sedangkan Indah setelah bertemu dan mendengarkan cerita Wina, dia memutuskan untuk pergi ke ibukota bertemu dengan putranya.
Saat di rumah Wina menceritakan kalau dirinya adalah calon istri putranya, tapi saat di perjalanan menuju ibukota, dirinya baru diberitahu Wina kalau masih ada tiga wanita lainnya yang merupakan calon istri putranya. Awalnya dirinya tidak percaya mendengar semua itu, tapi setelah melihat foto putranya bersama dengan beberapa wanita yang dimaksud Wina, perlahan dirinya mulai percaya.
Apa lagi setelah melihat keberadaan para wanita di foto yang menyambut langsung kedatangannya, Indah hanya bisa menghela napas. Putranya yang lahir dan tumbuh di pelosok, ternyata dapat menaklukkan empat wanita cantik dari kota besar, dan sepertinya mereka berempat bukan berasal dari kalangan keluarga biasa. Setidaknya itulah kesan pertama Indah terhadap keempat calon menantunya.
Indah menganggukkan kepala, sambil menunjukkan senyuman di bibirnya. “Nak Wina sebenarnya hanya datang untuk menemui ibu, dan menceritakan semua yang kamu alami di ibukota. Untuk ibu yang sekarang bisa berada di hadapanmu, itu semua karena ibu ingin mendampingi kamu yang ingi menikahi putri dari teman lama mendiang ayahmu. Namun ibu benar-benar tidak menyangka, kamu memiliki tiga wanita lainnya, yang juga ingin menikah denganmu.”
Reinar tersenyum malu mendengar perkataan ibunya. “Ibu tenang saja, meskipun nantinya aku memiliki empat orang istri, aku akan bersikap adil pada mereka, dan tidak akan membedakan status mereka sebagai istriku. Tidak ada yang pertama, kedua, ketiga, atau yang keempat karena mereka semua adalah istriku.”
__ADS_1
Indah yakin putranya dapat melakukan itu, tapi dirinya ragu apa putranya mampu membahagiakan mereka tanpa penghasilan yang mencukupi. Dari Wina dirinya tahu putranya telah menjadi bagian dari pasukan elite yang gajinya tidaklah sedikit, tapi gaji yang tak sedikit itu dirasanya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keempat wanitanya.
Wajah Indah menunjukkan kekhawatiran, dan Reinar tahu apa yang menjadi sumber kekhawatiran ibunya. “Ibu tenang saja, selama ini aku sudah memiliki penghasilan lain selain penghasilan sebagai anggota pasukan elite. Dengan seluruh penghasilanku, itu semua lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan ibu dan mereka.” Reinar memberikan buku rekeningnya pada ibunya, supaya ibunya melihat sendiri berapa jumlah uang tabungannya.
“I... ini! Bukannya ini sangat banyak?” Tangan Indah gemetaran memegang buku tabungan Reinar yang sebelumnya telah diperbaharui oleh sistem. Kalau hanya memegang buku tabungan, Indah sudah sering melakukannya. Tangannya gemetaran bukan karena memegang buku tabungan, tapi semua itu terjadi setelah dia menghitung jumlah angka nol dalam tabungan putranya.
“Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Apa kamu telah melakukan banyak pekerjaan melanggar hukum selama tinggal di ibukota? Kalau semua uang ini hasil kejahatan, sebaiknya segera kembalikan semua uang ini pada pemiliknya!” Indah tidak berharap putranya melakukan kejahatan, tapi dia tidak tau bagaimana putranya bisa memiliki uang sebanyak itu.
Reinar hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan ibunya. “Ibu tenang saja, selama tinggal di ibukota aku sama sekali tidak pernah terlibat dalam kegiatan melanggar hukum. Uang itu murni dari hasil kerja kerasku.” Tentu Reinar tidak mengatakan kalau ada sistem yang membantunya mendapatkan uang sebanyak itu.
“Kalau memang bukan dari sesuatu yang melanggar hukum di negara ini, darimana kamu mendapatkan semua uang ini?” Indah sangat penasaran dengan darimana putranya mendapatkan begitu banyak uang hanya dalam dua setengah tahun tinggal di ibukota.
Reinar menceritakan semua uang itu dari hasil investasi. Dengan kepintarannya dia menaruh uang tabungannya di tempat yang tepat, dan uang itu semakin bertambah seiring berjalannya waktu.
"Mulai sekarang ibu tidak perlu takut kehabisan uang karena aku akan memberi sebanyak apapun yang ibu inginkan.” Uang bagi Reinar bukanlah segalanya, yang utama bagi dirinya adalah kebahagiaan ibu dan orang-orang yang di sayanginya. Selama mereka bahagia, Reinar tidak akan sungkan menghabiskan seluruh uangnya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.