Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 36. Terkepung Musuh Dari Empat Arah Berbeda


__ADS_3

“Sepertinya mereka akan tertidur untuk waktu yang lama.” Reinar melihat keadaan kedua kakak iparnya yang menuai hasil buruk dari apa yang mereka lakukan. Maksud ingin mengerjai calon adik ipar, kini justru mereka yang terbaring tak berdaya untuk belasan jam ke depan.


Sedangkan Erina dan Wina, mereka hanya bisa menggelengkan kepala karena kekhawatiran mereka benar adanya.


“Sejak awal memang mereka berdua yang harus kita khawatirkan.” Dengan semua yang dimiliki Reinar, Erina beranggapan kalaupun ada sepuluh orang seperti kedua kakaknya, mereka semua masih belum cukup untuk mengimbangi apa yang dimiliki oleh Reinar.


“Sebaiknya kita biarkan mereka beristirahat dengan tenang, dan bagaimana kalau hari ini kita memilih pakaian untuk acara pernikahan? Namun sebelum melakukan itu, sebaiknya kita pulang menjemput Bella, Sarah, dan calon ibu mertua!” Wina berkata pada Erina.


Erina menganggukkan kepala setuju. Menoleh dan mengarahkan pandangan ke arah Reinar, keduanya melihat pria itu menganggukkan kepala yang menandakan kalau dia juga setuju.


Setelah pamit pada keempat wanita yang hari ini rencananya hanya berdiam diri di rumah, dengan mengendarai mobil milik Erina, Reinar dan kedua wanitanya pergi meninggalkan rumah keluarga Bagaskara. Erina kembali duduk di kursi pengemudi, Reinar duduk di sampingnya, sedangkan Wina merebahkan tubuh di kursi belakang.


Tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai di rumah kedua keluarga Bagaskara, yang sebenarnya rumah itu sejak beberapa hari lalu telah berganti kepemilikan, menjadi milik Reinar.


Mobil terparkir di halaman rumah kemudian tiga orang di dalam mobil keluar untuk bertemu mereka yang berada di dalam rumah. Di dalam rumah terlihat Indah sedang bersantai sambil menikmati acara TV. Bella dan Sarah yang sedang berolahraga, dan terakhir ada Maovin yang sedang fokus dengan layar laptop miliknya. Merasa ada yang aneh dengan Malvin, Reinar berjalan mendekati pria itu dan melihat apa yang sedang dilihatnya.


“Mereka orang-orang yang sejak setengah jam yang lalu aku awasi, dan mereka bukan hanya terdiri dari satu kelompok. Setidaknya ada lima kelompok seperti mereka di kompleks perumahan ini.” Menyadari Reinar berdiri di sampingnya, Malvin menyampaikan apa yang sejak tadi dia awasi.


Reinar fokus melihat sekelompok orang di tempat berbeda yang keberadaan mereka teramati oleh kamera CCTV perumahan. “Tato ular kobra berwarna merah. Sepertinya mereka semua anggota organisasi Red Cobra.”


“Wina, retas seluruh kamera CCTV di seluruh komplek perumahan. Erina, Bella dan Sarah, kalian jaga rumah! Biar aku dan malvin yang membereskan mereka.” Semua orang dengan jelas mendengar perkataan Reinar.

__ADS_1


Semua orang segera melakukan persis seperti mereka yang dikatakan Reinar. Indah sendiri dia akan membantu menjaga rumah. Meski ada belasan penjaga yang melakukan penjagaan, mereka semua tentunya bukan lawan sepadan untuk anggota oraganisasi Red Cobra.


Wina segera meretas seluruh kamera CCTV seperti yang diinginkan Reinar. Erina, Bella dan Sarah, mereka telah bersiap di lantai tiga rumah, mengawasi secara langsung keadaan di sekeliling rumah. Dari kamera CCTV, sempat terlihat ada satu kelompok anggota organisasi Red Cobra yang terdiri dari tujuh orang berada tak jauh dari rumah mereka.


Indah yang juga sudah bersiap dengan senjata di tangan, dia memilih menjaga keselamatan Wina yang bertugas mengumpulkan informasi keberadaan musuh. Mereka semua telah menggunakan saluran komunikasi jarak jauh yang saling terhubung. Jadi, sejauh apapun jarak diantara mereka, mereka semua masih bisa saling berkomunikasi.


“Malvin kita langsung bergerak!” Setelah bersiap, Reinar dan Malvin langsung bergerak menuju kelompok musuh yang berada pada posisi paling jauh.


Menggunakan layar HP yang terhubung dengan kamera CCTV seluruh komplek perumahan, Reinar dan Malvin bergerak ke tempat musuh yang berjarak lima ratus meter dari posisi mereka saat ini. “Tepat dan cepat, kita harus membunuh mereka tanpa harus membuat suara keributan yang membuat kelompok lainnya mengetahui pergerakan kita!” Malvin mengangguk mendengar apa yang dikatakan Reinar.


Reinar memang kakak iparnya, tapi di angkatan pasukan elite, Reinar seharusnya menjadi juniornya. Namun, setelah melihat sendiri seperti apa keaglian Reinar, Malvin harus mengakui kalau dirinya kalah jauh dibandingkan Reinar.


Berkesempatan melihat langsung aksi Reinar merupakan kesempatan terbaik bagi Malvin untuk belajar banyak hal dari pria itu, dan tentu dia tidak akan membuang sia-sia kesempatan yang sekarang dimilikinya.


Keduanya akan saling memunggungi untuk menghindari adanya serangan diam-diam dari sisi lain. Meskipun sebenarnya semua itu tidak perlu dilakukan karena adanya mata tembus pandang milik Reinar. Musuh yang bersembunyi di lubah semut sekalipun pasti dapat ditemukannya.


“Mari kita mulai!” Melihat keberadaan musuh berada di balik pagar di sampingnya, Reinar langsung saja melomoati pagar dan menyerang mereka. Ada tujuh orang musuh, dan masing-masing memegang senjata tajam dan senjata api.


Kemunculan Reinar yang begitu tiba-tiba dan kecepatannya yang begitu cepat, membuat dia musuh dengan mudah mati di tangan belati yang dipegang Reinar. Tersisa lima pria, mereka ingin menggunakan senjata api menyerang Reinar, tapi jarak yang terlalu dekat membuat mereka hanya bisa bertarung menggunakan senjata tajam.


Malvin yang pergerakannya lebih lambat, sekarang dia berhadapan dengan salah satu musuh, sedangkan Reinar saat ini dikepung empat musuh dari empat sisi yang berbeda.

__ADS_1


“Mau main keroyokan? Keroyokan sekalipun hasilnya tetap sama. Kalian semua sudah ditakdirkan mati ditanganku.”


Kombinasi kecepatan, kelincahan, dan gerak reflek yang sangat mengerikan. Sosok Reinar sama sekali tidak tersentuh oleh empat orang yang menjadi lawannya.


Sementara itu, Malvin yang berharap dengan salah satu anggota organisasi Red Cobra, dia mungkin sudah mati berkali-kali karena seringnya senjata lawan gagal dihindarinya. Namun berkat peralatan pemberian Reinar, dia sama sekali tidak mengalami luka luar maupun luka dalam.


Sedangkan lawannya, dia mulai putus asa saat senjatanya sama sekali tidak berhasil melukai musuh, meski dia yakin berkali-kali senjatanya mengenai musuh. “Sial! Apa mungkin tubuhnya kebal terhadap berbagai jenis senjata? Kalau tubuhnya memang kebal, bukan pilihan terbaik melawannya satu lawan satu.”


Melihat lawannya goyah karena tak kunjung dapat melukai tubuhnya, untuk pertama kalinya serangan Malvin mengenai lawannya. Belati di tangannya menggores perut lawan cukup dalam, membuat darah segar mengucur deras dari bagian perut lawannya.


Tak memberi kesempatan lawannya untuk kembali bangkit, Malvin langsung saja menerjang lawannya, dan berkali-kali dia melayangkan serangan ke orang itu. Setelah berkali-kali terkena serangannya, akhirnya lawan Malvin mereganh nyawa dengan luka di sekujur tubuhnya.


Mengakhiri pertempurannya dengan kemenangan, Malvin mengarahkan pandangannya ke arah pertempuran Reinar. Pertempuran empat lawan satu, meski seorang diri melawan empat orang, Reinar dengan begitu mudah mendominasi jalannya pertempuran, bahkan lawannya tak sedikitpun dapat menyentuh tubuhnya.


“Kecepatan, kelincahan, serta reflek kakak ipar sangatlah luar biasa. Empat lawannya dibuat tidak berdaya dengan semua itu. Bukan hanya itu, kekuatan kakak ipar juga bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh!” Malvin mengatakan itu setelah melihat salah satu lawan Reinar terlempar terkena pukulan yang membuatnya langsung kehilangan kesadaran.


Tersisa tiga orang Reinar dengan cepat mengakhiri hidup mereka. Skill beladirinya sudah berada di tingkat master, dan semua yang dimilikinya sudah melampaui kekuatan manusia pada umumnya. Dengan semua itu, Reinar memiliki banyak keuntungan jika harus melakukan pertarungan jarak dekat.


“Satu kelompok berhasil dibereskan. Sisa lima kelompok yang harus secepatnya kita bereskan sebelum mereka sadar jika kelompok paling jauh telah berhasil kita bereskan!” Reinar dan Malvin mengumpulkan mayat dalam satu tempat. Beruntung tempat pertempuran berada di rumah kosong yang belum peroenghuni, jadi tak akan ada yang berteriak histeris karena menemukan keberadaan tumpukan mayat.


Sedangkan Wina yang mengawasi pergerakan musuh dan juga mengawasi pergerakan Reinar dan Malvin, dia segera menghubungi tim pembersih untuk membersihkan mayat musuh. “Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada mereka.” Wina bergumam lirih sambil terus mengawasi pergerakan kelompok yang diketahui berasal dari asosiasi Red Cobra.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2