
Belasan orang muncul dan langsung menembakkan senjata ke arah Reinar. Rita yang melihat semua kejadian dari kejauhan, dia hanya bisa memerintahkan keamanan hotel menyerang orang-orang yang menyerang Reinar.
Namun, belum juga petugas keamanan memberi bantuan, mereka dikejutkan dengan kejadian yang tidak mungkin mereka percayai, kalau tidak melihatnya secara langsung menggunakan mata kepala sendiri.
Mereka melihat seluruh peluru tajam yang mengarah pada Reinar berubah menjadi butiran debu di jarak satu meter sebelum mengenai target.
Ini kali pertama mereka melihat kejadian yang sangat menakjubkan. Bukan hanya mereka yang takjub, tapi Rita yang melihat dari kejauhan juga takjub dengan apa yang dilihatnya.
Seumur hidupnya baru kali ini ada kekuatan yang mampu menahan peluru, dan itu bukanlah rompi anti peluru maupun besi tebal. Apa yang dilihatnya adalah perisai cahaya, yang muncul dan memberi perlindungan mutlak pada Reinar.
Sementara itu, Reinar yang terus ditembaki dari berbagai arah, dia hanya diam di tempat sambil mencari kesempatan yang tepat untuk melakukan serangan balik.
“Karena kalian sudah membuka serangan terlebih dahulu, sekarang sudah saatnya giliranku melakukan serangan balasan, dan semoga kalian masih bisa bertahan sampai peluru terakhir keluar dari pistolku.” Reinar berkata begitu santai, dan dengan penuh ketenangan dia mulai melakukan serangan balasan.
“Door... Door... Door...” Peluru tajam terus melesat dari pistol di tangan Reinar, dan tak satupun peluru meleset dari sasaran.
Satu-persatu orang-orang mulai bertumbangan, bahkan kematian mendatangi mereka sebelum sempat menjerit kesakitan.
Satu peluru untuk satu orang, dan setelah enam belas peluru ditembakkan Reinar keadaan tempat itu sekarang benar-benar hening.
Keadaan di tempat itu memang hening, tapi dari kejauhan Reinar dapat melihat kedatangan orang-orang yang lebih banyak dari sebelumnya.
Jumlah mereka yang dalam perjalanan berjumlah lebih dari empat puluhan orang, dan terdapat dua orang membawa persenjataan berat berupa senjata penghancur tank baja yang saya hancurnya lebih dari cukup untuk menghancurkan seluruh mobil di parkiran.
Reinar bisa merasakan bahaya besar dari dua senjata yang seharusnya tidak bebas di perjual belikan, tapi adanya pasar gelap, asalkan ada uang, barang apapun dapat dibeli di pasar gelap.
Mengetahui bahaya itu, Reinar buru-buru pergi ke tempat dua orang yang membawa persenjataan berat. Dengan kecepatannya yang sangat cepat, hanya dalam hitungan detik Reinar telah berada di belakang dua orang yang membawa dua buah persenjataan berat.
Membawa persenjataan berat membuat keduanya tertinggal beberapa langkah di belakang rekan mereka, dan semua itu membuat Reinar tidak kesulitan menyingkirkan keduanya.
Tak perlu menggunakan senjata api, Reinar hanya memukul leher keduanya, dan itu lebih dari cukup untuk menyumbangkan mereka. “Dua senjata berbahaya telah berhasil aku amankan.” Reinar bergumam lirih, kemudian dia berlari ke tempat semula sambil membawa dua senjata hasil rampasan.
__ADS_1
Empat puluhan orang hampir sampai di parkiran, tapi kelompok yang datang bersama dua orang pembawa senjata berat, mereka baru sedar kalau dua orang itu tak lagi kelihatan.
“Kemana mereka? Bukannya tadi hanya tertinggal beberapa langkah di belakang kita?”
“Sebaiknya kita cari mereka karena mereka membawa apa yang kita butuhkan untuk menghancurkan hotel ini!”
Mereka mencoba mencari dua rekan yang menghilang, tapi belum juga pergi Reinar tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
“Kalian tidak perlu mencari mereka karena kedua orang itu sudah beristirahat dengan tenang.” Reinar berkata sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.
Semua orang menatap aneh keberadaan Reinar, tapi saat mereka melihat senjata di belakang punggung Reinar, mereka segera sadar dengan arti perkataan Reinar.
“Serang dia! Dia adalah orang yang telah membunuh banyak rekan kita.” Mendengar perkataan salah satu dari mereka, orang-orang yang jumlahnya lebih dari dua puluhan orang, bersamaan mereka menyerang Reinar.
Puluhan bahkan ratusan peluru terus menghujani tubuh Reinar, tapi semua peluru tajam tak satupun mengenai tubuhnya, bahkan seluruhnya berubah menjadi abu sebelum mengenai tubuh Reinar.
“Kalau hanya peluru biasa seperti itu, sampai kapanpun kalian tidak mungkin dapat membunuhku! Jangankan membunuh, melukaiku saja kalian tidak mungkin mampu melakukannya.” Reinar senang memancing emosi musuh dan benar saja, apa yang baru dia katakan berhasil menyulut emosi musuhnya.
Reinar hanya menggelengkan kepala melihat mereka yang memilih melakukan pertempuran jarak dekat dengannya, dan hanya dengan tangan kosong dia melesat maju menyambut serangan mereka.
Sampai di jarak kedua belah pihak bisa saling melakukan serangan, bukannya menghindari serangan senjata tajam, Reinar justru menepia senjata tajam menggunakan tangan kosong, tapi liar biasanya tangannya baik-baik saja, justru senjata mereka yang patah setelah beradu dengan tangannya.
“Peluru saja tidak bisa membunuhku, apalagi senjata mainan kalian. Kalian hanya datang untuk kematian.” Tak lagi hanya menahan serangan, Reinar mulai melakukan serangan balik.
Menari tangan musuhnya, “Krek...” dia mematahkan lengan itu, membuat musuhnya menjerit kesakitan. Mencengkram leher musuhnya, “Krakk...” leher itu patah memberikan kematian instan pada musuhnya.
“Bugh... Bugh... Bugh...” Tiga pukulan mengenai dada tiga orang berbeda, membuat ketiganya jatuh tersungkur, kejang-kejang sambil memuntahkan darah, dan tak lama mereka mati.
Reinar terus saja melakukan serangan. Gerakannya yang cepat dan tepat membuat musuh-musuhnya tidak bisa menghindar, dan pada akhirnya mereka semua mati dalam keadaan mengenaskan.
“Sekarang giliran kalian!” Belum puas dengan kematian belasan orang yang melakukan pertarungan jarak dekat dengannya, sekarang Reinar mengincar mereka yang masih memegang senjata api di tangannya.
__ADS_1
Sementara itu, melihat musuh masih berdiri tegak sedangkan rekan-rekan mereka mati, belasan orang yang tersisa kembali mengarahkan peluru-peluru tajam ke arah Reinar.
Dari sisi lain, dua puluhan orang lainnya yang sebelumnya menuju parkiran, mere datang ke tempat pertempuran yang berada di luar area parkir, dan langsung saja ikut mengarahkan tembakan ke arah Reinar, tapi semua itu sangatlah sia-sia karena tak ada satupun peluru yang mampu menembus pertahanan Reinar.
Mereka telah menghabiskan seluruh peluru yang ada, tapi tak satupun peluru mampu menembus pertahanan Reinar. “Monster, dia monster! Sebaiknya segera pergi dari tempat ini! Kita tidak mungkin dapat membunuh monster sepertinya!” Salah satu anggota Mafia kelelawar hitam berteriak dan mencoba pergi melarikan diri.
Namun, belum juga dia pergi terlalu jauh, sebuah peluru tajam yang begitu panas tiba-tiba menembus bagian belakang kepala, dan tembus sampai ke keningnya.
Seketika orang itu roboh, dan tak lama kematian datang menghampirinya.
“Kalau aku tidak membiri izin pada kalian pergi dari tempat ini, artinya kalian harus tetap berada di tempat ini! Bagi siapapun yang pergi, dia akan mengalami nasib yang sama seperti orang itu.” Reinar menunjuk pria yang baru saja terkena tembakannya.
“Kalian yang tetap dia di tempat, setidaknya kalian masih bisa tetap hidup, tapi itu tidak lama karena aku sangat menginginkan kematian kalian semua.” Reinar menyeringai, dan berbekalkan senjata mereka yang telah mati di tangannya Reinar menggunakan senjata itu untuk menembaki musuh yang segera lari mencari tempat perlindungan.
Namun semua sudah telat. Belum juga mereka menemukan tempat persembunyian, peluru tajam yang ditembakkan Reinar lebih dulu bersarang di tubuh mereka, dan memberikan kematian secara instan.
Satu-persatu dari mereka mulai bertumbangan, dan tak ada yang bertumbangan di satu tempat yang sama. Mereka berpencar ke berbagai arah demi mendapatkan tempat persembunyian, tapi pada akhirnya mereka semua mati sebelum mendapatkan tempat persembunyian.
“Kalau saja aku tidak memiliki misi dengan hadiah yang sangat menarik, mungkin aku hanya melukai kalian. Namun karena misiku mewajibkan kalian semua mati, terpaksa aku membunuh kalian semua.” Reinar memastikan semua orang telah mayi, kemudian dia mengirim pesan pada Rita untuk melakukan pembersihan.
Kurang dari satu jam seluruh anggota Mafia kelelawar hitam yang berada di sekitaran holy night hotel telah mati, dan apa yang dilakukan Reinar bisa dikatakan sebagai pembantaian satu arah karena dia hanya seorang diri, tapi berhasil menghilangkan nyawa puluhan orang.
“Maaf membuat kalian menunggu!” Setelah memasukkan dua senjata hampir rampasan, Reinar masuk kedalam mobilnya, dan menyapa ketiga wanita di dalam mibil. Erina dan Eliza terlihat biasa-biasa saja dengan apa yang baru dilakukan Reinar, berbeda dengan Cleo yang masih terkejut dengan cara Reinar menyingkirkan seluruh musuh yang menghalangi jalannya.
“Aku tidak tahu kenapa kamu harus capek-capek dan mengotori tubuh untuk membunuh mereka semua, padahal kamu cukup mengusir mereka dari tempat ini. Namun, sepertinya kamu ada alasan tersendiri kenapa melakukan semua itu.” Erina berkata pada Reinar, saat pria itu mulai mengendarai mobil.
“Aku hanya ingin sedikit berolahraga, jadi aku menjadikan mereka sebagai teman olahragaku.” Reinar menjawab seadanya, kemudian dia mulai fokus mengemudikan mobil.
...----------------...
Bersambung...
__ADS_1