
“Apa kamu ingin pergi mengunjungi keluargaku? Kalau iya, biar aku dan Wina yang menemanimu pergi bertemu mereka.” Erina menawarkan diri menemani Reinar bertemu keluarganya. Untuk Wina, tanpa ditanya tentunya dia sangat tidak keberatan pergi menemani calon suaminya.
Reinar menganggukkan kepala. “Apa kalian berdua tidak ada yang ingin ikut?” Mendengar pertanyaan Reinar, Bella dan Sarah menggelengkan kepala. “Kalau kalian tidak ikut, tolong temani ibuku!” Reinar berkata sambil menunjukkan senyuman lembut di wajahnya.
“Tanpa kamu minta kami pasti menemani ibu, benarkan Bel?” Sarah berkata sambil mengarahkan pandangan pada Bella, yang hanya membalas dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
“Kamu tenang saja, kami akan menemani ibu, dan menjaganya. Mungkin justru kami yang dijaga ibu.” Bella berkata pada Reinar sambil memeluk lengan Indah yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.
Reinar tersenyum mendengar itu. “Jangan dulu keluar rumah sebelum situasi benar-benar aman. Kalau diantara kalian ingin keluar, tunggu aku kembali, dan setelahnya kita bisa keluar bersama-sama.” Reinar tidak ingin ada yang keluar dari rumah sebelum situasi benar-benar aman. Kalau ada yang ingin keluar, setidaknya harus didampingi dirinya.
Indah, Bella, dan Sarah menganggukkan kepala. Mereka mengerti dengan kekhawatiran Reinar. “Kakak ipar jangan melupakan aku. Walau kekuatanku tak seberapa, tapi aku setidaknya memiliki sedikit keunggulan dibandingkan prajurit yang menjaga rumah ini.” Malvin tidak ingin keberadaannya hanya menjadi pelengkap.
“Baiklah, selama aku pergi keamanan rumah aku serahkan padamu! Awasi setiap pergerakan mencurigakan di sekitar rumah, dan segera laporkan padaku jika ada masalah yang tidak bisa kamu tangani!” Reinar mengatakan itu pada Malvin, dan setelahnya dengan ditemani dua wanita dia pergi ke rumah keluarga Bagaskara, untuk bertemu dengan seluruh anggota keluarga Bagaskara.
Mengendarai mobil milik Erina, mereka pergi menuju rumah keluarga Bagaskara. Sepuluh menit perjalanan semua berjalan lancar, tapi saat melewati ruas jalanan yang cukup sepi, terlihat dua mobil mengikuti mobil yang dikendarai Erina. Curiga dengan dua mobil di belakangnya, dengan mata tembus pandang, Reinar melihat apa yang ada di dalam kedua mobil itu.
“Masing-masing mobil terdapat delapan orang. Empat orang memegang senapan serbu, dan empat lainnya bersenjatakan pistol. Mereka sepertinya akan menyerang begitu kita melewati bukit sebelum sampai di rumah keluarga Bagaskara.”
Reinar mengatakan semua itu pada Erina yang juga mencurigai keberadaan dua mobil di belakang mobilnya. Mendengar perkataan Reinar, Erina berinisiatif menekan pedal gas, mempercepat laju mobilnya.
“Menambah kecepatan bukan ide baik. Dalam kecepatan tinggi kita hanya akan celaka seandainya mereka menembak roda belakang mobil ini. Aku sarankan kita turun dan lawan mereka! Berapapun butir peluru yang mereka miliki, semua itu tidak akan mampu melukai kita.” Mendengar perkataan Reinar, Erina dan Wina baru teringat tentang cincin di tangan mereka.
__ADS_1
Mengingat itu, langsung saja Erina menghentikan laju mobilnya di jalanan yang kebetulan sangat sepi. Dua mobil yang sebelumnya mengikuti dari belakang, keduanya berhenti tepat di depan Erina, dan orang-orang di dalam mobil satu-persatu mulai keluar.
Mereka semua memegang senjata, dan mengarahkan senjatanya ke arah mobil Erina. Bukannya takut ditodong banyak senjata. Reinar, Erina dan Wina, mereka dengan tenang keluar dari mobil, dan ketiganya menatap orang-orang yang mengarahkan senjata ke arah mereka.
“Ternyata kalian lebih memilih keluar dan menyerahkan diri pada kami. Bagus, segera berlutut dan angkat kedua tangan kalian keatas!” Salah satu orang yang menodongkan senjata ke arah Reinar dan dua wanitanya, dia menganggap targetnya telah menyerah.
“Siapa juga yang memilih menyerahkan diri? Kami keluar karena kami menginginkan nyawa kalian!” Reinar menarik keluar dua pistol dari belakang punggungnya, sebenarnya kedua pistol tidak pernah ada di tempat itu, dan sebenarnya dia mengambilnya dari ruang penyimpanan sistem.
Begitu dua pistol berada di tangannya, dia langsung menembak dua orang yang memegang senapan serbu. Dua peluru melesat menembus kepala keduanya, dan seketika keduanya tumbang dengan darah mengucur deras keluar dari kening mereka.
Melihat dua rekan mereka tumbang, enam orang lainnya menggunakan senjata api di tangan mereka menyerang Reinar dan kedua wanitanya. Dalam jarak yang sangat dekat, mereka memberondong target yang harus dibunuh dengan puluhan bahkan ratusan butir peluru. Namun, mereka melihat keanehan saat melihat peluru yang mereka tembakan jatuh sebelum mengenai target.
“Sekarang giliran kaki menyerang.” Erina yang menyimpan pistol di belakang punggungnya, dia menggunakan pistol itu untuk membunuh orang-orang yang menghadang perjalanannya.
Bersama dengan Reinar, Erina berhasil membunuh semua orang yang menghadang perjalannya. Sedangkan Wina, dia sudah kembali masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang sambil memainkan HP di tangannya.
“Apa yang akan kita lakukan pada mayat mereka? Apa kita membiarkannya begitu saja?” Reinar bertanya pada Erina sambil melihat delapan mayat pria yang diyakininya berasal dari organisasi Red Cobra.
“Sebentar lagi ada yang datang untuk mengurus mereka. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Kita harus segera sampai di rumah sebelum ayah berangkat kerja!” Erina langsung saja masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Reinar.
Begitu mereka semua sudah berada di dalam mobil, mobil kembali melaju kencang menuju kediaman keluarga Bagaskara. Tak lama setelah mobil melaju, Reinar mendapatkan notifikasi dari sistem tentang kematian delapan anggota organisasi Red Cobra.
__ADS_1
[Dung... Berhasil membunuh delapan orang anggota organisasi Red Cobra. Mendapatkan hadiah » uang tunai sebesar delapan puluh miliar. Seluruh hadiah telah dikirim ke rekening Tuan]
Hanya dalam hitungan menit, uang tunai sebesar delapan puluh miliar masuk ke dalam rekening tabungannya.
‘Mereka benar-benar dari organisasi Red Cobra. Pergerakan mereka yang semakin mencolok bahkan melakukan penyerangan di tempat yang tidak benar-benar sepi, sepertinya mereka sudah tidak sabar memusnahkan keberadaan keluarga Bagaskara.’ Reinar membatin.
“Mereka sepertinya sudah mengawasi rumah yang kita tempati. Namun, dikarenakan penjagaan tempat itu yang sangat ketat, mereka tidak berani melakukan serangan langsung. Mereka hanya akan menyerang saat kita meninggalkan area perumahan.” Erina berkata pada Reinar dan Wina.
“Organisasi Red Cobra, mereka sepertinya sangat ingin memusnahkan keluarga Bagaskara. Akan tetapi, selama masih ada aku, mereka tidak akan pernah bisa melakukan semua itu pada keluarga Bagaskara!” Dengan kekuatannya dan kekuatan sistem Reinar yakin mampu melindungi keluarga Bagaskara.
“Aku tidak tahu dari mana keberanianmu sampai mampu melakukan itu, tapi melihat banyaknya benda luar biasa yang kamu ciptakan, mereka sepertinya akan menemui mimpi buruk saat bertemu denganmu!” Wina yang semula diam mengatakan itu semua pada Reinar.
Reinar hanya tersenyum mendengar semua itu, dan setelahnya dia hanya diam di dalam mobil yang melaju menuju rumah keluarga Bagaskara.
‘Meski ini bukan kunjungan pertama ke rumah itu, tapi ini kali pertama aku datang sebagai calon menantu keluarga Bagaskara. Dengan apa yang aku miliki, entah kenapa aku merasa masih belum pantas menjadi menantu keluarga Bagaskara.’ Reinar membatin sambil melihat pemandangan di luar mobil.
“Aku cuma berharap kamu tidak terpancing emosi saat bertemu dengan kedua kakak kami. Mereka memang memiliki sifat keras, tapi sebenarnya mereka baik dan sangat perhatian pada kami berdua. Namun sepertinya yang perlu aku khawatirkan bukanlah kamu, tapi merekalah yang perlu aku khawatirkan!” Dengan semua yang dimiliki Reinar, Erina bisa memperkirakan apa yang akan terjadi pada kedua kakaknya kalau berani menguji Reinar dengan kekuatan fisik.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1