Sistem Kebal Hukum

Sistem Kebal Hukum
Chapter 21. Serangan Di Perjalanan Pulang


__ADS_3

Reinar mencoba mencari ujung dari kabel CCTV yang baru dia patahkan. Melihat bangunan kecil tak jauh dari pemandian, jelas dia melihat keberadaan dua orang di tempat itu yang sedang kebingungan.


“Jangan harap kalian bisa menikmati keindahan tubuh wanitaku.” Dengan gerakan sangat cepat Reinar bergerak ke tempat itu.


[Ding... Misi tersembunyi terdeteksi. Tangkap dua orang yang memasang CCTV di pemandian]


[Hadiah misi » 20 Poin Pengalaman, 20 Poin Kecepatan, 1 Kupon Upgrade Sistem, Skill Bahasa Seluruh Bahasa Di Dunia]


Tanpa ada misi dari sistem, Reinar tetap akan menangkap dua orang itu, dan menjebloskan mereka ke dalam penjara.


“Ini akan berakhir dengan cepat.” Reinar menerobos masuk kedalam ruangan, dan langsung mengarahkan pukulan ke pria yang berada di dekat pintu.


“Bugh...” Pukulan yang sangat kuat menghantam perut pria itu, membuatnya jatuh meringkuk menahan rasa sakit.


“Satu tumbang, sekarang giliran kamu.” Reinar mendekati pria yang sebelumnya sibuk dengan laptop miliknya.


“Kau... siapa kau? Jangan mendekat atau aku akan melaporkan perbuatanmu pada pihak kepolisian!” Pria itu mengancam Reinar.


“Maaf saja, polisi tidak akan berani menyentuhku!” Reinar menjawab dengan tenang, kemudian dia melayangkan tinju kewajah pria itu.


“Bugh...” Hidung pria itu berdarah saat sebuah pukulan mendarat tepat di hidungnya.


“Apa itu sakit? Aku rasa itu belum sakit.”


Reinar melayangkan tendangan ke arah ************ pria itu. Bukan sekali, tapi dia berkali-kali melakukan itu.


“Aku rasa itu cukup untuk hukuman di tempat ini. Setelahnya biar petugas kepolisian yang menghukum kamu.” Reinar mengikat keduanya menggunakan tali tambang yang kebetulan berada di tempat itu.


Setelah mengikat mereka menggunakan tali, Reinar mulai mengumpulkan barang bukti kejahatan keduanya.


“Ternyata sudah ribuan wanita menjadi korban kejahatan kalian.” Reinar berhasil mengumpulkan seluruh bukti dari leptop milik pria yang masih pingsan akibat tendangannya.


Selesai mengumpulkan barang bukti, Reinar kembali ke tempat pemandian dan kebetulan Wina, Bella dan Sarah baru saja selesai mandi. Dia menceritakan pada mereka apa yang baru dilakukan olehnya.


Mendengar itu Wina langsung menghubungi pihak kepolisian untuk mengamankan dua tersangka yang sudah diamankan Reinar. Barang bukti yang dikumpulkan Reinar juga telah diberikan pada Wina, dan begitu polisi datang Wina tinggal menyerahkan barang bukti itu pada pihak kepolisian.


“Karena kalian sudah selesai mandi, sekarang giliranku mandi.” Reinar masuk ke pemandian dan mulai membersihkan tubuhnya dengan dinginnya air gunung, dan setelah sepuluh menit berlalu akhirnya dia selesai mandi.


[Ding... berhasil menyelesaikan misi. Mendapatkan hadiah » 20 Poin Pengalaman, 20 Poin Kecepatan, 1 Kupon Upgrade Sistem, Skill Bahasa Seluruh Bahasa Di Dunia]

__ADS_1


[Ding... apa tuan ingin menggunakan kupon upgrade sistem untuk meningkatkan versi sistem?]


“Levelku memang tidak meningkat, tapi setidaknya poin kecepatanku meningkat, dan ya gunakan kupon upgrade untuk meningkatkan versi sistem.” Reinar mengizinkan sistem menggunakan kupon upgrade.


[Ding... menggunakan kupon untuk meningkatkan versi sistem. Proses peningkatan versi sistem ke versi 0.4 membutuhkan waktu 24 jam. Selama proses upgrade sistem akan berada dalam keadaan tertidur. Sampai jumpa 24 jam lagi]


Setelahnya Reinar tak lagi mendengar suara sistem, yang menandakan proses upgrade sudah dimulai.


“Dua puluh empat jam bukan waktu yang terlalu lama.” Reinar bergumam sambil berjalan menghampiri ketiga wanitanya yang sedang mengabadikan keindahan terbitnya matahari.


“Sebaiknya kita segera kembali ke perkemahan sebelum para guru kebingungan mencari keberadaanmu!” Reinar berkata pada Wina sambil memakai kembali masker untuk menutupi sebagian wajahnya.


“Ehm...” Wina menganggukkan kepala, kemudian dia kembali ke perkemahan bersama Bella dan Sarah, sedangkan Reinar berada beberapa langkah di belakang mereka.


Sampai di perkemahan benar saja, para guru sedang dilanda kebingungan mencari keberadaan Wina, tapi setelah melihat kedatangan Wina, para guru merasa lega, dan menyuruh seluruh murid untuk berkemas.


Dikarenakan peristiwa yang terjadi semalam, pembelajaran di luar sekolah yang seharusnya dilakukan hari ini urung dilakukan, dan semua murid diizinkan pulang.


Semua murid segera membereskan barang-barang mereka termasuk tenda yang mereka dirikan, dan setelah selesai beres-beres semua murid dikumpulkan di tempat yang sebelumnya berdiri belasan tenda.


Saat mereka sedang berkumpul, datang rombongan polisi mencari Wina.


Selesai memberi penjelasan, Wina memberikan barang bukti ke pihak kepolisian, dan memberitahu lokasi dua tersangka yang telah dilumpuhkan.


Polisi segera menyeret dua tersangka ke mobil polisi beserta barang bukti lainnya yang masih berada di tempat kejadian perkara. Sebelum pergi, pihak kepolisian sangat berterimakasih pada Wina dan Reinar yang berhasil mengungkap kejahatan di puncak gunung.


Setelah rombongan mobil polisi pergi, rombongan mobil yang menjemput para murid mulai berdatangan, termasuk mobil khusus yang menjemput Wina.


“Rein, kamu temani aku di mobil depan! Kak Bella, Kak Sarah dan Malvin bisa menaiki mobil kedua.” Untuk saat ini Wina adalah bosnya, dan dia bebas mengatur siapa yang berada dalam satu mobil dengannya.


“Kakak dan mereka berdua sudah memberikan itu padamu. Kapan kamu ingin aku memberikan itu padamu? Kalau kamu ingin, cukup katakan dan kita bisa langsung melakukannya.” Wina tak sungkan mengatakan itu begitu berada di dalam mobil berdua dengan Reinar.


“Kamu masih sekolah, aku tidak terjadi kecelakaan yang membuatmu hamil sebelum mengikuti ujian kelulusan.” Reinar tidak ingin Wina gagal lulus gara-gara hamil sebelum mengikuti ujian.


“Kalau begitu, kita akan melakukannya saat aku dinyatakan lulus!” Wina berkata penuh keyakinan.


“Sesuai permintaanmu, kita akan melakukannya saat itu.” Reinar hanya ingin berlaku adil pada mereka. Saat Bella, Sarah, dan Erina sudah memberikan segalanya untuknya. Tentu tak baik untuk dirinya kalau menolak keinginan Wina.


Antara kusi penumpang di belakang dan tempat pengemudi memiliki sekat. Jadi apa yang dibicarakan Wina dan Reinar tidak mungkin terdengar oleh supir yang sedang mengemudikan mobil.

__ADS_1


Saat Mobil yang membawa Wina dan Reinar melewati jalanan yang sedikit menurun, terlihat dari spion mobil empat motor mengikuti laju mobil dari belakang.


“Anggota asosiasi Red Cobra!” Menggunakan mata tembus pandang, Reinar dapat melihat tato di lengan pengendara motor.


“Wina, sebaiknya kamu menundukkan kepala!” Reinar melihat empat orang yang duduk diboncengan masing-masing motor berdiri dan mengarahkan senapan serbu ke arah mobil. Melihat itu tentu Reinar menyuruh Wina menunduk.


“Dor... Dor... Dor... Dor... Dor...” Puluhan butir peluru menghujani mobil. Supir yang tahu kalau mobilnya mendapat serangan, dia segera melakukan manuver gerak zig-zag.


“Wina, apa di mobil ini ada senjata yang lebih besar dari pistol?” Reinar bertanya sambil menatap Wina yang semakin menundukkan kepalanya.


“Di bawah kaki kita ada senjata, tapi aku tidak tahu senjata itu jenis apa.” Wina mununjuk arah bawah kakinya.


Tak banyak bertanya, Reinar langsung membuka penutup di bawah kakinya, dan benar saja di tempat itu terdapat banyak senjata, bahkan ada senjata penghancur kendaraan lapis baja.


Reinar tidak mengambil senjata penghancur kendaraan lapis baja, dia mengambil senapan serbu beserta amunisinya.


Setelah memastikan kunci senjata telah terbuka, dia membuka kaca sunroof dengan menekan tombol di dekat tempat duduknya, kemudian mengeluarkan setengah bagian tubuhnya, dan mengarahkan tembakan ke pengendara motor yang terus membuntuti di belakang mobil.


“Dor... Dor... Dor... Dor...” Seluruh tembakan yang dilakukan Reinar tepat mengenai sasaran, membuat empat motor yang terus mengikuti laju mobil terjatuh, bersama dengan itu, bisa dipastikan empat pengendara dan empat penumpang motor mati di tempat mereka terjatuh.


“Hah, untung saja ada senjata di mobil ini.” Reinar kembali duduk di kursinya, sedangkan mobil tiba-tiba berhenti karena mobil di bagian depan berhenti.


Bella dan Sarah turun dari mobil untuk memastikan keadaan Wina dan Reinar. Setelah memastikan keadaan keduanya aman, mereka kembali ke mobil bagian depan, dan perjalanan kembali dilanjutkan.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, dan satu jam kemudian kedua mobil sudah sampai di kediaman Bagaskara.


Setelah keluar dari mobil, Wina sudah disambut ibunya, dan keduanya segera masuk ke dalam rumah meski terlihat Wina enggan berjauhan dari Reinar.


“Apa sekarang kita akan kembali ke markas?” Reinar bertanya pada Bella, Sarah, serta Malvin yang berada di hadapannya.


“Tugas kita sudah selesai, jadi kita bisa kembali ke markas.” Malvin adalah orang yang menjawab pertanyaan Reinar.


Menggunakan mobil yang sebelumnya dikendarai Malvin, mereka kembali ke markas besar pasukan elite. Sengaja mereka tidak berpamitan pada Wina atau ibunya, karena mereka tidak ingin mengganggu kebersamaan ibu dan putrinya.


Sementara itu di kediaman Bagaskara, Wina menceritakan semua yang dialaminya di tempat perkemahan pada ibunya, tentu dia tidak menceritakan tentang Erina yang bermalam dengan Reinar.


“Asosiasi Red Cobra. Sepertinya kali ini ibu harus bertindak sebelum mereka semakin bertindak semena-mena pada kita.” Ibu Wina adalah mantan anggota pasukan super elite, dan dia juga merupakan pemimpin salah satu asosiasi pembunuh bayaran yang dikhususkan membunuh mereka yang memang pantas di bunuh.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2