
Saat ini kelima istri Reinar sedang menikmati makan siang bersama setelah menyelesaikan pekerjaan. “Bukannya semalam kita melupakan keberadaan Margaret?” tanya Sarah pada keempat saudarinya setelah semua memesan makanan.
“Margaret, Cleo, Wulan, Jihan, serta wanita itu, dengan begini sudah lengkap berlima, dan kita tidak perlu diributkan mencari siapa wanita yang tepat untuknya,” lanjut Sarah berkata pada keempat saudarinya yang sepertinya mereka juga baru mengingat tentang Margaret.
“Kita memang tidak lagi perlu diributkan mencari siapa wanita yang tepat untuk suami kita, tapi sekarang tugas kita adalah memastikan para wanita itu setuju menjadi bagian dari wanita suami kita,” kata Wina membuka suara.
“Cleo, Jihan, serta Wulan, sepertinya tidak ada masalah bagi mereka menjadi bagian dari kita. Sekarang yang tersisa hanya dua wanita itu, dan aku tidak tahu bagaimana cara kita bisa bertemu dengan mereka,” ungkap Bella sambil bergantian memandang keempat saudarinya.
Saat mereka ingin melanjutkan pembicaraan, sekelompok pria tiba-tiba datang dan menghampiri tempat mereka. Dari cara mereka memandang kelimanya, jelas para pria itu tertarik dengan Bella dan yang lainnya.
“Bagaimana mungkin langit membiarkan seluruh bidadarinya turun ke hadapan kita?” ujar salah satu pria yang saat ini berdiri di sebelah Erina, yang jelas mengabaikan keberadaannya.
Pria lainnya segera menempatkan diri mereka didekat tempat duduk kelima istri Reinar, dan jika ditotal jumlah mereka ada delapan orang.
Meski dikelilingi pria tampan yang membuat wanita lain tak berkedip saat melihat ketampanan mereka, kelima istri Reinar tetap saja acuh, mengabaikan keberadaan mereka, bahkan tak satupun dari mereka peduli dengan salah satu pria yang terus mencoba merayu dengan kata-kata manisnya.
“Karena kalian semua diam, artinya kalian setuju kalau kami bergabung dengan meja kalian, dan bersama-sama menikmati makan siang,” kata pria yang sejak tadi terus mencoba merayu kelima istri Reinar dengan kata-kata manisnyamanisnya, sambil dia menarik tempat duduk ke dekati Erina.
Namun, belum juga pria itu duduk di tempatnya, kelima istri Reinar bangkit bersamaan dari tempat duduknya, dan bermaksud pergi meninggalkan restoran yang berada tepat di hadapan perusahaan milik Reinar.
Erina dan empat wanita lainnya bermaksud pergi, tapi saat Erina membalikkan badan, pria yang berada di dekatnya tiba-tiba memegang lengan tangannya, menahan dirinya supaya tetap diam di tempat.
Pria itu tersenyum saat tangannya berhasil memegang lengan Erina, tapi satu detik setelah tersenyum, dia harus menanggung rasa sakit saat Erina dengan gerakan yang begitu cepat membanting tubuhnya menghantam lantai restoran.
Pria itu merintih menahan rasa sakit, sedangkan Erina tanpa rasa bersalah, dia bermaksud pergi meninggalkan pria itu dan yang lainnya.
“Apa kamu pikir dapat pergi begitu saja setelah menyakiti teman kami? Cih... jangan bermimpi bisa pergi dari tempat ini sebelum kami puas menikmati tubuhmu, dan juga tubuh teman-temanmu!” kata salah satu pria, dari dua pria yang menghadang langkah Erina.
__ADS_1
Di sisi lain, langkah empat wanita lainnya, juga dihadang oleh para pria, teman dari pria yang masih merintih menahan rasa sakit, tapi perlahan pria itu bangkit berdiri, meski belum bisa berdiri tegak.
“Tangkap dan bawa mereka ke atas, lalu kita bisa bersenang-senang bersama mereka sampai puas!” kata pria yang baru dibanting Erina, dan ternyata dia adalah pemilik dari restoran yang setiap harinya selalu menjadi tempat makan karyawan di sekitar restoran.
Teman-temannya yang mendengarkan perkataannya, mereka mencoba menangkap wanita, yang berada di hadapan mereka. Dengan tubuh tinggi besar, seharusnya tak sulit bagi mereka menangkap para wanita yang bertubuh lebih kecil.
Namun, pada kenyataannya mereka tidak pernah bisa menangkap para wanita yang bertubuh lebih kecil, dikarenakan sebuah pukulan dan tendangan telah lebih dulu membuat mereka tumbang, sebelum berhasil menyentuh wanita yang ingin mereka tangkap.
Pukulan yang menghantam wajah mereka, serta tendangan yang telak mengenai tulang rusu mereka, membuat para pria itu tergeletak tak berdaya di lantai restoran sambil mengerant menahan rasa sakit. Tak ada yang membantu mereka karena sebagian besar pengunjung restoran telah pergi, sebab jam makan siang sudah hampir berakhir.
“Kalian para wanita jal*ng beraninya berurusan dengan kami! Aku pastikan kalian tidak bisa bekerja lagi di deretan perusahaan di sekitaran tempat ini!” kata pria pemilik restoran mengancam kelima istri Reinar.
“Oh, benarkah mereka tidak bisa bekerja di perusahaan yang berada di sekitar tempat ini? Lalu bagaimana kalau aku bisa menjamin mereka semua tetap bisa bekerja di perusahaan milikku? Apa kamu bisa menentang keputusanku?” tanya Reinar yang tiba-tiba datang ke restoran setelah lama menunggu kelima istrinya kembali.
Reinar tidak datang seorang diri, melainkan dia datang bersama Adhitya, dan siapa di negerinya yang tidak mengenali sosok Adhitya? Semua pengusaha pasti mengenali sosok Adhitya, dan tak satupun pengusaha yang ingin memiliki hubungan buruk dengannya. Memiliki hubungan buruk dengan orang seperti Adhitya, bisa dipastikan usaha apapun yang dimiliki orang itu bakalan berakhir.
“Suami, Ayah, pria itu dan teman-temannya tadi ingin menangkap kami, dan ingin melakukan sesuatu pada kami di ruangan atas,” kata Wina yang entah sejak kapan dia sudah berada dalam pelukan Reinar.
“Oh, hanya seorang pemilik restoran memiliki keberanian ingin menangkap putriku! Menantuku, hukuman seperti apa yang pantas kita berikan pada mereka?” tanya Adhitya pada Reinar.
Tidak sulit bagi Adhitya mengetahui pria yang mengganggu kelima istri Reinar adalah pemilik restoran tempatnya saat ini. Dari banyaknya mengenali banyak orang, mudah baginya mengenali identitas orang lain, meski ini kali pertama dia bertemu orang itu.
Sedangkan pria pemilik restoran dan teman-temannya, mereka ketakutan setengah mati, setelah tahu salah satu wanita yang mereka ganggu adalah putri Adhitya, penguasa keluarga Bagaskara, dan juga merupakan seorang Jenderal besar kepercayaan orang nomor satu penguasa negar.
“Ayah, menurutku restoran ini sudah tidak layak buka karena pelayanannya yang sangat buruk, bahkan pemiliknya dan teman-temannya telah melakukan kejahatan yang jelas melanggar hukum,” kata Reinar memberi jawaban dari pertanyaan Adhitya.
Mendengarnya, Adhitya hanya mengangguk, lalu dia berkata, “Baiklah, aku segera menyuruh orang untuk menyegel tempat ini, dan menangkap mereka yang terbukti melakukan kejahatan.” Selesai berkata, Adhitya mengirim sebuah pesan pada seseorang, dan tak lama datang belasan orang langsung menyeret para pria yang terbukti melakukan kejahatan.
__ADS_1
Orang-orang itu bukanlah anggota kepolisian, mereka adalah anggota khusus di bawah perintah Adhitya.
“Mereka tidak akan bernasib baik karena telah berani mengganggu putri keluarga Bagaskara!” kata Adhitya yang direspon senyuman di bibirnya oleh Reinar.
Meski gagal makan siang, Kelima istri Reinar memutuskan kembali ke kantor mengikuti Adhitya dan suami mereka.
“Apa yang membuat ayah hari ini secara tiba-tiba memutuskan mendatangi kantor tempat kami bekerja?” tanya Erina begitu mereka semua berkumpul di ruang kerja milik Reinar.
“Ayah hanya ingin menyampaikan informasi tentang kelompok Stars Of Darkness yang mengumpulkan seluruh kekuatan mereka di negara kita,” kata Adhitya sambil mengarahkan pandangannya pada Reinar dan kelima wanita di sekelilingnya.
“Mengumpulkan seluruh kekuatan? Apa maksud Ayah kekuatan mereka yang berada di luar negeri juga dikumpulkan di negara ini?” tanya Wina mencoba memastikan.
Mendengarnya, Adhitya menganggukkan kepala. “Seluruh kekuatan mereka sedang bergerak menuju negara kita, dan kemungkinan dalam satu minggu ke depan mereka semua telah berkumpul di negara ini. Dengan berkumpulnya seluruh kekuatan mereka di negara ini, sepertinya mereka ingin memindahkan markas pusat mereka di negara ini,” ungkap Adhitya.
“Berkumpulnya seluruh kekuatan mereka di negara ini juga mempersulit keinginan kita menghancurkan mereka, yang selama ini hanyalah kekuatan cabang,” lanjut Adhitya.
Saat Adhitya menunjukkan ekspresi putus asa karena musuh di hadapannya semakin sulit ditumbangkan, berbeda dengan Reinar yang justru menunjukkan senyuman lebar di wajahnya.
“Berkumpulnya kekuatan utama mereka di negara ini, memang bisa meningkatkan kekuatan yang mereka miliki, tapi sebenarnya kita juga diuntungkan dengan berkumpulnya mereka di negara ini,” ungkap Reinar sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.
Kerutan terlihat di kening Adhitya mendengar itu, tapi karena penasaran dengan maksud Reinar, dia memutuskan bertanya, “Keuntungan seperti apa yang bisa kita dapatkan dengan berkumpulnya mereka semua di negara ini? Bukannya yang kita dapatkan hanya kerugian karena kekuatan mereka yang jelas semakin kuat dari sebelumnya?”
“Benar kekuatan mereka memang lebih kuat, tapi dengan memanfaatkan berkumpulnya seluruh kekuatan utama mereka di negara ini, kita jadi lebih mudah menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya, dan dengan semua kelebihan yang dapat aku berikan pada kalian, bukan sesuatu yang sulit bagi kita untuk bisa melakukan semua itu,” kata Reinar percaya diri.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1