
Reinar tidak pernah pergi meninggalkan bangunan bekas markas asosiasi Red Cobra setelah meninggalkan Liz di tempat yang sempat menjadi tempat persembunyiannya.
Meninggal tempat itu, Reinar pergi melihat-lihat secara langsung keadaan lantai selanjutnya dari bangunan yang terlihat cukup megah dari kejauhan. Sampai di lantai kedua, Reinar melihat keadaan lantai dua jauh lebih baik dibandingkan keadaan di lantai satu. Meskipun ada ruangan yang acak-acakan dan terdapat beberapa lubang bekas peluru di dinding bangunan, setidaknya keadaan lantai dua masih layak ditempati.
Tak menemukan apa-apa di lantai dua, Reinar melanjutkan langkah kakinya menuju lantai ketiga. Sampai di lantai ketiga, dia sama sekali tidak melihat adanya merusak, yang menunjukkan kalau pertempuran semalam hanya terjadi di lantai satu dan sebagian lantai dua.
Terus berjalan, dengan menggunakan mata tembus pandang, Reinar dapat melihat keberadaan lima orang di dalam salah satu ruangan lantai ketiga. Dari sikap duduk yang mereka tunjukkan, sepertinya orang-orang itu sedang membahas sesuatu yang cukup penting, dan dirinya sangat penasaran dengan apa yang mereka bahas.
Tak bisa menahan rasa penasarannya, Reinar langsung saja mendekati ruangan itu dan mendengar isi pembicaraan mereka.
Meski ada pintu tebal yang sedikit menghalangi pendengarannya, tapi bukan sesuatu yang sulit mendengar pembicaraan orang-orang di dalam ruangan, selama dirinya melihat gerakan bibir mereka.
“Bastian sebelumnya memberi tugas padaku untuk melenyapkan keluarga Bagaskara, tapi aku selalu saja gagal menghancurkan keluarga Bagaskara karena kuatnya penjagaan di sekitar mereka. Rencana terakhir saat aku mengerahkan banyak anggota untuk menyerang anak-anak Bagaskara, rencana itu gagal, dan aku kehilangan seluruh anggota.”
“Tuan, Bastian dan asosiasi Red Cobra telah dikalahkan, dan saat ini Tuan adalah pimpinan tempat ini. Alangkah baiknya jika Tuan tidak lagi melakukan misi yang diberikan orang tidak penting.”
“Aku tidak lagi menganggap memusnahkan keluarga Bagaskara sebagai misi yang diberikan Bastian padaku. Memusnahkan keluarga Bagaskara sekarang menjadi misi balas dendam, untuk membalaskan dendam anggota setiaku yang mati di tangan pelindung keluarga itu.”
“Seperti itu terdengar jauh lebih masuk akal. Kalau begitu, kapan kita mulai rencana memusnahkan keluarga Bagaskara? Jujur saja aku sudah tidak sabar menikmati keindahan keempat istri Bagaskara, dan kesucian dua putrinya.”
“Setelah aku merekrut banyak anggota baru, kita langsung saja menyerang dua kediaman Bagaskara, dan kalian semua bebas melakukan apapun pada mereka. Namun sisakan putri paling muda Bagaskara untukku! Wanita itu akan aku rusak sebelum kuakhiri hidupnya!”
“Brak...” Pintu ruangan yang mereka tempati tiba-tiba terbuka, dan muncul sosok pria dari balik pintu yang telah roboh.
__ADS_1
Memegang belati menggunakan tangan kanannya, tiba-tiba sosok pria itu menghilang, tepatnya bukan menghilang, tapi karena gerakannya yang sangat cepat, membuatnya seolah-olah menghilang.
“Slash... Slash... Slash... Slash...” Suara tebasan cepat terdengar di telinga semua orang, tapi tak ada yang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.
Sampai akhirnya semua orang di dalam ruangan kembali melihat sosok pria yang telah kembali berdiri di tempatnya. Namun tak lama setelah melihat sosok pria itu kembali ke tempatnya, empat orang di dalam ruangan kejang-kejang bersama dengan darah segar yang mengalir desa keluar dari leher mereka.
Dalam hitungan detik empat orang di dalam ruangan tak lagi memiliki detak jantung, yang menunjukkan mereka semua telah mati, dan kematian itu terjadi hanya dalam hitungan detik.
[Ding... Berhasil membunuh empat orang mantan petinggi asosiasi Red Cobra. Mendapatkan hadiah » Empat Kali Kenaikan Level, +400 Poin Sistem, +400 Poin Pengalaman]
Reinar tersenyum di balik topengnya setelah mendapatkan sesuatu yang tidak dia duga. Hanya dengan membunuh mereka berempat, dia mendapatkan hadiah yang luar biasa adanya.
Sekarang pandangan mata Reinar hanya tertuju pada pria bertopeng hitam yang masih terlihat tenang di tempatnya. Namun dengan mata tembus pandang Reinar jelas melihat pria itu sedang ketakutan.
Tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, Brandy langsung saja menembak Reinar dengan pistol yang diambilnya dari balik punggungnya. Belasan peluru melesat ke arah Reinar, tapi tak satupun peluru mengenainya, padahal dia sama sekali tidak menghindar.
“Apa kamu pikir peluru tumpul seperti barusan dapat membunuhku? Kalaupun ada seratus peluru kaliber lebih besar kamu arahkan padaku, semua itu masih belum cukup untuk membunuhku.” Reinar begitu santai mengatakan semuanya, sedangkan Brandy sudah ketakutan dengan sosoknya.
Bisa bergerak secepat angin dan memiliki tubuh yang kenal terhadap senjata api. Melihat semua itu, Brandy beranggapan kalau dirinya saat ini sedang berhadapan dengan monster di dunia nyata.
“Kamu tadi mengatakan ingin merusak wanitaku dan setelahnya kamu ingin membunuhnya! Bagaimana kalau aku melakukan semua itu padamu? Aku bisa menghancurkan masa depanmu, tapi setelahnya aku tidak akan mengakhiri hidupmu dengan cepat.”
Baru juga Reinar memiliki niatan bermain-main dengan menyiksa Brandy, dengan tajamnya pendengarannya, dengan jelas dia mendengar derap langkah kaki menuju ke arahnya. Brandy yang juga mendengar suara langkah kaki, dia menunjukkan senyuman sinis di wajahnya. “Kalau aku harus mati setidaknya kau harus mati bersamaku!” Brandy berkata dengan suara lantang.
__ADS_1
“Maaf saja, aku masih ingin hidup, dan sama sekali tidak berminat mati bersamamu.” Reinar langsung saja melesat ke arah Brandy, dan dengan belati di tangannya dia memenggal kepala pria itu.
Bersama dengan jatuhnya kepala Brandy ke lantai ruangan, beberapa orang dengan menenteng senapan serbu masuk ke dalam ruangan yang sudah dibanjiri darah dari lima mayat yang mati secara mengenaskan.
Mereka yang baru datang terkejut melihat keadaan Brandy dan empat orang kepercayaannya. Namun, melihat pria dengan separuh wajah tertutupi topeng yang berdiri di sebelah mayat Brandy, mereka tahu kalau pria itulah yang telah mengakhiri hidup Brandy dan empat orang lainnya.
Melihat keberadaan pria itu, semua orang mengarahkan senjata ke arahnya, dan hanya dalam hitungan detik puluhan peluru menghujani pria bertopeng yang tak lain adalah Reinar. “Kau harus mati sebagai bayaran apa yang telah kau lakukan pada pemimpin kami.” Salah satu dari orang-orang itu berteriak lantang sambil terus mengarahkan tembakannya pada Reinar.
Lima orang pertama telah menembakkan sekuruh peluru tajam di senjata mereka ke arah pria bertopeng, tapi dengan mata kepala sendiri mereka melihat pria bertopeng sama sekali tidak terluka, dan peluru yang mereka tembakkan berjatuhan di hadapannya.
“Sialan, makhluk apa sebenarnya dia? Bagaimana mungkin peluru tajam sebanyak itu tak satupun dapat melukai tubuhnya.” Lim orang yang memberi serangan pertama mundur, posisi mereka digantikan lima orang lainnya yang langsung saja menyerang Reinar menggunakan senjata di tangan mereka.
Kembali puluhan bahkan ratusan peluru menghujani Reinar, tapi seperti sebelumnya, dari ratusan peluru tak satupun peluru yang berhasil melukai tubuh Reinar. Semua peluru jatuh dan berserakan di hadapannya.
Melihat kejadian yang sama terjadi secara berturut-turut, orang-orang yang sebelumnya ingin membalaskan kematian Brandy dan empat orang lainnya, mereka perlahan mundur, dan sama-sama berpikir kalau yang mereka lawan bukanlah manusia melainkan monster yang tak bisa mati.
Senyuman Reinar seharusnya dapat terlihat seandainya dia tidak memakai topeng, dan senyumannya itu muncul setelah melihat orang-orang yang menembaknya perlahan mundur.
“Aku sebelumnya tidak ingin berurusan dengan kalian, tapi sepertinya kalian ingin bermain-main denganku. Kalau itu keinginan kalian, dengan senang hati aku mengabulkan keinginan itu, dan untuk siapapun yang kalah dia akan bergabung dengan mereka.” Reinar menunjuk mayat Brandy dan empat orang lainnya.
Mendengar apa yang dikatakan Reinar dan melihat kemana arah yang ditunjuk oleh jari telunjuknya, semua orang semakin ketakutan dengan sosok Reinar. Satu-persatu dari mereka mulai menyesali perbuatannya yang begitu saja memyerang, tanpa melihat terlebih dahulu kekuatan orang yang di serang. Kini mereka semua akan menanggung, apa yang sudah mereka perbuat.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.